
moms-life
Mengenal Gangguan Psikosomatis, Gejala dan Cara Pencegahannya
HaiBunda
Jumat, 29 Aug 2025 23:00 WIB

Daftar Isi
Bukan hal yang aneh bagi orang untuk datang ke psikolog berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun, hanya untuk menemukan bahwa gejala fisik yang terus-menerus mereka alami mungkin berkaitan dengan kesejahteraan mental dan emosionalnya.
Psikosomatis mengacu pada gejala fisik yang diperburuk atau diperumit oleh faktor mental. Dalam penyakit psikosomatis, stres emosional atau masalah psikologis lainnya memainkan peran kunci dalam perjalanan tanda dan gejala fisik.
Misalnya, depresi dapat menyebabkan penyakit psikosomatis, terutama ketika sistem kekebalan tubuh telah melemah akibat stres berat atau kronis.
Sayangnya, stigma sosial yang meluas terhadap penyakit psikosomatis menghalangi sebagian orang untuk mencari pengobatan.
Apa itu psikosomatis?
Dilansir dari situs web Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Sardjito Yogyakarta, psikosomatis merupakan hubungan antara pemikiran atau psikis yang dapat memengaruhi kondisi tubuh atau sebaliknya.
Sebagai contoh ketika mengalami sakit lambung atau maag jika sudah ditelaah atau pemeriksaan tapi ternyata hasilnya normal, di situlah adanya interelasi antara psikis dengan soma atau tubuh.
Untuk faktor psikologis terdapat dua besar yang banyak terjadi di kalangan masyarakat, yakni depresi dan kecemasan.
Mengenali hal ini butuh pendekatan yang tidak mudah. Namun, Bunda dapat mengenali diri sendiri dengan beberapa faktor di antaranya yaitu mood depresi dan kehilangan ketertarikan terhadap sesuatu.
Gejala psikosomatis
Dilansir dari laman Verywell mind, mempelajari bagaimana stres mental dan emosional bermanifestasi secara fisik dapat membantu mengurangi dampak stres terhadap kesehatan. Tanda-tanda fisik stres yang umum meliputi:
- Masalah pencernaan
- Pusing atau gemetaran
- Sakit kepala
- Nyeri dan sakit otot
- Jantung berdebar kencang
- Tekanan darah tinggi
Gejala psikosomatis berdasarkan usia
Tanda dan gejala stres juga bervariasi berdasarkan usia. Anak-anak sering mengalami stres secara fisik karena mereka belum mengembangkan bahasa untuk mengomunikasikan perasaannya.
Misalnya, seorang anak yang mengalami kesulitan di sekolah mungkin sering mengalami sakit perut atau sakit kepala.
Stres di masa remaja bisa sangat intens, terutama selama masa penyesuaian sosial dan perubahan hormonal yang signifikan. Seringkali orang dewasa mengaitkan tanda-tanda stres dengan kecemasan remaja yang umum, alih-alih depresi remaja.
Orang dewasa yang lebih tua juga rentan terhadap depresi karena mereka berjuang melawan isolasi, kehilangan dan kesedihan, serta masalah kesehatan.
Jika merawat orang terkasih yang sudah lanjut usia, penting untuk mengetahui tanda-tanda depresi pada orang dewasa yang lebih tua.
Penyebab penyakit psikosomatis
Mekanisme stres yang pasti belum sepenuhnya dipahami, tetapi para peneliti mengetahui bahwa stres dan depresi dapat bermanifestasi sebagai rasa sakit dan penyakit fisik. Ini adalah proses yang rumit, tetapi menjadi analogi yang mungkin membantu.
Bandingkan tubuh dengan panci presto. Jika dibiarkan mengeluarkan uap, pasti tersebut bekerja secara efisien. Jika tidak dapat mengeluarkan uap, tekanan akan terus meningkat hingga tutup panci terlepas.
Bayangkan panci presto sudah berada di bawah tekanan dan menambahkan tekanan lebih besar untuk menjaga tutup panci tetap tertutup. Ketika wadah panci presto tidak lagi mampu menahan semua tekanan, panci akan pecah pada titiknya.
Seseorang yang sedang stres dan tidak atau tidak mampu melampiaskan emosinya pada akhirnya juga akan mencapai titik puncak emosi, Bunda. Hal ini dapat mengakibatkan gejala fisik atau memicu depresi berat.
Stres juga dapat mengganggu kekebalan tubuh. Misalnya, sebagian orang cenderung mudah terserang pilek, flu, atau penyakit serta infeksi lain saat berada di bawah tekanan dan mungkin butuh waktu lebih lama untuk pulih.
Bagian dari respons tubuh untuk melawan atau lari terhadap stres adalah pelepasan zat kimia tertentu, seperti adrenalin, yang dapat sangat berguna dalam situasi hidup atau mati.
Namun, jika tubuh memiliki jumlah zat kimia ini yang tinggi atau dilepaskan terus-menerus dalam jangka waktu yang panjang (seperti pada stres kronis), zat-zat ini dapat lebih berbahaya daripada bermanfaat.
Cara mengatasi gangguan psikosomatis
Dilansir dari laman Cleveland Clinic, setiap kondisi fisik yang dapat dipicu atau diperparah oleh stres memiliki penanganannya sendiri.
Namun, penyedia layanan kesehatan mungkin akan merekomendasikan terapi untuk mengelola stres secara spesifik. Terapi ini meliputi:
- Psikoterapi (terapi bicara) seperti terapi perilaku kognitif
- Terapi berbasis kesadaran
- Obat-obatan, seperti antidepresan atau ansiolitik
Mereka mungkin memberikan Bunda rujukan ke spesialis kesehatan mental seperti psikiater atau psikolog dan menyarankan pemeriksaan rutin dengan penyedia layanan kesehatan primer.
Cara mencegah psikosomatis
Pencegahan psikosomatis dimulai dari sendiri, yaitu ketika menghadapi permasalahan untuk bersikap dengan mengubah pola pikir negatif menjadi positif, baik dalam segi agama maupun masyarakat atau sosial.
Kemudian untuk fisik, ada pelatihan terapi seperti pelatihan napas hingga yoga. Secara sosial, Bunda dapat mencari teman untuk mengobrol atau meminta saran kepada mereka agar permasalahan tidak dipendam sendiri.
Ada juga beberapa strategi untuk mengurangi dan mengelola stres, yang dapat membantu mencegah atau meringankan gejala fisik suatu kondisi. Contohnya meliputi:
- Bersikap realistis tentang apa yang dapat dan tidak dapat dikendalikan
- Berolahraga secara teratur
- Tidur yang cukup
- Membuat jurnal untuk meningkatkan kesadaran pikiran dan perasaan Bunda
- Batasi konsumsi alkohol dan hindari merokok, serta penggunaan zat lainnya
- Makan makanan sehat
- Pertahankan berat badan yang sehat
- Bermeditasi atau berlatih relaksasi otot progresif
- Carilah dukungan dari orang-orang terkasih
Nah, itulah beberapa hal yang dapat Bunda kenali tentang psikosomatis. Semoga bermanfaat, ya, Bunda.
Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!
(asa/som)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT

Mom's Life
Orang Kesepian Ternyata Mudah Sakit, Ini Kata Studi

Mom's Life
Ketahui Gejala Bipolar pada Perempuan dan Cara Mengatasinya

Mom's Life
Tren 'Cek Khodam' di Media Sosial Berhubungan dengan Kesehatan Mental? Begini Kata Pakar

Mom's Life
Pelaku Bullying Kemungkinan Besar Miliki Masalah Kesehatan Mental, Ini Hasil Penelitian

Mom's Life
Psikosomatis adalah Reaksi Tubuh Atas Tekanan Mental, Bunda Pernah Alami?


5 Foto
Mom's Life
5 Potret Becky Tumewu Usai Operasi Mata Akibat Retina Lepas
HIGHLIGHT
HAIBUNDA STORIES
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda