MOM'S LIFE

Bagi yang Berencana Tambah Momongan, Begini Rasanya Punya 2 Anak

Melly Febrida Minggu, 15 Jul 2018 - 08.02 WIB
Bagi yang Berencana Tambah Momongan, Begini Rasanya Punya 2 Anak (Foto: Hasan/ detikcom) Bagi yang Berencana Tambah Momongan, Begini Rasanya Punya 2 Anak (Foto: Hasan/ detikcom)
Jakarta - "Anaknya baru satu? Ah belum apa-apa. Senggaknya kalau punya dua anak, baru berasa deh kerempongannya." Kalimat seperti itu pernah dilontarkan seorang teman saat anak saya baru satu.

Hmm, sebenarnya meskipun anak baru satu, kerempongannya sudah terasa karena saya banyak mengerjakan semuanya sendiri. Tapi kemudian ketika hamil dan melahirkan anak kedua, memang makin berasa sih, he-he-he.

Kata Edward Christophersen, PhD, seorang psikolog di Children's Mercy Hospital di Kansas City, Missouri, dan profesor pediatri di Kansas City School of Medicine, bagi sebagian orang, bagian tersulit dari memiliki anak kedua adalah 'menyerahkan diri' menjadi orang tua seutuhnya.

Menurut Edward, saat seseorang baru memiliki satu anak, orang tua masih bisa menjalani gaya hidup seperti sebelum punya bayi. Seorang bunda masih bisa pergi berlibur atau keluar sekadar makan malam. Terkadang seorang bunda masih bisa bersantai ketika anak tidur siang dan bermain.



Tapi, ketika bayi nomor dua lahir, semua berubah. Rasanya sulit meninggalkan dua anak di rumah ketimbang meninggalkan satu anak. Selain itu saat tidur siang nih, saat satu anak tidur, yang lain melek. Bahkan sering kali anak-anak menangis karena berebut sesuatu atau diusili.

Kata Edward, dengan hadirnya dua anak, seorang bunda memiliki lebih banyak pekerjaan yang harus dilakukan, tapi lebih sedikit waktu untuk melakukannya. Belum lagi kalau mau mengerjakan apa saja, si kecil minta gendong. Hal kayak gini bisa bikin seorang ibu tertekan.

Bagi yang Berencana Tambah Momongan, Begini Rasanya Punya 2 Anak/Bagi yang Berencana Tambah Momongan, Begini Rasanya Punya 2 Anak/ Foto: thinkstock


Lantas bagaimana cara terbaik menghadapi frustrasi? Edward menyarankan kita menarik napas dalam-dalam lebih dulu, lalu ingatlah bahwa masa-masa ini akan berlalu. Bahkan kelak, mungkin kita akan merindukan masa-masa ini lho, Bun.

Kalau sedang sangat lelah, biarkan saja piring kotor tergeletak di tempat cuci piring. Kita nggak harus buru-buru membereskan semua jika kita memang nggak mampu, Bun.

Menurut pengalaman saya nih, Bun, awal-awal saat anak kedua lahir memang akan sedikit kesulitan. Tapi otomatis kita akan beradaptasi, sehingga seiring berjalannya waktu kita akan mulai terbiasa.

Sebagai ibu, pasti merasa senang saat anak-anak kita akur. Senang juga saat melihat si kakak sangat ngemong pada adiknya. Karena itulah bukan nggak mungkin jadi ingin punya tambah momongan, seperti saya yang saat ini sudah punya anak tiga, hi-hi.



Saat usia anak sudah agak besar, setidaknya balita, anak-anak kita akan main bersama. Ini membuat anak nggak lagi minta ditemani main. Jadi kita tinggal berada di dekatnya dan mengawasi saja. Tapi lebih bagus kalau sesekali kita ikut bermain bersama anak-anak sih, Bun.

Karena sudah punya pengalaman anak pertama, tentu kita lebih ahli saat mengurus anak kedua. Kita sudah tahu triknya saat anak susah makan, misalnya. Meski memang anak yang satu beda dengan anak lainnya, tapi setidaknya kita sudah paham dasar-dasarnya.

Termasuk soal menyusui, Bun. Kalau dulu saat menyusui anak pertama kita masih bingung terkait pelekatan yang benar, maka sekarang kita sudah lebih jago. Dengan begitu kita bisa meminimalkan terjadinya penyumbatan air susu ibu (ASI) ataupun mastitis yang menyakitkan.

Nah, begitulah, Bun, kira-kira yang akan terjadi dan dirasakan saat anak memiliki anak kedua. Keputusan menambah momongan atau tidak tentu kembali pada masing-masing pasangan ya. Yang paling penting, persiapkan dengan baik ya, Bun, agar anak kita tumbuh menjadi anak-anak yang berkualitas. (vit/vit)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi