Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

menyusui

Payudara Terasa Lembek saat Menyusui, Apakah Tanda ASI Produksi ASI Berkurang?

Amrikh Palupi   |   HaiBunda

Senin, 26 Oct 2026 09:10 WIB

Tanda payudara terasa lembek mulai dari penyebab sampai cara meningkatkan produksi ASI bunda. Simak yuk penjelasan selengkapnya berikut.
Payudara Terasa Lembek saat Menyusui, Apakah Tanda ASI Produksi ASI Berkurang?/Foto: Getty Images/geargodz
Daftar Isi
Jakarta -

Payudara terasa lembek saat menyusui tentu  membuat Bunda khawatir produksi ASI mulai berkurang. Terlebih, jika sebelumnya payudara terasa penuh, berat, dan kencang, perubahan ini mungkin membuat Bunda bertanya-tanya apakah ASI yang dihasilkan masih cukup untuk memenuhi kebutuhan Si Kecil.

Namun, Bunda tidak perlu langsung khawatir. Payudara terasa lembek selama menyusui merupakan perubahan yang normal dan tidak selalu menandakan produksi ASI menurun atau berkurang, lho. 

Selain kondisi payudara, perubahan frekuensi menyusu, jumlah ASI yang keluar saat dipompa, hingga perilaku bayi juga bisa membuat ibu merasa produksi ASI mulai berkurang. Padahal, beberapa kondisi tersebut merupakan bagian dari proses menyusui yang normal.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Lantas, apakah payudara terasa lembek tanda produksi ASI benar-benar menurun? dan bagaimana cara mengatasi meningkatkan produksi ASI jika payudara terasa lembek?

Payudara terasa lembek, apakah tanda produksi ASI berkurang?

Mengutip laman Babycenter, Payudara terasa lembek saat menyusui tidak selalu menjadi tanda bahwa produksi ASI berkurang. Kondisi ini sering terjadi ketika tubuh mulai menyesuaikan produksi ASI dengan kebutuhan Si Kecil.

Bunda mungkin juga khawatir produksi ASI rendah ketika Si Kecil tiba-tiba ingin menyusu lebih sering daripada biasanya. Namun, hal ini tidak berarti bayi tidak mendapatkan ASI yang cukup.

Sering kali, kondisi ini terjadi karena bayi sedang mengalami growth spurt atau percepatan pertumbuhan. Pada fase ini, bayi tumbuh dengan cepat sehingga membutuhkan asupan ASI lebih sering. Menurut USDA, percepatan pertumbuhan umum terjadi saat bayi berusia 3 minggu, 6 minggu dan 3 bulan.

Selain itu, saat Bunda mulai memberikan Si Kecil makanan padat atau MPASI, biasanya ketika bayi berusia sekitar 4–6 bulan, Bunda mungkin mengira produksi ASI akan langsung berkurang. Namun, pada tahap awal, hal ini biasanya belum terjadi.

Pasalnya, ketika bayi baru mulai belajar makan, lebih banyak makanan yang justru menempel di dagu daripada masuk ke dalam perutnya! Seiring Si Kecil semakin mahir makan, kebutuhan ASI secara bertahap akan berkurang. Akibatnya, produksi ASI Bunda pun secara alami akan menyesuaikan dengan kebutuhan bayi.

Tanda-tanda produksi ASI mulai berkurang

Jika Bunda khawatir produksi ASI menurun, jangan hanya mengandalkan kondisi payudara saat diraba. Ada beberapa tanda yang lebih penting untuk diperhatikan, Bunda.

1. Berat badan bayi tidak bertambah atau mulai menurun. 

Berat badan merupakan salah satu indikator penting untuk menilai kecukupan asupan bayi. Bayi baru lahir umumnya mengalami penurunan berat badan pada beberapa hari pertama setelah lahir. 

Setelah sekitar lima hari pertama kehidupan, ketika bayi baru lahir biasanya mengalami sedikit penurunan berat badan, berat badan bayi umumnya mulai bertambah sekitar 2/3 ons setiap hari. Jumlah ini setara dengan sekitar 5–7 ons per minggu dan 1–2 pon per bulan selama empat bulan pertama. 

Setelah itu, berat badan bayi bertambah sekitar 3/4 ons per hari hingga usia sekitar 6 bulan. Pada usia tersebut, kenaikan berat badan biasanya melambat menjadi sekitar 1/3 ons per hari. Bunda juga bisa membaca informasi tentang kenaikan berat badan bayi baru lahir yang sehat.

2. Bayi menunjukkan tanda-tanda dehidrasi

Tandanya bisa berupa frekuensi buang air kecil yang lebih jarang, jumlah popok basah yang berkurang, atau urine berwarna lebih gelap. 

Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), bayi baru lahir seharusnya memiliki dua hingga tiga popok basah dalam beberapa hari pertama setelah lahir, kemudian meningkat menjadi enam popok basah atau lebih setiap hari. 

Pada usia 5–7 hari, urine bayi biasanya sudah hampir tidak berwarna atau berwarna kuning pucat. Kulit dan mulut yang kering serta napas yang cepat juga dapat menjadi tanda dehidrasi. Informasi lebih lanjut mengenai dehidrasi pada bayi dapat membantu Bunda mengenali kondisi ini.

3. Bayi rewel atau tampak lesu

Bayi yang cukup mendapatkan ASI umumnya menunjukkan respons menyusu yang baik, meskipun pola tidur dan tingkat aktivitasnya berbeda-beda. 

Tapi jika  Si Kecil mungkin lebih sering rewel, terlihat lemas, atau kesulitan untuk tetap terjaga saat menyusu bisa tanda produksi ASI mulai berkurang,

4. Bayi mengisap payudara tidak terdengar menelan ASI 

Ketika bayi menyusu secara efektif, Bunda biasanya dapat melihat atau mendengar gerakan menelan setelah beberapa kali isapan.

Jika bayi terus mengisap tetapi jarang menelan, mudah tertidur sebelum menyusu secara efektif, atau kesulitan mempertahankan pelekatan ada kemungkinan proses pemindahan ASI dari payudara ke bayi belum optimal.

Penyebab produksi ASI menurun secara tiba-tiba

Jika payudara terasa lembek disertai tanda bahwa bayi mungkin tidak mendapatkan cukup ASI, Bunda perlu mencari tahu kemungkinan penyebabnya. Berikut beberapa penyebab produksi ASI menurun secara tiba-tiba.

1. Frekuensi menyusui atau memompa berkurang

Ini merupakan penyebab paling umum berkurangnya produksi ASI. Tubuh memproduksi ASI berdasarkan seberapa sering bayi mengisap payudara. Produksi ASI juga dipertahankan melalui kegiatan menyusui yang rutin. 

Produksi ASI bisa menurun secara tiba-tiba ketika Bunda mulai lebih sering berjauhan dengan bayi atau Si Kecil mulai tidur sepanjang malam tanpa menyusu.

2. Stres 

Stres dapat menyebabkan produksi ASI menurun secara tiba-tiba. Ketika Bunda menghadapi masalah berat atau mengalami kesulitan dalam menjalani aktivitas sehari-hari, tubuh mungkin memproduksi lebih sedikit ASI. 

Selain itu, kekhawatiran berlebihan mengenai jumlah ASI yang dihasilkan juga dapat menambah beban pikiran dan memperburuk keadaan.

3. Kurang tidur kelelahan

Ibu menyusui sering terbangun pada malam hari untuk memberikan ASI kepada bayi. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat membuat tubuh kelelahan.

Kurang istirahat dapat menyulitkan Bunda menjalani rutinitas menyusui atau memompa ASI secara teratur. 

4. Memberikan susu formula sebagai tambahan

Produksi ASI bekerja berdasarkan kebutuhan bayi. Jika Bunda memberikan susu formula tanpa memompa ASI sebagai pengganti sesi menyusui yang terlewat, tubuh dapat menerima sinyal bahwa kebutuhan ASI berkurang. Akibatnya, produksi ASI bisa menurun.

5. Menjalani diet ketat

Mengonsumsi makanan bergizi dan cukup selama menyusui sangat penting. Bunda membutuhkan kalori lebih banyak daripada biasanya untuk memproduksi ASI. Jika asupan makanan tidak mencukupi, produksi ASI dapat terganggu. 

Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), tubuh membutuhkan tambahan sekitar 450–500 kalori per hari untuk menghasilkan ASI. Jika berat badan Bunda berada dalam rentang normal, kebutuhan energi totalnya sekitar 2.500 kalori per hari.

6. Dehidrasi atau kekurangan cairan

Tubuh membutuhkan cairan yang cukup untuk memproduksi ASI. Menurut Academy of Nutrition and Dietetics, ibu menyusui membutuhkan sekitar 16 cangkir cairan per hari. Jumlah ini bisa berasal dari makanan dan berbagai minuman, bukan hanya air putih. 

Salah satu cara sederhana untuk menjaga kecukupan cairan adalah membiasakan diri minum segelas air setiap kali duduk untuk menyusui. Perlu diketahui bahwa sakit, termasuk flu biasa, juga dapat menyebabkan dehidrasi dan membuat tubuh lemas sehingga berpotensi memengaruhi produksi ASI.

7. Konsumsi obat-obatan tertentu

Beberapa obat dapat memengaruhi produksi ASI pada sebagian ibu. Misalnya, antihistamin, steroid, dan pseudoefedrin dapat menyebabkan produksi ASI menurun pada sebagian ibu. Beberapa jenis herbal yang dikonsumsi selama menyusui dan pil KB juga dapat memengaruhi produksi ASI. 

Pengaruh obat bergantung pada jenis, dosis, kondisi ibu, dan tahap menyusui. Karena itu, jangan menghentikan obat yang diresepkan atau mengganti pengobatan sendiri. Jika Bunda sedang mengonsumsi obat dan merasa produksi ASI menurun, konsultasikan dengan dokter atau apoteker untuk mengetahui pilihan yang sesuai selama menyusui.

8. Perubahan hormon

Ketika menstruasi kembali setelah melahirkan, produksi ASI mungkin menurun pada fase tertentu dalam siklus menstruasi, biasanya menjelang atau pada awal menstruasi. Jika Bunda memberikan ASI eksklusif, menstruasi umumnya baru kembali sekitar 3–6 bulan setelah melahirkan atau bahkan lebih lama, meskipun waktunya berbeda pada setiap ibu. 

Jika Bunda menyusui saat hamil, produksi ASI juga mungkin menurun sementara ketika kehamilan memasuki usia sekitar 4 bulan.

9.  Gangguan tiroid

Kelenjar tiroid menghasilkan hormon yang berperan penting dalam proses menyusui. Jika Bunda mengalami hipotiroidisme atau kondisi ketika kelenjar tiroid kurang aktif, maupun hipertiroidisme atau kondisi ketika kelenjar tiroid terlalu aktif, produksi ASI dapat terganggu. 

Bunda juga mungkin mengalami kesulitan dalam proses pengeluaran ASI atau let-down reflex. Informasi lebih lanjut mengenai hipotiroidisme dan hipertiroidisme dapat membantu Bunda memahami kondisi ini.

10. Masalah pelekatan, saluran ASI tersumbat, atau mastitis

Proses menyusui tidak selalu berjalan lancar. Beberapa masalah, seperti payudara bengkak akibat penumpukan ASI, saluran ASI tersumbat, dan mastitis atau peradangan payudara, dapat memengaruhi produksi ASI. 

Selain itu, jika bayi tidak memiliki pelekatan yang baik saat menyusu atau mengalami nursing strike (menolak menyusu untuk sementara waktu) sehingga frekuensi menyusui berkurang, produksi ASI juga bisa terdampak. Bunda dapat mempelajari cara mendapatkan pelekatan menyusui yang baik dan memahami penyebab bayi menolak menyusu.

Cara meningkatkan produksi ASI jika payudara terasa lembek 

Jika Bunda menduga produksi ASI menurun, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk membantu meningkatkan atau mempertahankan produksi ASI.

1. Susui bayi lebih sering

Produksi ASI bekerja berdasarkan prinsip suplai dan permintaan (supply and demand). Artinya, semakin sering ASI dikeluarkan, semakin besar rangsangan bagi tubuh untuk memproduksi ASI. 

Bunda bisa menambahkan sesi menyusui, membiarkan Si Kecil menyusu lebih lama jika masih aktif menyusu, atau memompa ASI lebih sering. Usahakan ASI dikeluarkan secara efektif setiap kali menyusui. Jika diperlukan, gunakan pompa ASI untuk membantu mengosongkan payudara.

2. Mengonsumsi makanan bergizi dan cukup minum

Produksi ASI membutuhkan energi dan nutrisi. Karena itu, Bunda sebaiknya mengonsumsi makanan yang bervariasi dan bergizi seimbang. Pilih makanan sumber protein, seperti telur, ikan, daging, tahu, dan tempe, serta lengkapi dengan sayuran, buah, sumber karbohidrat, dan lemak sehat.

Penuhi kebutuhan cairan sepanjang hari, terutama ketika merasa haus. Bunda tidak harus memaksakan diri minum dalam jumlah berlebihan untuk meningkatkan produksi ASI.

3. Mendapatkan dukungan kesehatan mental

Banyak ibu mengalami postpartum blues atau perubahan suasana hati setelah melahirkan, kecemasan pasca persalinan, atau depresi pasca persalinan.  Jika Bunda mengalami masalah kesehatan mental, bicarakan dengan tenaga kesehatan. Dokter mungkin menyarankan konseling, terapi, atau pengobatan sesuai kebutuhan.

4. Melakukan kontak kulit ke kulit

Menghabiskan beberapa hari dengan lebih banyak beristirahat bersama bayi, melakukan kontak kulit ke kulit (skin-to-skin), dan menyusui sesuai keinginan bayi dapat membantu meningkatkan rangsangan produksi ASI. Cara ini dapat menjadi salah satu upaya pendukung, tetapi tidak menjamin produksi ASI meningkat pada semua ibu.

5. Meminta bantuan konsultan laktasi

Konsultan laktasi dapat membantu mengidentifikasi dan mengatasi masalah menyusui, seperti pelekatan bayi yang kurang tepat. Dengan begitu, Bunda bisa mendapatkan panduan untuk meningkatkan efektivitas menyusui dan membantu memenuhi kebutuhan ASI Si Kecil.

6. Tidak langsung mengandalkan makanan pelancar ASI

Belum ada bukti ilmiah yang kuat bahwa makanan tertentu, seperti oat, secara langsung meningkatkan produksi ASI. Namun, Bunda tetap boleh mengonsumsinya sebagai bagian dari pola makan bergizi dan seimbang, selama tidak berlebihan. Beberapa herbal, seperti fenugreek atau kelabat, mungkin bermanfaat bagi sebagian ibu, tetapi bukti efektivitas dan keamanannya masih terbatas.

Sebelum mengonsumsi suplemen atau herbal pelancar ASI, Bunda sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan karena produk tersebut dapat memiliki efek samping atau berinteraksi dengan obat tertentu. Jika Bunda masih merasa produksi ASI belum mencukupi, cobalah untuk tidak terlalu menyalahkan diri sendiri atau merasa tertekan.

"Berapa pun jumlah ASI yang bisa diberikan tetap baik untuk bayi!. Dalam hal ini, tidak harus semuanya atau tidak sama sekali. Jadi, jangan berkecil hati jika Bunda perlu memberikan susu formula sebagai tambahan," ujar Kate Shand, seorang konsultan laktasi bersertifikat internasional. 

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda