Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

menyusui

Kisah Bunda Baru Bingung Dapat Nasihat Beda-beda soal Menyusui, Bayinya Ternyata Alami Ini

Melly Febrida   |   HaiBunda

Jumat, 02 Oct 2026 08:55 WIB

Ilustrasi ibu menyusui
Kisah Bunda Baru Bingung Dapat Nasihat Beda-beda soal Menyusui, Bayinya Ternyata Alami Ini/Foto: Getty Images/Goodboy Picture Company
Daftar Isi
Jakarta -

Kebanyakan ibu baru berharap bisa menyusui buah hatinya dengan lancar. Tapi kenyataannya, perjalanan menyusui setiap ibu bisa berbeda. 

Apalagi di awal setelah melahirkan, Bunda mungkin menerima banyak sekali informasi. Ketika nasihat yang diberikan tenaga kesehatan berbeda-beda, bukannya semakin yakin, ibu justru bisa semakin bingung dan takut salah.

Hal itu dialami Maddy Barrett, ibu baru asal Australia. Setelah berbulan-bulan menghadapi masalah menyusui dan menerima berbagai saran, putrinya ternyata diketahui mengalami kondisi yang dapat memengaruhi kemampuan bayi untuk menyusu secara efektif.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Kisah menyusui Bunda baru yang mendapat nasihat berbeda-beda

Barrett adalah ibu yang baru pertama kali memiliki anak. Setelah melahirkan, ia berharap bisa mendapatkan cukup informasi agar dapat mengambil keputusan dengan percaya diri. Namun, pengalaman yang didapat justru berbeda.

Dalam 24 jam pertama setelah melahirkan, Barrett mengatakan dirinya mendapat saran yang berbeda dari perawat, konsultan laktasi, dan bidan mengenai cara membantu bayinya melakukan pelekatan atau latch saat menyusu.

Banyaknya informasi tak membuat Barrett merasa lebih yakin. Barrett justru merasa takut kalau-kalau dirinya melakukan kesalahan. Pada akhirnya Barrett meninggalkan rumah sakit tanpa rencana pemberian makan bayi ataupun dukungan berkelanjutan terkait menyusui.

"Hal yang menurut saya sangat membingungkan adalah bervariasinya saran dan pendekatan dari berbagai tenaga kesehatan yang berbeda," ujar Barrett melansir ABC. 

Pada minggu-minggu berikutnya, berat badan putrinya mulai turun karena sang bayi tidak mendapatkan cukup ASI, hanya dari menyusui langsung.

Dalam kondisi kelelahan secara emosional dan kurang tidur,  Barrett mengatakan bahwa ia diminta perawat untuk menjalani rencana triple feeding (tiga metode pemberian makan), yang mencakup menyusui langsung, memerah ASI, dan memberikan susu formula kepada putrinya.

Menurut Barrett, proses tersebut sangat melelahkan. Ia harus terjaga sepanjang waktu, berusaha memerah ASI setiap tiga jam demi membangun dan menjaga pasokan ASI. Sementara 

"Putri saya sering kali rewel dan tidak nyaman selama proses itu, dan saya merasa seolah-olah seluruh hidup kami hanya berputar pada urusan menyusui," kata Barrett.

Bayi Barrett ternyata mengalami tongue-tie

Setelah melalui perjalanan menyusui yang panjang dan menerima berbagai saran, akhirnya putri Barrett diketahui mengalami tongue-tie atau ankyloglossia yang parah.

Kondisi tersebut memengaruhi kemampuan bayi untuk menyusu secara efektif. Masalah dan perbedaan saran mengenai menyusui bahkan disebut terus berlanjut sampai putrinya mulai mengonsumsi makanan padat sekitar usia enam bulan.

Barrett mengatakan bagian tersulit dari pengalaman tersebut adalah perasaan seolah-olah dirinya gagal sebagai seorang ibu. Ia bahkan merasa seperti membiarkan bayinya kelaparan, meski sudah berusaha melakukan berbagai hal yang disarankan. Padahal, ternyata ada kondisi pada bayi yang ikut memengaruhi proses menyusui.

Apa itu tongue-tie?

Tongue-tie atau ankyloglossia merupakan kondisi ketika jaringan yang menghubungkan bagian bawah lidah dengan dasar mulut membatasi gerakan lidah. Pada sejumlah bayi, kondisi ini dapat berkaitan dengan kesulitan melakukan pelekatan saat menyusu dan dapat menimbulkan masalah menyusui pada ibu maupun bayi.

Penelitian memang menemukan adanya hubungan antara tongue-tie dan kesulitan menyusui. Namun, tidak berarti setiap bayi dengan tongue-tie pasti mengalami masalah menyusui atau harus menjalani tindakan tertentu.

Sebuah systematic review yang diterbitkan dalam Acta Paediatrica pada 2022 menemukan bahwa tindakan frenotomi pada bayi dengan tongue-tie dapat memperbaiki skor kesulitan menyusui dan nyeri pada ibu dalam penelitian yang dianalisis. Namun, peneliti juga menekankan bahwa bukti yang tersedia tetap perlu dipertimbangkan secara hati-hati.

Systematic review dan meta-analysis yang diterbitkan dalam Pediatric Research pada 2024 juga menemukan peningkatan breastfeeding self-efficacy serta penurunan nyeri puting setelah frenotomi pada bayi dengan tongue-tie yang mengalami masalah menyusui.

Ini artinya, kesulitan menyusui tidak selalu sesederhana "ibu kurang bisa menyusui" atau "ASI ibu kurang". Ada berbagai faktor yang perlu dilihat, termasuk kondisi bayi.

Nasihat yang berbeda bisa membuat ibu baru semakin bingung

Pengalaman Barrett bukan satu-satunya kisah ibu baru yang bingung karena mendapat saran berbeda-beda. ABC juga mewawancarai beberapa ibu lain yang melaporkan menerima saran yang tidak konsisten setelah melahirkan.

Masalahnya bukan semata-mata karena seorang tenaga kesehatan memberikan saran yang berbeda dari tenaga kesehatan lainnya. Namun, untuk ibu yang baru pertama kali memiliki bayi, perbedaan informasi tanpa penjelasan yang jelas dapat membuat mereka kesulitan menentukan langkah berikutnya.

Hal ini juga menjadi perhatian dalam penelitian.

Sebuah tinjauan yang diterbitkan di jurnal Midwifery pada 2024 mengevaluasi lima pedoman pendidikan antenatal yang digunakan di Australia. Peneliti menggunakan instrumen AGREE II untuk menilai enam aspek kualitas pedoman.

Hasilnya, dengan pengecualian Pregnancy Care Guidelines dari Department of Health, pedoman yang ditinjau mendapatkan nilai rendah pada berbagai domain. Peneliti menyimpulkan bahwa masih terdapat kekurangan rekomendasi berbasis bukti untuk edukasi mengenai persalinan dan pengasuhan anak.

Memang, penelitian tersebut secara khusus membahas pedoman pendidikan antenatal, bukan secara khusus seluruh saran menyusui setelah persalinan.

Namun, temuan tersebut memberikan gambaran bahwa kualitas dan konsistensi informasi yang diterima calon orang tua juga menjadi hal yang perlu diperhatikan.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda