Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

menyusui

Lebih dari Separuh Bunda Cari Saran Menyusui dari AI, Dokter Ungkap Risikonya

Dwi Indah Nurcahyani   |   HaiBunda

Jumat, 04 Sep 2026 08:55 WIB

Japanese mom with baby in arms using voice feature on smartphone for convenience at home.
Lebih dari Separuh Bunda Cari Saran Menyusui dari AI, Dokter Ungkap Risikonya/Foto: Getty Images/South_agency
Daftar Isi
Jakarta -

Kecanggihan teknologi ternyata juga memudahkan para pejuang ASI dalam memberikan wawasan pada mereka. Sebanyak 51 persen ibu kini mencari solusi tentang menyusui melalui AI atau media sosial.

Ya, dalam sebuah survei nasional baru ditemukan bahwa sebanyak 51 persen perempuan berusia 18 hingga 44 tahun akan terlebih dahulu beralih ke AI, media sosial, atau mesin pencari daring untuk mencari tahu solusi permasalahan menyusui yang mereka hadapi secara mendesak sebelum menghubungi dokter spesialis.

Dari survei tersebut juga merilis bahwa hanya sekitar 29 persen yang mengatakan bahwa mereka akan menghubungi dokter atau konsultan laktasi terlebih dahulu, sementara 21 persen lainnya akan beralih ke keluarga atau teman. 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Temuan ini pun menyoroti tantangan yang kian berkembang seiring semakin banyaknya orang tua baru yang menggunakan AI untuk menjalani masa kehamilan, merawat bayi, dan menyusui.

Apakah saran AI selalu dapat diandalkan?

AI memang sedianya dapat dengan cepat menjelaskan istilah klinis dan menyarankan kemungkinan penyebab masalah, serta memberikan informasi umum tentang menyusui. Namun, AI tidak dapat memeriksa apakah bayi benar-benar mendapatkan cukup ASI.

"Ada pertanyaan-pertanyaan tertentu yang tidak dapat dijawab oleh AI," ujar Erynne Bowers, M.D., seorang dokter anak di Orlando Health Physician Associates seperti dikutip dari laman Healthnme.

Walau dianggap lebih cepat mendapatkan solusi, namun Dr Erynne Bowers memperingatkan bahwa saran umum dari internet justru dapat menunda penanganan medis serta tidak memiliki pendekatan personal yang dibutuhkan dalam banyak kasus. 

"AI tidak bisa melihat grafik pertumbuhan mereka. Selain itu, AI tidak bisa menilai cara bayi melekat pada payudara (latch)," kata Bowers, seperti dikutip dari laman People.

Meski demikian, lebih dari separuh perempuan yang disurvei mengatakan mereka akan beralih ke internet, bukan tenaga medis profesional, saat menghadapi masalah menyusui yang mendesak, menurut studi nasional terbaru tersebut.

Hal tersebut memang wajar menjadi pilihan para perempuan di luar sana ya, Bunda. Sebab, ketika permasalahan baru dihadapi dalam waktu mendesak, para ibu tentunya membutuhkan solusi cepat untuk mengatasi permasalahannya.

Namun demikian, Dr Bowers dari Orlando Health Physician Associates mengatakan bahwa alat-alat itu tidak dapat mempertimbangkan kebutuhan spesifik masing-masing ibu dan bayi.

"AI tidak bisa melihat apakah ada disfungsi motorik mulut yang dialami anak, yang mungkin berkontribusi pada kesulitan menyusui," katanya.

Terkait dengan ketergantungan pada teknologi dan internet dalam memecahkan masalah menyusui, Bowers mengatakan sekitar sepertiga ibu yang datang kepadanya dengan masalah menyusui pernah menerima saran yang keliru dari internet. Bahkan, dalam beberapa kasus, mereka yang mengikuti saran tersebut dapat menunda pemberian penanganan medis yang tepat. 

Selain itu, setiap bayi sedianya memiliki penanganan dan kebutuhan yang berbeda. Sehingga, treatment yang didapatkan mungkin tidaklah selalu sama. Seperti dalam hal nutrisi yang perlu diberikan pada bayi ya, Bunda.

"Tidak semua bayi makan sesering itu. Dan, tidak semua bayi mengonsumsi jumlah yang sama banyaknya," ujarnya.

Karena kebutuhan asupan bisa sangat bervariasi antara satu bayi dengan bayi lainnya, Bowers mengatakan bahwa saran yang bersifat umum terkadang bisa menyesatkan orang tua.

"Terkadang kami melihat adanya hambatan pertumbuhan akibat hal itu, sehingga kami harus mengambil langkah mundur, atau kami melihat penurunan pasokan ASI ibu karena AI memberi tahu mereka bahwa mereka tidak perlu menyusui sesering itu," jelasnya.

Penting diketahui bahwa kebutuhan nutrisi bayi bergantung pada beberapa faktor ya, Bunda. Termasuk diantaranya usia, berat badan janin laju pertumbuhan, riwayat medis, dan efisiensi saat menyusu.

Dokter juga akan memeriksa kenaikan berat badan bayi, hidrasi, pola buang air kecil dan besar, tingkat kewaspadaan, serta perkembangan bayi dengan detail. Mereka mungkin mengamati cara bayi melekat pada payudara, gerakan lidah, serta koordinasi antara menghisap, menelan, dan bernapas. Sementara, penilaian-penilaian ini tidak dapat dilakukan oleh chatbot AI.

Bisa jadi, seorang bayi mungkin dapat menghabiskan waktu lama di payudara tetapi hanya mendapatkan sedikit ASI. Sementara bayi lain mungkin menyusu dalam waktu lebih singkat namun melakukannya dengan efisien. Karena itu, jadwal pemberian makan yang bersifat umum tidak dapat menjelaskan keseluruhan masalah yang ada.

Bagaimana saran yang keliru dapat menciptakan suatu siklus?

Para ahli memperingatkan bahwa menyarankan seorang ibu untuk menyusui lebih jarang, misalnya, berpotensi mengurangi asupan kalori bayi sekaligus menurunkan stimulasi payudara.

Laporan tersebut juga mengisahkan pengalaman Emily Hunziker, seorang ibu asal Florida yang bayinya yang baru lahir mulai kehilangan berat badan meskipun ia telah berupaya memberikan ASI eksklusif.

Ia bekerja sama dengan dokter anak dan spesialis laktasi, serta menggunakan kombinasi metode memerah ASI, pemberian susu lewat botol, dan susu formula tambahan, sembari tetap mempertahankan tujuannya untuk menyusui. Kini, putranya tumbuh sehat dan berkembang dengan baik.

Haruskah para ibu menyusui berhenti menggunakan AI untuk mendapatkan saran seputar menyusui?

AI memang tidak dapat sepenuhnya menggantikan pemahaman dari ahli medis secara langsung ya, Bunda. Sehingga memanfaatkannya dengan bijak bisa menjadi pilihan. 

Hal ini tidak berarti bahwa pemakaian AI harus benar-benar dihentikan. Sebab kenyataannya, Ai juga bisa bermanfaat untuk memahami istilah medis, menyusun pertanyaan bagi dokter, atau mencari sumber informasi tepercaya. Namun, AI tidak boleh menjadi penentu keputusan akhir ketika menyangkut nutrisi atau pertumbuhan bayi.

Tanda-tanda peringatan seperti kenaikan berat badan yang minim, rasa kantuk yang tidak wajar, dehidrasi, muntah terus-menerus, kesulitan bernapas, nyeri hebat, atau penurunan drastis dalam aktivitas menyusu memerlukan pemeriksaan medis oleh dokter, bukan sekadar saran umum yang dihasilkan secara otomatis.

Terlalu mengandalkan chatbot AI untuk mendapatkan jawaban dapat menunda upaya mencari bantuan dokter, yang pada akhirnya bisa menghambat pemeriksaan klinis dan penanganan medis yang diperlukan.

Sehingga, ada baiknya segera konsultasikan apa pun permasalahan menyusui Bunda dengan dokter untuk mendapatkan solusi terbaik. Semoga informasinya membantu ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda