Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

menyusui

Kabar Baik, Peneliti Kembangkan Alat Pendeteksi Risiko Kesulitan Menyusui sejak Hamil

Annisa Aulia Rahim   |   HaiBunda

Senin, 31 Aug 2026 09:10 WIB

Ilustrasi Dokter dan Ibu Hamil
Kabar Baik, Peneliti Kembangkan Alat Pendeteksi Risiko Kesulitan Menyusui Sejak Hamil/Foto: Getty Images/iStockphoto/sarawut khawngoen
Daftar Isi
Jakarta -

Menyusui memang merupakan proses alami, tetapi bukan berarti selalu mudah bagi setiap ibu. Sebagian ibu bisa mengalami berbagai tantangan, mulai dari produksi ASI yang dirasa kurang, pelekatan bayi yang sulit, hingga kondisi kesehatan tertentu yang dapat memengaruhi proses menyusui.

Kabar baiknya, peneliti kini mengembangkan alat skrining yang dapat membantu mengidentifikasi ibu yang berisiko mengalami kesulitan menyusui bahkan sejak masa kehamilan.

Penelitian tersebut dikembangkan oleh Dr Sharon Perrella dari Centre for Human Lactation Research and Translation, The University of Western Australia. Alat ini dirancang untuk membantu tenaga kesehatan mengenali faktor risiko laktasi yang sudah ada sebelum persalinan sehingga ibu bisa mendapatkan edukasi dan dukungan lebih awal.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Kenapa kesulitan menyusui bisa diprediksi sejak hamil?

Menurut penelitian Perrella dan tim yang diterbitkan dalam Journal of Midwifery & Women's Health pada 2026, sejumlah kondisi yang sudah dimiliki ibu sejak sebelum atau selama kehamilan dapat berkaitan dengan risiko tidak memberikan ASI secara penuh setelah melahirkan.

Beberapa faktor yang diperhatikan dalam skrining antara lain diabetes gestasional, polyendocrine metabolic ovarian syndrome (PMOS), indeks massa tubuh (BMI) sebelum hamil yang tinggi, serta riwayat operasi payudara. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan masalah produksi ASI, termasuk produksi ASI yang lebih rendah.

Dengan mengetahui faktor risiko lebih awal, tenaga kesehatan dapat memberikan konseling laktasi secara lebih personal dan merencanakan dukungan setelah persalinan. Artinya, skrining ini bukan untuk mengatakan bahwa seorang ibu pasti akan gagal menyusui. Sebaliknya, hasil skrining dapat menjadi alarm agar ibu mendapatkan bantuan lebih cepat jika memang membutuhkannya.

Bagaimana cara kerja alat skrining ini?

Konsepnya cukup sederhana. Selama pemeriksaan kehamilan, tenaga kesehatan dapat menanyakan dan menilai sejumlah faktor yang berhubungan dengan kesehatan ibu serta riwayat menyusui.

Informasi tersebut kemudian digunakan untuk mengidentifikasi apakah ibu memiliki faktor yang dapat meningkatkan kemungkinan mengalami masalah laktasi.

Jika ditemukan risiko, ibu dapat diarahkan untuk mendapatkan edukasi menyusui atau berkonsultasi dengan konselor laktasi sebelum persalinan. Dengan begitu, ibu tidak harus menunggu sampai mengalami masalah setelah bayi lahir untuk mencari bantuan.

Penelitian tersebut menyebutkan bahwa skrining sejak masa antenatal dapat membantu tenaga kesehatan memberikan konseling laktasi yang lebih individual, edukasi, serta perencanaan dukungan menyusui setelah persalinan.

Bukan hanya kondisi fisik yang perlu diperhatikan

Kesulitan menyusui sebenarnya cukup kompleks. Faktor fisik memang penting, tetapi pengalaman ibu, kondisi psikologis, dukungan sosial, hingga proses persalinan juga dapat berpengaruh.

Studi yang diterbitkan dalam Maternal & Child Nutrition pada 2026 menyoroti bahwa berbagai faktor, termasuk stres psikososial, gangguan metabolik, dan intervensi saat persalinan, dapat berkaitan dengan gangguan laktasi. Peneliti juga menilai masih dibutuhkan alat diagnostik yang lebih objektif untuk membantu mengidentifikasi masalah menyusui secara tepat.

Karena itu, skrining sebaiknya tidak dipahami sebagai cara untuk menentukan apakah seorang ibu "bisa" atau "tidak bisa" menyusui. Hasilnya justru dapat menjadi dasar untuk menentukan dukungan apa yang paling dibutuhkan ibu.

Gagasan melakukan skrining sebelum persalinan sebenarnya bukan hal yang benar-benar baru. Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Perinatal Education pada 2019 menggunakan Breastfeeding Attrition Prediction Tool (BAPT) untuk mengidentifikasi ibu yang berisiko berhenti menyusui lebih awal.

Hasilnya menunjukkan bahwa ibu dengan skor tertentu yang mengindikasikan risiko lebih tinggi cenderung memiliki intensitas menyusui yang lebih rendah pada delapan minggu setelah persalinan. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa skrining prenatal berpotensi membantu tenaga kesehatan mengenali ibu yang membutuhkan dukungan tambahan.

Penelitian lain oleh Kronborg dan Vaeth yang diterbitkan dalam Nutrients pada 2019 juga mengembangkan dan memvalidasi Breastfeeding Score, alat sederhana yang menggunakan beberapa pertanyaan terkait pendidikan menyusui, pengalaman menyusui sebelumnya, kepercayaan diri, dan rasa aman ibu.

Dalam kelompok validasi, alat tersebut menunjukkan kemampuan yang cukup baik untuk membedakan ibu yang berisiko berhenti menyusui lebih awal.

Ada juga alat skrining untuk ibu setelah melahirkan

Selain skrining sejak kehamilan, peneliti juga mengembangkan alat yang bisa digunakan pada periode awal menyusui.

Studi yang diterbitkan dalam International Breastfeeding Journal pada 2025 mengembangkan Breastfeeding Education and Screening Tool (BEST), yaitu alat skrining mandiri untuk membantu ibu mengenali masalah menyusui.

Awalnya alat tersebut terdiri dari enam aspek, termasuk posisi menyusui, bentuk puting, payudara bengkak, pelekatan bayi, kemampuan bayi menelan, dan asupan bayi. Setelah proses validasi, alat tersebut menjadi lima item.

Dalam penelitian terhadap 58 ibu, sebagian besar peserta menilai alat tersebut mudah dipahami, relevan, dan bermanfaat. Analisis ROC menunjukkan nilai area under the curve (AUC) sebesar 0,79, dengan sensitivitas 86 persen dan spesifisitas 55 persen pada titik batas tertentu untuk mengidentifikasi kebutuhan rujukan ke konsultan laktasi.

Meski demikian, peneliti menegaskan bahwa alat tersebut masih membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui kemampuan prediktifnya dalam praktik klinis.

Adanya faktor risiko bukan berarti ibu pasti akan mengalami masalah menyusui. Justru, informasi tersebut dapat membantu ibu dan tenaga kesehatan mempersiapkan strategi sejak lebih awal.

Misalnya, ibu yang memiliki faktor risiko tertentu bisa mendapatkan edukasi tentang teknik menyusui, mempelajari posisi dan pelekatan yang tepat, berdiskusi mengenai riwayat kesehatan dengan dokter atau bidan, hingga mengetahui kapan perlu meminta bantuan konselor laktasi.

Yang paling penting, ibu tidak perlu merasa gagal ketika proses menyusui ternyata tidak berjalan sesuai harapan. Kesulitan menyusui merupakan kondisi yang cukup kompleks dan membutuhkan dukungan, bukan sekadar kemauan ibu.

Dengan adanya alat skrining seperti yang sedang dikembangkan para peneliti, harapannya masalah menyusui dapat dikenali lebih cepat, ditangani lebih tepat, dan ibu mendapatkan dukungan bahkan sebelum Si Kecil lahir.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda