Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

menyusui

Studi: Menyusui Mampu Bantu Jaga Kesehatan Mental Ibu dalam Jangka Panjang

Dwi Indah Nurcahyani   |   HaiBunda

Jumat, 31 Jul 2026 08:55 WIB

Ilustrasi menyusui
Studi: Menyusui Mampu Bantu Jaga Kesehatan Mental Ibu dalam Jangka Panjang/Foto: Getty Images/PonyWang
Jakarta -

Menyusui memiliki banyak manfaat positif baik untuk bayi dan juga busui. Salah satunya yakni bahwa menyusui mampu bantu kurangi risiko depresi hingga kecemasan ibu hingga 10 tahun ke depan.

Proses menyusui sejak bayi lahir mungkin sangatlah menantang bagi sebagian Bunda menyusui. Namun, manfaat yang didapatkan ternyata sebanding juga dengan yang dirasakan bayi dan juga busui yang bersangkutan, Bunda.

Penelitian tentang menyusui dan risiko stres ibu

Dalam sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa menyusui dapat menurunkan risiko depresi dan kecemasan pada ibu hingga 10 tahun setelah kehamilan, demikian seperti dirilis penelitian yang dipimpin UCD.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Diterbitkan dalam jurnal medis BMJ Open, penelitian tersebut dipimpin oleh Profesor Fionnuala McAuliffe dari UCD School of Medicine. Penelitian tersebut memantau dari kesehatan mental dan perilaku menyusui sebanyak 168 ibu yang melahirkan anak kedua.

Para ibu tersebut awalnya merupakan bagian dari ROLO Longitudinal Birth Cohort Study, yang dilakukan The UCD Perinatal Research Centre di The National Maternity Hospital.

Semua perempuan yang direkrut sejak awal kehamilan beserta anak-anak mereka menjalani pemeriksaan kesehatan pada usia tiga dan enam bulan, serta dua, lima, dan 10 tahun setelah kelahiran.

Pada setiap pemeriksaan, para ibu mengisi kuesioner riwayat kesehatan yang terperinci, yang menanyakan apakah mereka pernah didiagnosis dan diobati untuk depresi atau kecemasan. Mereka juga memberikan informasi tentang faktor-faktor yang berpotensi memengaruhi, termasuk pola makan dan tingkat aktivitas fisik.

Kemudian, para ibu tersebut menjawab pertanyaan tentang apakah mereka pernah menyusui atau memerah ASI selama satu hari atau lebih, serta berapa banyak jumlah total minggu menyusui eksklusif, jumlah total minggu menyusui secara keseluruhan, dan periode kumulatif menyusui kurang atau lebih dari 12 bulan.

Hasil penelitian

Dari hasil analisis data menunjukkan bahwa perempuan yang mengalami depresi dan kecemasan pada 10 tahun setelah kehamilan cenderung kurang menyusui, dan memiliki durasi menyusui secara keseluruhan atau eksklusif yang lebih pendek sepanjang hidup mereka. Selain itu, setiap minggu eksklusif seumur hidup dikaitkan dengan kemungkinan 2 persen  lebih rendah untuk melaporkan depresi dan kecemasan.

Para peneliti mengatakan memang masih belum jelas apakah penurunan risiko ini akan bertahan lebih dari 10 tahun setelah melahirkan. "Temuan bahwa menyusui dapat mengurangi kemungkinan depresi dan kecemasan pada ibu di kemudian hari sangat menggembirakan, dan merupakan alasan bagus lainnya untuk mendukung ibu kita untuk menyusui,” kata Profesor McAuliffe, The UCD Perinatal Research Centre seperti dikutip dari laman Udc.

"Kami menyarankan bahwa mungkin juga ada efek perlindungan dari keberhasilan menyusui terhadap depresi dan kecemasan pascapersalinan, yang pada gilirannya menurunkan risiko depresi dan kecemasan ibu dalam jangka panjang.”

Terkait hal tersebut, para penulis makalah berpendapat bahwa temuan tersebut harus menjadi dasar dukungan menyusui yang dipersonalisasi untuk para perempuan yang berisiko lebih tinggi mengalami depresi pasca persalinan, seperti perempuan dengan riwayat keguguran sebelumnya.

Lebih lanjut, para peneliti mengatakan bahwa peningkatan angka dan durasi pemberian ASI dapat meningkatkan hasil kesehatan ibu sepanjang hayatnya dalam hal berkurangnya diabetes dan penyakit jantung, serta mengurangi beban penyakit di tingkat populasi dengan penghematan biaya perawatan kesehatan yang signifikan.

Kemungkinannya adalah bahwa pemberian ASI dapat mengurangi beban depresi yang sangat besar pada individu, keluarga, sistem perawatan kesehatan, dan perekonomian hanya menambahkan pendapat bagi para pembuat kebijakan untuk lebih mempromosikan pemberian ASI.

Sayangnya, meski penelitian sebelumnya yang telah menemukan hubungan antara menyusui dan depresi pasca persalinan (pada tahun setelah kelahiran), para peneliti mencatat bahwa sejauh ini masih kurang penelitian tentang efek menyusui terhadap kesehatan mental di kemudian hari.

Untuk itu, para peneliti menyerukan kepada para pembuat kebijakan untuk meningkatkan promosi dan dukungan menyusui, dengan menyebutkan kemungkinan bahwa menyusui dapat lebih mengurangi beban depresi yang sangat besar pada individu, keluarga, sistem perawatan kesehatan, dan ekonomi.

Terlepas dari apa pun itu, menyusui memang memiliki banyak manfaat bagi kesehatan ibu dan anak, Bun. Sehingga, menyusui tetap menjadi nutrisi terbaik yang sebaiknya diberikan sejak bayi lahir untuk membantu tumbuh kembang anak secara maksimal. Semoga informasinya membantu ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda