Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

menyusui

5 Kesalahan Diet Ibu Menyusui yang Bikin Berat Badan Sulit Turun

Amrikh Palupi   |   HaiBunda

Rabu, 17 Jun 2026 09:40 WIB

Ilustrasi menyusui
5 Kesalahan Diet Ibu Menyusui yang Bikin Berat Badan Sulit Turun/Foto: Getty Images/Graphicscoco
Daftar Isi
Jakarta -

Menurunkan berat badan setelah melahirkan sering kali tidak semudah yang dibayangkan. Banyak ibu menyusui sudah berusaha mengatur pola makan, mengurangi camilan, bahkan rutin berolahraga, tetapi angka di timbangan seolah tidak bergerak.

Jika Bunda sedang mengalami hal yang sama, jangan langsung menyalahkan diri sendiri. Faktanya, ada berbagai faktor biologis dan perubahan tubuh setelah melahirkan yang dapat membuat proses menurunkan berat badan setelah melahirkan menjadi lebih lambat dibandingkan sebelum hamil.

5 Kesalahan diet ibu menyusui yang bikin berat badan sulit turun

Mulai dari hormon menyusui, pola makan yang terlalu ketat, hingga kekurangan nutrisi tertentu, semuanya bisa memengaruhi kemampuan tubuh membakar lemak. Berikut lima kesalahan diet ibu menyusui menurunkan berat badan sulit turun. 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


1. Tubuh sedang melindungi produksi ASI

Salah satu alasan terbesar mengapa berat badan sulit turun saat menyusui adalah karena tubuh memang dirancang untuk menjaga produksi ASI tetap optimal. Selama masa menyusui, hormon prolaktin dan oksitosin bekerja untuk membantu pembentukan dan pengeluaran ASI. Namun, prolaktin juga memberi sinyal pada tubuh untuk mempertahankan sebagian cadangan lemak sebagai sumber energi selama proses menyusui.

Artinya, jika Bunda masih memiliki beberapa kilogram berat badan yang belum turun setelah melahirkan, bukan berarti program diet gagal. Bisa jadi tubuh sedang menjalankan fungsi biologisnya untuk memastikan kebutuhan nutrisi Si Kecil tetap terpenuhi.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa banyak perempuan secara alami menyimpan sekitar 2 hingga 5 kilogram lemak tambahan selama masa menyusui. Cadangan ini berfungsi sebagai sumber kalori dan asam lemak esensial yang diperlukan untuk memproduksi ASI. Karena itu, tidak sedikit ibu yang baru mulai mengalami penurunan berat badan lebih signifikan ketika frekuensi menyusui berkurang atau saat memasuki masa penyapihan.

2. Kurang makan atau terlalu membatasi karbohidrat

Saat ingin segera menghilangkan berat badan setelah melahirkan, banyak ibu tergoda untuk mengurangi kalori secara drastis atau bahkan menghindari karbohidrat. Padahal, cara ini justru bisa menghambat bunda menurunkan berat badan setelah melahirkan. 

Selain itu, ada dua dampak utama jika bunda terlalu sedikit asupan energi dapat menimbulkan dua dampak utama. 

  • Produksi ASI bisa menurun

Tubuh memiliki prioritas utama, yaitu memastikan bayi tetap mendapatkan ASI yang cukup. Ketika tubuh mendeteksi kekurangan kalori dalam jangka waktu tertentu, tubuh akan berusaha mempertahankan produksi ASI dengan cara memperlambat proses pembakaran lemak. Dengan kata lain, tubuh lebih memilih menyimpan cadangan energi daripada mengambil risiko mengurangi pasokan ASI untuk bayi.

  • Metabolisme menjadi lebih lambat

Mengonsumsi makanan jauh di bawah kebutuhan energi harian secara terus-menerus dapat memengaruhi hormon tiroid yang berperan dalam mengatur metabolisme. Akibatnya, jumlah kalori yang dibakar tubuh saat beristirahat menjadi lebih sedikit, sehingga Bunda menurunkan berat badan setelah melahirkan justru semakin sulit terjadi.

3. Mengalami stres kronis

Menjadi ibu baru adalah pengalaman yang membahagiakan, tetapi juga bisa sangat melelahkan. Kurang tidur, mengurus bayi sepanjang hari, menyelesaikan pekerjaan rumah dan berbagai tanggung jawab lainnya dapat membuat tingkat stres meningkat tanpa disadari.

Ketika stres berlangsung terus-menerus, tubuh menghasilkan hormon kortisol dalam jumlah lebih tinggi. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menyebabkan: 

  • Tubuh lebih cenderung menyimpan lemak, terutama di area perut.
  • Nafsu makan meningkat, terutama terhadap makanan tinggi gula dan lemak.
  • Kualitas tidur menurun.
  • Metabolisme menjadi kurang efisien.
  • Tubuh lebih sulit menggunakan cadangan lemak sebagai sumber energi.

Jika Bunda merasa sulit menurunkan berat badan setelah melahirkan, sering menginginkan makanan manis atau berlemak dan berat badan bertambah terutama di bagian perut, bisa jadi stres kronis menjadi salah satu penyebabnya.

4. Gula darah tidak stabil dan terjadi resistensi insulin

Kebiasaan melewatkan waktu makan atau terlalu sering mengonsumsi makanan manis dapat menyebabkan kadar gula darah naik turun dengan cepat. Kondisi ini membuat hormon insulin terus meningkat. Padahal, ketika kadar insulin tinggi dalam waktu lama, tubuh cenderung lebih mudah menyimpan lemak dibandingkan membakarnya.

Setelah melahirkan, sensitivitas insulin juga dapat menurun sementara akibat perubahan hormon, kurang tidur, dan stres. Akibatnya, makanan tinggi karbohidrat yang mungkin tidak menimbulkan masalah sebelum hamil kini dapat menyebabkan lonjakan gula darah yang lebih tinggi, diikuti penurunan yang cepat. Siklus ini sering memicu:

  • Rasa lapar yang datang lebih cepat
  • Keinginan mengonsumsi makanan manis
  • Tubuh mudah lelah
  • Sulit berkonsentrasi
  • Berat badan yang sulit turun

5. Kekurangan mikronutrien yang mendukung metabolisme

Banyak ibu fokus menghitung kalori, tetapi lupa memperhatikan kualitas nutrisi yang dikonsumsi. Padahal selama hamil, melahirkan, dan menyusui, tubuh menggunakan banyak vitamin serta mineral untuk mendukung tumbuh kembang bayi. Akibatnya, cadangan nutrisi ibu bisa berkurang secara bertahap.

Kondisi ini sering disebut sebagai postpartum nutrient depletion atau penurunan cadangan nutrisi setelah melahirkan. Ketika cadangan nutrisi penting mulai menipis, berbagai fungsi tubuh dapat terpengaruh, termasuk metabolisme tubuh, produksi hormon tiroid, tingkat energi harian, pemulihan pascapersalinan dan kemampuan tubuh membakar lemak. 

Akibatnya, berat badan setelah melahirkan bisa menjadi lebih sulit turun meskipun Bunda merasa sudah menjaga pola makan dengan baik.

Mikronutrien yang sering jadi penyebab:

1. Zat besi (iron)

Kekurangan zat besi cukup umum terjadi setelah melahirkan, terutama jika ibu mengalami perdarahan saat persalinan. Kadar zat besi yang rendah dapat menyebabkan tubuh mudah lelah, pusing, sulit berkonsentrasi, metabolisme melambat sampai aktivitas fisik berkurang karena energi rendah.

2. Yodium dan selenium

Kedua mineral ini sangat penting untuk produksi hormon tiroid. Jika asupan yodium dan selenium tidak mencukupi, fungsi kelenjar tiroid dapat terganggu sehingga pembakaran energi melambat, berat badan sulit turun, tubuh terasa lemas dan sensitif terhadap dingin.

3. Vitamin D dan vitamin B kompleks

Vitamin D dan vitamin B berperan penting dalam menjaga keseimbangan hormon, mendukung kesehatan mental dan suasana hati, membantu metabolisme energi dan mendukung proses pembakaran lemak

Kekurangan vitamin-vitamin ini dapat membuat tubuh terasa kurang bertenaga dan memperlambat proses menurunkan berat badan.

Jadi intinya mengapa berat badan setelah melahirkan sulit turun bukan berarti Bunda kurang disiplin menjalani diet. Tapi, tubuh sedang mengalami banyak perubahan yang bertujuan menjaga kesehatan ibu sekaligus memastikan kebutuhan nutrisi bayi tetap terpenuhi.

Daripada fokus pada diet ketat, cobalah Bunda menerapkan pola makan bergizi seimbang, tidur yang cukup, mengelola stres, dan tetap aktif bergerak setiap hari. Dengan pendekatan yang lebih sehat dan realistis, berat badan biasanya akan turun secara bertahap tanpa mengganggu produksi ASI.

Semoga informasi di atas bermanfaat, ya Bunda. 

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda