Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

menyusui

Banyak Ibu Menyusui di Korea Akhirnya Pilih Menyusui di Toilet, Mengapa?

Annisa Aulia Rahim   |   HaiBunda

Jumat, 01 May 2026 09:10 WIB

Ibu dan bayi korea
Banyak Ibu Menyusui di Korea Akhirnya Pilih Menyusui di Toilet, Mengapa?/Foto: Getty Images/MengWen Guo
Daftar Isi
Jakarta -

Fenomena yang cukup mengejutkan datang dari Korea Selatan. Di tengah kemajuan negara tersebut, ternyata masih banyak busui (ibu menyusui) yang memilih menyusui bayinya di toilet umum. Bukan tanpa alasan, kondisi ini justru menggambarkan tantangan besar yang dihadapi para ibu saat ingin memberikan ASI di ruang publik.

Salah satu kisah datang dari seorang Bunda bernama Cho Ji-won yang mengaku sering menjadikan bilik toilet sebagai 'tempat aman' saat bayinya lapar di luar rumah. Di ruang sempit dengan kursi seadanya bahkan di atas toilet ia terpaksa menyusui demi privasi. Berikut kisahnya dikutip dari Koreaherald:

Minimnya ruang menyusui yang layak

Salah satu alasan utama adalah terbatasnya fasilitas menyusui di ruang publik. Meski beberapa tempat seperti mal atau stasiun menyediakan ruang laktasi, jumlahnya masih sangat sedikit dan tidak selalu mudah diakses. Akibatnya, ketika bayi lapar secara tiba-tiba, toilet menjadi pilihan paling cepat dan 'tersedia'. Sayangnya, kondisi ini jelas tidak ideal dari sisi kebersihan maupun kenyamanan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Fenomena ini ternyata tidak hanya terjadi di Korea. Sebuah survei global menunjukkan bahwa banyak ibu tidak memiliki akses ke ruang laktasi, bahkan di tempat kerja. Akibatnya, mereka sering menggunakan tempat seadanya seperti mobil, gudang, bahkan kamar mandi atau toilet  Kondisi ini menunjukkan bahwa dukungan fasilitas masih belum sejalan dengan kebutuhan ibu menyusui, bahkan di negara maju sekalipun.

Tekanan sosial dan rasa tidak nyaman

Selain faktor fasilitas, tekanan sosial juga berperan besar. Menyusui di tempat umum di Korea masih sering dianggap tidak nyaman atau memicu tatapan negatif. Dalam banyak kasus, ibu merasa diawasi atau bahkan dikomentari saat menyusui di depan umum. Kondisi ini membuat sebagian besar memilih tempat tersembunyi, meski harus mengorbankan kenyamanan diri dan bayi.

Fenomena ini bukan hal baru. Bahkan sejak lama, perdebatan soal menyusui di ruang publik sudah terjadi di Korea ada yang mendukung, tapi tak sedikit yang menganggapnya 'tidak pantas'.

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of Human Lactation menemukan bahwa stigma sosial menjadi salah satu hambatan utama ibu untuk menyusui di ruang publik. Banyak responden mengaku merasa diawasi, dinilai, bahkan 'dipermalukan' secara halus hanya karena menyusui bayinya di tempat umum.

Penelitian lain dalam jurnal kesehatan ibu dan anak menunjukkan bahwa pengalaman negatif seperti komentar tidak menyenangkan atau tatapan orang asing, bisa membuat ibu memilih menghindari menyusui di luar rumah. Dalam beberapa kasus, ibu bahkan memutuskan untuk menunda menyusui hingga menemukan tempat tertutup, meski bayi sudah lapar.

Yang lebih dalam lagi, studi terbaru mengungkap adanya fenomena internalized stigma, yaitu rasa malu yang muncul dari dalam diri ibu sendiri karena sudah terbentuk oleh norma sosial di sekitarnya. Artinya, bahkan tanpa komentar dari orang lain pun, ibu bisa merasa tidak nyaman menyusui di depan umum.

Hal ini tidak lepas dari cara pandang budaya yang masih menganggap payudara sebagai sesuatu yang 'privat' atau seksual. Akibatnya, aktivitas menyusui yang sebenarnya alami dan penting justru dianggap tidak pantas jika dilakukan di ruang publik.

Dampaknya pun nyata. Penelitian menunjukkan bahwa stigma sosial dapat menurunkan kepercayaan diri ibu dalam menyusui, bahkan berkontribusi pada keputusan untuk berhenti memberikan ASI lebih cepat dari yang direkomendasikan.

Budaya menyusui yang masih menganggap sensitif

Di beberapa budaya, termasuk Korea, payudara masih sering dikaitkan dengan hal seksual. Hal ini membuat aktivitas menyusui di ruang publik menjadi sensitif.

Padahal secara medis, menyusui adalah kebutuhan dasar bayi yang tidak bisa ditunda. Namun stigma sosial membuat banyak ibu merasa harus menyembunyikan proses tersebut.

Menurut berbagai studi global, rasa malu atau takut dinilai orang lain memang menjadi salah satu alasan utama ibu menghindari menyusui di tempat umum. Selain itu, kajian sistematis tahun 2025 juga menegaskan bahwa di beberapa budaya, stigma terhadap menyusui di tempat umum membuat ibu enggan menyusui di luar rumah Padahal, bayi tidak bisa menunggu. Saat lapar, menyusui harus dilakukan segera, di mana pun ibu berada.

Dampak bagi Bunda dan bayi

Keputusan menyusui di toilet mungkin terlihat sebagai solusi cepat, tapi di balik itu ada dampak yang tidak kecil baik untuk ibu maupun bayi.

Dari sisi fisik, toilet bukanlah lingkungan yang ideal untuk menyusui. Risiko paparan bakteri tentu lebih tinggi dibandingkan ruang terbuka yang bersih. Meski ASI sendiri memiliki sifat protektif, lingkungan yang kurang higienis tetap bisa meningkatkan potensi infeksi, terutama pada bayi yang sistem imunnya masih berkembang.

Namun, dampak terbesar justru sering terjadi pada sisi emosional ibu. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ibu yang merasa tidak nyaman atau tertekan saat menyusui di ruang publik cenderung mengalami stres lebih tinggi. Studi dalam Journal of Human Lactation menyebutkan bahwa pengalaman negatif saat menyusui termasuk rasa malu atau takut dinilai dapat menurunkan kepercayaan diri ibu dalam memberikan ASI.

Ketika menyusui menjadi momen yang penuh kecemasan, hubungan emosional antara ibu dan bayi pun bisa ikut terpengaruh. Padahal, proses menyusui bukan hanya soal nutrisi, tapi juga bonding yang penting untuk perkembangan psikologis bayi.

Selain itu, kondisi seperti ini bisa membuat ibu mulai menghindari menyusui di luar rumah. Akibatnya, ibu mungkin:

  • Menunda menyusui saat bayi lapar
  • Lebih memilih memberikan susu formula saat bepergian
  • Atau bahkan mempercepat proses menyapih

Penelitian global juga menunjukkan bahwa kurangnya dukungan sosial dan rasa tidak aman saat menyusui di publik berkontribusi pada rendahnya angka ASI eksklusif di beberapa negara.

Bagi bayi, hal ini tentu berdampak langsung. ASI memiliki peran penting dalam meningkatkan sistem imun, mendukung perkembangan otak, serta melindungi dari berbagai penyakit di awal kehidupan. Ketika pemberian ASI terganggu, manfaat tersebut tidak bisa didapatkan secara optimal. Sementara bagi ibu, tekanan yang terus-menerus bisa memicu kelelahan emosional, bahkan meningkatkan risiko baby blues atau stres pasca melahirkan.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

ADVERTISEMENT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda