menyusui
Waspada Bun, Ini Beragam Risiko Berbagi ASI Tanpa Prosedur yang Tepat
HaiBunda
Selasa, 24 Mar 2026 08:30 WIB
Daftar Isi
Pernahkah Bunda mendengar tentang sharing ASI yang dilakukan ibu menyusui? Meskipun tujuannya baik, tapi risiko yang dihadapi juga begitu tinggi apabila kegiatan berbagi ASI dilakukan tanpa prosedur yang tepat.
Pada dasarnya, kegiatan berbagi ASI kerap dilakukan melalui bank ASI, Bunda. Nantinya, ibu yang memiliki pasokan ASI berlimpah dapat menjadi pendonor untuk membantu ibu lain yang sedang kesulitan atau memiliki pasokan ASI yang lebih sedikit.
Namun, sejumlah penelitian menemukan bahwa terdapat bank ASI ilegal yang tidak menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) dengan baik. Dengan demikian, ASI berisiko terkontaminasi dengan penyakit atau zat-zat lain yang mungkin saja berbahaya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, bank ASI yang resmi biasanya akan menyaring pasokan ASI sebelum dibagikan ke ibu lain. Sebab, jika prosedur tersebut tidak dilakukan dengan baik, dikhawatirkan bayi akan menerima ASI yang terkontaminasi paparan penyakit atau zat lain.
Siapa saja yang bisa berbagi ASI
Melansir dari laman Parents, kegiatan berbagi ASI kini sudah tersebar hampir di seluruh dunia, Bunda. Dalam beberapa kasus, ASI donor biasanya diperuntukkan dan diprioritaskan bagi bayi yang sedang sakit dan/atau prematur.
Namun, terdapat beberapa kriteria lain yang memungkinkan bayi dan ibu untuk menerima atau mendonorkan ASI, di antaranya:
- Bayi yang tidak cocok dengan kandungan susu formula
- Ibu dengan jumlah pasokan ASI yang sedikit
- Ibu dengan kesulitan dalam menyusui
- Ibu dengan gangguan medis yang mempengaruhi produksi ASI sementara waktu
- Ibu yang bayinya tidak bertahan hidup dan ingin mendonorkan ASI-nya
Risiko berbagi ASI tanpa prosedur yang tepat
Survei yang dilakukan oleh American Academy of Pediatrics (AAP) mengungkapkan 50 persen dari 650 ribu ibu yang berbagi ASI di Amerika kurang menyadari keamanan dari kegiatan tersebut. Bahkan, banyak di antaranya yang mengaku tidak menyeleksi ASI dari bank.
Alasan yang terungkap dalam survei tersebut menyebutkan bahwa ibu sudah percaya dengan bank ASI sebagai penyedia donor. Namun, hal seperti ini tetap perlu diwaspadai, sebab beberapa kali ditemukan ketidaksesuaian prosedur donor yang dampaknya sangat merugikan.
Berikut beberapa risiko berbagi ASI tanpa prosedur yang tepat:
- Risiko penularan penyakit: Berbagai ASI secara ilegal tanpa skrining kesehatan dapat meningkatkan risiko penularan penyakit dari pendonor kepada bayi.
- Paparan zat berbahaya: Bayi berisiko terpapar zat yang terkandung dalam ASI pendonor, seperti obat-obatan, alkohol, narkoba, atau kontaminasi lainnya.
- Paparan bakteri: Kurangnya prosedur penyimpanan membuat kualitas ASI menjadi buruk sehingga dapat memperparah kondisi bayi, terutama yang sedang sakit atau prematur.
AAP menemukan bahwa bank ASI ilegal banyak yang terlalu mengabaikan keamanan, seperti tidak melakukan skrining kesehatan, tidak memeriksa kualitas ASI, serta kurangnya prosedur penyimpanan yang aman. Hal tersebut dapat meningkatkan berbagai risiko kesehatan lainnya.
Cara berbagi ASI yang lebih aman
Terdapat beberapa cara berbagi ASI yang disarankan Asosiasi Bank ASI Manusia Amerika Utara (HMBANA), dengan dipandu oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit serta Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA). Berikut penjelasannya:
1. Pendonor wajib melakukan skrining kesehatan
Setiap bank ASI wajib menerapkan skrining kesehatan secara menyeluruh bagi pendonor sebelum mereka mendonorkan ASI-nya. Pendonor sebaiknya tidak memiliki penyakit yang membahayakan bayi serta tidak mengonsumsi obat-obatan atau herbal yang tidak aman selama menyusui. Pendonor juga tidak boleh mengidap HIV, hepatitis B, atau virus lainnya.
2. Berbagi ASI dengan pendampingan tenaga kesehatan
Para ahli menyarankan agar orang tua berkonsultasi dengan dokter sebelum menerima atau mendonorkan ASI. Biasanya, dokter akan memberikan edukasi terkait risiko dan manfaatnya, serta memastikan rangkaian proses berbagi ASI dilakukan dengan cara yang aman.
3. Melakukan berbagi ASI di bank ASI yang resmi
Para ahli menyarankan untuk menerima atau mendonorkan ASI pada bank ASI yang resmi dan bersertifikat. Pasalnya, bank ASI resmi telah melalui berbagai macam pengujian, pemeriksaan kesehatan, serta penerapan prosedur pelaksanaan dan penyimpanan yang aman.
4. Hindari bertransaksi jual beli ASI di internet
Para ahli tidak menyarankan Bunda untuk mendapatkan ASI melalui internet. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa ASI yang dijual secara daring seringkali tidak layak konsumsi dan berisiko terkontaminasi zat lain. Namun, Bunda juga tidak dianjurkan untuk membeli ASI secara langsung karena pertukaran uang dapat meningkatkan risiko keamanan.
“Penting untuk diketahui bahwa ASI bisa berisiko bagi bayi orang lain meskipun pendonor merasa sehat selama kehamilan. Pedoman penyaringan donor ASI yang digunakan bank ASI ditetapkan untuk melindungi bayi yang paling sakit dan rentan, sehingga sengaja dibuat ketat,” kata seorang profesor madya di Rumah Sakit Anak Nationwide, Sarah A. Keim, PhD.
Demikian penjelasan mengenai risiko berbagi ASI tanpa prosedur yang tepat. Semoga informasinya bermanfaat dan menambah pengetahuan Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Menyusui
Donor ASI secara Informal Ternyata Punya Risiko Tersembunyi, Simak Penjelasannya
Menyusui
Hukum Menyusui Bayi dengan Bank ASI dan Pendonor ASI dalam Islam
Menyusui
Bank ASI Pertama di Hong Kong Berhasil Kumpulkan 300 Liter ASI dalam Waktu 3 Bulan
Menyusui
Kisah Busui Pecahkan Rekor Pendonor ASI Terbanyak di Dunia, Berikan Lebih dari 2.000 Liter!
Menyusui
Hukum Menyusui dengan Bank ASI Menurut Islam
7 Foto
Menyusui
7 Bunda Seleb Jadi Pendonor ASI karena Tujuan Mulia, Penuh dengan Cerita Haru
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Deretan Artis Pernah Jadi Pendonor ASI, Terbaru Ada Jessica Iskandar
ASI Pagi Diberi Malam Ternyata Bisa Ganggu Tidur Bayi, Ini Alasannya
Ketahui Risiko bila Orang Dewasa Minum ASI