KEHAMILAN
Kenali Fungsi Tuba Falopi dalam Sistem Reproduksi Wanita
Annisa Aulia Rahim | HaiBunda
Minggu, 08 Nov 2026 06:00 WIB
Daftar Isi
Tuba falopi merupakan salah satu organ penting dalam sistem reproduksi perempuan yang memiliki peran besar dalam proses terjadinya kehamilan. Organ ini menjadi jalur penghubung antara ovarium (indung telur) dan rahim (uterus), sekaligus tempat bertemunya sel telur dan sperma.
Setiap perempuan umumnya memiliki dua tuba falopi yang terletak di sisi kanan dan kiri rahim. Meskipun ukurannya relatif kecil, organ ini memiliki fungsi yang sangat penting dan bisa mengalami gangguan yang berhubungan dengan kesuburan.
Lantas, apa saja fungsi tuba falopi dalam sistem reproduksi perempuan? Bagaimana bentuk dan anatominya? Yuk, kenali lebih jauh agar Bunda dapat memahami pentingnya menjaga kesehatan organ reproduksi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fungsi tuba falopi
Tuba falopi tidak hanya berfungsi sebagai saluran penghubung antara ovarium dan rahim. Organ ini juga berperan dalam beberapa tahapan penting reproduksi, terutama yang berkaitan dengan proses pembuahan dan awal perkembangan embrio. Melansir dari beberapa sumber, berikut lima fungsi utama tuba falopi yang perlu Bunda ketahui:
1. Menangkap sel telur dari ovarium
Setiap bulan, ketika perempuan mengalami ovulasi, ovarium akan melepaskan sel telur yang telah matang. Sel telur tersebut kemudian ditangkap oleh bagian ujung tuba falopi yang memiliki struktur menyerupai jari-jari kecil bernama fimbriae.
Fimbriae membantu mengarahkan sel telur agar masuk ke dalam saluran tuba falopi. Setelah itu, sel telur bergerak menuju bagian dalam tuba falopi untuk melanjutkan proses reproduksi.
2. Menjadi tempat terjadinya pembuahan
Tuba falopi juga berfungsi sebagai tempat bertemunya sel telur dan sperma untuk menjalani proses pembuahan atau fertilisasi. Proses ini umumnya terjadi di bagian ampula, yaitu bagian tuba falopi yang memiliki diameter lebih lebar dibandingkan bagian lainnya.
Setelah berhubungan seksual, sperma akan bergerak melewati vagina, leher rahim, dan rongga rahim hingga mencapai tuba falopi. Sementara itu, sel telur yang telah dilepaskan ovarium akan bergerak masuk ke saluran tersebut dengan bantuan fimbriae dan silia.
Menurut StatPearls yang diterbitkan melalui National Center for Biotechnology Information (NCBI), ampula merupakan lokasi paling umum terjadinya fertilisasi pada manusia. Di bagian ini, sperma yang berhasil mencapai sel telur akan berusaha menembus lapisan pelindungnya.Â
Apabila satu sperma berhasil masuk ke dalam sel telur, materi genetik dari keduanya akan bergabung dan membentuk zigot. Zigot merupakan sel pertama yang terbentuk setelah pembuahan dan akan mulai mengalami pembelahan sebagai tahap awal perkembangan embrio.
3. Mengantar embrio ke rahim
Tuba falopi juga berfungsi mengantarkan hasil pembuahan berupa zigot menuju rahim. Zigot merupakan sel pertama yang terbentuk dari penyatuan sel telur dan sperma. Sel ini kemudian mulai membelah menjadi beberapa sel sambil bergerak melewati saluran tuba falopi.
Menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Journal of Assisted Reproduction and Genetics tahun 2014, perpindahan embrio menuju rahim melibatkan tiga mekanisme utama, yaitu gerakan silia, kontraksi otot tuba falopi, dan aliran cairan di dalam saluran tersebut.Â
Gerakan silia atau rambut-rambut halus pada lapisan dalam tuba falopi membantu mengarahkan embrio menuju rahim. Sementara itu, kontraksi otot dinding tuba dan cairan yang dihasilkan lapisannya turut mendukung proses perpindahan tersebut.
Perjalanan zigot hingga mencapai rahim umumnya membutuhkan waktu sekitar 3–5 hari. Selama perjalanan ini, zigot terus mengalami pembelahan hingga berkembang menjadi embrio tahap awal. Setelah mencapai rongga rahim, embrio akan melanjutkan perkembangannya dan kemudian menjalani proses implantasi atau menempel pada lapisan dinding rahim (endometrium).Â
4. Mendukung kelangsungan hidup sperma dan embrio
Tuba falopi tidak hanya menjadi tempat bertemunya sperma dan sel telur, tetapi juga menyediakan lingkungan khusus yang mendukung kelangsungan hidup keduanya serta perkembangan awal embrio. Hal ini didukung oleh cairan tuba falopi (tubal fluid) yang mengandung berbagai nutrisi, protein, asam amino, dan elektrolit penting.
Menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Reproduction tahun 2001, cairan yang dihasilkan oleh lapisan dalam tuba falopi menyediakan lingkungan bagi pematangan sel reproduksi, proses pembuahan, hingga perkembangan awal embrio. Selain itu, penelitian dalam jurnal Sperm-Oviduct Interactions: Key Factors for Sperm Survival and Maintenance of Sperm Fertilizing Capacity tahun 2022 menjelaskan bahwa interaksi antara sperma dan lapisan epitel tuba falopi membantu menjaga kemampuan sperma untuk bertahan hidup dan mempertahankan kemampuannya membuahi sel telur.Â
Lingkungan tuba falopi juga berperan dalam mendukung perkembangan embrio setelah pembuahan. Nutrisi dan molekul tertentu dalam cairan tuba membantu memenuhi kebutuhan embrio selama tahap awal pembelahan sel, sebelum akhirnya mencapai rahim.
Dengan demikian, tuba falopi memiliki peran lebih dari sekadar saluran penghubung. Organ ini turut menyediakan lingkungan biologis yang mendukung proses pembuahan dan perkembangan awal embrio sebelum implantasi di rahim.Â
5. Membantu proses kehamilan yang sehat
Tuba falopi yang sehat berperan penting dalam mendukung terjadinya kehamilan secara alami. Organ ini membantu memastikan sel telur dapat bertemu dengan sperma, mengalami pembuahan, kemudian bergerak menuju rahim untuk melanjutkan perkembangan embrio.
Menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Journal of Assisted Reproduction and Genetics tahun 2014, keberhasilan kehamilan alami membutuhkan fungsi tuba falopi yang normal. Organ ini tidak hanya menjadi jalur pertemuan sel telur dan sperma, tetapi juga menyediakan lingkungan yang mendukung pembuahan serta perkembangan awal embrio.Â
Proses tersebut melibatkan gerakan silia, kontraksi otot dinding tuba falopi, serta cairan yang dihasilkan oleh lapisan dalamnya. Ketiganya bekerja sama untuk membantu menggerakkan embrio menuju rongga rahim pada waktu yang tepat.
Apabila tuba falopi mengalami kerusakan, penyumbatan, atau gangguan pergerakan silia, perjalanan embrio menuju rahim dapat terhambat. Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko kehamilan ektopik, yaitu ketika embrio menempel dan berkembang di luar rongga rahim, paling sering di tuba falopi.Â
Bentuk tuba falopi
Tuba falopi memiliki bentuk seperti saluran kecil yang memanjang dan sedikit melengkung, menyerupai corong pada salah satu ujungnya. Organ ini terdiri dari dua saluran yang masing-masing berada di sisi kanan dan kiri rahim, kemudian memanjang ke arah ovarium.
Tuba falopi memiliki panjang sekitar 10–12 sentimeter (cm) dengan diameter saluran bagian dalam kurang dari 1 milimeter (mm). Kedua saluran ini menghubungkan area ovarium dengan rongga rahim dan menjadi jalur penting dalam proses reproduksi wanita.Â
Pada bagian ujung yang dekat dengan ovarium, tuba falopi memiliki bentuk melebar menyerupai corong yang disebut infundibulum. Bagian ini dilengkapi struktur kecil menyerupai jari-jari bernama fimbriae yang membantu menangkap sel telur setelah dilepaskan dari ovarium.
Sementara itu, bagian tengah tuba falopi memiliki saluran lebih lebar yang disebut ampula. Bagian ini merupakan lokasi paling umum terjadinya pembuahan. Semakin mendekati rahim, salurannya menjadi lebih sempit dan disebut isthmus.Â
Selain bentuk luarnya, dinding tuba falopi juga memiliki struktur khusus. Menurut penelitian dalam jurnal Radio Graphics tahun 2020, dinding tuba falopi terdiri dari lapisan mukosa, otot, dan serosa. Lapisan mukosanya memiliki sel bersilia (rambut-rambut halus) yang membantu menggerakkan sel telur dan embrio menuju rahim.
Ilustrasi Organ Reproduksi/ Foto: Getty Images/iStockphoto |
Anatomi dan fungsi tuba falopi
Secara anatomi, tuba falopi terbagi menjadi beberapa bagian yang memiliki struktur dan fungsi berbeda. Setiap bagian saling bekerja sama untuk mendukung perjalanan sel telur dari ovarium hingga menuju rahim. Berikut 4 bagian utama tuba falopi:
1. Fimbriae
Fimbriae merupakan struktur kecil menyerupai jari-jari atau rumbai yang berada di ujung tuba falopi, dekat dengan ovarium.
Bagian ini berfungsi menangkap sel telur yang dilepaskan ovarium selama ovulasi. Fimbriae akan membantu mengarahkan sel telur menuju lubang tuba falopi agar dapat masuk ke dalam saluran tersebut.
2. Infundibulum
Infundibulum merupakan bagian ujung tuba falopi yang berbentuk seperti corong dan berada paling dekat dengan ovarium. Bagian ini memiliki fimbriae pada ujungnya.
Fungsi infundibulum adalah membantu menerima sel telur yang telah ditangkap fimbriae, kemudian mengarahkannya masuk ke dalam saluran tuba falopi.
3. Ampula
Ampula merupakan bagian tuba falopi yang paling panjang dan memiliki diameter lebih lebar dibandingkan bagian lainnya.
Bagian ini menjadi lokasi paling umum terjadinya pembuahan. Ketika sperma berhasil bertemu dengan sel telur di ampula, proses fertilisasi dapat berlangsung dan menghasilkan zigot.
4. Isthmus
Isthmus merupakan bagian tuba falopi yang memiliki diameter lebih sempit dan dinding otot lebih tebal. Letaknya berada di antara ampula dan bagian tuba yang terhubung dengan rahim.
Bagian ini berfungsi sebagai jalur penghubung menuju rahim. Kontraksi otot pada dindingnya turut membantu mengatur pergerakan sel reproduksi dan hasil pembuahan menuju rongga rahim.
Secara anatomi lengkap, tuba falopi juga memiliki bagian intramural atau interstisial yang melewati dinding otot rahim. Bagian ini tidak termasuk dalam empat bagian yang dijelaskan di atas ya, Bunda.
Gangguan kesehatan pada tuba falopi
Kesehatan tuba falopi dapat memengaruhi kesuburan dan peluang wanita untuk hamil. Gangguan pada organ ini bisa menyebabkan saluran tersumbat, mengalami peradangan, terbentuknya jaringan parut, hingga menghambat perjalanan sel telur atau embrio menuju rahim.
Beberapa kondisi juga dapat memengaruhi jaringan di sekitar tuba falopi, seperti ovarium dan rahim. Berikut sejumlah gangguan kesehatan yang bisa terjadi di tuba falopi:
1. Kanker
Kanker tuba falopi merupakan jenis kanker langka yang terjadi ketika sel-sel abnormal tumbuh secara tidak terkendali pada jaringan yang melapisi tuba falopi. Kondisi ini dapat berkembang di salah satu atau kedua saluran yang menghubungkan ovarium dengan rahim.
Menurut National Cancer Institute (NCI), kanker tuba falopi termasuk dalam kelompok kanker ovarium epitel dan kanker peritoneum primer karena ketiganya memiliki karakteristik jaringan yang serupa. Bahkan, sebagian kanker ovarium jenis serosa tingkat tinggi (high-grade serous carcinoma) diketahui dapat bermula dari ujung tuba falopi.Â
Kanker ini tergolong jarang dan sering kali tidak menimbulkan gejala spesifik pada tahap awal. Namun, ketika gejala mulai muncul, beberapa tanda yang dapat dialami perempuan meliputi:
- Nyeri atau tekanan pada perut dan area panggul
- Perut terasa kembung atau membesar
- Keputihan yang tidak biasa, terkadang disertai darah
- Perdarahan vagina di luar menstruasi atau setelah menopause
- Sering merasa ingin buang air kecil
- Cepat merasa kenyang atau kehilangan nafsu makan
- Teraba benjolan di area panggul
Gejala tersebut tidak selalu menandakan adanya kanker tuba falopi karena dapat juga berkaitan dengan kondisi kesehatan lainnya. Namun, Bunda sebaiknya berkonsultasi dengan dokter apabila keluhan berlangsung terus-menerus, semakin memburuk, atau disertai perdarahan vagina yang tidak biasa.Â
Hingga saat ini, penyebab pasti kanker tuba falopi belum diketahui. Meski begitu, beberapa faktor dapat meningkatkan risikonya, seperti usia yang semakin bertambah, riwayat keluarga dengan kanker ovarium atau payudara, serta mutasi genetik BRCA1 dan BRCA2.
2. Kehamilan Ektopik
Kehamilan ektopik adalah kondisi ketika sel telur yang telah dibuahi menempel dan berkembang di luar rongga rahim. Sebagian besar kasus kehamilan ektopik terjadi di tuba falopi sehingga kondisi ini juga dikenal sebagai kehamilan tuba.
Pada kehamilan normal, embrio akan bergerak melalui tuba falopi menuju rahim untuk menempel pada lapisan endometrium. Namun, pada kehamilan ektopik, embrio justru menempel di saluran tersebut atau bagian lain di luar rahim. Karena tuba falopi tidak dirancang untuk menampung pertumbuhan kehamilan, kondisi ini tidak dapat berkembang menjadi kehamilan normal dan perlu mendapatkan penanganan medis.Â
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko kehamilan ektopik antara lain riwayat kehamilan ektopik sebelumnya, infeksi atau penyakit radang panggul, kerusakan maupun operasi pada tuba falopi, serta kondisi endometriosis. Meski begitu, kehamilan ektopik juga dapat terjadi pada wanita yang tidak memiliki faktor risiko yang diketahui.
Berikut beberapa gejala kehamilan ektopik yang perlu Bunda kenali:
- Nyeri perut bagian bawah atau panggul, terutama jika terasa pada salah satu sisi
- Perdarahan vagina yang tidak biasa, misalnya bercak darah atau perdarahan di luar menstruasi
- Nyeri pada ujung bahu, yang dapat terjadi ketika perdarahan di dalam perut mengiritasi saraf di area tersebut
- Pusing, lemas, atau hampir pingsan, terutama jika terjadi perdarahan internal
- Gejala awalnya terkadang menyerupai tanda kehamilan biasa atau gangguan menstruasi
Bunda yang mengalami nyeri perut atau perdarahan saat diduga hamil sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter. Jika muncul nyeri perut hebat secara tiba-tiba, pusing berat, atau pingsan, segera cari pertolongan medis darurat karena kondisi tersebut dapat menandakan tuba falopi pecah dan menyebabkan perdarahan internal.Â
Untuk memastikan diagnosis, dokter biasanya melakukan tes kehamilan melalui pemeriksaan hormon hCG dalam darah dan USG transvaginal. Pemeriksaan hCG dapat diulang untuk melihat perubahan kadarnya, sedangkan USG membantu dokter mengetahui lokasi kehamilan.
3. Endometriosis
Endometriosis merupakan kondisi ketika jaringan yang menyerupai lapisan dalam rahim (endometrium) tumbuh di luar rahim. Jaringan tersebut dapat ditemukan di berbagai area panggul, termasuk ovarium, permukaan rahim, dan tuba falopi.
Menurut World Health Organization (WHO), endometriosis diperkirakan dialami sekitar 10 persen wanita usia reproduktif di seluruh dunia. Kondisi ini dapat menyebabkan peradangan dan terbentuknya jaringan parut atau perlengketan (adhesi) di sekitar organ reproduksi.Â
Jika jaringan endometriosis tumbuh di sekitar tuba falopi, peradangan dan perlengketan yang terbentuk dapat mengganggu pergerakan sel telur maupun embrio. Dalam kondisi yang lebih berat, jaringan parut bahkan dapat menyumbat tuba falopi sehingga berpotensi memengaruhi kesuburan wanita.Â
Beberapa gejala endometriosis yang perlu Bunda kenali antara lain:
- Nyeri haid hebat hingga mengganggu aktivitas sehari-hari
- Nyeri panggul yang berlangsung lama atau berulang
- Perdarahan menstruasi yang lebih banyak
- Nyeri saat atau setelah berhubungan seksual
- Nyeri ketika buang air besar atau buang air kecil, terutama saat menstruasi
- Kesulitan untuk hamil
Tingkat keparahan nyeri tidak selalu mencerminkan luasnya jaringan endometriosis. Sebagian perempuan bahkan tidak mengalami gejala dan baru mengetahui kondisinya ketika menjalani pemeriksaan karena kesulitan mendapatkan kehamilan.Â
Untuk mendiagnosis endometriosis, dokter dapat melakukan pemeriksaan panggul, USG transvaginal, atau MRI sesuai kebutuhan. Pada kondisi tertentu, laparoskopi dapat dipertimbangkan untuk melihat jaringan endometriosis secara langsung. Hasil USG atau MRI yang normal juga tidak selalu menyingkirkan kemungkinan endometriosis.Â
Penanganannya disesuaikan dengan gejala, tingkat keparahan kondisi, serta rencana kehamilan pasien. Dokter dapat memberikan obat pereda nyeri atau terapi hormonal untuk membantu mengendalikan gejala. Operasi juga dapat dipertimbangkan untuk mengangkat jaringan endometriosis dan perlengketan yang mengganggu organ reproduksi.
4. Fibroid
Fibroid atau miom rahim merupakan pertumbuhan jaringan jinak yang berasal dari otot dan jaringan ikat pada dinding rahim. Dalam istilah medis, kondisi ini disebut juga uterine fibroids atau leiomioma. Ukurannya dapat bervariasi, mulai dari sangat kecil hingga cukup besar, dan jumlahnya bisa satu maupun lebih.
Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), fibroid dapat tumbuh di dalam dinding rahim, menonjol ke rongga rahim, atau berada di permukaan luar rahim. Meskipun bukan kanker, lokasi dan ukurannya dapat memengaruhi fungsi organ reproduksi.Â
Dalam kaitannya dengan tuba falopi, fibroid yang tumbuh di bagian tertentu, terutama dekat sudut rahim tempat tuba falopi terhubung, berpotensi menekan atau mengganggu jalur masuk tuba. Kondisi ini dapat memengaruhi perjalanan sel telur atau sperma dan berkontribusi terhadap masalah kesuburan. Namun, tidak semua fibroid mengganggu fungsi tuba falopi atau menyebabkan infertilitas. Dampaknya bergantung pada ukuran, jumlah, dan lokasi fibroid.Â
Beberapa gejala fibroid yang dapat dialami perempuan meliputi:
- Menstruasi lebih banyak atau berlangsung lebih lama
- Nyeri atau kram saat menstruasi
- Perdarahan di luar jadwal menstruasi
- Nyeri atau rasa tertekan pada perut bagian bawah dan panggul
- Sering buang air kecil akibat tekanan pada kandung kemih
- Nyeri saat berhubungan seksual
- Kesulitan untuk hamil pada kondisi tertentu
Meski demikian, sebagian perempuan dengan fibroid tidak mengalami gejala apa pun. Kondisi ini terkadang baru diketahui ketika menjalani pemeriksaan panggul atau USG untuk keperluan lain.Â
Untuk memastikan diagnosis, dokter biasanya melakukan pemeriksaan panggul dan USG guna mengetahui ukuran, jumlah, serta lokasi fibroid. Pemeriksaan tambahan seperti MRI atau histeroskopi dapat dilakukan apabila diperlukan.
5. Hidrosalping (Hydrosalpinx)
Hidrosalping atau hydrosalpinx merupakan kondisi ketika tuba falopi mengalami penyumbatan dan terisi cairan sehingga saluran tersebut membesar. Kondisi ini dapat terjadi pada salah satu maupun kedua tuba falopi.
Menurut Cleveland Clinic, hidrosalping umumnya terjadi akibat kerusakan tuba falopi setelah mengalami infeksi atau peradangan. Infeksi menular seksual, seperti klamidia dan gonore yang tidak ditangani, dapat memicu penyakit radang panggul (PID). Selain itu, endometriosis, perlengketan jaringan akibat operasi panggul, dan infeksi lain juga dapat menjadi penyebabnya.Â
Hidrosalping dapat mengganggu kesuburan karena cairan yang menumpuk dan penyumbatan tuba falopi menghambat perjalanan sel telur maupun embrio menuju rahim. Jika pembuahan terjadi, embrio juga berisiko tertahan di tuba falopi sehingga meningkatkan kemungkinan kehamilan ektopik.
Beberapa perempuan dengan hidrosalping tidak mengalami gejala dan baru mengetahuinya ketika menjalani pemeriksaan kesuburan. Namun, sebagian lainnya dapat mengalami keluhan seperti:
- Nyeri pada panggul atau perut bagian bawah
- Nyeri yang terasa lebih berat selama atau setelah menstruasi
- Keputihan yang tidak biasa, terkadang berwarna atau bertekstur lebih lengket
- Kesulitan untuk hamil
Keluhan tersebut juga tidak selalu menunjukkan hidrosalping karena dapat disebabkan oleh gangguan kesehatan reproduksi lainnya. Oleh karena itu, pemeriksaan dokter diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.Â
Untuk mendiagnosis hidrosalping, dokter dapat melakukan USG transvaginal untuk melihat apakah tuba falopi mengalami pembesaran akibat penumpukan cairan. Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan adalah hysterosalpingography(HSG), yaitu pemeriksaan menggunakan cairan kontras dan sinar-X untuk mengetahui apakah tuba falopi tersumbat. Pada kondisi tertentu, dokter juga dapat merekomendasikan laparoskopi.
6. Kista Paratubal
Kista paratubal atau paratubal cyst merupakan kantung berisi cairan yang tumbuh di sekitar tuba falopi, tepatnya pada jaringan di antara ovarium dan saluran tersebut. Kondisi ini juga dikenal sebagai kista paraovarium (paraovarian cyst). Berbeda dengan kista ovarium, kista paratubal tidak tumbuh di dalam atau pada jaringan ovarium, melainkan di jaringan sekitarnya.Â
Sebagian besar kista paratubal bersifat jinak dan berukuran kecil sehingga sering kali tidak menimbulkan gejala. Kista ini dapat terbentuk dari sisa jaringan selama perkembangan organ reproduksi perempuan, seperti sisa saluran Müllerian atau Wolffian.Â
Namun, jika ukurannya membesar, kista paratubal dapat menekan organ di sekitarnya, termasuk tuba falopi. Pada kondisi tertentu, kista juga dapat mengalami torsi atau terpuntir sehingga mengganggu aliran darah dan menimbulkan nyeri hebat. Meski demikian, sebagian besar kista paratubal tidak mengganggu ovulasi maupun kemampuan wanita untuk hamil.Â
Beberapa gejala yang dapat muncul ketika kista paratubal membesar atau mengalami komplikasi, antara lain:
- Nyeri pada perut bagian bawah atau panggul
- Perut terasa penuh, berat, atau tertekan
- Perut terasa kembung
- Nyeri panggul yang muncul secara tiba-tiba jika terjadi torsi atau puntiran kista
- Mual dan muntah, terutama jika disertai torsi
Untuk memastikan diagnosis, dokter dapat melakukan pemeriksaan panggul dan USG, terutama USG transvaginal. Pemeriksaan ini membantu mengetahui ukuran serta lokasi kista sekaligus membedakannya dari kista ovarium. Pada kondisi tertentu, dokter mungkin menyarankan MRI untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas.Â
7. Penyakit radang panggul
Penyakit radang panggul atau pelvic inflammatory disease (PID) merupakan infeksi pada organ reproduksi wanita yang dapat melibatkan rahim, ovarium, dan tuba falopi.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), penyakit radang panggul dapat disebabkan oleh berbagai mikroorganisme, termasuk bakteri penyebab infeksi menular seksual seperti klamidia dan gonore. Infeksi tersebut dapat menyebar dari vagina atau leher rahim menuju organ reproduksi bagian atas.Â
Apabila infeksi mengenai tuba falopi, peradangan dapat menyebabkan kerusakan jaringan dan terbentuknya jaringan parut. Akibatnya, saluran tuba falopi berisiko mengalami penyumbatan sehingga dapat mengganggu kesuburan.
Gejalanya dapat berupa nyeri perut bagian bawah, keputihan yang tidak biasa atau berbau, demam, nyeri saat berhubungan seksual, serta perdarahan di luar menstruasi.
Penyakit radang panggul perlu ditangani sedini mungkin untuk mengurangi risiko komplikasi, termasuk infertilitas dan kehamilan ektopik. CDC juga menjelaskan bahwa kerusakan yang sudah terjadi pada organ reproduksi akibat PID tidak selalu dapat dipulihkan meskipun infeksinya telah diobati.Â
Cara menjaga kesehatan tuba falopi
Mengingat perannya yang penting dalam sistem reproduksi, menjaga kesehatan tuba falopi menjadi salah satu langkah untuk mendukung kesuburan wanita. Beberapa upaya yang dapat Bunda lakukan antara lain:
- Mencegah infeksi menular seksual (IMS): Gunakan kondom saat berhubungan seksual dan lakukan pemeriksaan IMS sesuai kebutuhan.
- Segera mengobati infeksi organ reproduksi: Jangan mengabaikan gejala seperti nyeri panggul, keputihan tidak biasa, atau demam.
- Melakukan pemeriksaan ginekologi: Konsultasikan keluhan reproduksi kepada dokter untuk mendeteksi gangguan sejak dini.
- Tidak mengabaikan nyeri menstruasi hebat: Nyeri yang mengganggu aktivitas sehari-hari perlu diperiksa karena bisa berkaitan dengan endometriosis atau kondisi lainnya.
- Melakukan pemeriksaan kesuburan jika diperlukan: Terutama bagi Bunda yang mengalami kesulitan hamil atau memiliki riwayat infeksi panggul dan gangguan reproduksi.
Pada dasarnya, tuba falopi memiliki peran penting dalam perjalanan sel telur, proses pembuahan, hingga perpindahan embrio menuju rahim. Gangguan pada organ ini dapat memengaruhi kesuburan dan meningkatkan risiko komplikasi kehamilan.
Oleh karena itu, Bunda sebaiknya tidak mengabaikan keluhan pada organ reproduksi. Pemeriksaan dan penanganan sejak dini dapat membantu menjaga kesehatan tuba falopi sekaligus mendukung peluang kehamilan.
Demikian penjelasan terkait tuba falopi yang perlu diketahui. Semoga informasi ini bermanfaat ya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/ank)
Program Hamil
Ketahui lebih jauh 30 hari perencanaan kehamilan.
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
KEHAMILAN
3 Kisah Bunda Seleb Berhasil Hamil Meski Didiagnosis Tuba Fallopi Bermasalah
KEHAMILAN
Bila hanya Miliki Satu Tuba Fallopi, Mungkinkah untuk Hamil?
KEHAMILAN
7 Cara Mengobati Penyumbatan Tuba Fallopi secara Alami, Coba Makanan & Aktivitas Ini
KEHAMILAN
5 Fungsi Tuba Fallopi, Punya Peran Penting dalam Proses Pembuahan
KEHAMILAN
10 Bunda Seleb Pernah Gagal Program Bayi Tabung, Ada yang Mencoba Enam Kali
HIGHLIGHT
BUNDAPEDIA
Ilustrasi Organ Reproduksi/ Foto: Getty Images/iStockphoto
6 Penyakit yang Sering Mengancam Sistem Reproduksi Wanita, PCOS hingga Mioma
Memahami Hormon FSH dan LH pada Sistem Reproduksi Perempuan
7 Ciri-ciri Ovulasi Tinggi dan Sedang dalam Masa Subur pada Perempuan
