Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Tumor di Dada Janin Mengecil dalam 3 Hari, Metode Baru Ini Jadi Sorotan

Annisa Aulia Rahim   |   HaiBunda

Senin, 02 Nov 2026 12:00 WIB

A photo with the focus on the unrecognizable pregnant woman in the foreground as the unrecognizable doctor shows her an ultrasound on a digital tablet in the background.
Tumor di Dada Janin Mengecil dalam 3 Hari, Metode Baru Ini Jadi Sorotan/Foto: Getty Images/SDI Productions
Daftar Isi
Jakarta -

Mengetahui adanya tumor atau massa abnormal di tubuh janin tentu bisa membuat Bunda merasa khawatir. Terlebih, jika kondisi tersebut berisiko mengganggu perkembangan organ penting Si Kecil selama berada di dalam kandungan.

Namun, perkembangan teknologi kedokteran kini membuka peluang baru untuk menangani sejumlah kelainan janin bahkan sebelum persalinan. Salah satunya terlihat dari keberhasilan tim dokter di China yang menangani massa abnormal di dada janin menggunakan metode ablasi gelombang mikro.

Menariknya, ukuran massa tersebut dilaporkan mengecil hanya dalam waktu tiga hari setelah prosedur dilakukan. Tindakan ini pun menjadi perhatian karena dilakukan tanpa operasi besar untuk membuka rahim ibu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Lantas, bagaimana prosedur tersebut dilakukan dan apa sebenarnya penyebab munculnya tumor di dada janin? Simak penjelasannya berikut ini, Bunda.

Tumor di dada janin terdeteksi saat usia kehamilan 22 minggu

Kasus ini melibatkan seorang ibu berusia 40 tahun yang sedang mengandung 22 minggu. Saat menjalani pemeriksaan kehamilan menggunakan ultrasonografi (USG), dokter menemukan massa abnormal berukuran sekitar 5 cm di bagian dada janin.

Massa tersebut diketahui merupakan Congenital Pulmonary Airway Malformation (CPAM), yakni kelainan bawaan ketika jaringan paru-paru janin berkembang secara tidak normal. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan karena massa yang tumbuh di dalam dada dapat menekan organ-organ di sekitarnya, termasuk jantung dan paru-paru.

Dalam kasus tersebut, dokter juga menemukan penumpukan cairan di rongga perut janin atau disebut asites. Jika terus memburuk, kondisi ini berisiko berkembang menjadi hydrops fetalis, yaitu penumpukan cairan berlebihan di beberapa bagian tubuh janin.

Kondisi tersebut dapat mengancam keselamatan janin sehingga membutuhkan penanganan medis segera.

Metode ablasi gelombang mikro untuk mengecilkan tumor janin

Melihat kondisi janin yang semakin mengkhawatirkan, tim dokter dari Shenzhen Bao'an Women and Children's Hospital bekerja sama dengan The Chinese University of Hong Kong memutuskan menggunakan metode microwave ablation atau ablasi gelombang mikro.

Metode ini dilakukan dengan memasukkan jarum khusus berukuran kecil melalui perut ibu hingga mencapai jaringan abnormal di dada janin. Seluruh proses dipandu menggunakan USG secara langsung agar dokter dapat menentukan posisi jarum dengan tepat.

Setelah jarum mencapai jaringan yang menjadi sasaran, dokter mengalirkan energi gelombang mikro. Energi tersebut membuat molekul air di dalam jaringan bergerak dan menghasilkan panas tinggi untuk menghancurkan jaringan abnormal dari dalam.

Prosedur pemanasan berlangsung sekitar dua menit. Dokter juga terus memantau kondisi janin untuk meminimalkan risiko kerusakan pada jaringan dan organ sehat di sekitarnya.

Menurut laporan yang diterbitkan dalam jurnal Ultrasound in Obstetrics & Gynecology pada 20 Agustus 2026, prosedur ini menjadi laporan pertama penggunaan ablasi gelombang mikro untuk menangani CPAM janin.

Tumor mengecil dalam tiga hari, bayi lahir sehat

Hasil tindakan tersebut menunjukkan perkembangan yang menggembirakan, Bunda. Hanya tiga hari setelah prosedur, ukuran massa abnormal di dada janin dilaporkan mengecil secara signifikan. Penumpukan cairan di rongga perut janin juga menghilang. Kondisi tersebut memungkinkan kehamilan terus dipertahankan hingga usia 37 minggu.

Bayi kemudian dilahirkan melalui operasi caesar dengan berat sekitar 2,9 kilogram. Berdasarkan laporan medis yang diberitakan The Independent, bayi tersebut juga dilaporkan dalam kondisi sehat saat lahir.

Bahkan, ketika berusia empat bulan, bayi masih dilaporkan tidak menunjukkan gejala penyakit dan belum membutuhkan operasi lanjutan.

Keberhasilan ini menjadi perkembangan menarik dalam dunia kedokteran janin, terutama untuk menangani kelainan paru-paru bawaan yang berisiko mengancam keselamatan bayi selama kehamilan. 

Apakah CPAM pada janin selalu berbahaya?

Tidak selalu, Bunda. CPAM merupakan kelainan bawaan yang terjadi ketika jaringan paru-paru janin berkembang secara tidak normal. Kondisi ini menyebabkan terbentuknya massa yang dapat terdiri dari jaringan padat maupun kantong-kantong kecil berisi cairan.

Sebagian besar kasus CPAM tidak menimbulkan komplikasi serius selama kehamilan. Bahkan, beberapa massa dapat mengecil dengan sendirinya sebelum bayi dilahirkan.

Namun, pada kasus tertentu, ukuran massa dapat terus membesar sehingga menekan jantung dan paru-paru janin. Kondisi ini berpotensi mengganggu sirkulasi darah dan perkembangan organ vital.

Jika disertai penumpukan cairan di beberapa bagian tubuh, kondisi janin bisa berkembang menjadi hydrops fetalis yang membutuhkan penanganan khusus.

Karena itu, Bunda yang janinnya terdiagnosis CPAM biasanya akan disarankan menjalani pemeriksaan USG secara berkala. Dokter akan memantau ukuran massa, perkembangan paru-paru, serta kondisi jantung dan organ lainnya.

Apakah tumor janin bisa ditangani tanpa operasi besar?

Perkembangan teknologi kedokteran memungkinkan beberapa kelainan janin ditangani sebelum persalinan melalui prosedur minimal invasif.

Selain ablasi gelombang mikro, beberapa pilihan penanganan CPAM berat meliputi:

  • Pemberian kortikosteroid: Pada kasus tertentu, dokter dapat memberikan obat kortikosteroid kepada ibu untuk membantu mengurangi ukuran massa.
  • Pemasangan saluran khusus: Jika CPAM memiliki kista berisi cairan berukuran besar, dokter dapat memasang saluran untuk mengeluarkan cairan tersebut.
  • Operasi janin: Pada kondisi yang sangat berat dan tidak memungkinkan ditangani dengan metode lain, operasi janin dapat dipertimbangkan oleh tim spesialis.

Pemilihan tindakan bergantung pada jenis kelainan, ukuran massa, usia kehamilan, dan kondisi janin secara keseluruhan.

Sementara itu, teknik ablasi gelombang mikro yang digunakan dalam kasus di China masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Dokter belum dapat memastikan tingkat keamanan dan efektivitasnya secara luas hanya berdasarkan satu kasus keberhasilan.

Meski demikian, inovasi ini memberikan harapan baru bagi penanganan kelainan bawaan yang ditemukan selama kehamilan.

Bagi Bunda, penting untuk tetap melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin. Jika ditemukan kelainan pada janin melalui USG, konsultasikan hasilnya dengan dokter spesialis obstetri dan ginekologi, khususnya konsultan fetomaternal, agar Bunda mendapatkan informasi dan pilihan penanganan yang sesuai.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda