Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Cara Mengatasi Trauma dan Siap untuk Hamil Lagi setelah Bunda Alami Stillbirth

Annisa Aulia Rahim   |   HaiBunda

Rabu, 04 Nov 2026 06:00 WIB

Ilustrasi Tes Kehamilan
Cara Mengatasi Trauma dan Siap untuk Hamil Lagi setelah Bunda Alami Stillbirth/Foto: Getty Images/iStockphoto
Daftar Isi
Jakarta -

Kehilangan bayi yang dinantikan selama kehamilan bisa menjadi pengalaman yang sangat menyakitkan bagi seorang ibu. Setelah mempersiapkan kelahiran, membayangkan masa depan bersama Si Kecil, hingga menanti hari persalinan, Bunda justru harus menghadapi kenyataan bahwa bayi meninggal sebelum dilahirkan.

Kondisi ini dikenal sebagai stillbirth atau lahir mati. Kehilangan tersebut bukan hanya berdampak pada kondisi fisik, tetapi juga dapat meninggalkan luka emosional yang mendalam. Sebagian Bunda mungkin merasa bersalah, terus mengingat kejadian tersebut, atau takut mengalami kehilangan yang sama ketika merencanakan kehamilan berikutnya.

Seiring waktu, beberapa orang tua juga merasa bersalah ketika mereka mulai merasa sedikit lebih baik, seolah-olah mereka tidak menghormati bayi mereka atau justru ‘melupakan’ sang bayi. Berduka bisa menjadi pengalaman emosional yang naik-turun

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Keinginan untuk kembali memiliki anak pun bisa bercampur dengan kecemasan. Di satu sisi, Bunda ingin kembali merasakan kehamilan dan menyambut kelahiran Si Kecil. Namun, di sisi lain, muncul ketakutan untuk kembali berharap.

Semua perasaan yang disebutkan di sini memang tidak nyaman, namun semuanya sangatlah wajar. Lantas, bagaimana cara mengatasi trauma setelah mengalami stillbirth dan mempersiapkan diri untuk hamil lagi?

Mengenal trauma setelah mengalami stillbirth

Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), kehilangan kehamilan, termasuk stillbirth, dapat menjadi pengalaman traumatis. Setiap orang memiliki respons berduka yang berbeda, mulai dari merasa sedih, marah, mati rasa, hingga menyalahkan diri sendiri.

Sebagian Bunda mungkin merasa sulit melihat orang lain menjalani kehamilan yang sehat atau menggendong bayi mereka. Ada pula yang mengalami gangguan tidur, mimpi buruk, kecemasan berlebihan, dan terus teringat pada pengalaman kehilangan tersebut.

Perasaan ini tidak berarti Bunda lemah atau tidak mampu melanjutkan hidup. Kehilangan seorang anak merupakan pengalaman yang membutuhkan waktu untuk diproses, baik secara emosional maupun mental.

Penting untuk diingat bahwa stillbirth bukan berarti Bunda melakukan sesuatu yang salah. Penyebab kematian janin bisa beragam, dan pada sebagian kasus, penyebab pastinya tidak dapat diketahui meskipun telah dilakukan pemeriksaan medis.

Dikutip dari Sahmri.org, di negara-negara berpenghasilan tinggi, sekitar 30% kasus bayi lahir mati diklasifikasikan sebagai tidak dapat dijelaskan (unexplained), padahal banyak dari kematian tersebut sebenarnya belum diselidiki secara menyeluruh. Dengan meningkatkan proporsi kasus bayi lahir mati yang diteliti secara tepat serta memperbaiki teknik diagnostik, angka tersebut berpotensi untuk ditekan hingga separuhnya.

Masalah pada struktur dan fungsi plasenta sering kali dikaitkan dengan kejadian bayi lahir mati. Namun, banyak kasus bayi lahir mati terjadi secara tidak terduga pada ibu dan bayi yang sebelumnya dalam kondisi sehat, dan penyebabnya tetap tidak diketahui meskipun telah dilakukan pemeriksaan menyeluruh. Oleh karena itu, diperlukan penelitian untuk lebih memahami mekanisme di balik kasus bayi lahir mati yang tidak dapat dijelaskan ini.

Cara mengatasi trauma sebelum merencanakan kehamilan lagi

1. Beri diri sendiri waktu untuk berduka

Tidak ada batas waktu yang sama bagi setiap orang untuk pulih setelah kehilangan bayi. Ada Bunda yang mulai mempertimbangkan kehamilan kembali setelah beberapa waktu, sementara yang lain membutuhkan waktu lebih lama untuk merasa siap.

Bunda tidak perlu memaksakan diri untuk segera kembali beraktivitas seperti biasa atau melupakan pengalaman tersebut. Menangis, merasa sedih ketika mengingat Si Kecil, dan membutuhkan waktu sendiri dapat menjadi bagian dari proses berduka.

Pemulihan juga tidak selalu berjalan lurus. Ada hari ketika Bunda merasa lebih baik, tetapi pada hari lain kesedihan bisa kembali muncul, misalnya ketika mendekati perkiraan tanggal persalinan atau melihat bayi seusia Si Kecil.

Bunda tetap boleh mengenang bayi yang telah pergi sambil perlahan membangun kembali kehidupan sehari-hari.

2. Ceritakan perasaan kepada orang yang dipercaya

Memendam kesedihan sendirian dapat membuat Bunda merasa semakin terisolasi. Cobalah berbicara dengan pasangan, anggota keluarga, atau sahabat yang mampu mendengarkan tanpa menghakimi.

Bunda tidak harus menceritakan semuanya sekaligus. Sampaikan kebutuhan secara spesifik, misalnya ingin didengarkan tanpa diberi nasihat atau membutuhkan pendampingan saat mengunjungi dokter.

Pasangan juga bisa mengalami kesedihan setelah kehilangan bayi. Meski cara mereka mengekspresikan emosi mungkin berbeda, keduanya tetap membutuhkan ruang untuk berduka.

Komunikasi yang terbuka dapat membantu Bunda dan pasangan memahami perasaan satu sama lain, termasuk ketika mulai membicarakan kemungkinan memiliki anak lagi.

3. Pertimbangkan konseling atau bantuan psikolog

Jika rasa kehilangan terasa sulit diatasi, Bunda dapat mempertimbangkan konsultasi dengan psikolog atau psikiater yang berpengalaman menangani kehilangan kehamilan dan trauma.

Menurut ACOG, dukungan profesional dapat membantu seseorang memproses kesedihan, mengelola kecemasan, dan menghadapi perasaan bersalah setelah kehilangan kehamilan. Bantuan profesional perlu dipertimbangkan terutama apabila Bunda terus mengalami mimpi buruk, kilas balik kejadian, sulit tidur, kehilangan minat pada aktivitas sehari-hari, atau kesulitan menjalankan rutinitas.

Jangan menunggu sampai kondisi terasa tidak tertahankan untuk mencari bantuan. Jika muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri, segera cari pertolongan medis atau layanan kegawatdaruratan dan minta orang tepercaya menemani Bunda.

4. Jangan menyalahkan diri sendiri

Setelah mengalami stillbirth, sebagian orang terus mencari jawaban mengenai penyebab kehilangan tersebut. Tidak jarang muncul pertanyaan seperti, "Apakah aku melakukan sesuatu yang salah?" atau "Seandainya aku lebih cepat memeriksakan diri, apakah hasilnya akan berbeda?"

Perasaan bersalah seperti ini dapat muncul dalam proses berduka. Namun, Bunda perlu memahami bahwa tidak semua penyebab stillbirth dapat dicegah atau diprediksi.

Jika masih memiliki pertanyaan mengenai kejadian sebelumnya, Bunda dapat berdiskusi dengan dokter untuk meninjau riwayat kehamilan, hasil pemeriksaan plasenta atau janin jika tersedia, serta kemungkinan faktor medis yang berperan. Tujuannya bukan mencari kesalahan Bunda, melainkan memperoleh pemahaman medis yang lebih baik untuk perencanaan kehamilan selanjutnya.

5. Bergabung dengan kelompok dukungan

Berbicara dengan orang lain yang pernah mengalami kehilangan serupa dapat membantu Bunda merasa tidak sendirian. Mereka mungkin memahami kecemasan yang sulit dijelaskan kepada orang yang belum pernah mengalami pengalaman tersebut.

Kelompok dukungan dapat menjadi tempat untuk berbagi cerita, mendengarkan pengalaman orang lain, dan belajar menghadapi hari-hari yang terasa berat.

Namun, Bunda tetap boleh membatasi interaksi jika mendengarkan cerita tertentu justru membuat kecemasan meningkat. Pilih lingkungan yang menghormati proses berduka dan tidak memaksakan Bunda untuk segera pulih.

Kapan Bunda bisa siap untuk hamil lagi?

Tidak ada satu waktu yang berlaku untuk semua orang untuk kembali hamil setelah mengalami stillbirth. Kesiapan bergantung pada pemulihan fisik, kondisi medis, pengalaman kehamilan sebelumnya, serta kesiapan emosional Bunda dan pasangan.

Menurut informasi dari layanan kesehatan Alberta, Kanada, pemulihan fisik setelah kehilangan bayi dapat berlangsung lebih cepat dibandingkan pemulihan emosional. Karena itu, keduanya perlu dipertimbangkan sebelum mencoba hamil kembali.

Bunda bisa mulai mempertimbangkan beberapa hal berikut.

1. Konsultasikan kondisi fisik dengan dokter kandungan

Sebelum merencanakan kehamilan, jadwalkan konsultasi dengan dokter kandungan untuk mengevaluasi pemulihan setelah persalinan dan meninjau riwayat stillbirth. Dokter dapat membantu menjelaskan hasil pemeriksaan sebelumnya, menilai kondisi kesehatan yang perlu ditangani, serta memperkirakan risiko pada kehamilan berikutnya.

Waktu yang tepat untuk mencoba hamil kembali perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing, termasuk jenis persalinan, komplikasi yang pernah dialami, dan kondisi kesehatan ibu. Karena itu, sebaiknya jangan menentukan waktu hanya berdasarkan pengalaman orang lain.

2. Pastikan Bunda memiliki dukungan emosional

Siap untuk hamil lagi bukan berarti Bunda harus berhenti bersedih atau tidak boleh merasa takut. Perasaan tersebut mungkin tetap muncul ketika mulai merencanakan kehamilan berikutnya.

Hal yang dapat membantu adalah memiliki cara untuk menghadapi kecemasan, mengetahui kepada siapa harus meminta bantuan, dan merasa cukup nyaman untuk membicarakan kekhawatiran dengan pasangan maupun tenaga kesehatan.

Bunda juga bisa mendiskusikan kemungkinan menjalani konseling sebelum kehamilan agar lebih siap menghadapi perasaan yang mungkin muncul selama masa penantian.

3. Diskusikan risiko dan rencana pemantauan kehamilan

ACOG merekomendasikan evaluasi riwayat obstetri dan penyebab stillbirth sebelumnya, penilaian faktor risiko yang dapat ditangani, serta dukungan emosional dalam perencanaan kehamilan berikutnya.

Dokter mungkin menyarankan pemeriksaan tertentu berdasarkan penyebab kehilangan sebelumnya dan kondisi kesehatan Bunda. Jika penyebabnya belum diketahui, dokter dapat menjelaskan pemeriksaan yang masih relevan dan pemantauan yang diperlukan.

Ketika hamil kembali, Bunda mungkin membutuhkan jadwal pemeriksaan yang disesuaikan, termasuk pemantauan pertumbuhan dan kondisi janin. Rencana tersebut sebaiknya dibuat bersama dokter kandungan, bukan berdasarkan anggapan bahwa semua kehamilan setelah stillbirth pasti memiliki risiko yang sama.

4. Bangun pola hidup sehat sebelum hamil

Persiapan kehamilan juga mencakup menjaga kesehatan secara menyeluruh. Bunda dapat mulai mengonsumsi makanan bergizi seimbang, melakukan aktivitas fisik sesuai kondisi tubuh, menghindari rokok dan alkohol, serta mendiskusikan obat-obatan yang sedang dikonsumsi dengan dokter.

Konsultasikan kebutuhan asam folat sebelum mencoba hamil. Dokter juga dapat menyarankan pemeriksaan atau penanganan kondisi kesehatan tertentu, seperti diabetes atau tekanan darah tinggi, jika diperlukan.

Langkah-langkah ini membantu mempersiapkan tubuh menghadapi kehamilan, meskipun tidak dapat menjamin bahwa seluruh komplikasi akan terhindarkan.

Menghadapi rasa takut saat hamil kembali

Setelah mengalami stillbirth, mendapatkan hasil tes kehamilan positif mungkin tidak selalu disertai kebahagiaan tanpa kekhawatiran. Bunda bisa merasa senang sekaligus takut kehilangan lagi.

Kecemasan mungkin meningkat menjelang pemeriksaan USG, pada usia kehamilan ketika kehilangan sebelumnya terjadi, atau ketika merasakan perubahan gerakan janin.

Dalam situasi tersebut, Bunda dapat mencoba beberapa langkah berikut:

  • Sampaikan kecemasan kepada dokter. Ceritakan riwayat kehilangan sebelumnya agar dokter dapat menyusun pemantauan yang sesuai dan menjelaskan kapan Bunda perlu segera mencari pertolongan.
  • Fokus pada langkah yang bisa dilakukan hari ini. Menghadiri pemeriksaan kehamilan, mengikuti anjuran medis, dan menjaga kesehatan dapat membantu Bunda menjalani kehamilan secara bertahap.
  • Minta pasangan terlibat. Ajak pasangan menemani pemeriksaan jika memungkinkan dan sepakati cara saling memberikan dukungan ketika kecemasan muncul.
  • Cari bantuan jika kecemasan mengganggu aktivitas. Psikolog atau psikiater dapat membantu Bunda mengelola ketakutan yang menetap selama kehamilan.

Jika Bunda sedang hamil dan merasakan gerakan janin berkurang atau berubah dari pola biasanya, segera hubungi tenaga kesehatan atau fasilitas persalinan untuk mendapatkan pemeriksaan. Jangan menunggu hingga hari berikutnya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda