Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Studi Terbaru Sebut Ibu Pengganti atau Surogasi Rentan Alami Gangguan Mental

Melly Febrida   |   HaiBunda

Jumat, 30 Oct 2026 06:00 WIB

Ilustrasi teman hamil
Studi Terbaru Sebut Ibu Pengganti atau Surogasi Rentan Alami Gangguan Mental/Foto: Getty Images/miodrag ignjatovic
Daftar Isi
Jakarta -

Tugas ibu pengganti atau surogasi memang mengandung untuk membantu orang lain memiliki anak. Namun, kesehatan fisik dan mental mereka juga perlu mendapat perhatian.

Sebuah studi menemukan bahwa ibu pengganti lebih mungkin didiagnosis mengalami gangguan kesehatan mental selama dan setelah kehamilan, dibandingkan perempuan yang hamil secara alami ataupun melalui program bayi tabung.

Penelitian ini dilakukan oleh tim dari Institute for Clinical Evaluative Sciences (ICES), McGill University, dan Research Institute of the McGill University Health Centre di Kanada, diterbitkan dalam jurnal JAMA Network Open pada 25 Juli 2025.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Studi ungkap ibu pengganti lebih mungkin didiagnosis gangguan mental

Penelitian berjudul New-Onset Mental Illness Among Gestational Carriers ini menganalisis data 767.406 kehamilan di Ontario, Kanada, periode 1 April 2012 hingga 31 Maret 2021.

Para peneliti membandingkan tiga kelompok perempuan. Yakni, perempuan yang hamil secara alami, melalui program bayi tabung (IVF), dan yang menjadi ibu pengganti.

Dari seluruh kehamilan yang diteliti, sebanyak 748.732 terjadi secara alami, 17.916 melalui bayi tabung, dan 758 melibatkan ibu pengganti.

Penelitian ini melihat berapa banyak perempuan yang baru didiagnosis mengalami gangguan kesehatan mental selama atau setelah kehamilan. Para peneliti hanya memasukkan perempuan yang belum pernah didiagnosis mengalami gangguan kesehatan mental sebelum hamil. 

Peneliti menggunakan data kunjungan rawat jalan ke dokter, unit gawat darurat, dan rawat inap di rumah sakit. Hasilnya, angka kejadian diagnosis gangguan kesehatan mental baru pada kelompok ibu pengganti mencapai 6,9 per 100 tahun-orang selama masa pengamatan.

Angka ini lebih tinggi dibandingkan kelompok perempuan yang hamil secara alami, yaitu 5,2, dan kelompok perempuan yang menjalani bayi tabung, yaitu 5,0.

Tahun-orang merupakan ukuran yang memperhitungkan jumlah peserta dan lamanya mereka dipantau dalam penelitian. Karena itu, angka tersebut tidak sama dengan persentase perempuan yang mengalami gangguan kesehatan mental.

Setelah memperhitungkan faktor lain, seperti usia, pendapatan, obesitas, kebiasaan merokok, jumlah persalinan sebelumnya, dan tekanan darah tinggi kronis, peneliti menemukan bahwa ibu pengganti relatif berisiko 43 persen lebih tinggi didiagnosis mengalami gangguan kesehatan mental baru dibandingkan perempuan yang hamil secara alami.

Sementara itu, dibandingkan perempuan yang menjalani bayi tabung, risikonya 29 persen lebih tinggi.

Angka tersebut menunjukkan bahwa diagnosis gangguan kesehatan mental baru lebih banyak ditemukan pada kelompok ibu pengganti. Namun, penelitian ini tidak membuktikan bahwa menjadi ibu pengganti secara langsung menyebabkan gangguan kesehatan mental.

"Temuan kami menegaskan pentingnya pemeriksaan dan konseling yang memadai untuk calon ibu pengganti sebelum kehamilan, terkait kemungkinan munculnya gangguan kesehatan mental baru, atau memburuknya kondisi kesehatan mental yang sudah ada sebelumnya, selama atau setelah kehamilan," kata penulis utama studi, Dr. Maria Velez, yang juga seorang ilmuwan tambahan (adjunct scientist) di ICES, profesor madya di McGill University, serta ilmuwan di Research Institute of the McGill University Health Centre dikutip dari Eurekalert.org.

Mengapa kesehatan mental ibu pengganti perlu diperhatikan?

Kehamilan bukan hanya mengubah tubuh Bunda, tetapi juga bisa memengaruhi kondisi emosional seorang perempuan. Karena itu, kesehatan mental ibu pengganti juga perlu diperhatikan, mulai dari sebelum hamil hingga setelah melahirkan.

Dalam penelitian ini, para peneliti menemukan bahwa ibu pengganti lebih mungkin didiagnosis mengalami gangguan kesehatan mental baru selama dan setelah kehamilan, dibandingkan perempuan yang hamil secara alami atau melalui program bayi tabung.

Meski begitu, penelitian ini belum menjelaskan secara pasti mengapa risiko tersebut lebih tinggi. Ini artinya, masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami faktor-faktor yang dapat memengaruhi kesehatan mental ibu pengganti.

Dukungan kesehatan mental tidak berhenti setelah persalinan

Menurut para peneliti, penting untuk melakukan pemeriksaan kesehatan mental dan konseling sebelum kehamilan. Dukungan ini juga perlu dilanjutkan selama kehamilan dan setelah persalinan.

Dengan begitu, jika muncul masalah kesehatan mental, ibu pengganti bisa mendapat bantuan yang sesuai. Mereka juga memiliki kesempatan untuk menyampaikan keluhan atau perubahan emosi yang dirasakan kepada tenaga kesehatan.

Penelitian ini turut menyoroti bahwa kurang dari separuh pasien yang datang ke unit gawat darurat karena masalah kesehatan mental setelah melahirkan mendapat perawatan lanjutan tepat waktu. Temuan tersebut menunjukkan bahwa akses terhadap perawatan setelah mendapat pertolongan pertama juga perlu menjadi perhatian.

Namun, hasil penelitian ini berasal dari data perempuan di Ontario, Kanada. Karena itu, temuannya tidak bisa langsung digunakan untuk menggambarkan kondisi semua ibu pengganti. Sementara itu, di Indonesia sendiri, praktik pinjam rahim tidak diperbolehkan sebagai layanan reproduksi berbantu.

Penelitian ini menjadi pengingat bahwa kesehatan ibu pengganti perlu diperhatikan, bukan hanya selama mengandung dan melahirkan, tetapi juga setelah persalinan. Pemeriksaan, konseling, dan dukungan yang memadai dapat membantu mereka mendapatkan pertolongan saat dibutuhkan.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda