Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Lahir 3 Bulan Lebih Awal, Perjuangan Bayi Kembar Ini Berakhir Haru

Melly Febrida   |   HaiBunda

Sabtu, 24 Oct 2026 08:55 WIB

Newborn children are in the boxes in the hospital.
Lahir 3 Bulan Lebih Awal, Perjuangan Bayi Kembar Ini Berakhir Haru/Foto: Getty Images/Sviatlana Lazarenka
Daftar Isi
Jakarta -

Kelahiran bayi menjadi momen yang dinantikan orangtua. Namun, untuk sejumlah keluarga, kebahagiaan itu bisa datang bersamaan dengan ketakutan ketika persalinan harus berlangsung jauh sebelum waktunya. Seperti yang dialami Frances, yang harus menjalani operasi caesar darurat saat usia kehamilannya baru 27 minggu.

Ibu berusia 39 tahun di Sydney, Australia, itu mengaku sangat ketakutan karena tidak tahu apakah kedua bayinya akan selamat. Apalagi, kedua putri kembarnya, Annabelle dan Amira, lahir sekitar tiga bulan lebih awal dari perkiraan.

Setelah menjalani perawatan intensif selama berbulan-bulan, kedua bayi mungil tersebut akhirnya bisa pulang bersama. Perjalanan mereka menjadi kisah haru tentang perjuangan bayi kembar lahir prematur dan dukungan tenaga medis yang merawatnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Bayi kembar lahir prematur pada usia kehamilan 27 minggu

Melansir news.com.au,  awalnya Frances menjalani perawatan di rumah sakit untuk memantau kondisi kehamilan kembarnya. Sehari sebelum persalinan darurat pada 29 Juni tahun sebelumnya, ia dirawat agar dokter dapat mengeluarkan kelebihan cairan ketuban dari salah satu bayi sekaligus memantau risiko twin-to-twin transfusion syndrome (TTTS).

Keesokan paginya, saat Frances sedang mandi, dokter kandungannya datang dan memberi tahu bahwa ia harus segera melahirkan. Tim medis khawatir salah satu bayinya berisiko mengalami henti jantung sehingga operasi caesar darurat harus dilakukan.

Frances mengaku tidak tahu apa yang akan terjadi di ruang operasi. Ia bahkan sempat berpikir apakah akan membawa pulang satu bayi, dua bayi, atau justru kehilangan keduanya.

Annabelle lahir lebih dahulu dengan berat hanya 725 gram. Adiknya, Amira, menyusul dengan berat 925 gram. Saat melihat Annabelle untuk pertama kalinya, Frances merasa sulit mempercayai apa yang dilihatnya. Tubuh putrinya begitu mungil sehingga pengalaman tersebut terasa seperti sesuatu yang hanya ada di film.

Ketegangan semakin meningkat ketika alarm berbunyi menjelang kelahiran Amira. Rahim Frances mengalami robekan dan situasi di ruang operasi menjadi semakin genting. Suaminya, Norman, kemudian mengungkapkan bahwa ia sempat khawatir istri dan kedua putrinya tidak akan selamat.

Perjuangan bayi kembar selama 135 hari di NICU

Setelah lahir, Annabelle dan Amira menghadapi berbagai tantangan kesehatan yang berkaitan dengan kelahiran prematur. Keduanya mengalami masalah medis, termasuk gangguan paru-paru, penyakit mata akibat prematuritas, dan masalah jantung yang serius.

Organ kedua bayi yang lahir pada usia kehamilan 27 minggu itu belum berkembang sempurna. Karena itu, mereka membutuhkan pemantauan dan perawatan intensif untuk membantu pernapasan, menjaga suhu tubuh, memenuhi kebutuhan nutrisi, serta menangani komplikasi yang dapat muncul.

Annabelle dan Amira menjalani perawatan di unit perawatan intensif neonatal atau neonatal intensive care unit (NICU) selama 135 hari.

Setelah melewati masa perawatan yang panjang, kedua bayi tersebut akhirnya diperbolehkan pulang bersama. Saat kisah bayi kembar ini diberitakan, keduanya sudah berusia sekitar 15 bulan dan dilaporkan tumbuh serta berkembang dengan baik.

Mengapa bayi kembar bisa lahir prematur?

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), bayi prematur adalah bayi yang lahir hidup sebelum usia kehamilan mencapai 37 minggu. Kelahiran sebelum usia kehamilan 28 minggu termasuk kategori prematur ekstrem.

Kehamilan kembar berisiko lebih tinggi lahir prematur dibandingkan kehamilan tunggal. Selain itu, bayi kembar juga berisiko mengalami gangguan pertumbuhan dan komplikasi lain selama kehamilan.

Pada sejumlah kehamilan kembar yang berbagi satu plasenta, salah satu komplikasi yang dapat terjadi adalah twin-to-twin transfusion syndrome (TTTS). Kondisi ini terjadi ketika aliran darah di antara kedua janin tidak seimbang melalui pembuluh darah yang menghubungkan sirkulasi mereka di plasenta.

Akibatnya, salah satu janin dapat menerima terlalu sedikit darah, sedangkan janin lainnya menerima terlalu banyak. TTTS dapat membahayakan salah satu atau kedua bayi sehingga memerlukan pemantauan ketat dan penanganan oleh tim spesialis.

Dalam kasus Frances, dokter memantau risiko TTTS sebelum memutuskan persalinan darurat. Namun, kisah ini tidak berarti semua kehamilan kembar dengan TTTS pasti berakhir dengan persalinan pada usia 27 minggu. Penanganan ditentukan berdasarkan kondisi masing-masing ibu dan janin.

Apa risiko bayi lahir prematur?

WHO menjelaskan bahwa bayi prematur lebih rentan mengalami gangguan kesehatan karena organ tubuhnya belum berkembang sempurna. Beberapa masalah yang dapat muncul meliputi:

  • Gangguan pernapasan. Paru-paru bayi mungkin belum menghasilkan cukup surfaktan, yaitu zat yang membantu menjaga kantung udara paru-paru tetap terbuka.
  • Kesulitan menjaga suhu tubuh. Bayi prematur memiliki cadangan lemak dan kemampuan mengatur suhu tubuh yang terbatas.
  • Kesulitan menyusu dan memenuhi kebutuhan nutrisi. Koordinasi mengisap, menelan, dan bernapas mungkin belum matang.
  • Risiko infeksi. Sistem kekebalan tubuh bayi prematur belum berkembang sepenuhnya.
  • Gangguan penglihatan dan perkembangan. Sebagian bayi berisiko mengalami masalah mata, pendengaran, perkembangan saraf, atau kemampuan belajar dalam jangka panjang.

Risiko komplikasi dipengaruhi oleh usia kehamilan saat lahir, berat badan, kondisi kesehatan bayi, serta ketersediaan dan mutu perawatan neonatal. Karena itu, perjalanan setiap bayi prematur dapat berbeda, termasuk pada bayi yang lahir pada usia kehamilan yang sama.

WHO menekankan bahwa bayi prematur membutuhkan perawatan khusus untuk meningkatkan peluang bertahan hidup dan mengurangi risiko komplikasi. Perawatan tersebut dapat meliputi dukungan pernapasan, pengendalian suhu tubuh, pemberian nutrisi yang sesuai, pencegahan infeksi, serta pemantauan perkembangan.

WHO juga merekomendasikan perawatan metode kanguru atau kangaroo mother care pada bayi prematur dan bayi dengan berat lahir rendah. Metode ini melibatkan kontak kulit ke kulit antara bayi dan pengasuh, terutama ibu, serta dukungan pemberian ASI.

Pada bayi yang membutuhkan perawatan intensif, metode kanguru perlu disesuaikan dengan kondisi klinis dan dilakukan bersama tim medis. Kebutuhan perawatan setiap bayi tetap harus ditentukan berdasarkan evaluasi tenaga kesehatan.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

 

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda