Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Berharap Kehadiran Anak Bisa Mengubah Pasangan, Kisah Ibu Hamil Ini Justru Berakhir Pilu

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Rabu, 21 Oct 2026 07:30 WIB

Ilustrasi Ibu Hamil Sedih
Berharap Kehadiran Anak Bisa Mengubah Pasangan, Kisah Ibu Hamil Ini Justru Berakhir Pilu/ Foto: Getty Images/iStockphoto/RyanKing999
Jakarta -

Dalam kehidupan rumah tangga, kehadiran seorang anak kerap dianggap sebagai pelengkap kebahagiaan. Banyak pasangan suami istri berharap bahwa menjadi orang tua dapat membuat hubungan semakin erat dan mengubah pribadi menjadi lebih baik.

Namun, kenyataannya tidak selalu berjalan sesuai harapan. Kehadiran anak memang dapat membawa kebahagiaan, tetapi tidak serta-merta mengubah sikap pasangan. Tanggung jawab baru sebagai orang tua justru dapat menghadirkan tantangan tersendiri, terutama jika masalah dalam rumah tangga belum terselesaikan.

Kisah pilu inilah yang dialami seorang ibu hamil bernama Evie. Alih-alih mendapatkan kebahagiaan setelah memiliki momongan, perjalanan yang dilaluinya justru berakhir dengan kisah menyedihkan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Saat hamil, Evie diminta sang suami membeli monitor bayi yang dapat mengirimkan rekaman video ke ponsel. Tak lama kemudian, ia membawanya berkeliling rumah atas perintah suami, agar bisa mengawasinya. Tak disangka, monitor ini justru digunakan sebagai alat 'pengawasan', Bunda.

Suami Evie menjadi lebih posesif sejak mereka tahu dia hamil. Pada bulan ketujuh kehamilan, suaminya mulai melakukan kekerasan fisik.

"Kami hanya berbaring di tempat tidur menonton sesuatu. Terjadi pertengkaran, tetapi kemudian menjadi terlalu agresif. Rasanya semakin mengancam dan dia tampak sangat gelisah. Jadi aku akhirnya bergeser dan duduk di tepi tempat tidur. Tiba-tiba dia melayangkan pukulan ke lengan aku, dan dia melakukannya lagi," ungkap Evie, dilansir The Guardian.

Trauma membuat ingatannya kabur. Tetapi entah bagaimana dia akhirnya berbaring di tempat tidur lagi. Saat itu, suami Evie kembali melakukan kekerasan dengan menurunkan lengan dan menekan perutnya.

Saat Evie berteriak, suaminya langsung berhenti seakan tersadar. Saat Evie menangis, pria itu meminta maaf dan memeluk baby bump-nya yang sudah besar.

"Ia berbicara kepada bayi itu, bernyanyi untuk bayi it. Aku menerima bahwa hal itu tidak akan terjadi lagi karena dia sangat menyesal," ungkapnya.

Evie mengungkap kalau suaminya sangat bahagia saat mengetahui kehamilan ini. Namun, kontrolnya semakin meningkat seiring dengan bertambahnya usia kehamilan. Pada satu titik, suami Evie bahkan sampai menemani istrinya ini ke tempat kerja.

"Awalnya dimulai dengan aplikasi pelacak, dia 'ingin tahu aku aman'. Atau dia akan berkata, 'Lebih baik kau tidak pergi ke sana. Aku punya firasat buruk'," katanya.

"Ia harus selalu bersamaku. Setiap kali ke bidan. Aku tidak bisa pergi ke dokter sendirian, tidak bisa mendapatkan suntikan flu sendirian."

Evie sempat ditanyai pertanyaan rutin mengenai kekerasan dalam rumah tangga. Ia mengatakan semuanya baik-baik saja karena dia pikir hal yang dilakukan suaminya normal, Bunda.

Kemudian, suami Evie menjadi agresif. Pertengkaran pun muncul, yang biasanya dipicu oleh tuduhan bahwa Evie tidak cukup memperhatikan suaminya. Pintu akan dibanting, dan kata-kata kasar pun keluar dari mulut suami Evie.

Namun, setelah pertengkaran, permintaan maaf yang meyakinkan itu muncul. Tapi yang terjadi selanjutnya malah lebih parah. Sang suami melakukan serangan fisik.

Bahkan saat itu, Evie merasa terlalu rentan untuk pergi atau mencari bantuan. "Tidak ada yang ingin membesarkan anak di keluarga yang berantakan. Jadi, aku pikir bayi itu akan mengubahnya dan membuatnya bahagia," ungkap Evie.

Sebulan sebelum kelahiran, ledakan kekerasan menyebabkan pihak berwenang akhirnya turun tangan. Suami Evie akhirnya pindah, meski 'diam-diam kembali' dan terus menuntut Evie untuk membawa monitor bayi.

Evie mengizinkan suaminya hadir saat kelahiran dan melakukan kontak yang diawasi dengan bayi yang baru lahir. Tetapi kekerasan fisik terhadapnya terus meningkat hingga ia mendapatkan perintah perlindungan dari pengadilan. Sejak saat itu, ia tidak lagi memiliki kontak dengan sang suami.

"Aku merasa seperti aku sudah mati dan tubuhku hanya terus berfungsi. Aku merasa sangat bersalah," ujarnya.

"Aku percaya awalnya dia mengira memiliki anak adalah ide yang bagus karena, 'Dia tidak bisa meninggalkanku' Tapi kemudian bayi itu mendapatkan semua perhatian."

Kata psikolog tentang perubahan sikap dan kehadiran anak

Seorang psikolog klinis perinatal terkemuka di yayasan kepercayaan NHS London Utara, Dr. Panos Vythoulkas, mengatakan bahwa apa yang dialami suami Evie sebenarnya adalah hal yang umum. Kehadiran calon bayi bisa saja menjadi ancaman bagi salah satu pasangan, Bunda.

"Seseorang yang merasa berhak untuk mengendalikan pasangannya mungkin menganggap perubahan ini sebagai ancaman terhadap posisi, perhatian, atau otoritas mereka," ungkap Vythoulkas.

Pelaku kekerasan biasanya merasa kesal dengan perhatian yang diberikan pada kehamilan atau menganggap bayi sebagai saingan. Kebutuhan seorang ibu hamil akan istirahat, dukungan, atau pilihan untuk tidak berhubungan seks dapat diartikan sebagai penolakan atau tantangan terhadap otoritas mereka.

Vythoulkas percaya bahwa pelaku kekerasan mungkin awalnya menginginkan kehamilan karena hal itu menawarkan peluang untuk mengendalikan. Namun, munculnya berbagai faktor bisa menghancurkan semuanya.

"Tekanan finansial, tempat tinggal yang tidak aman, isolasi, dan peningkatan ketergantungan dapat membatasi pilihan seorang perempuan. Pasangan yang melakukan kekerasan dapat mengeksploitasi keadaan ini dengan menahan uang, membatasi kontak dengan orang lain, atau menghalangi perawatan kesehatan," katanya.

Kekerasan selama kehamilan dapat berakibat fatal. Investigasi Byline Times berdasarkan informasi pihak berwajib menemukan setidaknya 223 wanita mengalami keguguran yang terkait dengan kekerasan dalam rumah tangga di Inggris dan Wales antara tahun 2017 dan 2021. Korban kekerasan dalam rumah tangga juga dua kali lebih mungkin untuk mengabaikan perawatan prenatal, yang memperburuk risiko keguguran.

Sementara itu, penyelidikan tentang kematian ibu menemukan bahwa keputusan untuk mengakhiri hidup adalah penyebab utama kematian ibu pada tahun pertama setelah melahirkan, dan bahwa kekerasan dalam rumah tangga didokumentasikan pada 43 persen perempuan yang meninggal di Inggris.

Demikian kisah Bunda yang hidupnya berubah saat hamil karena mendapatkan kekerasan dari suami.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda