Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Umumkan Kehamilan, Bunda Ini Mengaku Didesak Resign Secara Halus oleh Kantor

Annisa Aulia Rahim   |   HaiBunda

Selasa, 27 Oct 2026 14:00 WIB

Ilustrasi kerja saat hamil
Umumkan Kehamilan, Bunda Ini Mengaku Didesak Resign Secara Halus oleh Kantor/Foto: Getty Images/Antonio_Diaz
Daftar Isi
Jakarta -

Kabar kehamilan seharusnya menjadi momen membahagiakan bagi seorang Bunda. Namun, bagi sebagian perempuan, mengumumkan kehamilan di tempat kerja justru menjadi awal dari pengalaman pahit yang mengancam karier dan penghasilan mereka.

Hal ini dialami sejumlah perempuan di Australia yang mengaku kehilangan pekerjaan, mengalami pemotongan jam kerja, hingga mendapat perlakuan berbeda setelah hamil atau memiliki anak.

Salah satu kisahnya datang dari Abby McCawley. Perempuan ini mengaku kehilangan pekerjaan setelah membagikan kabar kehamilannya kepada rekan-rekan kerja. Kisahnya menjadi bagian dari investigasi ABC News yang menyoroti diskriminasi kehamilan di lingkungan kerja Australia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


kisah

Kisah Bunda dipecat tak lama setelah umumkan kehamilan

Abby McCawley bekerja sebagai manajer properti sewaan di Ray White Brunswick, Melbourne, Australia. Saat itu, ia baru sekitar lima bulan menjalani pekerjaannya.

Ketika mengetahui bahwa dirinya mengandung bayi perempuan, Abby merasa bahagia dan membagikan kabar tersebut kepada rekan-rekan kerjanya. Ia mengatakan bahwa orang-orang di sekitarnya, termasuk rekan dan pihak yang mempekerjakannya, menyambut kabar tersebut dengan gembira.

Namun, situasi berubah setelah Abby mengambil cuti selama dua hari untuk mengatasi mual pada awal kehamilan. Ketika kembali bekerja, ia mendapati dirinya tidak bisa masuk ke komputer kantor. Tak lama kemudian, atasannya memanggil Abby ke ruangan dan memberitahukan bahwa hubungan kerjanya diakhiri.

Abby mengaku terkejut dan menangis karena tidak menyangka kehilangan pekerjaan di tengah kehamilannya. Ia juga mengatakan bahwa sebelumnya tidak pernah menerima peringatan mengenai kinerja yang dianggap bermasalah.

"Saya hanya berpikir, saya tidak melakukan kesalahan apa pun. Mengapa saya diberhentikan?" ungkap Abby. 

Ia menduga kehamilannya menjadi alasan di balik keputusan tersebut. Abby awalnya diberi tahu bahwa pemutusan hubungan kerja berkaitan dengan restrukturisasi kantor. Namun, pengacaranya menyebut alasan yang disampaikan kemudian berubah menjadi persoalan kinerja.

Abby telah membawa persoalan tersebut ke jalur hukum. Ia menggugat Ray White Brunswick di Pengadilan Federal Australia setelah proses mediasi di Fair Work Commission tidak berhasil.

Pihak Ray White Brunswick membantah melalui pernyataan bahwa pemutusan hubungan kerja dilakukan berdasarkan alasan yang telah dibicarakan dengan Abby. Perusahaan menyatakan tidak dapat berkomentar lebih jauh karena perkara tersebut sedang berjalan.

Dengan demikian, dugaan diskriminasi yang dialami Abby masih harus dilihat berdasarkan proses hukum yang berlangsung.

Lebih dari 100 perempuan mengaku mengalami diskriminasi kehamilan

Kisah Abby bukan satu-satunya yang menjadi sorotan. Dalam investigasi program Four Corners, lebih dari 100 perempuan menghubungi tim investigasi dan mengaku kehilangan pekerjaan atau mengalami perlakuan tidak adil setelah hamil maupun memiliki anak.

Dari 104 perempuan yang menghubungi tim tersebut, sebanyak 48 orang mengatakan mereka mengalami pemutusan hubungan kerja dengan alasan redundansi atau penghapusan posisi.

Investigasi itu juga menemukan pola perlakuan yang dikeluhkan para perempuan, mulai dari kritik terhadap kinerja yang sebelumnya tidak dipersoalkan, pemotongan jam kerja, hingga penghapusan posisi yang diduga hanya menjadi alasan untuk menyingkirkan pekerja.

Sebanyak 21 perempuan mengaku diberhentikan setelah hamil, tetapi kemudian mendapati orang lain mengisi pekerjaan yang sebelumnya mereka lakukan, terkadang dengan jabatan berbeda.

Meski demikian, angka tersebut berasal dari perempuan yang menghubungi tim investigasi dan bukan gambaran prevalensi seluruh pekerja perempuan di Australia.

Pekerja hamil juga mengalami pemotongan jam kerja

Selain Abby, seorang pekerja pabrik di Melbourne yang diidentifikasi dengan nama Challis juga menceritakan pengalaman sulitnya saat hamil.

Selama dua tahun, Challis bekerja di gudang berpendingin melalui perusahaan penyedia tenaga kerja. Setelah hamil, ia diminta menyerahkan beberapa surat keterangan medis untuk memastikan dirinya layak bekerja di lingkungan gudang tersebut.

Dokter berulang kali menyatakan bahwa Challis dapat menjalankan tugasnya. Namun, ia mengaku sempat kehilangan jadwal kerja dan kemudian mendapati jam kerjanya berkurang dari 40 menjadi 24 jam per minggu.

Ketika memasuki trimester kedua, Challis meminta perubahan jadwal ke sif pagi karena mengalami nyeri panggul saat bekerja pada malam hari. Ia mengatakan bersedia tetap bekerja pada sif malam jika perubahan jadwal tidak memungkinkan.

Namun, setelah satu sif tambahan, Challis mengaku tidak lagi mendapat jadwal kerja. Kondisi tersebut membuatnya kesulitan memperoleh penghasilan sekaligus menabung untuk kebutuhan kelahiran dan bayinya.

Dalam laporan yang sama, Challis dan tim hukumnya membawa persoalan tersebut ke Australian Human Rights Commission. Pihak perusahaan yang terlibat tidak memberikan komentar lebih jauh karena proses hukum masih berjalan.

Diskriminasi kehamilan bisa berdampak pada kondisi finansial dan emosional

Kehilangan pekerjaan ketika sedang hamil bukan hanya persoalan karier. Situasi ini juga dapat menambah beban finansial dan tekanan emosional ketika seorang perempuan sedang mempersiapkan kelahiran anak.

Pemasukan yang berkurang dapat membuat calon orang tua lebih sulit mempersiapkan biaya persalinan, kebutuhan bayi, dan pengeluaran rumah tangga. Ketidakpastian pekerjaan juga dapat menambah kekhawatiran di tengah perubahan fisik dan emosional selama kehamilan.

Dalam kasus Abby, ia harus menghadapi kehamilan sambil kehilangan pekerjaan dan menjalani proses hukum. Sementara itu, Challis menceritakan kesulitannya memenuhi kebutuhan finansial setelah jam kerjanya berkurang.

Pengalaman tersebut memperlihatkan pentingnya lingkungan kerja yang tidak memperlakukan kehamilan sebagai hambatan atau alasan untuk mengurangi kesempatan seorang pekerja.

Namun, dampak pada setiap perempuan bisa berbeda-beda. Kisah-kisah tersebut menunjukkan pengalaman individu dan tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa semua perempuan yang mengalami masalah pekerjaan saat hamil menghadapi diskriminasi.

Diskriminasi terhadap ibu hamil menjadi sorotan di Australia

Australian Human Rights Commission menerima jumlah pengaduan diskriminasi kehamilan tertinggi dalam lebih dari satu dekade pada tahun sebelumnya.

Sejumlah pengacara dan kelompok advokasi menilai pekerja hamil serta orang tua baru masih menghadapi tantangan ketika berusaha mempertahankan pekerjaan dan memperjuangkan haknya.

Proses hukum juga tidak selalu mudah. Perempuan yang mengalami dugaan diskriminasi harus menghadapi biaya, waktu, dan ketidakpastian selama penyelesaian perkara. Sebagian akhirnya memilih tidak melanjutkan pengaduan.

Kisah Abby dan Challis menjadi pengingat bahwa dukungan terhadap perempuan hamil di tempat kerja tidak cukup hanya berupa ucapan selamat. Kebijakan perusahaan, pengaturan kerja yang wajar, serta penilaian kinerja yang adil juga penting agar pekerja tidak kehilangan kesempatan hanya karena sedang menjalani kehamilan.

Bagi Bunda yang sedang hamil dan menghadapi perlakuan tidak adil di kantor, penting untuk menyimpan bukti komunikasi, catatan perubahan jadwal atau tugas, serta dokumen terkait keputusan perusahaan. Jika diperlukan, Bunda dapat mencari bantuan dari lembaga ketenagakerjaan atau penasihat hukum sesuai aturan yang berlaku di wilayah masing-masing.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda