kehamilan
Benarkah Ada Dampak Jangka Panjang IVF Terhadap Kesehatan Perempuan?
HaiBunda
Rabu, 28 Oct 2026 20:40 WIB
Daftar Isi
Program bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF) menjadi salah satu pilihan bagi pasangan yang mengalami kesulitan untuk mendapatkan keturunan. Prosedur ini melibatkan pemberian obat untuk merangsang pematangan sel telur, pengambilan sel telur, pembuahan di laboratorium, hingga pemindahan embrio ke dalam rahim.
Namun, di balik harapan untuk memiliki anak, sebagian Bunda mungkin bertanya-tanya mengenai keamanan prosedur ini. Apakah obat hormon yang digunakan selama IVF bisa memengaruhi kesehatan dalam jangka panjang? Benarkah program bayi tabung dapat meningkatkan risiko kanker?
Sejumlah penelitian telah mengkaji pertanyaan tersebut. Hasilnya cukup melegakan, meskipun beberapa risiko masih perlu diteliti lebih lanjut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apakah IVF memiliki dampak jangka panjang terhadap kesehatan wanita?
Hingga saat ini, bukti ilmiah belum menunjukkan bahwa IVF secara konsisten meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis pada wanita. Meski demikian, beberapa penelitian menemukan kemungkinan kaitan dengan jenis tumor tertentu, terutama tumor ovarium borderline atau tumor ovarium dengan potensi keganasan rendah.
Pedoman National Institute for Health and Care Excellence (NICE) yang diperbarui pada Maret 2026 menyebutkan bahwa risiko absolut dampak jangka panjang IVF tergolong rendah. Namun, peningkatan kecil risiko tumor ovarium borderline belum dapat sepenuhnya disingkirkan.Â
Artinya, Bunda tidak perlu langsung menganggap IVF berbahaya bagi kesehatan. Penting untuk memahami jenis risiko yang telah diteliti serta keterbatasan bukti yang tersedia.
1. Risiko kanker payudara setelah IVF
Salah satu kekhawatiran yang kerap muncul berkaitan dengan penggunaan obat hormon selama stimulasi ovarium. Obat tersebut membantu ovarium menghasilkan lebih banyak sel telur matang dalam satu siklus pengobatan.
Karena perubahan hormon dapat memengaruhi jaringan payudara, para peneliti telah mempelajari kemungkinan kaitan antara IVF dan kanker payudara.
Studi yang diterbitkan dalam jurnal JAMA pada 2016 meneliti 25.108 wanita di Belanda yang menjalani perawatan kesuburan. Setelah median masa pemantauan selama 21,1 tahun, peneliti tidak menemukan peningkatan risiko kanker payudara pada wanita yang menjalani IVF dibandingkan dengan wanita yang menerima perawatan kesuburan lain.Â
Temuan ini memberikan gambaran yang cukup meyakinkan mengenai keamanan IVF terhadap risiko kanker payudara dalam jangka panjang. Meski demikian, hasil tersebut tidak berarti risiko kanker payudara sepenuhnya hilang, karena faktor lain seperti usia dan riwayat keluarga tetap berpengaruh.
2. Kemungkinan risiko tumor ovarium
Selain kanker payudara, kesehatan ovarium juga menjadi perhatian karena organ ini mendapatkan stimulasi hormon selama proses IVF.
Studi kohort nasional di Belanda yang diterbitkan pada 2021 melibatkan 30.625 wanita yang menjalani teknologi reproduksi berbantu dan 9.988 wanita dengan masalah kesuburan yang tidak menerima prosedur tersebut. Setelah median pemantauan selama 24 tahun, peneliti menemukan peningkatan risiko tumor ovarium borderline pada kelompok yang menjalani perawatan reproduksi berbantu dibandingkan kelompok pembanding.
Namun, peningkatan risiko kanker ovarium invasif tidak lagi terlihat ketika kelompok IVF dibandingkan dengan wanita yang juga mengalami masalah kesuburan tetapi tidak menjalani prosedur tersebut. Peneliti menilai bahwa faktor seperti belum pernah melahirkan dan kondisi infertilitas dapat ikut menjelaskan temuan tersebut.Â
Tumor ovarium borderline berbeda dari kanker ovarium invasif. Tumor ini memiliki karakteristik sel yang tidak normal, tetapi tidak menunjukkan pola invasi jaringan seperti kanker ovarium invasif.
Karena itu, temuan tersebut perlu ditafsirkan secara hati-hati. Penelitian belum membuktikan bahwa IVF secara langsung menyebabkan tumor ovarium.
3. Apakah IVF meningkatkan risiko penyakit jantung?
Perubahan hormon selama pengobatan kesuburan juga mendorong para peneliti mempelajari kemungkinan dampaknya terhadap kesehatan jantung dan pembuluh darah.
Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis yang diterbitkan dalam European Heart Journal pada 2025 menganalisis 10 penelitian dengan total 500.664 wanita yang menjalani teknologi reproduksi berbantu dan lebih dari 36 juta peserta kelompok pembanding.
Hasilnya tidak menunjukkan peningkatan risiko jangka panjang yang signifikan untuk kejadian kardiovaskular mayor, penyakit jantung koroner, stroke, penggumpalan darah di pembuluh vena, hipertensi, maupun diabetes.Â
Namun, penelitian tersebut mencakup berbagai jenis teknologi reproduksi berbantu, bukan hanya IVF. Sebagian penelitian juga memiliki keterbatasan dalam mengendalikan faktor lain, seperti obesitas dan kebiasaan merokok.
Dengan demikian, hasil ini cukup melegakan, tetapi penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memahami dampak setiap jenis prosedur dan kondisi kesehatan wanita secara lebih spesifik.
4. Risiko kehamilan setelah menjalani IVF
Hal lain yang perlu dibedakan adalah dampak prosedur IVF terhadap kesehatan wanita setelah bertahun-tahun dan risiko yang muncul ketika kehamilan berhasil terjadi.
Kehamilan melalui teknologi reproduksi berbantu dapat berkaitan dengan peningkatan risiko komplikasi tertentu, termasuk preeklamsia dan kehamilan kembar, terutama pada kehamilan multipel. Risiko juga dapat dipengaruhi usia ibu, penyakit yang sudah ada sebelumnya, serta metode pemindahan embrio.
Menurut ulasan ilmiah dalam European Heart Journal, komplikasi seperti preeklamsia penting diperhatikan karena kondisi tersebut berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular pada masa mendatang. Namun, hal ini tidak berarti semua wanita yang hamil melalui IVF akan mengalami komplikasi tersebut.Â
Oleh sebab itu, pemantauan kehamilan tetap penting bagi Bunda yang berhasil hamil melalui program bayi tabung, sesuai dengan kondisi dan faktor risiko masing-masing.
Bagaimana cara menjaga kesehatan setelah IVF?
Bunda yang menjalani atau pernah menjalani IVF dapat mendiskusikan beberapa hal berikut dengan dokter:
- Memahami riwayat kesehatan pribadi dan keluarga. Sampaikan jika ada riwayat kanker payudara, kanker ovarium, penyakit jantung, atau kondisi lain yang relevan.
- Menggunakan obat sesuai anjuran dokter. Dosis dan durasi stimulasi ovarium perlu disesuaikan dengan kebutuhan pengobatan.
- Menjalani pemeriksaan rutin sesuai indikasi. Jenis dan frekuensi pemeriksaan ditentukan berdasarkan usia, riwayat kesehatan, gejala, dan pedoman skrining yang berlaku.
- Menjaga kesehatan secara menyeluruh. Pola makan seimbang, aktivitas fisik, tidur cukup, dan tidak merokok membantu mendukung kesehatan jangka panjang.
Bunda juga sebaiknya segera mencari pertolongan medis jika mengalami gejala yang mengkhawatirkan setelah prosedur, terutama nyeri perut hebat, sesak napas, atau pembengkakan yang bertambah cepat.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Kehamilan
Tak Selalu Berhasil, Jennifer Aniston Jadi Potret Nyata Perjuangan Promil IVF
Kehamilan
Marissa Anita Akui Tak Tertarik IVF, Ingin Menikmati Proses Dapatkan Kehamilan secara Alami
Kehamilan
5 Tips agar Proses Transfer Embrio pada IVF Dapat Berjalan Lancar
Kehamilan
Bunda, Begini lho Proses Transfer Embrio ke Rahim pada Program IVF
Kehamilan
Hal yang Perlu Diketahui Sebelum Memutuskan Program Bayi Tabung
5 Foto
Kehamilan
5 Potret Kebahagiaan Anggika Bolsterli Jalani Kehamilan Pertama
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Kini 3 dari 4 Kehamilan dengan IVF Dihasilkan dari Embrio Beku
Hamil Alami dan IVF, Apakah Gejalanya Berbeda? Ini Penjelasannya
Kisah Bunda 54 Tahun Melahirkan Bayi dari Embrio Beku 22 Tahun