kehamilan
Divonis Kanker saat Usia 18 Th, Wanita Ini Bisa Hamil Berkat Jaringan Ovarium yang Dibekukan
HaiBunda
Minggu, 25 Oct 2026 14:00 WIB
Daftar Isi
Perjalanan menjadi seorang ibu bisa hadir melalui cara yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Seorang perempuan bernama Kassandra Bacon membuktikan hal tersebut setelah berhasil melahirkan bayi laki-laki berkat jaringan ovarium yang dibekukan selama 25 tahun.
Kassandra didiagnosis mengidap kanker saat berusia 18 tahun. Kala itu, ia harus menghadapi kenyataan bahwa pengobatan kanker yang perlu dijalaninya berisiko merusak kesuburan dan mengurangi peluangnya untuk memiliki anak di masa depan.
Namun, keputusan untuk menyimpan jaringan ovarium sebelum menjalani kemoterapi menjadi langkah penting yang kelak membuka peluang bagi Kassandra untuk menjadi seorang ibu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kisahnya menjadi sorotan karena jaringan ovarium yang disimpan selama sekitar 25 tahun tersebut akhirnya digunakan untuk membantu mewujudkan kehamilannya. Kasus ini juga menunjukkan perkembangan teknologi medis dalam mempertahankan kesuburan pasien kanker.
Didiagnosis kanker saat berusia 18 tahun
Dikutip dari People, Kassandra Bacon didiagnosis menderita limfoma Hodgkin saat masih berusia 18 tahun. Ia harus menjalani pengobatan intensif, termasuk kemoterapi dosis tinggi, yang dapat berdampak pada fungsi reproduksi.
Limfoma Hodgkin merupakan jenis kanker yang menyerang sistem limfatik, bagian dari sistem kekebalan tubuh. Pengobatannya dapat melibatkan kemoterapi, radioterapi, atau kombinasi keduanya, bergantung pada kondisi pasien.
Pada perempuan usia reproduktif, kemoterapi dosis tinggi berpotensi merusak sel-sel ovarium dan cadangan sel telur. Dampaknya bisa berupa penurunan kesuburan, gangguan menstruasi, hingga insufisiensi ovarium prematur.
Menghadapi risiko tersebut, Kassandra menjalani prosedur penyimpanan jaringan ovarium sebelum memulai pengobatan kanker. Pada saat itu, teknologi ini masih tergolong baru dalam praktik pelestarian kesuburan.
Keputusan tersebut menjadi salah satu langkah yang memungkinkan dirinya mempertahankan peluang untuk memiliki anak, meskipun harus lebih dahulu berfokus pada pemulihan kesehatannya.
Jaringan ovarium dibekukan selama 25 tahun
Salah satu hal yang membuat kisah Kassandra istimewa adalah lamanya jaringan ovarium tersebut disimpan sebelum akhirnya digunakan kembali. Jaringan ovarium Kassandra diambil dan dibekukan ketika ia berusia 18 tahun, sebelum menjalani kemoterapi. Sekitar 25 tahun kemudian, jaringan tersebut ditransplantasikan kembali untuk membantu memulihkan fungsi reproduksinya. Prosedur ini dikenal sebagai ovarian tissue cryopreservation atau kriopreservasi jaringan ovarium.
Dikutip dari American Society for Reproductive Medicine (ASRM), metode ini merupakan salah satu pilihan pelestarian kesuburan bagi pasien yang akan menjalani pengobatan medis yang berisiko mengganggu fungsi reproduksi. Prosedur ini juga dapat menjadi pilihan ketika pasien tidak memiliki cukup waktu untuk menjalani stimulasi ovarium dan pengambilan sel telur sebelum terapi kanker dimulai.
Dalam prosedurnya, sebagian jaringan ovarium diambil melalui tindakan operasi. Jaringan tersebut kemudian diproses dan disimpan pada suhu sangat rendah agar struktur serta folikel yang mengandung calon sel telur dapat dipertahankan.
Setelah pasien menyelesaikan pengobatan dan dinilai memenuhi syarat secara medis, jaringan yang telah dicairkan dapat ditransplantasikan kembali ke tubuhnya. Tujuannya adalah membantu memulihkan fungsi ovarium sehingga produksi hormon dan perkembangan sel telur berpotensi kembali berlangsung.
Meski demikian, prosedur ini tidak menjamin setiap pasien dapat hamil. Keberhasilannya dipengaruhi berbagai faktor, termasuk usia saat jaringan diambil, kondisi jaringan, jenis kanker, serta keamanan transplantasi setelah pengobatan.
Berhasil hamil setelah jaringan ovarium ditransplantasikan
Setelah melalui perjalanan panjang sejak diagnosis kanker, Kassandra akhirnya memiliki kesempatan untuk menjalani program kehamilan dengan bantuan jaringan ovarium yang telah disimpan selama puluhan tahun.
Dalam kasusnya, jaringan ovarium yang ditransplantasikan kembali membantu memulihkan fungsi reproduksi. Kassandra kemudian menjalani program bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF) hingga berhasil memperoleh kehamilan.
IVF merupakan prosedur reproduksi berbantu yang dilakukan dengan mempertemukan sel telur dan sperma di laboratorium. Embrio yang terbentuk kemudian dipindahkan ke dalam rahim untuk mendapatkan kesempatan berkembang menjadi kehamilan.
Kassandra akhirnya melahirkan bayi laki-laki pada usia 44 tahun. Keberhasilan ini menjadi pencapaian penting dalam perjalanan reproduksinya sekaligus memperlihatkan potensi teknologi penyimpanan jaringan ovarium jangka panjang.
Penggunaan jaringan yang telah dibekukan selama sekitar 25 tahun juga menjadikan kasus ini penting bagi perkembangan ilmu kedokteran reproduksi.
Kisah Kassandra bukan berarti semua perempuan yang menjalani prosedur serupa akan memperoleh hasil yang sama. Namun, pengalamannya menunjukkan bahwa pelestarian kesuburan sebelum pengobatan kanker dapat memberikan pilihan tambahan bagi pasien yang ingin memiliki anak di kemudian hari.
Penelitian membuktikan jaringan ovarium beku bisa digunakan kembali
Keberhasilan Kassandra sejalan dengan penelitian mengenai transplantasi jaringan ovarium yang telah dibekukan. Salah satu penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Reproductive BioMedicine Online dan tersedia melalui PubMed Central pada 2018 melaporkan hasil transplantasi jaringan ovarium beku di sebuah pusat medis di Amerika Serikat.
Dalam penelitian tersebut, 13 pasien menjalani transplantasi jaringan ovarium yang sebelumnya telah disimpan melalui proses pembekuan. Seluruh pasien dalam kelompok tersebut menunjukkan kembalinya fungsi ovarium setelah transplantasi.
Sebanyak 10 dari 13 pasien dilaporkan mengalami kehamilan spontan setidaknya satu kali, dengan total 13 bayi lahir dari jaringan ovarium beku yang ditransplantasikan. Hasil ini menunjukkan potensi metode tersebut, meskipun jumlah pasien yang diteliti masih terbatas dan tidak dapat digunakan untuk memprediksi peluang keberhasilan setiap individu.
Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa jaringan ovarium dapat kembali menjalankan fungsi hormonal setelah ditransplantasikan. Namun, masa fungsi jaringan yang dicangkokkan dapat bervariasi pada setiap pasien.
Pengalaman Kassandra menjadi pengingat bahwa kesehatan reproduksi perlu menjadi bagian dari diskusi antara pasien dan dokter sebelum pengobatan kanker dimulai, terutama ketika terapi yang direncanakan berisiko memengaruhi kesuburan.
American Society for Reproductive Medicine dalam panduan klinisnya pada 2026 menekankan pentingnya konseling dan rujukan dini untuk pasien yang berisiko mengalami gangguan kesuburan akibat pengobatan medis.
Selain pembekuan jaringan ovarium, terdapat pilihan lain yang dapat dipertimbangkan sesuai kondisi pasien, seperti pembekuan sel telur atau embrio.
Pilihan yang tepat perlu disesuaikan dengan usia, jenis kanker, rencana pengobatan, waktu yang tersedia sebelum terapi dimulai, serta kondisi kesehatan pasien. Pada beberapa jenis kanker, jaringan ovarium juga perlu diperiksa secara cermat sebelum ditransplantasikan kembali untuk menilai risiko membawa sel kanker ke dalam tubuh.
Karena itu, pasien dapat mendiskusikan kemungkinan pelestarian kesuburan bersama dokter spesialis onkologi dan spesialis fertilitas sedini mungkin. Konsultasi ini penting agar upaya mempertahankan peluang memiliki anak tidak menghambat penanganan kanker yang dibutuhkan.
Kisah Kassandra Bacon memperlihatkan bagaimana keputusan medis yang diambil puluhan tahun sebelumnya dapat membuka peluang baru di masa depan. Setelah menghadapi kanker pada usia muda, ia akhirnya dapat menyambut kelahiran buah hati dengan bantuan perkembangan teknologi reproduksi.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Kehamilan
BKKBN Sebut Tak Menikah & Punya Anak Bisa Picu Penyakit Ganas, Ini Penjelasan Dokter
Kehamilan
5 Tips Cepat Hamil untuk Pengantin Baru
Kehamilan
Perbedaan Spermatogenesis & Oogenesis, Proses Penting di Sistem Reproduksi
Kehamilan
Benarkah Buah Delima Bisa Bikin Bunda Cepat Hamil?
Kehamilan
Yuk Kenali Oligospermia, Gangguan Sperma yang Bisa Turunkan Peluang Kehamilan
9 Foto
Kehamilan
9 Potret Gaya Busana Keluarga Kerajaan Inggris Usai Melahirkan
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Kisah Haru Bunda Melahirkan Bayi Sehat meski Jalani Kemoterapi saat Hamil
Hamil 39 Minggu, Perempuan Ini Kaget Didiagnosis Kanker Payudara
Bukan Cuma Cegah Kanker Serviks, Vaksin HPV Juga Kurangi Risiko Komplikasi Kehamilan