Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Ibu Hamil dengan Riwayat Luka Masa Kecil Rentan Alami Reaksi Peradangan saat Stres

Annisa Aulia Rahim   |   HaiBunda

Minggu, 18 Oct 2026 16:05 WIB

Ilustrasi Ibu dan Anak/ Ibu Hamil Stres
Ibu Hamil dengan Riwayat Luka Masa Kecil Rentan Alami Reaksi Peradangan saat Stres/Foto: Getty Images/iStockphoto/Nuttawan Jayawan
Daftar Isi
Jakarta -

Pengalaman masa kecil yang menyakitkan ternyata dapat meninggalkan dampak hingga seseorang dewasa, termasuk ketika menjalani kehamilan. Penelitian terbaru menemukan bahwa ibu hamil yang memiliki riwayat pengabaian atau kekerasan pada masa kecil cenderung menunjukkan respons peradangan tubuh yang lebih kuat saat menghadapi stres.

Temuan ini menjadi perhatian karena kehamilan merupakan periode ketika tubuh Bunda mengalami berbagai perubahan biologis untuk mendukung tumbuh kembang janin. Lantas, bagaimana pengalaman masa kecil dapat memengaruhi respons tubuh terhadap stres selama kehamilan?

Penelitian temukan hubungan luka masa kecil dan peradangan saat hamil

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Developmental Psychobiology pada 2026 meneliti hubungan antara pengalaman buruk pada masa kecil, respons peradangan terhadap stres, dan komplikasi kehamilan maupun persalinan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Penelitian yang dipublikasikan dalam Inflammatory Stress Response During Pregnancy as a Connecting Link in Intergenerational Risk Cascades melibatkan 158 ibu hamil. Sebagian besar peserta berada pada trimester ketiga, dengan usia kehamilan rata-rata sekitar 31 minggu.

Para peneliti meminta peserta mengisi kuesioner mengenai pengalaman masa kecil, termasuk pengabaian emosional, pengabaian fisik, kekerasan fisik, kekerasan seksual, dan kekerasan emosional.

Selanjutnya, peserta menjalani tes stres psikologis yang dikenal sebagai Trier Social Stress Test. Dalam tes tersebut, peserta diminta menyampaikan pidato selama lima menit dan melakukan perhitungan matematika secara lisan selama lima menit di hadapan evaluator.

Peneliti mengambil lima sampel air liur sebelum dan setelah tes untuk mengukur sejumlah penanda peradangan, yaitu C-reactive protein (CRP), interleukin-1 beta (IL-1β), interleukin-6 (IL-6), dan tumor necrosis factor alpha (TNF-α).

Hasilnya menunjukkan bahwa ibu hamil dengan riwayat perlakuan buruk pada masa kecil cenderung mengalami respons peradangan yang lebih tinggi atau berlangsung lebih lama setelah menghadapi situasi stres.

Hubungan tersebut terlihat cukup menonjol pada peserta yang mengalami pengabaian fisik dan kekerasan seksual saat kecil.

Mengapa luka masa kecil bisa memengaruhi respons tubuh terhadap stres?

Pengalaman buruk pada masa kecil tidak hanya berkaitan dengan kondisi psikologis. Dalam sejumlah penelitian, pengalaman tersebut juga dikaitkan dengan perbedaan cara tubuh merespons tekanan.

Ketika seseorang menghadapi situasi yang dianggap mengancam, sistem saraf simpatik dapat mengaktifkan respons fight or flight, yaitu mekanisme tubuh untuk menghadapi ancaman atau menghindarinya. Respons ini melibatkan berbagai proses biologis, termasuk perubahan aktivitas sistem kekebalan tubuh dan pelepasan molekul yang berperan dalam peradangan.

Salah satu kelompok molekul tersebut adalah sitokin proinflamasi. Dalam jumlah dan kondisi tertentu, sitokin membantu tubuh menghadapi ancaman. Namun, respons yang terlalu kuat atau berlangsung lebih lama dapat berkaitan dengan gangguan kesehatan. Pada ibu hamil, respons tubuh terhadap stres menjadi penting untuk diteliti karena sistem kekebalan mengalami perubahan selama kehamilan. 

Meski demikian, riwayat trauma tidak berarti seseorang pasti mengalami peradangan berlebihan. Respons setiap individu dapat berbeda, dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk kondisi kesehatan, lingkungan, dan pengalaman hidup setelah masa kecil.

Respons peradangan juga berkaitan dengan komplikasi kehamilan

Dalam penelitian tersebut, tim peneliti juga mengevaluasi kondisi kehamilan dan persalinan peserta setelah mereka melahirkan. Sekitar tiga bulan setelah persalinan, sebanyak 112 peserta memberikan informasi mengenai komplikasi yang dialami.

Hasil analisis menunjukkan bahwa respons peradangan yang lebih tinggi berkaitan dengan jumlah komplikasi kehamilan yang lebih banyak. Sementara itu, respons peradangan yang terus meningkat selama pengamatan berkaitan dengan hasil persalinan yang kurang baik.

Peneliti juga menemukan hubungan antara respons peradangan yang berlangsung lebih lama dan kemungkinan persalinan prematur, yaitu persalinan sebelum usia kehamilan mencapai 37 minggu.

Namun, temuan mengenai kelahiran prematur perlu ditafsirkan secara hati-hati. Hanya sekitar 4 persen peserta dalam sampel penelitian tersebut yang mengalami persalinan prematur, sehingga jumlah kasusnya sangat sedikit.

Selain itu, penelitian ini tidak membuktikan bahwa trauma masa kecil secara langsung menyebabkan komplikasi kehamilan. Peneliti juga belum dapat memastikan bahwa peradangan merupakan mekanisme yang menjelaskan seluruh hubungan tersebut. Dengan kata lain, hasil penelitian menunjukkan adanya keterkaitan yang perlu diteliti lebih lanjut, bukan kepastian bahwa ibu hamil dengan riwayat trauma akan mengalami komplikasi.

Temuan tersebut sejalan dengan penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Brain, Behavior, and Immunity pada 2018. Studi berjudul Pathways Linking Childhood Abuse History and Current Socioeconomic Status to Inflammation During Pregnancy melibatkan 214 perempuan yang dinilai pada masa kehamilan.

Penelitian tersebut mengkaji hubungan pengalaman kekerasan pada masa kecil, kondisi sosial ekonomi, stres terkini, kualitas tidur, dan sejumlah penanda peradangan dalam darah, termasuk CRP dan IL-6.

Hasilnya menunjukkan bahwa hubungan antara pengalaman buruk sebelumnya dan peradangan selama kehamilan dapat berkaitan dengan sejumlah faktor, seperti indeks massa tubuh sebelum hamil, kualitas tidur, dan konflik interpersonal.

Temuan ini memperlihatkan bahwa respons tubuh tidak berdiri sendiri. Kondisi psikologis, kebiasaan sehari-hari, dan situasi sosial juga dapat berperan dalam kesehatan ibu hamil.

Apa yang bisa dilakukan Bunda jika memiliki riwayat trauma?

Memiliki pengalaman masa kecil yang menyakitkan bukan berarti Bunda tidak bisa menjalani kehamilan yang sehat. Riwayat trauma juga bukan kesalahan Bunda dan tidak seharusnya menjadi alasan untuk menyalahkan diri sendiri.

Jika pengalaman masa lalu masih memengaruhi kondisi emosional atau membuat Bunda kesulitan menghadapi stres, beberapa langkah berikut dapat dipertimbangkan.

Ceritakan kondisi kepada tenaga kesehatan

Bunda dapat menyampaikan keluhan emosional atau pengalaman yang masih mengganggu kepada dokter kandungan, bidan, atau psikolog. Bunda tidak harus menceritakan seluruh detail pengalaman traumatis jika belum merasa nyaman.

Cari dukungan yang terasa aman

Dukungan pasangan, keluarga, teman tepercaya, atau kelompok pendamping ibu hamil dapat membantu Bunda menghadapi perubahan selama kehamilan. Pilih orang yang dapat mendengarkan tanpa menghakimi.

Perhatikan istirahat dan kebutuhan tubuh

Tidur yang cukup, aktivitas fisik yang sesuai dengan kondisi kehamilan, serta pola makan bergizi dapat mendukung kesehatan secara keseluruhan. Bunda juga dapat mencoba latihan pernapasan atau relaksasi apabila terasa nyaman.

Pertimbangkan bantuan profesional

Jika trauma masa lalu memicu kecemasan berkepanjangan, gangguan tidur, atau kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari, berkonsultasilah dengan psikolog atau psikiater. Pendampingan profesional dapat membantu Bunda mengelola respons terhadap stres dengan cara yang sesuai.

Penelitian ini masih memerlukan pengembangan lebih lanjut sebelum dapat digunakan untuk menentukan risiko komplikasi pada setiap individu. Karena itu, riwayat trauma tidak dapat dijadikan satu-satunya dasar untuk memprediksi kondisi kehamilan.

Yang terpenting, Bunda tetap berhak mendapatkan perawatan kehamilan yang aman, suportif, dan bebas dari penghakiman. Jika memiliki kekhawatiran mengenai kesehatan fisik maupun emosional selama kehamilan, jangan ragu untuk mendiskusikannya dengan tenaga kesehatan.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda