Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Tolak Saran Dokter Gugurkan Kandungan, Bunda Ini Berjuang Lawan Kanker Sambil Hamil

Annisa Aulia Rahim   |   HaiBunda

Senin, 19 Oct 2026 14:00 WIB

hamil dokter
Tolak Saran Dokter Gugurkan Kandungan, Bunda Ini Berjuang Lawan Kanker Sambil Hamil/Foto: Getty Images/SDI Productions
Daftar Isi
Jakarta -

Perjuangan seorang ibu mempertahankan kehamilan sambil melawan kanker payudara menjadi kisah yang menyentuh. Alicia Harris, perempuan asal Tampa, Florida, Amerika Serikat, menghadapi pilihan sulit ketika didiagnosis kanker payudara agresif saat sedang mengandung anak ketiganya.

Saat itu, usia kehamilan Alicia baru memasuki 14 minggu. Di tengah kebahagiaan menantikan kehadiran Si Kecil, ia harus menghadapi kenyataan bahwa dirinya mengidap kanker payudara yang membutuhkan penanganan serius.

Dokter yang pertama kali menanganinya menyarankan agar Alicia mengakhiri kehamilan supaya pengobatan kanker dapat dimulai. Namun, Alicia memilih mencari pendapat medis kedua untuk mengetahui apakah ada pilihan pengobatan yang memungkinkan dirinya tetap hamil.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Keputusan tersebut menjadi awal perjalanan panjangnya. Alicia akhirnya menjalani pengobatan kanker dengan pengawasan dokter, melanjutkan kehamilan, dan kemudian melahirkan seorang bayi perempuan.

Berikut kisahnya dikutip dari Newsweek dan menjadi pengingat bahwa diagnosis kanker saat hamil membutuhkan pertimbangan medis yang kompleks, termasuk keselamatan ibu dan janin.

Didiagnosis kanker payudara saat hamil 14 minggu

Alicia telah memiliki dua anak laki-laki ketika mengetahui dirinya mengidap kanker payudara. Diagnosis tersebut datang pada masa ketika ia seharusnya bisa menikmati kehamilan dengan tenang.

Namun, kanker yang dideritanya membuat situasi menjadi jauh lebih rumit. Dokter pertama yang ditemuinya menyarankan terminasi kehamilan agar pengobatan bisa segera dilakukan.

Alicia kemudian memutuskan untuk mencari pendapat medis lain. Ia ingin memahami pilihan pengobatan yang tersedia dan mempertimbangkan keputusan terbaik bagi dirinya serta keluarganya.

Keputusan tersebut bukan berarti ia mengabaikan penyakitnya. Sebaliknya, Alicia berusaha memperoleh informasi lebih lengkap mengenai risiko dan pilihan penanganan yang mungkin dilakukan.

Dalam kasus seperti ini, penanganan kanker selama kehamilan memang tidak bisa disamaratakan. Jenis kanker, stadium penyakit, usia kehamilan, dan obat yang dibutuhkan menjadi beberapa pertimbangan penting sebelum dokter menyusun rencana pengobatan.

Mencari dokter yang bisa menangani kanker saat kehamilan

Dalam pencariannya, Alicia akhirnya bertemu dokter yang memiliki pengalaman menangani pasien kanker selama kehamilan.

Setelah mempertimbangkan kondisinya, ia menjalani operasi dan kemoterapi dengan pemantauan medis. Perjalanan tersebut tidak mudah karena ia harus menghadapi tantangan kesehatan akibat kehamilan sekaligus efek samping pengobatan kanker.

Memasuki trimester ketiga, Alicia mengalami mual dan muntah berat hingga kesulitan mempertahankan asupan makanan. Ia juga mengalami mimisan dan sakit kepala yang membuatnya membutuhkan pemeriksaan medis.

Tantangan semakin bertambah ketika Alicia terinfeksi COVID-19. Kondisi tersebut menyebabkan kemoterapinya harus dihentikan sementara hingga ia pulih.

Meski menghadapi berbagai kesulitan, Alicia tetap menjalani proses pengobatan dengan dukungan tim medis dan keluarganya.

Studi: Kemoterapi tertentu bisa diberikan saat hamil

Kisah Alicia berkaitan dengan temuan medis mengenai kemungkinan pemberian pengobatan kanker selama kehamilan. Namun, hal ini tidak berarti seluruh jenis kemoterapi aman bagi ibu dan janin.

Dikutip dari National Cancer Institute (NCI) menjelaskan bahwa penanganan kanker payudara pada ibu hamil dapat mencakup operasi dan kemoterapi tertentu setelah trimester pertama. Terapi hormon dan sejumlah terapi target umumnya perlu ditunda hingga setelah persalinan karena berisiko bagi janin.

Menurut NCI, penelitian terhadap 129 anak yang lahir dari ibu dengan kanker payudara membandingkan anak yang terpapar pengobatan kanker selama kehamilan dengan anak dari ibu tanpa kanker.

Sebanyak 96 anak dalam kelompok penelitian terpapar kemoterapi selama berada di dalam kandungan. Hasilnya, tidak ditemukan perbedaan bermakna secara statistik pada proporsi bayi dengan berat lahir di bawah persentil ke-10 maupun perkembangan kognitif berdasarkan skor Bayley. Pada pemeriksaan fungsi jantung terhadap 47 anak ketika berusia 36 bulan, hasilnya juga menunjukkan fungsi jantung normal.

Meski demikian, hasil tersebut tidak menjamin bahwa kemoterapi bebas risiko. Penelitian ini memiliki keterbatasan, termasuk jumlah peserta yang relatif kecil untuk mendeteksi efek samping yang jarang terjadi. Hasilnya juga tidak bisa digeneralisasi ke semua jenis obat kanker maupun seluruh usia kehamilan.

Penelitian lain yang diterbitkan dalam jurnal BMC Cancer tahun 2024 meninjau hasil kehamilan dan kondisi bayi setelah ibu menerima kemoterapi golongan taxane selama kehamilan.

Penelitian berjudul Obstetric and neonatal outcomes following taxane use during pregnancy: a systematic review tersebut mengidentifikasi 159 pasien yang menerima obat berbasis taxane. Sebanyak 88 pasien atau sekitar 55,3 persen di antaranya menderita kanker payudara.

Para peneliti mengidentifikasi 162 janin yang terpapar obat selama berada di dalam kandungan. Paclitaxel merupakan obat yang paling banyak digunakan dalam kelompok penelitian tersebut.

Dari kasus yang memiliki informasi hasil kehamilan, seluruh 132 kasus berakhir dengan kelahiran hidup. Namun, sejumlah komplikasi obstetri juga dilaporkan, termasuk kontraksi prematur atau ketuban pecah dini pada 12 kasus, preeklamsia atau HELLP pada enam kasus, serta oligohidramnion atau anhidramnion pada enam kasus.

Temuan ini memberikan gambaran bahwa penggunaan obat kemoterapi tertentu setelah trimester pertama dapat dipertimbangkan dalam kondisi tertentu. Namun, adanya komplikasi dan keterbatasan data jangka panjang menunjukkan bahwa pemantauan tetap diperlukan.

Penelitian tersebut juga bukan uji klinis terkontrol. Karena itu, hasilnya tidak dapat membuktikan bahwa semua obat taxane aman digunakan selama kehamilan atau bahwa komplikasi yang ditemukan pasti disebabkan oleh obat tersebut.

Mengapa trimester kehamilan penting dalam pengobatan kanker?

Dikutip dari NCI, kemoterapi umumnya tidak diberikan selama trimester pertama karena pada periode tersebut organ-organ utama janin sedang terbentuk. Paparan obat tertentu pada tahap ini dapat meningkatkan risiko gangguan perkembangan dan kelainan bawaan.

Setelah trimester pertama, beberapa jenis kemoterapi dapat dipertimbangkan berdasarkan kondisi pasien. Meski demikian, pengobatan selama trimester kedua dan ketiga tetap berpotensi meningkatkan risiko persalinan prematur dan berat badan lahir rendah.

Sementara itu, radioterapi, terapi hormon, dan terapi target tertentu memiliki pertimbangan keamanan tersendiri. Dokter perlu menentukan apakah pengobatan dapat ditunda hingga persalinan atau harus diberikan lebih cepat untuk menangani penyakit ibu.

Oleh karena itu, keputusan mengenai kelanjutan kehamilan tidak seharusnya hanya didasarkan pada satu faktor. Dokter perlu menilai jenis dan stadium kanker, kecepatan perkembangan penyakit, pilihan terapi, serta risiko bagi ibu dan janin.

Merasa kesepian saat menjalani pengobatan

Selain menghadapi efek samping pengobatan, Alicia juga merasakan tantangan emosional. Tidak mudah menemukan orang yang benar-benar memahami situasinya sebagai ibu hamil sekaligus pasien kanker.

Dalam pencariannya, ia bergabung dengan komunitas daring yang mempertemukan perempuan-perempuan yang mengalami kanker selama kehamilan. Melalui komunitas tersebut, Alicia dapat berbagi pengalaman, bertukar cerita, dan mendapatkan dukungan emosional dari orang-orang yang memahami kecemasan serta ketidakpastian yang dihadapinya.

Dukungan keluarga juga menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut. Alicia mengungkapkan bahwa keluarganya berusaha membantu mereka melewati masa pengobatan yang berat.

Pengalaman ini memperlihatkan bahwa kebutuhan pasien kanker tidak hanya berkaitan dengan pengobatan fisik. Dukungan emosional, akses informasi yang dapat dipercaya, dan komunikasi dengan tenaga kesehatan juga penting selama menjalani perawatan.

Melahirkan putrinya dan membantu ibu lain dengan kanker

Perjalanan panjang Alicia akhirnya membawanya pada babak baru dalam kehidupan. Ia berhasil melanjutkan kehamilannya dan melahirkan seorang bayi perempuan bernama Journi.

Pengalaman menghadapi kanker ketika mengandung membuat Alicia memahami betapa sulitnya menjalani dua situasi besar sekaligus. Ia kemudian bekerja sebagai perawat onkologi dan mendirikan organisasi nirlaba bernama Journi for Two untuk mendukung perempuan yang menghadapi diagnosis kanker selama kehamilan.

Melalui upaya tersebut, Alicia ingin membantu para ibu mendapatkan informasi, dukungan, dan akses menuju tenaga medis yang memahami kompleksitas kondisi mereka. Baginya, pengalaman yang pernah terasa menakutkan itu menjadi alasan untuk mendampingi perempuan lain yang mungkin sedang menghadapi ketidakpastian serupa.

Perjuangan tidak berakhir saat pengobatan selesai

Bagi Alicia, melewati pengobatan kanker bukan berarti seluruh tantangan langsung berakhir. Penyintas kanker masih dapat menghadapi proses pemulihan fisik dan emosional setelah terapi aktif selesai.

Pengalaman tersebut mendorongnya untuk ikut menyuarakan pentingnya dukungan berkelanjutan bagi pasien kanker, termasuk setelah mereka menyelesaikan pengobatan.

Kisah Alicia juga mengingatkan bahwa setiap pasien memiliki kondisi dan kebutuhan yang berbeda. Bagi ibu hamil yang didiagnosis kanker payudara, mencari pendapat medis kedua dapat menjadi langkah untuk memahami pilihan yang tersedia, terutama bila keputusan pengobatan berdampak pada kehamilan.

Namun, keputusan tersebut perlu dibuat bersama tim medis yang melibatkan dokter spesialis onkologi, dokter kandungan dengan keahlian kehamilan berisiko tinggi, serta tenaga kesehatan terkait.

Dengan pemeriksaan dan pertimbangan yang menyeluruh, pasien dapat memahami manfaat, risiko, dan keterbatasan setiap pilihan pengobatan. Keselamatan ibu dan janin tetap menjadi pertimbangan utama dalam menentukan rencana perawatan.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda