kehamilan
Ibu Sulit Tidur saat Hamil Ternyata Berdampak pada Berat Badan Anak Kelak
HaiBunda
Sabtu, 17 Oct 2026 18:30 WIB
Daftar Isi
Tubuh yang semakin besar memang membuat tak nyaman, bahkan tak jarang membuat bumil susah terpejam. Apakah Bunda sering susah tidur saat hamil? Ini dampaknya pada berat badan bayi setelah lahir.
Menjaga vitalitas tubuh selama kehamilan memang tak hanya berpengaruh pada kesehatan Bunda semata tetapi juga calon bayi yang ada di rahim. Karenanya, bukan sekadar memenuhi kadar nutrisi seimbang tetapi juga tidur yang berkualitas untuk menunjang tumbuh kembang anak.
Seperti diketahui bahwa balita yang ibunya memiliki kualitas tidur yang sangat buruk di akhir masa kehamilan dapat memengaruhi berat badan balitanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam sebuah penelitian tersebut, bayi yang ibunya memiliki kualitas tidur paling buruk justru memulai dengan berat badan sedikit lebih rendah dibandingkan bayi lain pada enam bulan pertama. Namun kemudian mereka mengejar dan melampaui berat badan mereka.
Kenaikan berat badan yang cepat ini penting karena peningkatan berat badan yang pesat pada masa bayi telah diidentifikasi sebagai prediktor kelebihan berat badan dan obesitas di kemudian hari pada masa kanak-kanak. Para peneliti menganggap dua tahun pertama kehidupan sebagai periode kritis bagi pertumbuhan, yang dapat menentukan kondisi kesehatan jangka panjang.
Penelitian yang diterbitkan dalam The American Journal of Preventive Medicine ini berfokus pada keluarga Hispanik berpenghasilan rendah, sebuah kelompok yang memiliki risiko obesitas lebih tinggi dibandingkan kelompok ras dan etnis lain di AS. Namun, hubungan antara tidur saat hamil dan pertumbuhan anak belum banyak diteliti pada populasi ini.
Kualitas tidur buruk saat hamil dikaitkan dengan berat badan balita yang lebih tinggi
Para peneliti menggunakan data dari proyek kehamilan di Los Angeles yang disebut studi the Maternal and Developmental Risks from Environmental and Social Stressors. Dalam studi tersebut, usia ibu yang terlibat rata-rata saat pendaftaran ialah 28.8 tahun sekira 81 persen dan mengidentifikasi diri sebagai Hispanik. Kemudian terdapat sekira 51 persen dari anak-anak tersebut berjenis kelamin perempuan.
Pada usia kehamilan sekira 32 minggu, para ibu sempat mengisi Jenkins Sleep Scale, sebuah survei berisi empat pertanyaan dengan rentang skor 0 hingga 20, di mana angka yang lebih tinggi menunjukkan kualitas tidur yang lebih buruk. Dalam survei tersebut, skor 12 atau lebih tinggi dikategorikan sebagai gangguan tidur berat. Hasilnya, rata-rata skor ibu yang didapat adalah 8,0 yakni tingkat yang tergolong ringan hingga sedang dan sekira 26 persen memperoleh skor 12 atau lebih.
Dari 805 anak yang memiliki catatan pertumbuhan, 645 di antaranya memiliki ibu yang mengisi survei tidur di mana diantaranya memiliki karakteristik keluarga-keluarga yang sangat mirip dengan keseluruhan 1.065 perempuan yang terdaftar dalam proyek tersebut.
Dalam studi tersebut, data terkait berat badan setiap anak diperoleh dari rekam medis atau pemeriksaan kesehatan antara saat lahir hingga usia 2 tahun, dengan total lebih dari 6.000 pengukuran. Para peneliti kemudian memperhitungkan berbagai faktor seperti usia ibu, berat badan sebelum hamil, tingkat pendidikan, serta ras dan etnis ibu, ditambah dengan jenis kelamin anak dan apakah bayi lahir prematur.
Dalam studinya, tim menggunakan model statistik untuk mengestimasi berat badan anak pada umumnya di setiap usia. Salah satu anak memiliki ibu dengan skor 16 di mana lebih buruk daripada sekitar 90 persen ibu dalam kelompok tersebut. Anak lainnya memiliki ibu dengan skor 4 yakni lebih baik daripada sekitar 75 persen ibu lainnya.
Data menunjukkan bahwa pada usia 1 tahun, berat badan anak pertama lebih berat sekitar 347 gram (kira-kira tiga perempat pon). Selisih berat badan mencapai puncaknya pada usia 17 bulan, yakni sekira 750 gram (atau 1,7 pon), dan perbedaan tersebut bertahan dalam rentang usia 11 hingga 22 bulan. Hasil serupa juga ditemukan dalam pemeriksaan tambahan, termasuk ketika analisis hanya mencakup anak-anak dengan setidaknya dua kali pengukuran atau hanya data rekam medis.
Kualitas tidur ibu hamil buruk, bobot balita terbukti lebih berat
Sebuah studi terhadap 645 keluarga mengaitkan kualitas tidur yang sangat buruk pada akhir masa kehamilan dengan berat badan balita yang lebih tinggi, terutama pada anak laki-laki. Di antara 316 anak laki-laki, mereka yang ibunya mengalami kualitas tidur sangat buruk diperkirakan memiliki berat badan sekira 651 gram (sekira 1,4 pon) lebih berat pada rentang usia 11 hingga 21 bulan.
Sementara itu, pertumbuhan bayi perempuan berlangsung cepat pada awalnya, kemudian melambat setelah ulang tahun pertama, dan berat badan mereka cenderung serupa di antara berbagai kelompok pola tidur.
Penelitian pada hewan memberikan petunjuk mengenai bayi laki-laki. Dalam studi terdahulu, induk tikus hamil yang tidurnya sering terganggu melahirkan anak jantan dengan berat badan lebih tinggi, meskipun para peneliti mengingatkan bahwa model semacam itu tidak dapat sepenuhnya meniru pola tidur manusia.
Selain itu, ditemukan juga bahwa sebanyak 56 bayi yang lahir prematur juga menunjukkan perbedaan berat badan yang lebih kecil. Bayi prematur biasanya tumbuh cepat untuk mengejar ketertinggalan pertumbuhan selama di dalam kandungan, proses pengejaran pertumbuhan ini diduga oleh para peneliti mungkin telah menutupi dampak tambahan dari pola tidur ibu.
Kebiasaan pemberian makan tak jelaskan kaitan dengan kualitas tidur buruk selama kehamilan
Ibu dengan skor kualitas tidur terburuk cenderung lebih cepat berhenti menyusui serta lebih awal memberikan jus atau makanan lain kepada bayinya. Mereka juga melaporkan lebih banyak gejala depresi dan cenderung mengalami kenaikan berat badan berlebih selama kehamilan.
Meski demikian, setelah memperhitungkan faktor kebiasaan pemberian makan dan depresi secara terpisah, pola berat badan bayi tetap tidak banyak berubah. Temuan ini sejalan dengan studi sebelumnya yang melibatkan keluarga keturunan Meksiko-Amerika, meskipun penelitian lain mengidentifikasi durasi menyusui dan pemberian makanan dini sebagai faktor prediksi obesitas.
Para penulis menunjuk beberapa kemungkinan penjelasan sambil menekankan bahwa studi ini tidak dapat mengonfirmasi salah satunya. Sel lemak terbentuk terutama di akhir kehamilan, jadi gangguan tidur bisa memengaruhi proses tersebut. Tidur yang buruk juga dapat membebani kesehatan metabolik ibu, artinya bagaimana tubuh ibu menangani makanan dan energi, atau survei tidur ini mungkin sebagian mencerminkan stres yang lebih luas seperti dikutip dari laman Studyfinds.
Pemeriksaan tidur dalam perawatan prenatal dapat menandai kehamilan berisiko
Karena ini adalah studi observasional, artinya keluarga dilacak bukan ditugaskan pada apa pun. Hasilnya, hal ini menunjukkan hubungan tetapi tidak dapat membuktikan bahwa tidur yang buruk menyebabkan berat badan berlebih.Â
Para peneliti tetap menyarankan menambahkan pemeriksaan kualitas tidur pada perawatan prenatal rutin untuk membantu mendeteksi kehamilan yang mungkin memerlukan perhatian lebih mendalam. Menanyakan tentang tidur memang masuk akal, tetapi sampai studi menguji apakah peningkatan tidur ibu mengubah pertumbuhan anak, kaitannya tetap menjadi pola, bukan sebuah kebiasaan.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Kehamilan
Diabetes Ditambah Kurang Tidur Picu Kecemasan pada Ibu Hamil
Kehamilan
Panas yang Ekstrem Bisa Bahayakan Ibu Hamil? Ini Penjelasan Pakar Bun
Kehamilan
Fenomena Cuaca Panas Bisa Berdampak Serius Pada Bumil, Waspadai Dehidrasi
Kehamilan
Bolehkah Ibu Hamil Minum Larutan Penyegar? Ini Penjelasannya
Kehamilan
Bunda, Tidur Lebih dari 9 Jam saat Hamil Ternyata Bahayakan Janin
5 Foto
Kehamilan
5 Potret Kebahagiaan Anggika Bolsterli Jalani Kehamilan Pertama
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Berapa Lama Masa Postpartum Berlangsung Pasca Bunda Melahirkan?
Tak Perlu Tahan Lapar, Ini Rahasia Kareena Kapoor Sukses Turun BB Pasca Melahirkan
Kisah Haru Bunda Melahirkan Bayi Sehat meski Jalani Kemoterapi saat Hamil