Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Kisah Dokter yang Dipaksa Pensiun, Justru Dirikan Klinik Cikal Bakal Bayi Tabung Pertama AS

Annisa Aulia Rahim   |   HaiBunda

Rabu, 07 Oct 2026 07:30 WIB

Ilustrasi bayi tabung
Kisah Dokter yang Dipaksa Pensiun, Justru Dirikan Klinik Cikal Bakal Bayi Tabung Pertama AS/Foto: Getty Images/iStockphoto/PeopleImages
Daftar Isi
Jakarta -

Bunda mungkin mengenal program bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF) sebagai salah satu teknologi reproduksi berbantu yang banyak digunakan pasangan untuk mendapatkan keturunan. Namun, perjalanan IVF hingga menjadi prosedur medis seperti sekarang ternyata tidak terjadi dalam waktu singkat.

Salah satu sosok penting di balik sejarah IVF di Amerika Serikat adalah Dr. Georgeanna Seegar Jones, seorang dokter spesialis endokrinologi reproduksi. Menariknya, salah satu tonggak terbesar dalam kariernya justru terjadi setelah ia harus meninggalkan Johns Hopkins karena aturan usia pensiun.

Bersama suaminya, Dr. Howard W. Jones Jr., Georgeanna kemudian membangun program IVF di Virginia. Program tersebut akhirnya menghasilkan kelahiran bayi IVF pertama di Amerika Serikat pada 1981.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Kisah Georgeanna pun kembali mendapat perhatian pada 2026 setelah namanya masuk dalam National Women's Hall of Fame, sebagai penghormatan atas kontribusinya dalam bidang kedokteran dan kesehatan reproduksi. Berikut kisahnya dikutip dari People.

Siapa Dr. Georgeanna Seegar Jones?

Georgeanna Seegar Jones lahir di Baltimore, Maryland, pada 1912. Ia menempuh pendidikan kedokteran di Johns Hopkins University School of Medicine dan lulus pada 1936.

Sejak masih menjadi mahasiswa kedokteran, Georgeanna telah melakukan penelitian penting mengenai hormon kehamilan. Ia menunjukkan bahwa hormon yang kemudian dikenal sebagai human chorionic gonadotropin (hCG) berasal dari plasenta, bukan kelenjar pituitari seperti yang sebelumnya diyakini.

Setelah menyelesaikan pendidikan dan pelatihannya, Georgeanna menjadi salah satu tokoh penting dalam perkembangan endokrinologi reproduksi.

Pada 1939, ia mendirikan Divisi Endokrinologi Reproduksi di Johns Hopkins. Ia juga tercatat sebagai dokter spesialis endokrinologi ginekologi penuh waktu pertama di fakultas kedokteran Amerika Serikat.

Bidang yang ditekuninya berkaitan erat dengan hormon, menstruasi, kesuburan, kehamilan, hingga keguguran berulang.

Karier Georgeanna sempat terhenti karena aturan pensiun

Selama puluhan tahun, Georgeanna dan Howard bekerja di Johns Hopkins. Keduanya kemudian menjadi pasangan dokter yang sama-sama berkontribusi besar terhadap perkembangan ilmu reproduksi.

Namun, pada 1978, perjalanan mereka di Johns Hopkins berakhir karena aturan institusi yang mengharuskan dokter pensiun pada usia 65 tahun. Howard mendapat tambahan waktu untuk tetap bekerja agar masa pensiunnya dapat bertepatan dengan Georgeanna. Setelah itu, keduanya meninggalkan Johns Hopkins.

Jika mengikuti alur kehidupan pada umumnya, masa tersebut mungkin menjadi waktu bagi mereka untuk benar-benar berhenti bekerja. Namun, ternyata justru sebaliknya.

Tak lama setelah itu, pasangan tersebut mendapat kesempatan bergabung dengan Eastern Virginia Medical School (EVMS) di Norfolk, Virginia. Di sana, mereka diminta membantu mengembangkan program reproduksi.

Pada tahun yang sama, dunia baru saja menyaksikan kelahiran Louise Brown, bayi pertama di dunia yang lahir melalui IVF di Inggris. Kabar tersebut menjadi pemicu bagi Georgeanna dan Howard untuk mencoba mengembangkan teknologi serupa di Amerika Serikat.

Dari rumah baru hingga mendirikan program IVF

Saat Georgeanna dan Howard baru tiba di Norfolk pada 1978, seorang wartawan datang dan bertanya apakah bayi tabung juga dapat dilakukan di Amerika Serikat. Jawaban Howard ketika itu cukup sederhana: yang mereka perlukan adalah uang.

Setelah pemberitaan tersebut muncul, dukungan finansial mulai berdatangan dan pasangan tersebut dapat mengembangkan program IVF di Norfolk. Mereka kemudian mendirikan program IVF yang menjadi cikal bakal Jones Institute for Reproductive Medicine.

Perjalanan menuju keberhasilan tidak mudah. Pada tahap awal, mereka mencoba IVF dengan siklus alami. Namun, sejumlah prosedur pengambilan sel telur tidak menghasilkan kehamilan.

Sebuah tinjauan sejarah perkembangan IVF mencatat bahwa selama tahun pertama, lebih dari 40 pasien menjalani upaya pengambilan sel telur dengan pendekatan tersebut, tetapi belum menghasilkan kehamilan. Georgeanna kemudian berperan penting dalam perubahan strategi.

Tim mulai menggunakan stimulasi ovarium dengan gonadotropin untuk membantu menghasilkan lebih banyak sel telur yang dapat digunakan dalam proses IVF.

Elizabeth Carr, bayi IVF pertama di Amerika Serikat

Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil.

Pada 1981, tim Georgeanna dan Howard berhasil memperoleh kehamilan melalui IVF. Bayi perempuan bernama Elizabeth Jordan Carr kemudian lahir pada Desember 1981 dan tercatat sebagai bayi pertama di Amerika Serikat yang lahir melalui IVF.

Keberhasilan tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah pengobatan infertilitas di Amerika Serikat.

Dalam catatan sejarah perkembangan stimulasi ovarium, pada 1981 program Norfolk melakukan puluhan prosedur laparoskopi dan transfer embrio. Dari rangkaian upaya tersebut, tujuh kehamilan berhasil berkembang hingga persalinan.

Keberhasilan tim Jones kemudian ikut memperkuat penggunaan stimulasi ovarium untuk membantu memperoleh beberapa sel telur dalam satu siklus IVF.

Georgeanna sudah meneliti kesuburan jauh sebelum IVF berhasil

Kontribusi Georgeanna sebenarnya tidak hanya berkaitan dengan kelahiran bayi IVF pertama di Amerika. Jauh sebelum pindah ke Virginia, ia telah melakukan berbagai penelitian mengenai gangguan kesuburan.

Dikutip dari National Library of Medicine mencatat bahwa pada 1949 Georgeanna menjadi orang pertama yang mendeskripsikan kondisi yang kemudian dikenal sebagai luteal phase defect, yang saat itu dikaitkan dengan infertilitas.

Pada 1969, ia juga mengidentifikasi dan mendeskripsikan ovarian resistance syndrome serta menunjukkan bahwa stimulasi dengan gonadotropin tertentu dapat meningkatkan jumlah sel telur yang tersedia untuk IVF.

Pengetahuan mengenai stimulasi ovarium tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam perkembangan teknologi reproduksi berbantu.

Georgeanna dan Howard pernah bersentuhan dengan sejarah awal IVF

Menariknya, ketertarikan pasangan Jones terhadap IVF sebenarnya sudah muncul jauh sebelum mereka membangun program di Virginia.

Pada 1965, ilmuwan Inggris Robert Edwards datang ke Johns Hopkins. Saat itu, Edwards tengah melakukan penelitian mengenai kemungkinan membuahi sel telur manusia di luar tubuh.

Howard dan Georgeanna membantu penelitian tersebut. Howard menyediakan jaringan ovarium untuk penelitian, sementara tim Edwards melakukan eksperimen di laboratorium.

Edwards kemudian melanjutkan penelitian bersama dokter Patrick Steptoe di Inggris. Keduanya akhirnya berhasil menghasilkan kehamilan IVF pertama di dunia yang berujung pada kelahiran Louise Brown pada 1978.

Pengalaman awal tersebut menjadi salah satu bagian dari fondasi ilmiah yang kemudian membantu Georgeanna dan Howard ketika membangun program IVF di Amerika.

Penelitian IVF terus berkembang hingga sekarang

Teknologi IVF yang digunakan saat ini tentu sudah jauh berkembang dibandingkan prosedur pada awal 1980-an.

Dalam IVF, sel telur diambil dari ovarium kemudian dipertemukan dengan sperma di laboratorium. Embrio yang berkembang selanjutnya dapat dipindahkan ke rahim.

Perkembangan penelitian juga membuat dokter memiliki lebih banyak pilihan untuk melakukan stimulasi ovarium, pemantauan perkembangan folikel, pengambilan sel telur, kultur embrio, hingga pemilihan waktu transfer embrio.

Sejumlah penelitian sejarah IVF menunjukkan bahwa penggunaan stimulasi ovarium untuk menghasilkan beberapa sel telur menjadi salah satu perkembangan penting dalam meningkatkan peluang memperoleh embrio untuk transfer. Namun, pendekatan ini juga membutuhkan pemantauan karena stimulasi ovarium memiliki risiko, termasuk kehamilan multipel dan ovarian hyperstimulation syndrome (OHSS).

Artinya, teknologi bayi tabung yang dikenal Bunda sekarang merupakan hasil dari perjalanan penelitian selama puluhan tahun dan melibatkan banyak ilmuwan serta dokter dari berbagai negara.

Warisan Dr. Georgeanna Seegar Jones

Georgeanna terus berkarya di bidang reproduksi setelah pindah ke Virginia. Ia dan Howard menjadi tokoh penting dalam perkembangan kedokteran reproduksi di Amerika Serikat.

Johns Hopkins mencatat bahwa Georgeanna merupakan perempuan pertama yang menjadi presiden American Fertility Society, organisasi yang sekarang dikenal sebagai American Society for Reproductive Medicine (ASRM), pada 1970.

Georgeanna meninggal pada 2005 dalam usia 92 tahun.

Namun, kontribusinya terhadap pengobatan infertilitas terus dikenang. Pada September 2026, ia secara anumerta dilantik ke dalam National Women's Hall of Fame. Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas perjalanan panjangnya dalam penelitian hormon, kesuburan, dan perkembangan reproduksi berbantu.

Kisah Georgeanna menunjukkan bahwa usia pensiun ternyata bukan akhir dari perjalanan kariernya. Justru setelah meninggalkan Johns Hopkins, ia bersama suaminya melanjutkan penelitian yang kemudian membantu membuka era baru teknologi bayi tabung di Amerika Serikat.

Bagi pasangan yang menjalani program IVF saat ini, perjalanan tersebut menjadi pengingat bahwa teknologi reproduksi yang tersedia sekarang dibangun melalui penelitian panjang, percobaan berulang, dan kontribusi banyak ilmuwan dari generasi ke generasi.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda