Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Pasutri Ini Tuntut Klinik Kesuburan Usai Sperma yang Dipakai Ternyata Salah

Annisa Aulia Rahim   |   HaiBunda

Jumat, 09 Oct 2026 11:05 WIB

Doctors visit lovers who need advice on pregnancy and how to prevent it during the new virus epidemic.
Pasutri Ini Tuntut Klinik Kesuburan Usai Sperma yang Dipakai Ternyata Salah/Foto: Getty Images/iStockphoto/wutwhanfoto
Daftar Isi
Jakarta -

Menjalani program bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF) menjadi perjalanan panjang bagi banyak pasangan yang mendambakan buah hati. Namun, apa yang dialami pasangan asal Florida, Amerika Serikat, ini justru berujung pada persoalan hukum setelah mereka mengetahui adanya dugaan kesalahan dalam penggunaan sperma.

Natalie dan Joshua Strong menggugat Brown Fertility Associates, sebuah klinik kesuburan di Jacksonville, Florida. Dalam gugatan yang diajukan pada September 2026, pasangan tersebut menuduh klinik menggunakan sampel sperma yang salah dalam proses IVF mereka.

Dugaan tersebut terungkap setelah bayi perempuan yang dilahirkan Natalie ternyata tidak memiliki hubungan biologis dengan Joshua berdasarkan pemeriksaan DNA. Kasus ini masih dalam proses hukum sehingga tuduhan terhadap klinik belum menjadi keputusan pengadilan. Namun, kejadian tersebut kembali menyoroti pentingnya sistem identifikasi dan pelacakan sperma, sel telur, serta embrio dalam prosedur IVF.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Berikut kisahnya dikutip dari Yahoo.

Berawal dari golongan darah bayi

Natalie dan Joshua menjalani program IVF setelah Joshua sebelumnya menjalani vasektomi. Menurut dokumen gugatan, sperma Joshua diambil melalui prosedur pembedahan dan kemudian disimpan untuk digunakan dalam program IVF.

Pada Maret 2024, pasangan tersebut memiliki tujuh embrio yang disebut dibuat menggunakan sperma Joshua. Mereka kemudian menjalani dua kali transfer embrio. Transfer pertama berakhir dengan keguguran. Sementara transfer kedua berhasil menghasilkan kehamilan hingga Natalie melahirkan seorang bayi perempuan pada 5 Juni 2025.

Namun, sehari setelah persalinan, pasangan tersebut menemukan sesuatu yang membuat mereka bertanya-tanya. Golongan darah bayi tercatat B positif. Sementara Natalie memiliki golongan darah O negatif dan Joshua A negatif.

Joshua yang bekerja sebagai tenaga medis kemudian menyadari adanya ketidaksesuaian tersebut. Pasangan ini pun melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan tidak terjadi kesalahan pencatatan. Kecurigaan mereka akhirnya mengarah pada pemeriksaan DNA.

Tes DNA menunjukkan Joshua bukan Ayah biologis

Hasil tes DNA yang disebutkan dalam gugatan menunjukkan bahwa Joshua bukan ayah biologis bayi tersebut. Pasangan tersebut kemudian mempertanyakan bagaimana hal itu bisa terjadi, mengingat mereka percaya bahwa sperma Joshua digunakan dalam proses IVF.

Mereka juga mempertanyakan keberadaan empat vial atau tabung penyimpanan sperma Joshua yang sebelumnya disimpan di klinik.

Menurut gugatan, pasangan tersebut belum mendapatkan penjelasan mengenai apa yang terjadi terhadap sampel tersebut, termasuk apakah masih disimpan atau telah digunakan dalam prosedur lain.

Persoalan juga menjadi lebih rumit karena disebut masih terdapat tiga embrio yang berasal dari siklus IVF yang sama dan disimpan di klinik. Karena itu, Natalie dan Joshua ingin mengetahui secara pasti apakah ketiga embrio tersebut benar-benar dibuat menggunakan materi genetik Joshua.

Pasangan mengajukan gugatan

Pasangan tersebut kemudian menggugat Brown Fertility Associates. Dalam gugatannya, mereka mengajukan sejumlah klaim, termasuk dugaan kelalaian dan penggunaan materi genetik tanpa izin. Mereka juga meminta ganti rugi lebih dari US$50 ribu.

"Kami sangat terpukul. Maksud saya, hal ini akan berdampak pada kami seumur hidup. Kami harus memikirkan bagaimana cara menyampaikannya kepada anak kami kelak, dan kejadian ini telah merenggut kebahagiaan luar biasa saat memiliki bayi," kata Natalie, dikutip dari NBC Miami.

Namun, penting dicatat bahwa seluruh tuduhan tersebut masih merupakan bagian dari proses hukum.

Pihak Brown Fertility Associates disebut telah membantah klaim tersebut. Klinik mengatakan perkara tersebut sedang ditangani melalui proses litigasi sehingga pihaknya belum memberikan komentar lebih jauh mengenai kasus tersebut.

Dengan demikian, belum ada putusan pengadilan yang menetapkan bagaimana dugaan kesalahan tersebut terjadi atau pihak mana yang bertanggung jawab.

Kesalahan dalam IVF memang jarang, tetapi pernah diteliti

Kesalahan dalam proses IVF seperti tertukarnya atau salah identifikasi materi biologis tergolong jarang. Meski begitu, risiko tersebut telah menjadi perhatian dalam penelitian mengenai keselamatan laboratorium reproduksi berbantu.

Sebuah systematic review yang diterbitkan dalam jurnal Fertility and Sterility meninjau berbagai publikasi mengenai kesalahan manusia dalam laboratorium teknologi reproduksi berbantu.

Dari 420 artikel yang ditinjau, 37 publikasi memenuhi kriteria penelitian. Para peneliti mengidentifikasi 22 kejadian yang menyebabkan dampak serius. Di antaranya terdapat delapan kejadian yang berkaitan dengan penggunaan sperma yang salah dan enam kejadian berupa transfer embrio yang salah.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa meskipun kejadian seperti ini jarang, dampaknya dapat sangat serius karena berkaitan langsung dengan materi genetik pasien.

Para peneliti kemudian merekomendasikan penerapan protokol keselamatan yang ketat, pelatihan staf, serta sistem pelabelan dan pelacakan spesimen untuk mengurangi kemungkinan kesalahan.

Penelitian puluhan ribu pemeriksaan menemukan mismatch

Penelitian lain yang diterbitkan dalam Reproductive BioMedicine Online menganalisis 73.719 titik pemeriksaan elektronik dari 11.210 siklus perawatan teknologi reproduksi berbantu yang dilakukan antara Januari 2016 hingga Juli 2023. 

Hasilnya ditemukan 138 kejadian mismatch atau ketidaksesuaian, setara dengan sekitar 0,19 persen dari seluruh pemeriksaan. Sebanyak 16 kejadian atau sekitar 0,02 persen dikategorikan sebagai critical mismatch, yaitu ketidaksesuaian yang melibatkan materi biologis pasien.

Peneliti menemukan bahwa sejumlah kejadian berkaitan dengan proses laboratorium dan faktor operator. Beberapa critical mismatch juga berkaitan dengan tahap tertentu dalam pemrosesan sel telur serta waktu kerja.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa sistem verifikasi menjadi bagian penting dalam menjaga keamanan proses IVF, meskipun angka kejadiannya relatif kecil dibandingkan keseluruhan prosedur.

Teknologi bisa membantu mencegah sampel tertukar

Untuk mengurangi risiko kesalahan, sejumlah klinik menggunakan electronic witnessing system (EWS). Sistem tersebut membantu mencocokkan identitas pasien dengan materi biologis yang sedang diproses. Dengan demikian, sperma, sel telur, dan embrio dapat dipantau sejak proses awal hingga tahap transfer.

Sebuah penelitian yang mengevaluasi penerapan sistem electronic witnessing selama 10 tahun menunjukkan bahwa teknologi tersebut dapat membantu mendeteksi dan mencegah kesalahan pencocokan sampel.

Namun, teknologi tetap tidak menggantikan peran manusia sepenuhnya. Petugas laboratorium tetap harus mengikuti prosedur identifikasi dan verifikasi yang ketat. Setiap tahap penting membutuhkan pencatatan dan pemeriksaan untuk memastikan materi biologis yang digunakan memang berasal dari pasien yang tepat.

Pentingnya sistem identifikasi juga tercantum dalam pedoman praktik laboratorium IVF. European Society of Human Reproduction and Embryology (ESHRE) menyebutkan bahwa kesalahan seperti tertukarnya sperma, sel telur, atau embrio merupakan kejadian yang sangat jarang, tetapi dapat menimbulkan konsekuensi serius.

Karena itu, laboratorium perlu memiliki sistem identifikasi pasien, pelabelan sampel, pencatatan setiap tahapan, serta pemeriksaan tambahan oleh petugas atau sistem elektronik pada tahap-tahap kritis.

Pedoman American Society for Reproductive Medicine (ASRM) juga menekankan pentingnya kemampuan laboratorium untuk mengidentifikasi dan melacak sperma, sel telur, serta embrio sepanjang proses IVF.

Setiap materi biologis harus dapat ditelusuri kembali kepada pasien yang tepat. Sistem witnessing, baik melalui pemeriksaan manusia maupun teknologi elektronik, digunakan untuk membantu mencegah kesalahan.

Pasangan tetap menyayangi putrinya

Di tengah persoalan hukum dan pertanyaan mengenai hubungan biologis, Natalie dan Joshua mengatakan bahwa mereka tetap menyayangi putrinya.

Dalam wawancara dengan media, mereka menggambarkan sang anak sebagai bayi yang tumbuh dengan baik dan mulai menunjukkan berbagai perkembangan seperti berjalan dan mencoba berbicara.

Namun, keluarga tersebut masih menghadapi pertanyaan besar mengenai bagaimana dugaan kesalahan itu bisa terjadi. Mereka juga harus memikirkan bagaimana suatu hari nanti menjelaskan situasi tersebut kepada putrinya.

Bagi pasangan tersebut, persoalannya bukan hanya mengenai hubungan biologis antara ayah dan anak, tetapi juga mengenai bagaimana materi genetik mereka dapat ditangani selama proses IVF.

Mengapa kesalahan sampel IVF bisa berdampak besar?

Dalam program IVF, sperma, sel telur, dan embrio bukan sekadar sampel laboratorium biasa. Materi tersebut membawa informasi genetik yang menentukan hubungan biologis seorang anak dengan orang tuanya.

Karena itu, kesalahan identifikasi dapat menimbulkan konsekuensi yang jauh lebih besar daripada sekadar kesalahan administratif.

Kasus Natalie dan Joshua masih harus dibuktikan melalui proses hukum. Belum dapat dipastikan bagaimana dugaan kesalahan penggunaan sperma terjadi dan siapa yang bertanggung jawab.

Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kesalahan identifikasi dalam IVF memang merupakan risiko yang telah dikenali dalam praktik reproduksi berbantu. Walaupun jumlahnya sangat kecil, dampaknya dapat serius sehingga laboratorium IVF perlu menerapkan sistem identifikasi, pelabelan, pelacakan, serta verifikasi berlapis.

Bagi pasangan yang sedang mempertimbangkan program bayi tabung, kasus ini juga menunjukkan pentingnya memilih fasilitas reproduksi yang memiliki prosedur keselamatan dan sistem pelacakan spesimen yang jelas.

Yang tak kalah penting, Bunda perlu memahami bahwa kisah pasangan Florida tersebut merupakan kasus yang masih dalam proses hukum, sehingga dugaan yang tercantum dalam gugatan belum dapat dianggap sebagai fakta hukum yang telah terbukti.



Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda