Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Infeksi saat Hamil Bisa Berkaitan dengan Risiko Autisme Anak 3 Kali Lebih Tinggi, Studi Ungkap

Melly Febrida   |   HaiBunda

Selasa, 06 Oct 2026 14:00 WIB

Ilustrasi ibu hamil ke dokter kandungan cek USG
Infeksi saat Hamil Bisa Berkaitan dengan Risiko Autisme Anak 3 Kali Lebih Tinggi, Studi Ungkap/Foto: Getty Images/iStockphoto/SerhiiBobyk
Daftar Isi
Jakarta -

Ibu hamil selalu diingatkan untuk lebih memperhatikan kesehatan, salah satunya dengan mencegah terinfeksi. Ini karena beberapa jenis infeksi dapat ditularkan dari ibu kepada janin. Sebuah studi dari Swedia menemukan adanya kaitan antara infeksi TORCH bawaan dan peningkatan risiko autisme serta disabilitas intelektual pada anak di kemudian hari.

Studi yang diterbitkan dalam JAMA Pediatrics pada 21 September 2026 melibatkan lebih dari 3,6 juta orang yang lahir di Swedia. Para peneliti menemukan bahwa anak yang didiagnosis mengalami infeksi TORCH bawaan berisiko sekitar tiga kali lebih tinggi didiagnosis autisme di kemudian hari, dibandingkan mereka yang tidak mengalami infeksi tersebut.

Namun, penelitian ini tidak menunjukkan semua infeksi saat hamil dapat menyebabkan autisme. Penelitian secara khusus melihat infeksi TORCH yang ditularkan dari ibu kepada janin dan tercatat sebagai infeksi bawaan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Infeksi saat hamil dan risiko autisme anak

Penelitian dilakukan oleh tim dari Karolinska Institutet, Swedia. Para peneliti menggunakan data dari berbagai registri kesehatan, kelahiran, pendidikan, asuransi, dan kematian nasional Swedia.

Dari 3.666.002 orang yang masuk dalam analisis, sebanyak 975 orang tercatat memiliki infeksi TORCH bawaan.

"Penting untuk ditekankan bahwa penularan infeksi ini dari ibu ke anak sangat jarang terjadi. Infeksi ini hanya menyumbang sebagian kecil dari semua kasus autisme di populasi, tetapi bagi anak-anak yang benar-benar terpengaruh, kita melihat peningkatan risiko autisme dan disabilitas intelektual yang jelas, kata Reneé Gardner, seorang peneliti di Departemen Kesehatan Masyarakat Global di Karolinska Institutet, yang berkontribusi pada penelitian ini melansir dari ScienceDaily.

Peserta penelitian adalah orang yang lahir di Swedia antara 1987 dan 2021. Peneliti kemudian menggunakan data kesehatan, pendidikan, dan catatan lainnya untuk melihat kondisi mereka hingga meninggal, pindah dari Swedia, atau sampai 31 Desember 2023.

Hasilnya, infeksi TORCH bawaan dikaitkan dengan:

  • 3,10 Kali risiko autisme lebih tinggi dibandingkan kelompok tanpa infeksi TORCH.
  • 7,22 Kali risiko disabilitas intelektual lebih tinggi.
  • Risiko disabilitas intelektual berat hingga sangat berat meningkat lebih besar, dengan hazard ratio mencapai 23,51.
  • Risiko autisme juga lebih tinggi ketika autisme disertai disabilitas intelektual.

Temuan mengenai autisme tetap terlihat ketika peneliti melakukan analisis terhadap saudara kandung. Dalam analisis tersebut, risiko autisme pada anak dengan infeksi TORCH bawaan sekitar 3,19 kali lebih tinggi dibandingkan saudara kandung yang tidak mengalami infeksi tersebut.

Apa itu infeksi TORCH?

TORCH merupakan kelompok infeksi yang dapat ditularkan dari ibu kepada janin selama kehamilan.

Dalam penelitian terbaru tersebut, TORCH mencakup:

  • T untuk Toxoplasma gondii atau toksoplasmosis
  • O untuk Other infections, termasuk sifilis
  • R untuk rubella
  • C untuk cytomegalovirus atau CMV
  • H untuk herpes simplex virus atau HSV

Infeksi di atas dapat menyebabkan infeksi bawaan dan berdampak pada perkembangan janin.

WHO juga mencantumkan beberapa infeksi seperti rubella, sifilis, CMV, dan toksoplasmosis sebagai infeksi yang dapat berdampak pada janin dan bayi baru lahir. Pencegahan, deteksi dini, serta penanganan infeksi menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi dampak tersebut.

Tidak semua ibu hamil yang mengalami infeksi akan menularkan ke janin

Temuan penelitian ini perlu dibaca dengan hati-hati. Infeksi TORCH bawaan yang diteliti tergolong jarang.

Dari lebih dari 3,6 juta orang dalam penelitian, hanya 975 yang didiagnosis infeksi TORCH bawaan, atau sekitar 2,5 kasus per 10.000 kelahiran. Karena itu, meskipun risiko autisme terlihat meningkat, infeksi TORCH bawaan hanya berkontribusi pada sebagian kecil kasus autisme di populasi.

Para peneliti memperkirakan infeksi TORCH bawaan secara hipotetis berkaitan dengan sekitar 0,034 persen kasus autisme dalam populasi Swedia yang diteliti. Dengan kata lain, peningkatan risiko bukan berarti infeksi tersebut menjadi penyebab sebagian besar kasus autisme.

Ini menjadi poin penting agar hasil penelitian tidak disalahartikan sebagai infeksi saat hamil menyebabkan autisme.

Peneliti lakukan perbandingan antar saudara kandung

Salah satu hal menarik dalam penelitian ini adalah peneliti tidak hanya membandingkan anak dengan infeksi TORCH dengan populasi umum. Mereka juga melakukan sibling comparison, yaitu membandingkan anak yang mengalami infeksi TORCH dengan saudara kandungnya sendiri yang tidak mengalami infeksi tersebut.

Tujuannya untuk melihat apakah hubungan yang ditemukan mungkin dipengaruhi faktor keluarga yang sama, termasuk faktor genetik maupun lingkungan keluarga.

Hasilnya, hubungan antara infeksi TORCH bawaan dan autisme tetap terlihat dalam analisis saudara kandung. Risiko autisme pada kelompok tersebut memiliki hazard ratio 3,19.

Meski demikian, penelitian ini tetap merupakan studi observasional. Karena itu, hasilnya menunjukkan asosiasi atau keterkaitan, bukan bukti bahwa infeksi TORCH secara langsung menyebabkan autisme pada setiap anak yang terinfeksi.

Anak dengan infeksi TORCH juga memiliki nilai sekolah lebih rendah

Peneliti tidak hanya melihat diagnosis autisme dan disabilitas intelektual. Mereka juga melihat prestasi akademik anak saat berusia 16 tahun. Di antara anak yang tidak memiliki diagnosis autisme maupun disabilitas intelektual, mereka yang memiliki infeksi TORCH bawaan tetap memiliki nilai sekolah rata-rata yang lebih rendah.

Dalam analisis tersebut, infeksi TORCH dikaitkan dengan menurunnya skor nilai sekolah sebesar 1,50 poin. Namun, ketika peneliti membandingkan anak dengan saudara kandungnya, perbedaan nilai tersebut tidak lagi terlihat secara meyakinkan. Karena itu, temuan mengenai prestasi sekolah perlu ditafsirkan lebih hati-hati dibandingkan temuan utama mengenai autisme dan disabilitas intelektual.

Bagaimana infeksi saat hamil bisa berkaitan dengan perkembangan otak?

Para peneliti menjelaskan bahwa beberapa patogen dalam kelompok TORCH memiliki kemampuan untuk mencapai janin dan menginfeksi jaringan yang sedang berkembang.

Dalam artikel editorial yang diterbitkan bersamaan di JAMA Pediatrics, Mark R. Schleiss, MD, dari Division of Pediatric Infectious Diseases and Immunology, University of Minnesota, membahas pentingnya temuan tersebut dalam memahami hubungan infeksi TORCH dan gangguan perkembangan saraf.

Ia menyoroti bahwa bukti mengenai kaitan infeksi TORCH dengan autisme sebelumnya masih terbatas, sementara studi terbaru ini menggunakan data populasi yang sangat besar serta analisis saudara kandung.

Namun, mekanisme biologis yang menjelaskan seluruh hubungan tersebut masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. Penelitian ini sendiri tidak membuktikan bahwa setiap anak yang mengalami infeksi TORCH saat dalam kandungan akan mengalami gangguan perkembangan saraf.

CMV, infeksi yang paling banyak ditemukan

Di antara kasus infeksi TORCH bawaan dalam penelitian, cytomegalovirus (CMV) menjadi jenis yang paling banyak tercatat. CMV mencakup sekitar setengah dari seluruh kasus TORCH dalam penelitian, yakni 487 dari 975 kasus.

WHO menjelaskan bahwa CMV dapat menular dari ibu kepada janin ketika virus melewati plasenta. Risiko penularan ke janin paling tinggi ketika ibu mengalami infeksi primer pada trimester pertama atau kedua, meskipun penularan juga dapat terjadi dalam kondisi lain.

Penelitian terbaru ini juga menemukan hubungan antara beberapa jenis infeksi TORCH dan disabilitas intelektual. Namun, jumlah kasus untuk beberapa jenis infeksi sangat kecil sehingga hasil berdasarkan jenis infeksi tertentu perlu ditafsirkan dengan hati-hati.

Rubella dapat dicegah dengan vaksinasi sebelum hamil

Salah satu infeksi yang menjadi perhatian dalam kelompok TORCH adalah rubella.

WHO menyebut rubella sebagai salah satu penyebab cacat lahir yang sebenarnya dapat dicegah dengan vaksinasi. Infeksi rubella pada awal kehamilan dapat menyebabkan keguguran, kematian janin, atau congenital rubella syndrome (CRS), yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran, kelainan mata, kelainan jantung bawaan, serta keterlambatan perkembangan.

Karena vaksin rubella merupakan vaksin hidup yang tidak diberikan selama kehamilan, status imunisasi idealnya diperhatikan sebelum hamil.

Penelitian dari Swedia juga menunjukkan bahwa kasus rubella bawaan menurun drastis setelah program vaksinasi nasional diterapkan. Para peneliti menilai mempertahankan program vaksinasi dan strategi pencegahan lainnya tetap penting untuk mengurangi infeksi yang dapat ditularkan dari ibu kepada janin.

Apa yang bisa dilakukan ibu untuk mencegah infeksi saat hamil?

Pencegahan bergantung pada jenis infeksinya, Bunda. Tidak ada satu langkah yang dapat mencegah seluruh infeksi TORCH.

Karolinska Institutet memberikan beberapa contoh langkah pencegahan, antara lain:

  1. Memasak daging sampai matang dan mencuci sayuran dengan baik untuk mengurangi risiko toksoplasmosis.
  2. Berhati-hati saat membersihkan kotoran kucing.
  3. Menjalani skrining infeksi selama kehamilan sesuai anjuran tenaga kesehatan.
  4. Memastikan sudah vaksinasi rubella sebelum hamil.
  5. Menjaga kebersihan tangan dan menghindari kontak dengan air liur atau urine anak kecil untuk membantu mengurangi risiko CMV.
  6. Melakukan pemeriksaan dan penanganan bila terdapat infeksi herpes selama kehamilan.

WHO juga menekankan pentingnya vaksinasi rubella, skrining infeksi tertentu, serta deteksi dan penanganan infeksi sebagai bagian dari upaya mencegah gangguan akibat infeksi kongenital.

Jangan langsung menyalahkan infeksi saat hamil

Hasil penelitian ini memang menunjukkan hubungan yang cukup kuat antara infeksi TORCH bawaan dan beberapa kondisi perkembangan saraf. Namun, bukan berarti seorang ibu yang mengalami infeksi saat hamil harus menyalahkan dirinya jika anak kemudian mengalami autisme atau kondisi perkembangan lainnya.

Autisme merupakan kondisi neurodevelopmental yang banyak dipengaruhi berbagai faktor. Studi ini hanya meneliti kelompok infeksi tertentu yang dapat mencapai janin dan tercatat sebagai infeksi bawaan.

Bahkan para peneliti menegaskan bahwa meskipun risiko relatifnya meningkat cukup besar, infeksi TORCH tetap hanya menyumbang sebagian kecil kasus autisme di tingkat populasi. Jadi, infeksi saat hamil bukan berarti anak pasti mengalami autisme.

Yang penting, ibu hamil mendapatkan perawatan kehamilan yang sesuai, melakukan pencegahan infeksi, mengikuti anjuran skrining dan vaksinasi yang tepat sebelum atau selama kehamilan, serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan bila mengalami atau terpapar infeksi tertentu.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda