Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

USG Ibu Hamil Ini Bikin Dokter Kaget, Ada Janin Sehat dan Janin yang Membatu dalam Perut

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Jumat, 02 Oct 2026 11:10 WIB

Ilustrasi USG
Ilustrasi USG Ibu Hamil Ini Bikin Dokter Kaget, Ada Janin Sehat dan Janin yang Membatu dalam Perut/ Foto: Getty Images/iStockphoto/dragana991
Daftar Isi
Jakarta -

USG selama kehamilan dapat melihat kondisi janin dengan lebih jelas. Selain mengungkap perkembangan organ janin, USG ibu hamil juga bisa melihat sesuatu yang tak terduga.

Belum lama ini, seorang dokter secara tak terduga menemukan hasil USG yang tak biasa. Dokter ini menemukan satu janin hidup dan janin kedua yang telah mati dan mengalami kalsifikasi (membatu).

Hasil USG ini didapat dari pemeriksaan seorang perempuan 27 tahun di Kolkata, India, yang awalnya mengeluhkan sakit perut dan muntah selama enam jam. Perempuan yang tidak diungkap identitasnya ini sedang hamil 12 minggu, dan hasil USG sebelumnya menunjukkan hasil normal.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Namun, saat menjalani USG lagi, dokter menemukan satu janin hidup, detak jantung stabil, dan gerakan normal. Kemudian, USG menemukan sesuatu yang tidak diharapkan siapa pun. Di samping rahim atau di sisi kiri perut ibu, terdapat janin kedua.

Janin itu sudah mati dan mengalami kalsifikasi. Berdasarkan panjang tulang pahanya, usia kehamilan perempuan ini sekitar 22 minggu sebelum janin tersebut meninggal.

Dilansir laman Medical Daily, laporan kasus tersebut diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Medicine pada Juli 2026. Laporan ini mendokumentasikan litopedion yang terjadi bersamaan dengan kehamilan yang sehat. Perlu diketahui, litopedion merupakan fenomena medis langka di mana janin meninggal dunia di dalam kandungan selama kehamilan di luar rahim dan mengalami pengerasan atau pembentukan zat kapur (kalsifikasi).

Para dokter di Clinicians at College of Medicine dan Sagore Dutta Hospital di Kolkata, bekerja sama dengan kolega di Sheffield Teaching Hospitals and the University of Nottingham, menulis bahwa kurang dari selusin kombinasi seperti itu muncul dalam literatur medis modern.

Apa itu janin membatu?

Litopedion atau 'lithopedion' berasal dari bahasa Yunani yang berarti 'anak batu'. Kondisi ini terbentuk ketika kehamilan tertanam di luar rahim, di dalam rongga perut, dan janin meninggal setelah sekitar bulan ketiga.

Pada titik tersebut, tubuh menghadapi masalah tanpa solusi yang mudah. Jaringan di dalam tubuh terlalu besar untuk diserap kembali, dan tidak ada cara untuk mengeluarkannya.

Hal itu membuat tubuh memperlakukan jaringan ini seperti halnya benda asing besar yang tidak dapat dikeluarkan. Tubuh lantas melapisi jaringan tersebut dengan garam kalsium. Jika dibiarkan bertahun-tahun, hasilnya adalah janin yang secara efektif berubah menjadi batu.

Menurut laporan tersebut, ada tiga syarat harus terpenuhi agar janin disebut mengalami kalsifikasi. Pertama, kehamilan harus bertahan melewati trimester pertama, lalu jaringan harus tetap steril sehingga tidak terbentuk abses, dan seluruh proses tersebut harus luput dari deteksi agar kalsifikasi selesai.

Kehamilan abdominal menyumbang sekitar 1 persen dari kehamilan ektopik dan terjadi pada sekitar 1 dari 11.000 hingga 1 dari 30.000 kehamilan. Litopedion sendiri diperkirakan terjadi pada 0,0054 persen dari semua kehamilan.

Perlu diketahui, litopedion sering kali tidak menimbulkan gejala. Namun dalam beberapa kasus dapat menimbulkan gejala klinis seperti nyeri perut dan pembengkakan.

Dalam kasus terbaru ini, litopedion diangkat tanpa mengganggu kehamilan yang sedang berlangsung. Pemulihan pasca operasi berjalan lancar, dan tindak lanjut mengkonfirmasi perkembangan kehamilan intrauterin yang normal.

Penyebab litopedion

Ada beberapa penyebab yang dikaitkan dengan kondisi litopedion, yakni:

  • Kehamilan ektopik yang tidak terdiagnosis.
  • Tidak adanya fasilitas medis memadai pada masa lalu, sehingga ibu tidak mendapat penanganan segera.
  • Janin sudah cukup besar sehingga tubuh tidak bisa menyerap kembali jaringan janin.

Litopedion, riwayat operasi caesar, dan USG

Riwayat operasi caesar sebelumnya merupakan faktor risiko yang diketahui menyebabkan gangguan bekas luka rahim, sehingga meningkatkan kerentanan terhadap kehamilan abdominal sekunder. Diagnosis sering tertunda karena gejala yang samar dapat dikaitkan dengan kehamilan yang sedang berlangsung.

Kasus-kasus yang dipublikasikan mencatat bahwa nyeri perut adalah gejala yang biasa muncul, sering kali akibat efek massa atau iritasi lapisan perut. Nyeri yang terus-menerus atau parah selama kehamilan adalah alasan untuk menjalani pemindaian USG.

Tes kehamilan rutin dan USG dini bahkan disebut dapat mendeteksi kehamilan abdominal jauh sebelum kalsifikasi dimulai. Hal itu membuat kondisi ini semakin jarang terjadi seiring dengan peningkatan perawatan prenatal.

Perlu diketahui, litopedion kecil tanpa gejala pada perempuan yang tidak hamil terkadang dapat dibiarkan saja. Namun, selama kehamilan, batu ginjal bergeser karena massa kalsifikasi yang kaku dapat menghalangi rahim yang membesar, menyebabkan malpresentasi janin, atau menekan usus dan kandung kemih seiring dengan perkembangan kehamilan.

Demikian kisah Bunda hamil yang mengandung janin hidup dan janin membatu secara bersamaan.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda