Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Perempuan di India Jadi yang Ibu Tertua yang Melahirkan Bayi Kembar

Annisa Aulia Rahim   |   HaiBunda

Rabu, 30 Sep 2026 11:05 WIB

Feet of baby twins lying in bed
Perempuan di India Jadi yang Ibu Tertua yang Melahirkan Bayi Kembar/Foto: Getty Images/BjelicaS
Daftar Isi
Jakarta -

Memiliki anak setelah menopause mungkin terdengar hampir mustahil. Namun, teknologi reproduksi berbantu membuat hal yang sebelumnya sulit dibayangkan menjadi mungkin.

Salah satu kasus yang pernah menghebohkan terjadi di India. Seorang perempuan berusia sekitar 74 tahun melahirkan bayi kembar perempuan setelah menjalani program bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF).

Dikutip dari The Indian Express, perempuan bernama Erramatti Mangayamma tersebut melahirkan kedua bayinya melalui operasi caesar pada September 2019. Dokter yang menangani kasusnya saat itu bahkan menyebut kelahiran tersebut kemungkinan menjadi salah satu kelahiran tertua yang pernah tercatat. 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Namun, bagaimana mungkin perempuan yang sudah mengalami menopause bisa hamil dan melahirkan bayi kembar? Berikut kisah dan penjelasan medisnya.

Perempuan 74 tahun di India melahirkan bayi kembar

Mangayamma berasal dari Andhra Pradesh, India. Ia menikah dengan suaminya, Yerramatti Raja Rao, pada 1962. Pasangan tersebut telah lama menginginkan anak, tetapi tidak kunjung memiliki keturunan. Puluhan tahun kemudian, Mangayamma menjalani prosedur IVF.

Karena telah mengalami menopause, dokter tidak menggunakan sel telurnya sendiri. Sel telur berasal dari donor dan kemudian dibuahi menggunakan sperma suaminya di laboratorium. Setelah berkembang menjadi embrio, embrio tersebut kemudian ditanamkan ke dalam rahim Mangayamma.

Kehamilan akhirnya berhasil dan Mangayamma mengandung bayi kembar. Pada 5 September 2019, ia melahirkan dua bayi perempuan melalui operasi caesar. Laporan The Indian Express menyebut ibu dan kedua bayinya berada dalam kondisi stabil setelah persalinan. Kasus tersebut menjadi perhatian karena usia Mangayamma saat melahirkan dilaporkan sekitar 74 tahun.

Kenapa perempuan yang sudah menopause masih bisa hamil?

Bunda mungkin bertanya-tanya, bukankah menopause berarti perempuan sudah tidak bisa hamil?

Secara alami, menopause memang menandai berakhirnya fungsi reproduksi ovarium. Setelah menopause, ovarium tidak lagi melepaskan sel telur secara rutin sehingga kehamilan alami tidak lagi mungkin. Namun, rahim tidak otomatis kehilangan kemampuan untuk mengandung hanya karena seorang perempuan telah menopause. Inilah yang memungkinkan teknologi IVF dengan donor sel telur digunakan dalam kondisi tertentu.

Pada prosedur tersebut, sel telur berasal dari perempuan lain. Sel telur kemudian dibuahi dengan sperma di laboratorium. Embrio yang terbentuk selanjutnya dapat ditanamkan ke rahim perempuan yang menjalani kehamilan.

American Society for Reproductive Medicine (ASRM) menjelaskan bahwa donor sel telur atau embrio merupakan salah satu metode reproduksi berbantu yang dapat digunakan pada perempuan dengan infertilitas berkaitan dengan usia. Bahkan, kehamilan setelah menopause secara biologis dapat dimungkinkan ketika rahim masih mampu mendukung kehamilan dan terapi hormonal serta donor oosit digunakan.

Jadi, Mangayamma tidak kembali menghasilkan sel telur setelah menopause. Kehamilannya terjadi dengan bantuan sel telur donor.

Kemungkinan keberhasilan IVF pada perempuan berusia sangat lanjut juga pernah diteliti. Sebuah studi yang diterbitkan dalam Reproductive BioMedicine Online pada 2024 menganalisis 1.226 siklus transfer embrio dari 745 perempuan berusia 45 tahun ke atas yang menggunakan sel telur donor.

Peneliti menemukan angka live birth yang relatif stabil di berbagai kelompok usia dalam penelitian tersebut. Namun, penelitian juga menekankan pentingnya transfer satu embrio untuk mengurangi risiko kehamilan kembar, seperti dilansir dari PubMed.

Temuan ini menunjukkan bahwa usia yang sangat lanjut tidak otomatis membuat IVF dengan sel telur donor mustahil. Namun, keberhasilan mendapatkan kehamilan tidak sama dengan kehamilan tersebut bebas risiko.

Hamil di usia 74 tahun tetap memiliki risiko tinggi

Di balik kisah Mangayamma yang berhasil melahirkan, ada aspek medis yang tidak kalah penting untuk diperhatikan. Kehamilan pada usia lanjut memiliki risiko komplikasi yang lebih tinggi dibandingkan kehamilan pada usia yang lebih muda.

American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) bersama Society for Maternal-Fetal Medicine mencatat bahwa risiko komplikasi kehamilan meningkat seiring bertambahnya usia ibu.

Beberapa kondisi yang lebih sering ditemukan antara lain:

  • Diabetes gestasional,
  • Preeklamsia,
  • Tekanan darah tinggi,
  • Persalinan prematur,
  • Persalinan melalui operasi caesar,
  • Bayi dengan berat lahir rendah,
  • Hingga risiko lahir mati yang meningkat pada usia tertentu.

Risikonya juga tidak berhenti pada angka usia 35 tahun. ACOG menyebut risiko dapat terus meningkat seiring pertambahan usia dan menjadi lebih nyata pada kelompok usia di atas 40 tahun.

Kehamilan kembar membutuhkan perhatian lebih

Dalam kasus Mangayamma, kehamilan bukan hanya terjadi pada usia yang sangat lanjut, tetapi juga merupakan kehamilan kembar.

Kehamilan multifetal sendiri membawa risiko tambahan bagi ibu dan bayi. Karena itu, ASRM menyebut transfer satu embrio atau elective single embryo transfer sebagai pilihan yang lebih disarankan pada perempuan dengan usia reproduksi sangat lanjut untuk mengurangi risiko kehamilan kembar. 

Hal ini menarik karena Mangayamma justru melahirkan bayi kembar setelah prosedur IVF pada usia yang jauh di atas usia reproduksi umumnya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda