kehamilan
Kaitan Antara Berat Badan dan Pil KB Darurat, Benarkah Bisa Bikin Tubuh Langsing?
HaiBunda
Sabtu, 26 Sep 2026 08:55 WIB
Daftar Isi
Banyak yang merasakan setelah pakai alat KB, bobot mereka malah melonjak. Sebenarnya, apa kaitan antara berat badan dan pil KB darurat, benarkah bisa bikin tubuh langsing?
Pil KB darurat banyak digunakan sebagai pencegah kehamilan darurat. Biasanya, pil ini dikonsumsi setelah berhubungan seksual tanpa perlindungan alat kontrasepsi. Pil ini mengandung hormon progestin, levonorgestrel, dan estrogen.
Dalam kerjanya, hormon tersebut yang akan mencegah sel telur dilepaskan oleh indung telur. Sehingga, pil ini dapat mencegah pembuahan sel telur oleh sel sperma, sehingga tidak terjadi kehamilan.Â
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, efektivitasnya katanya bisa dipengaruhi berat badan seseorang atau pemakainya. Apa sebenarnya kaitan antara berat badan dan pil KB darurat?
Kaitan antara berat badan dan pil KB darurat
Mengutip dari laman Australianpharmacist, efektivitas pil KB darurat dapat berkurang akibat faktor berat badan, terutama pada penggunaan levonorgestrel. Mengingat rata-rata berat badan perempuan Australia 72 kg, berat badan menjadi faktor penting yang perlu dipertimbangkan dalam konsultasi mengenai pil KB darurat.
Levonorgestrel sedianya tersedia secara luas di apotek-apotek Australia. Pada penelitian di 2024 menunjukkan bahwa 98 persen apotek menyediakan pil darurat ini, dibandingkan dengan 70 persen untuk ulipristal asetat.
Kesenjangan ini menjadi masalah karena bagi kebanyakan orang, ulipristal merupakan terapi lini pertama. Hal ini menjadi masalah khususnya bagi individu dengan berat badan di atas 70 kg yang ingin menggunakan kontrasepsi darurat untuk mencegah kehamilan.
Panduan pengobatan kontrasepsi darurat dari Australian Pharmaceutical Formulary and Handbook (APF) enytakan bahwa bagi individu dengna BMI di atas 26 kg/m² atau berat badan di atas 70 kg, ulipristal adalah pilihan lini pertama yang lebih disarankan. Untuk berat badan di atas 85 kg atau BMI di atas 30 kg/m², tingkat efektivitasnya belum diketahui secara pasti.
Pentingnya membangun komunikasi
Salah satu tantangan yang ditemui dalam menerapkan batasan-batasan tersebut ialah bahwa berat badan tidak selalu berkorelasi dengan apa yang mungkin diperkirakan oleh apoteker. "Berat badan dan BMI bisa sangat sulit dinilai, terutama pada orang yang memiliki kebugaran fisik tinggi," ujar Ruth Nona, seorang apoteker dan peneliti di James Cook University, Cairns.
Ditambahkannya bahwa jika seseorang melakukan CrossFit dan memiliki massa otot yang lebih besar, berat badan mereka mungkin lebih tinggi saat ditimbang, namun penampilan fisik mereka tidak selalu mencerminkan hal tersebut.
Karena itu, Lindsay Cameron, seorang apoteker magang yang berbasis di Queensland, mengembangkan pendekatan konsultasi yang sepenuhnya menghindari asumsi berdasarkan berat badan.
"Saya tidak menanyakan angka berat badan secara spesifik. Saya bertanya apakah menurut mereka, mereka termasuk dalam kategori tersebut," ujarnya.
Kemudian, sambungnya, "Biasanya saya berkata, 'Saya akan mengajukan beberapa pertanyaan agar saya bisa merekomendasikan kontrasepsi darurat yang paling tepat untuk mereka. Kemudian saya menjelaskan, 'Ulipristal umumnya lebih efektif dibandingkan pilihan kontrasepsi darurat oral lainnya kecuali jika ada kontraindikasi atau ketidakcocokan, karena obat ini dapat menunda ovulasi bahkan saat kadar hormon sedang meningkat."
Dipaparkannya bahwa hal tersebut akan memberikan rentang waktu kerja yang lebih panjang. Khususnya, jika berat badan seseorang diperkirakan lebih dari 70 kg. Dengan kondisi tersebut, disarankan penggunaan ulipristal, karena pilihan lainnya mungkin kurang efektif.
Ms Nona juga menekankan pentingnya memastikan pasien mendapatkan semua informasi yang mereka butuhkan untuk membuat keputusan yang tepat. "Ketika seseorang datang ke apotek untuk mencari kontrasepsi darurat, mereka sebenarnya sudah mengambil keputusan sadar untuk mencegah kehamilan. Penting bagi pasien untuk memahami perbedaan efektivitas antara kedua pilihan kontrasepsi darurat tersebut, serta bagaimana berat badan dapat memengaruhi efektivitasnya."
Ketika kontrasepsi darurat oral tidaklah cukup efektif
Terkait dengan efektivitas kontrasepsi darurat dan juga pengaruhnya terhadap berat badan yang dimiliki seseorang, sebaiknya pasien dengan berat badan di atas 85 kg, pembahasannya tidak terbatas pada kontrasepsi darurat oral saja. IUD tembaga, yang dipasang dalam waktu 120 jam setelah hubungan seksual tanpa pengaman, merupakan pilihan paling efektif tanpa memandang berat badan.
Namun, hambatan utamanya sering kali terletak pada akses, bukan pada kesesuaian klinis. Pemasangan IUD tembaga memerlukan tenaga medis terlatih, dan jadwal pertemuan tidak selalu tersedia dengan mudah, terutama di daerah regional, pedesaan, dan wilayah terpencil.
APF menegaskan bahwa apoteker harus selalu menyediakan kontrasepsi darurat oral dan memberikan rujukan, bukan menahan pemberian opsi oral tersebut sembari menunggu jadwal pemasangan IUD.
Ms Nona menjadikan hal ini sebagai bagian rutin dalam percakapan dengan orang-orang yang mencari kontrasepsi darurat. "Saat mempertimbangkan BMI, jika pasien diperkirakan memiliki berat badan lebih dari 85 kg, kita sebaiknya selalu mendiskusikan opsi IUD tembaga dengan mereka, karena metode ini memiliki tingkat efektivitas 99 persen," ujar Ms Nona.Â
Apalagi, ada banyak manfaat dari IUD itu sendiri. Adapun manfaat lain dari IUD tembaga adalah kemampuannya memberikan kontrasepsi jangka panjang yang berkelanjutan.
"Jika mereka tidak bisa segera menemui dokter, kami akan menyediakan kontrasepsi darurat oral dan merujuk mereka ke dokter umum atau klinik kesehatan seksual," katanya.
Kapan ulipristal dikontraindikasikan?
Meskipun ulipristal merupakan pilihan pengobatan lini pertama yang memberikan perlindungan untuk rentang berat badan yang lebih luas, penting untuk memahami kapan obat ini dikontraindikasikan.
Dalam pembahasan sebelumnya, ulipristal umumnya menjadi pilihan lini kedua bagi ibu menyusui. Sementara bagi individu dengan berat badan lebih dari 70 kg yang sedang menyusui, pedoman pengobatan APF merekomendasikan levonorgestrel 3 mg (2 tablet) sebagai pengobatan lini pertama.
Namun, penggunaan ini bersifat off-label dan didasarkan pada pedoman internasional. Selain itu juga, efikasi klinisnya belum diketahui. "Karena efektivitas dosis ganda levonorgestrel belum diketahui, kita harus menginformasikan kepada pasien bahwa mereka perlu melakukan pemeriksaan lanjutan dengan dokter," ujar Ms Nona.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
Â
(pri/pri)ARTIKEL TERKAIT
Kehamilan
Fungsi Tablet dalam Kemasan Test Pack, Bukan Pil KB Darurat Ya Bun
Kehamilan
Walau Sudah Minum Pil KB Darurat, Perempuan Ini Tetap Hamil Bahkan Melahirkan Anak Kembar
Kehamilan
Efektivitas KB Darurat Postinor 2 untuk Cegah Kehamilan, Simak Waktu Minum yang Tepat
Kehamilan
Cara Konsumsi Postinor 2 yang Benar sebagai Alat Kontrasepsi Darurat Pengganti KB
Kehamilan
Konsumsi Pil KB Darurat untuk Cegah Kehamilan, Pahami Manfaat & Risikonya
10 Foto
Kehamilan
10 Bunda Seleb Pernah Gagal Program Bayi Tabung, Ada yang Mencoba Enam Kali
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Daftar Nama Pil Kontrasepsi Darurat yang Tersedia di Apotek
Fungsi Tablet dalam Kemasan Test Pack, Bukan Pil KB Darurat Ya Bun
Minum Pil KB tapi Tidak Haid, Apakah Hamil? Cek Faktanya