Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Kasus Keguguran di Tahanan Perempuan Terungkap, Ini Temuan Terbaru

Amrikh Palupi   |   HaiBunda

Sabtu, 26 Sep 2026 15:50 WIB

Temuan terbaru kasus keguguran di tahanan perempuan terungkap. Berikut fakta-fakta mengejutkan. Simak ulasan selengkapnya yuk, Bunda.
Kasus Keguguran di Tahanan Perempuan Terungkap, Ini Temuan Terbaru/Foto: Getty Images/iStockphoto/RyanKing999
Daftar Isi
Jakarta -

Kasus keguguran yang dialami perempuan hamil di pusat penahanan imigrasi Amerika Serikat (AS) menjadi sorotan. Laporan terbaru mengungkap adanya kesulitan akses terhadap layanan medis bagi sejumlah perempuan hamil yang ditahan oleh Immigration and Customs Enforcement (ICE).

Mengutip laman The Guardian, dokumen pemerintah yang diperoleh menunjukkan ICE mencatat sedikitnya 18 kasus keguguran pada perempuan yang berada dalam tahanan selama Januari hingga September 2025. Namun, setelah 3 Oktober 2025, lembaga tersebut tidak memiliki data terbaru mengenai jumlah keguguran.

Laporan yang diterbitkan pada 15 September 2026 itu juga memuat kesaksian sejumlah perempuan hamil yang mengaku mengalami kesulitan mendapatkan pemeriksaan kehamilan, penanganan kondisi berisiko tinggi, hingga perawatan setelah mengalami keguguran.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Dalam dokumen internal yang diberikan kepada The Guardian, ICE menyatakan tidak memiliki data keguguran untuk periode setelah tanggal tersebut karena adanya perubahan sistem pencatatan medis. 

Menanggapi pertanyaan lanjutan mengenai praktik pencatatan setelah 3 Oktober 2025, juru bicara Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat (Department of Homeland Security/DHS), yang membawahi ICE, awalnya mengatakan bahwa lembaga tersebut melacak kasus keguguran dalam laporan bulanan. Kemudian DHS, mengonfirmasi bahwa mereka tidak memiliki data keguguran untuk periode Oktober 2025 hingga Juni 2026.

Kisah nyata para Bunda di pusat penahanan

Penelusuran ini mengungkap jeritan hati beberapa perempuan hamil yang terperangkap dalam fasilitas penahanan:

1. Anabell 35 tahun

Anabell  asal Nikaragua mengaku baru mengetahui dirinya hamil setelah ditangkap dan dibawa ke pusat penahanan Campbell County di Newport, Kentucky. Saat menjalani pemeriksaan medis, dua tes kehamilan yang dilakukan menunjukkan hasil positif.

Namun, Anabell mengatakan dirinya tidak menjalani tes darah untuk mengetahui perkembangan kehamilan, tidak memperoleh vitamin prenatal, dan tidak dijadwalkan menjalani pemeriksaan USG.

Ia hanya mendapatkan makanan khusus yang diberi label untuk ibu hamil dengan tambahan makanan ringan pada malam hari. Beberapa minggu kemudian, Anabell mulai mengalami pendarahan. Kondisinya semakin parah hingga ia mengaku harus menunggu sebelum mendapatkan pertolongan medis.

Dalam permintaan layanan medis darurat yang ditulis dalam bahasa Spanyol, Anabell menyampaikan bahwa dirinya mengalami pendarahan dan takut terhadap kondisi bayinya. Sehari kemudian, ia dibawa ke unit gawat darurat (UGD). Di rumah sakit, ia diberi tahu melalui penerjemah bahwa dirinya sudah tidak hamil lagi.

2. Laura 21 tahun

Laura, perempuan berusia 21 tahun yang ditahan di pusat penahanan Dilley, Texas, bersama putranya yang berusia dua tahun, memiliki riwayat keguguran. Dua hari sebelum ditahan dalam janji pemeriksaan wajib dengan ICE, ia sempat pergi ke UGD karena mengalami gejala keguguran dan didiagnosis mengalami kondisi kehamilan berisiko tinggi.

Setelah tiba di Dilley, seorang dokter di fasilitas tersebut disebut mengatakan bahwa Laura membutuhkan penanganan dokter spesialis. Namun, Laura mengatakan konsultasi tersebut tidak disetujui atau dijadwalkan oleh pengelola fasilitas.

Laura juga dilaporkan masih mengalami nyeri perut dan pendarahan ketika mendekati trimester ketiga kehamilannya. Ia mengatakan belum mendapatkan kesempatan bertemu dokter spesialis kebidanan dan kandungan.

3. Angie, 26 tahun

Angie mengaku mengetahui dirinya hamil beberapa minggu setelah masuk ke pusat penahanan Mesa Verde, California. Beberapa minggu kemudian, ia terbangun dan mendapati cairan berwarna cokelat keluar dalam jumlah banyak. Menurut pengakuannya, petugas medis mengatakan bahwa keguguran tersebut bukan kesalahannya.

Kritik tajam pun berdatangan dari organisasi kemanusiaan dan aktivis hak asasi manusia atas terabaikannya keselamatan para ibu dan calon bayi mereka di pusat penahanan.

"Ketika Anda tidak mencatat sesuatu sebesar itu, Anda tidak perlu dihadapkan pada kenyataan tentang apa yang telah dihasilkan oleh kebijakan Anda," tegas Faisal Al-Juburi, Co-Chief Executive organisasi layanan imigrasi Raíces, dalam wawancaranya bersama The Guardian.

Pakar soroti pentingnya perawatan setelah keguguran

Dokter spesialis kebidanan dan kandungan, dr. Deborah Ottenheimer dari Physicians for Human Rights, menegaskan bahwa perempuan yang mengalami kasus keguguran tanpa pemeriksaan medis tepat seperti USG untuk memastikan seluruh jaringan kehamilan telah keluar berisiko tinggi mengalami infeksi berat dan komplikasi serius yang mengancam jiwa.

"Perempuan yang ditahan ini tidak mendapatkan kunjungan pemeriksaan kehamilan (prenatal) yang seharusnya mereka jalani. Mereka juga tidak mendapatkan pemeriksaan kehamilan berisiko tinggi jika membutuhkannya. Dan jika mereka mengalami keguguran, perawatan medis yang diterima sangat minim, bahkan tidak ada sama sekali," kata Ottenheimer.

Senada hal tersebut, Christina Davidson, kepala petugas medis di American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), mengatakan pada Juli bahwa menempatkan dan menahan pasien hamil di pusat penahanan menimbulkan risiko serius terhadap kesehatan fisik dan mental, baik bagi pasien hamil maupun janin.

Ia menambahkan, kelalaian dalam pemberian perawatan di fasilitas penahanan dapat menyebabkan kondisi yang sebenarnya bisa ditangani berkembang menjadi keadaan darurat yang mengancam jiwa.

Mengapa data kasus keguguran ICE tidak lagi tersedia?

ICE mencatat dalam dokumen internal lembaganya bahwa tidak ada data terbaru mengenai keguguran setelah 3 Oktober 2025. Hal ini terjadi karena lembaga tersebut mengakhiri kontraknya dengan Veterans Affairs Financial Services Center (VA-FSC), yang sebelumnya menangani penagihan layanan medis untuk ICE.

Acentra Health, perusahaan swasta yang berbasis di Virginia, dikontrak untuk menggantikan VA-FSC mulai Oktober 2025. Namun, proses pengajuan dan pembayaran klaim medis ICE mengalami keterlambatan selama berbulan-bulan sehingga data keguguran setelah 3 Oktober 2025 tidak tersedia bagi ICE.

Selain itu, angka 18 kasus keguguran yang tercatat antara Januari hingga September 2025 juga kemungkinan tidak menggambarkan seluruh kejadian.

Jumlah kasus keguguran diduga bisa lebih tinggi

Dokumen ICE juga menunjukkan peningkatan jumlah perempuan hamil yang berada dalam tahanan. Pada Oktober, sedikitnya 87 perempuan dan remaja hamil tercatat berada dalam tahanan. Angka tersebut meningkat menjadi 101 orang pada November. Data tersebut muncul ketika operasi penegakan imigrasi berlangsung di sejumlah kota AS pada musim gugur dan musim dingin tahun sebelumnya.

Namun, jumlah sebenarnya kemungkinan lebih tinggi karena tidak semua perempuan usia reproduktif yang masuk pusat penahanan mendapatkan tes kehamilan.

Sejumlah perempuan yang ditahan mengatakan tidak dapat mengakses tes kehamilan. Karena itu, data resmi mengenai perempuan hamil maupun kasus keguguran kemungkinan tidak mencakup seluruh kejadian.

Kebijakan Federal melarang ICE menahan perempuan hamil

Kebijakan federal yang tercantum dalam arahan tahun 2021 menginstruksikan ICE untuk sebisa mungkin tidak menahan imigran hamil, pasca persalinan, dan menyusui, "Kecuali pembebasan mereka dilarang oleh hukum atau terdapat keadaan luar biasa."

Apabila ICE tetap menahan seseorang yang sedang hamil, arahan tersebut mewajibkan petugas untuk memantau dan mendokumentasikan kondisi kesehatannya secara berkala.

Pemantauan tersebut mencakup kesehatan dan kesejahteraan secara umum serta evaluasi kondisi penahanan dan medis. Arahan itu juga menyebut perlunya memastikan tersedianya perawatan prenatal atau pasca persalinan yang sesuai serta layanan kesehatan fisik dan mental lainnya.

"Dalam keadaan yang sangat terbatas, ketika penahanan diperlukan dan sesuai, ICE harus memantau individu yang diketahui sedang hamil, dalam masa pasca persalinan, atau menyusui dan ditahan dalam pengawasan ICE. Pemantauan ini mencakup kesehatan dan kesejahteraan secara umum, termasuk evaluasi ulang kondisi penahanan dan medis secara berkala, untuk memastikan tersedianya perawatan prenatal dan/atau pasca persalinan yang sesuai, serta layanan kesehatan medis dan mental lainnya."

DHS sebut kebijakan tahun 2021 masih berlaku

Juru bicara DHS Chandler Rebel mengatakan arahan tahun 2021 masih berlaku. Ia menyatakan bahwa perempuan hamil mendapatkan pemeriksaan kehamilan rutin, layanan kesehatan mental, dukungan nutrisi, serta akomodasi yang disesuaikan dengan standar perawatan yang berlaku di masyarakat.

Namun, laporan The Guardian juga memuat kesaksian dari perempuan hamil dan pengacara mereka yang menggambarkan adanya kesulitan mendapatkan layanan medis.

Laporan tersebut meninjau kasus delapan perempuan dan remaja hamil yang mengeluhkan dugaan kelalaian medis di pusat penahanan Dilley. Beberapa di antaranya mengatakan kendala bahasa turut menyulitkan akses terhadap layanan kesehatan.

Kasus keguguran masih menyisakan pertanyaan

Hilangnya data mengenai kasus keguguran setelah Oktober 2025 membuat jumlah keseluruhan kasus selama periode tersebut tidak dapat diketahui berdasarkan catatan yang tersedia.

Di sisi lain, laporan mengenai perempuan yang mengalami keguguran dan komplikasi kehamilan menunjukkan pentingnya akses terhadap pemeriksaan medis, baik selama kehamilan maupun setelah kehilangan kehamilan.

Pihak Acentra Health, perusahaan yang menggantikan sistem sebelumnya untuk menangani proses klaim medis ICE, tidak memberikan jawaban langsung mengenai apakah mereka melacak kasus keguguran untuk ICE. Perusahaan tersebut menyebut adanya keterlambatan dalam penerapan sistem pemrosesan klaim baru akibat penutupan pemerintahan.

Dengan demikian, jumlah kasus keguguran yang tercatat dalam laporan ICE belum dapat menggambarkan keseluruhan kejadian. Data yang tersedia hanya mencatat 18 kasus hingga September 2025, sementara data setelah 3 Oktober 2025 tidak tersedia dalam catatan.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda