kehamilan
Makan Kacang dan Telur saat Hamil Bisa Cegah Alergi pada Anak Kelak? Simak Faktanya
HaiBunda
Jumat, 25 Sep 2026 07:30 WIB
Sebagian orang memiliki alergi pada beberapa makanan termasuk telur dan kacang. Namun katanya, makan kacang dan telur saat hamil bisa cegah alergi pada anak? Simak faktanya, yuk.
Kacang dan telur memang menjadi makanan yang banyak bersinggungan bagi penderita alergi. Karenanya, tak sedikit dari mereka yang merasa rentan dengan makanan tersebut memilih untuk menghindarinya. Sebab, selama waktu yang lama, menghindari paparan makanan penyebab alergi sejak dini dianggap sebagai cara terbaik untuk mencegahnya.
Tetapi, ide tersebut sepertinya bukan jadi pilihan terbaik. Para ilmuwan percaya bahwa paparan sejak awal saat menyusui dapat membantu anak-anak membangun toleransi terhadap makanan pencetus alergi tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam sebuah penelitian terbaru, para tim meneliti apakah seorang ibu yang mengonsumsi telur dan kacang tanah dalam jumlah besar selama kehamilan dan laktasi awal dapat menurunkan kemungkinan bayinya mengembangkan alergi terhadap makanan tersebut pada usia 1 tahun.
Pada uji coba acak yang disebut PrEggNut ada sekira lebih dari 2.000 ibu hamil yang bayinya berisiko lebih tinggi mengembangkan penyakit alergi karena riwayat keluarga. Setengah dari perempuan tersebut diminta untuk makan diet kaya telur dan kacang tanah, dimulai sebelum 23 minggu kehamilan dan berlanjut hingga empat bulan setelah melahirkan sambil menyusui seperti dikutip dari laman Medical Express.Â
Kemudian diketahui bahwa makan banyak telur dan kacang tanah selama kehamilan dan menyusui tidak secara signifikan mengurangi risiko bayi mengembangkan alergi tersebut. Pada usia 1 tahun, bayi memiliki risiko alergi telur atau kacang yang hampir sama, baik ibu mereka makan lebih banyak makanan tersebut atau tetap menjalani pola makan normal seperti yang dipaparkan dalam temuan yang dipublikasikan di New England Journal of Medicine.
Pentingnya memperkenalkan makanan alergen lebih dini
Beberapa uji coba acak terhadap pemberian makan bayi dini menantang praktik tersebut dan menyarankan bahwa memperkenalkan makanan alergen lebih awal mungin membangun toleransi, bukan memicu alergi. Namun, mereka tak memberikan batas waktu yang jelas kepada ilmuwan tentang seberapa awal seseorang perlu memulainya. Apakah harus sejak awal kandungan dan saat menyusui, atau saat sistem kekebalan pertama kali bertemu antigen ibu dan protein makanan.
Beberapa bayi yang rentan alergi sudah menunjukkan respons imun terhadap sel telur pada usia 4 bulan. Jadi pedoman saat ini, yang merekomendasikan pengenalan makanan alergen pada usia 4 hingga 6 bulan, mungkin sudah terlambat untuk bayi-bayi ini.
Seperti diketahui bahwa selama kehamilan, janin menelan alergen makanan yang ada dalam cairan amnion, dan setelah lahir, bayi kembali mengalami protein yang sama melalui ASI. Pola paparan alami ini membuat para peneliti berhipotesis bahwa kehamilan dan laktasi dini mungkin menjadi jendela ketika sistem kekebalan bayi pertama kali belajar mentolerir makanan.
Menambahkan makanan alergen lebih dini bantu cegah alergi anak?
Dalam uji coba PrEggNut, sebanyak 2.137 perempuan hamil terlibat di dalamnya. Tim mengeksplorasi hal ini lebih lanjut dan secara acak membagi para ibu menjadi dua kelompok yang sama dan meminta mereka mengikuti pola makan yang berbeda.
Mereka yang berada di kelompok dengan jumlah telur dan kacang tanah tinggi mengonsumsi setidaknya enam telur dan 60 kacang tanah setiap minggu, sementara induk dalam kelompok diet standar mengonsumsi tidak lebih dari tiga telur dan 30 kacang tanah per minggu.
Ketika bayi-bayi tersebut berusia 1 tahun, para peneliti menguji mereka untuk alergi telur dan kacang tanah di rumah sakit. Setiap bayi untuk pertama kalinya menjalani tes tusuk kulit. Jika hasilnya positif, mereka melanjutkan ke tantangan makanan, di mana dokter mengamati dengan cermat saat bayi makan sedikit telur orak-arik atau selai kacang untuk memastikan apakah alergi benar-benar ada.
Hasilnya, diet ibu yang tinggi alergen selama kehamilan dan laktasi tidak menghasilkan risiko bayi yang lebih rendah secara signifikan untuk mengembangkan alergi telur atau kacang tanah. Ketika para peneliti melihat hasil alergi, sebanyak 7,8 persen bayi yang ibunya makan lebih banyak telur dan kacang tanah mengembangkan alergi telur atau kacang tanah, dibandingkan dengan 8,4 persen dalam kelompok perbandingan.
Kenyataannya ialah bahwa alergi telur terjadi pada 6.2 persen bayi dalam kelompok asupan tinggi dibandingkan 7,2 persen pada kelompok standar, sementara tingkat alergi kacang tanah identik yaitu 2,6 persen pada kedua kelompok. Diketahui juga bahwa tingkat eksim juga sebanding antara kedua kelompok tersebut.
Secara keseluruhan, hasil menunjukkan bahwa menambahkan telur dan kacang tanah ekstra ke dalam diet kehamilan tidak melindungi bayi dari alergi terhadapnya. Ke depannya, fokus penelitian harus mengacu pada panduan pemberian makan bayi yang berbasis bukti, bukan meminta ibu untuk mengambil beban diet lain.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Kehamilan
11 Nutrisi Ibu Hamil yang Wajib Dipenuhi, Penting untuk Perkembangan Janin
Kehamilan
Anjuran Pola Makan yang Tepat untuk Keberhasilan Program Hamil
Kehamilan
5 Buah yang Bagus Dimakan saat Hamil, Baik untuk Perkembangan Janin Bun
Kehamilan
5 Pilihan Makanan Pengganti untuk Atasi Alergi pada Ibu Hamil
Kehamilan
Hamil Muda, Bunda Wajib Penuhi 5 Mikronutrien Ini
9 Foto
Kehamilan
9 Potret Gaya Busana Keluarga Kerajaan Inggris Usai Melahirkan
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Dokter Ungkap Kasus Langka Perempuan Sulit Hamil yang Diduga Alergi Cairan Sperma
10 Kandungan Skincare yang Aman untuk Ibu Hamil, Kenali Juga yang Berbahaya
Bunda Ini Alami Pipi Bengkak setelah Jalani Operasi Caesar, Penyebabnya...