Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Spanyol Bakal Biayai Program Egg Freezing para Atlet agar Karier dan Promil Seimbang

Dwi Indah Nurcahyani   |   HaiBunda

Selasa, 22 Sep 2026 07:30 WIB

Young adult woman celebrating as a sports fan, holding a spanish flag
Spanyol Bakal Biayai Program Egg Freezing para Atlet agar Karier dan Promil Seimbang/Foto: Getty Images/Laura M
Daftar Isi
Jakarta -

Tren egg freezing banyak ditempuh perempuan untuk tabungan masa depan mereka dalam keberlangsungan keturunannya. Terbaru, bahkan negara Spanyol bakal biayai program egg freezing para atletnya agar karier dan promil seimbang.

Seiring pertambahan usia, kualitas kesuburan dan juga sel telur tentunya akan menurun. Hal ini pun pada akhirnya bisa mengganggu kelancara para pejuang garis dua dalam mewujudkan keinginannya memiliki keturunan. 

Guna menjembatani hal tersebut, tren egg freezing menjadi pilihan bagi sebagian pasangan. Sehingga, mereka bisa lebih fokus menjalani karier, pendidikan, dan kehidupannya. Bahkan, egg freezing bisa dilakukan sejak perempuan masih muda dan belum menikah sehingga dapat memudahkan ketika menemukan pasangan dan ingin memiliki anak nantinya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Mengulik tren egg freezing

Dulunya, egg freezing merupakan prosedur khusus dan ekserimental, hingga pada 2015, The American Society for Reproductive Medicine (ASRM) menyatakan bahwa egg freezing tidak lagi dianggap eksperimental' yang kemudian membuka pintu untuk penggunaan rutin.

Sejak saat itu, egg freezing telah terbukti menjadi pilihan yang aman dan berkembang bagi siapa saja yang ingin dan membutuhkan bantuan teknologi reproduksi. Popularitasnya yang semakin moncer kemudian mencerminkan pergeseran budaya di mana orang-orang menikah dan memiliki anak di kemudian hari.

Melihat grafik Google Trends selama lima tahun dan melihat seberapa sering istilah egg freezing dicari dari semua pencarian di AS, menunjukkan bahwa terjadi peningkatan minat yang berkelanjutan dari waktu ke waktu. Dimulai dari tingkat minat relatif minim kemudian tren menunjukkan pertumbuhan yang konsisten, yakni dua kali lipat selama lima tahun terakhir seperti dikutip dari laman Cofertility.

Kenaikan ini menunjukkan pergeseran kesadaran dan rasa ingin tahu, menunjukkan bahwa egg freezing sedang beralih dari topik khusus menjadi topik yang lebih menarik dan dipertimbangkan secara lebih luas. Pola pencarian yang berubah ini mungkin mencerminkan peningkatan kesadaran akan prosedur ini, bersamaan dengan sikap masyarakat yang berkembang terhadap otonomi reproduksi dan keterlambatan menjadi orang tua.

Gebrakan baru, Spanyol bakal biayai egg freezing para atlet

Di negara Spanyol, tren egg freezing juga menjadi perhatian yang menarik minat para Federasi Sepak Bola di negara tersebut. Sebagai bentuk kepedulian terhadap para atlet yang mereka naungi, pihak Federasi pun berencana untuk mendanai egg freezing untuk mendukung kehidupan personal para atletnya di luar kiprah mereka di ranah profesional.

The Royal Spanish Football Federation (RFEF) mengatakan bahwa mereka akan menanggung seluruh biaya perawatan egg freezing bagi semua pemain internasional yang telah dipanggil setidaknya dua kali, seperti dikutip dari laman Cbc.

"Penting bagi atlet perempuan untuk merasa tidak harus memilih antara kehidupan profesional dan pribadi mereka," kata gelandang Barcelona, Patri Guijarro.

Bagi para atlet perempuan, fase di antara jendela performa puncak dan jendela kesuburan terasa saling tumpang tindih. Menurut peneliti, hal ini sering membuat para atlet kemudian harus memilih salah satu di antaranya.

Langkah yang ditempuh RFEF ini mengikuti ketentuan kesuburan serupa yang baru-baru ini diumumkan beberapa tim dan federasi sepak bola lainnya seperti National Women Soccer League dan tim perempuan dari Chelsea FC, serta liga lain seperti  WNBA dan Women Tennis Association.

Meskipun langkah-langkah melestarikan kesuburan seperti egg freezing biasanya disuguhkan sebagai cara lain dalam memberikan kebebasan lebih besar kepada perempuan di olahraga untuk memutuskan kapan menjadi ibu, beberapa ahli khawatir kalau hal tersebut justru bisa memperkuat sikap bahwa perempuan sebaiknya menunggu pensiun untuk melakukannya.

Dilema atlet antara puncak karier dan kehidupan personal

Bagi banyak atlet perempuan, diberikan pilihan seperti egg freezing mungkin terasa seperti langkah besar mengingat apa yang telah dicatat para peneliti sebagai sikap lama dalam budaya olahraga bahwa hamil adalah akhir dari karier seorang atlet.

"Kehamilan dan keibuan telah lama terasa tidak cocok dengan karier sebagai atlet profesional atau elit karena kebijakan yang kurang atau memperlakukan perempuan secara tidak adil," kata Allison Sandmeyer-Graves, CEO Canadian Women & Sport.

Akibatnya, para perempuan yang ingin memulai berkeluarga sering kali mengakhiri karier mereka lebih awal atau menunggu hingga pensiun. Bahkan, sering kali para atlet juga harus menunggu terlalu lama padahal keputusan ini juga membawa risiko terhadap kemampuan perempuan untk hamil.

Bagi sebagian orang, menunggu untuk memulai keluarga sampai mereka selesai bermain adalah pilihan yang tepat, dan egg freezing ini memberi mereka beberapa jaminan.

Hal seperti itu juga diungkapkan Margie Davenport, profesor kinesiologi di University of Alberta yang baru-baru ini membantu FIFA mengembangkan pedoman untuk mendukung pemain sepak bola hamil dan pascamelahirkan.

"Kehamilan selama karier bermain aktif bukanlah pilihan yang tepat untuk setiap atlet. Tindakan egg freezing semakin populer sebagai alternatif praktis bagi mereka yang lebih memilih menunggu hingga pensiun," kata Davenport 

Untuk itu, sambungnya, memastikan atlet perempuan tidak harus memilih antara karier dan menjadi ibu merupakan hal mendasar bagi kesejahteraan atlet dan pertumbuhan olahraga yang menaungi perempuan di dalamnya.

Pertimbangan medis dan etis

Keputusan untuk egg freezing memang tidak serta merta dilakukan tanpa ada edukasi khusus sebelumnya bagi perempuan. Bagi beberapa ahli medis, edukasi pada atlet memang penting, salah satunya dengan memperingatkan bahwa pengambilan sel telur jauh lebih mudah dengan melibatkan obat hormon dan prosedur bedah.

Selain itu, perlu juga diketahui para atlet bahwa IVF bukan rencana yang pasti gagal. Tingkat kelahiran hidup bagi mereka yang menjalani setidaknya satu transfer embrio dalam setahun dapat berkisar antara 38 hingga 50 persen, menurut siaran pers September 2025 dari Canadian Fertility and Andrology Society (CFAS) yang membahas temuan terbaru dari Canadian Assisted Reproductive Technologies Register.

CFAS mencatat bahwa tingkat ini bervariasi menurut usia, dan tingkat keberhasilan menurun seiring bertambahnya usia. Selain itu, CFAS juga menyatakan bahwa  temuan tersebut menunjukkan bahwa jumlah prosedur pembekuan telur elektif lebih dari dua kali lipat antara tahun 2019 dan 2024.

"Tidak ada jaminan bahwa ketika seseorang mencairkan atau mencairkan telur-telur itu, mengubahnya menjadi embrio, telur tersebut benar-benar akan berhasil dan menghasilkan kelahiran hidup yang sukses," kata Dr. Lamia Zafrani, seorang atlet ginekolog di London.

Zafrani mengatakan bahwa ada juga pertimbangan etis ketika sebuah organisasi menawarkan pilihan egg freezing pada seseorang.

"Ini selalu menimbulkan pertanyaan apakah dengan menawarkan pembekuan sel telur dan pelestarian kesuburan, pesan dasarnya adalah kalian mengatakan kepada pemain bahwa sebaiknya 'jangan hamil saat bekerja untuk kami," kata Zafrani.

Itulah kenapa sangat penting untuk mendukung atlet yang sedang hamil atau pasca melahirkan. Perlu ada lebih banyak juga pilihan penitipan anak, pelatihan fisik secara khusus, fasilitas menyusui, dan penerimaan terhadap atlet yang membawa anak-anak ke acara olahraga atau kamp pelatihan.

 

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda