kehamilan
Perempuan Obesitas Berisiko Alami Kanker Rahim, Studi Ungkap Fakta Baru
HaiBunda
Jumat, 18 Sep 2026 07:30 WIB
Daftar Isi
- Apa itu kanker rahim?
- Studi ungkap perbedaan kanker rahim pada perempuan obesitas
- Mengapa obesitas bisa berkaitan dengan kanker endometrium?
- Perempuan obesitas bukan berarti pasti mengalami kanker rahim
- Gejala kanker rahim yang perlu diperhatikan
- Menjaga berat badan sehat bisa jadi salah satu upaya pencegahan
Kelebihan berat badan selama ini diketahui berkaitan dengan berbagai masalah kesehatan. Namun, Bunda mungkin belum banyak mendengar bahwa obesitas juga dapat berkaitan dengan meningkatnya risiko kanker rahim, khususnya kanker endometrium.
Studi terbaru dari peneliti di King Saud University, Arab Saudi, menemukan fakta baru mengenai hubungan tersebut. Para peneliti tidak hanya melihat bahwa obesitas berkaitan dengan risiko kanker endometrium, tetapi juga menemukan adanya perbedaan pada protein tumor antara pasien yang mengalami obesitas dan mereka yang tidak mengalami obesitas.
Temuan ini memberikan gambaran bahwa kondisi obesitas mungkin tidak hanya meningkatkan kemungkinan terjadinya kanker, tetapi juga dapat memengaruhi karakter biologis dari penyakit tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa itu kanker rahim?
Kanker rahim yang dimaksud dalam pembahasan ini terutama adalah kanker endometrium, yaitu kanker yang berkembang pada lapisan bagian dalam rahim atau endometrium.
Kanker ini berbeda dengan kanker serviks yang bermula di leher rahim. Kanker endometrium umumnya berkaitan dengan perubahan pada sel-sel lapisan rahim dan salah satu gejala yang perlu diperhatikan adalah perdarahan dari vagina yang tidak normal.
Karena itu, Bunda sebaiknya tidak mengabaikan perdarahan di luar siklus menstruasi, menstruasi yang sangat banyak, atau perdarahan setelah menopause. Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.
Studi ungkap perbedaan kanker rahim pada perempuan obesitas
Penelitian yang dilakukan University Obesity Research Center bersama Department of Obstetrics and Gynecology, College of Medicine, King Saud University, menganalisis jaringan tumor kanker endometrium dari pasien dengan dan tanpa obesitas.
Dengan menggunakan teknologi mass spectrometry, peneliti berhasil mengidentifikasi lebih dari 6.300 protein dalam jaringan tumor. Dari jumlah tersebut, sebanyak 456 protein menunjukkan perbedaan signifikan antara kelompok pasien dengan obesitas dan tanpa obesitas. Perbedaan tersebut memberikan petunjuk mengenai bagaimana obesitas dapat memengaruhi lingkungan biologis tumor.
Peneliti menemukan adanya perubahan pada jalur yang berkaitan dengan sistem imun dan metabolisme. Selain itu, terdapat mekanisme yang berhubungan dengan pertumbuhan dan penyebaran kanker.
Beberapa protein yang ditemukan juga dinilai berpotensi menjadi biomarker, yakni penanda biologis yang pada masa mendatang dapat membantu membedakan kanker endometrium yang berkaitan dengan obesitas dan yang tidak.
Namun, temuan ini masih berada pada tahap penelitian dan bukan berarti pemeriksaan biomarker tersebut sudah menjadi pemeriksaan rutin untuk mendeteksi kanker rahim.
Mengapa obesitas bisa berkaitan dengan kanker endometrium?
Hubungan antara obesitas dan kanker endometrium sebenarnya telah lama menjadi perhatian peneliti.
Salah satu penjelasannya berkaitan dengan perubahan hormon, khususnya estrogen. Jaringan lemak dapat berperan dalam produksi estrogen. Pada perempuan setelah menopause, peningkatan estrogen tanpa keseimbangan progesteron dapat merangsang pertumbuhan lapisan endometrium.
Selain itu, obesitas juga dapat berkaitan dengan resistensi insulin dan peradangan kronis, yang diduga ikut berperan dalam proses terjadinya kanker.
Studi yang dipublikasikan dalam Journal of the National Cancer Institute pada 2026 turut memberikan gambaran mengenai mekanisme tersebut. Peneliti menganalisis data perempuan sebelum dan setelah menopause dan menemukan bahwa hubungan obesitas dengan risiko kanker endometrium sebagian dimediasi oleh biomarker yang berkaitan dengan peradangan, resistensi insulin, dan hormon seks.
Dalam penelitian tersebut, obesitas dikaitkan dengan sekitar 3,3 kali lipat risiko kanker endometrium pada analisis perempuan pascamenopause dan sekitar 3,2 kali lipat pada analisis perempuan pramenopause, dibandingkan kelompok dengan BMI normal. Para peneliti juga menemukan bahwa jalur biologisnya dapat berbeda berdasarkan status menopause.
Perempuan obesitas bukan berarti pasti mengalami kanker rahim
Meski penelitian menunjukkan adanya hubungan antara obesitas dan kanker endometrium, bukan berarti setiap perempuan dengan obesitas akan mengalami kanker rahim. Risiko kanker dipengaruhi oleh banyak faktor. Selain berat badan, faktor hormonal, usia, riwayat reproduksi, faktor genetik, kondisi metabolik, dan faktor kesehatan lainnya juga dapat berperan.
Bahkan, penelitian terbaru semakin menunjukkan bahwa risiko kanker endometrium tidak dapat dinilai hanya berdasarkan berat badan seseorang. Karena itu, penting bagi Bunda untuk tidak menjadikan angka berat badan sebagai satu-satunya patokan kesehatan.
Gejala kanker rahim yang perlu diperhatikan
Salah satu hal yang penting diketahui perempuan adalah gejala yang mungkin berkaitan dengan kanker endometrium.
Beberapa di antaranya meliputi:
- Perdarahan vagina yang tidak normal di luar menstruasi.
- Menstruasi yang lebih banyak atau berlangsung lebih lama dari biasanya.
- Perdarahan setelah menopause.
- Keputihan yang tidak biasa.
- Nyeri pada panggul atau bagian bawah perut.
- Nyeri ketika berhubungan seksual.
Gejala tersebut tidak selalu berarti kanker. Perdarahan abnormal dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, mulai dari gangguan hormonal hingga masalah pada rahim lainnya.
Namun, jika gejala muncul berulang atau terasa tidak biasa, sebaiknya Bunda berkonsultasi dengan dokter kandungan agar dapat diketahui penyebabnya.
Menjaga berat badan sehat bisa jadi salah satu upaya pencegahan
Penelitian mengenai obesitas dan kanker bukan berarti perempuan harus mengejar bentuk tubuh tertentu. Fokus utamanya adalah menjaga kesehatan metabolik dan mengurangi faktor risiko yang dapat dimodifikasi.
Pola makan bergizi seimbang, aktivitas fisik rutin, tidur yang cukup, serta pemeriksaan kesehatan secara berkala dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan dalam jangka panjang.
Bagi perempuan yang mengalami obesitas atau memiliki kondisi metabolik tertentu, konsultasi dengan dokter dapat membantu menentukan langkah yang aman dan sesuai kondisi tubuh.
Pada akhirnya, penelitian terbaru mengenai perempuan kanker rahim dan obesitas memberikan gambaran bahwa hubungan keduanya ternyata lebih kompleks daripada sekadar berat badan. Perbedaan protein pada jaringan tumor juga membuka peluang penelitian lebih lanjut mengenai biomarker dan pendekatan pengobatan kanker endometrium yang lebih personal di masa depan.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Kehamilan
Kegemukan Bisa Picu Risiko Kanker Rahim? Simak Penjelasan Dokter
Kehamilan
Penyebab Orang Gemuk Susah Hamil dan Cara Mengatasinya
Kehamilan
Mengeluh Perut Membuncit seperti Hamil 24 Minggu, Wanita Ini Ternyata Idap Tumor
Kehamilan
Berita Ini Dihapus
Kehamilan
Bunda, Kenali Yuk Risiko Obesitas pada Ibu Hamil dan Bayi
10 Foto
Kehamilan
10 Bunda Seleb Pernah Gagal Program Bayi Tabung, Ada yang Mencoba Enam Kali
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Bisakah Perempuan dengan Kanker Endometrium Menjalani Program Hamil? Ini Kata Dokter
Kapan Waktu yang Tepat untuk Cek Kesuburan ke Dokter? Kenali Tanda-tandanya
Letak Kista saat Hamil dan Ciri-cirinya yang Perlu Diketahui