Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Benarkah Sakit Parah saat Hamil Pengaruhi Perkembangan Otak Anak? Ini Kata Studi

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Jumat, 11 Sep 2026 11:05 WIB

Ilustrasi Ibu Hamil Sakit
Benarkah Sakit Parah saat Hamil Pengaruhi Perkembangan Otak Anak? Ini Kata Studi/Foto: Getty Images/iStockphoto/tampatra
Jakarta -

Kehamilan merupakan masa saat perempuan perlu mendapatkan perhatian ekstra. Pasalnya, sakit parah yang terjadi saat hamil bisa berdampak pada kondisi ibu dan janin, Bunda.

Melansir dari laman Medical Xpress, para ilmuwan bahkan telah memperhatikan satu pola terkait keparahan sakit selama hamil. Menurut mereka, penyakit parah selama kehamilan dapat meningkatkan risiko gangguan perkembangan saraf pada keturunan.

Salah satu studi yang pernah meneliti hal tersebut baru-baru ini diterbitkan di jurnal Molecular Psychiatry. Para peneliti dari Salk Institute memantau epigenom sel korteks frontal tikus selama perkembangan janin, beberapa dengan induk yang sehat dan induk yang sistem kekebalannya diaktifkan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Hasil studi menunjukkan, anak yang lahir dari ibu yang sistem kekebalan diaktifkan menunjukkan epigenom yang sangat berbeda pada neuron lapisan dalam dibandingkan dengan anak dari ibu yang sehat. Banyak perbedaan epigenetik ditemukan di dekat gen yang terkait dengan gangguan spektrum autisme.

Temuan ini juga menunjukkan pengaruh genetik tantangan kekebalan prenatal terhadap perkembangan saraf, yang menciptakan perubahan permanen pada sirkuit otak dan berlanjut hingga dewasa.

Dampak penyakit ibu pada perkembangan saraf anak

Salah satu yang diamati peneliti terkait penyakit ibu adalah paparan flu. Beberapa dekade lalu, para ilmuwan sudah memperhatikan ibu yang mengalami infeksi influenza selama trimester kedua atau ketiga kehamilan. Mereka melaporkan adanya gangguan kejiwaan yang lebih tinggi pada anak-anak yang lahir dari ibu dengan kondisi tersebut.

"Itu sudah lama sekali," kata salah satu penulis utama, Margarita Behrens, Ph.D.

"Tapi, ketika para ahli epidemiologi menganalisis fenomena baru-baru ini menggunakan sampel darah dari ibu, mereka menemukan bahwa hal itu kemungkinan terkait dengan respons imun ibu terhadap infeksi."

Lebih spesifik, para peneliti menemukan peningkatan kadar IL-6 dalam aliran darah ibu. IL-6 adalah protein penting yang membantu memicu peradangan sebagai bagian dari respons imun.

Dari informasi terbaru ini, para ilmuwan mampu menciptakan model hewan pengerat dari fenomena di mana infeksi influenza menyebabkan aktivasi imun dan peningkatan risiko gangguan perkembangan saraf.

"Saat ini, model tersebut telah dikarakterisasi dengan sangat baik," ungkap Behrens.

"Tetapi sebagian besar karakterisasi tersebut bersifat perilaku atau elektrofisiologis, bukan epigenetik. Kami ingin melihat perubahan epigenetik apa yang terjadi sepanjang perkembangan yang berpotensi menyebabkan pengamatan perilaku, psikiatris, dan elektrofisiologis yang telah dilakukan oleh ilmuwan lain."

Perlu diketahui, perubahan epigenetik adalah penanda kimia dan modifikasi yang dilakukan di atas kode genetik dasar. Perubahan ini menentukan gen mana yang diekspresikan atau tidak, dan memengaruhi fungsi seluruh sel.

Setelah anak lahir, tim peneliti juga mengumpulkan rekaman elektrofisiologis neuron lapisan dalam untuk memahami apakah neuron tersebut berubah akibat perubahan transkripsional dan epigenetik yang diamati. Analisis mengkonfirmasi bahwa perkembangan neuron lapisan dalam pada anak terganggu.

"Infeksi mengubah kemungkinan apakah perkembangan saraf terpengaruh, tapi tidak semua orang yang sakit selama kehamilan pasti akan memiliki anak dengan gangguan perkembangan saraf," kata penulis pendamping Joseph Ecker, Ph.D.

Harapan peneliti tentang hasil studi

Studi ini memberikan wawasan baru mengenai penyebab mendasar dari beberapa gangguan perkembangan saraf. Studi juga menunjukkan dampak jangka panjang dari tantangan imun prenatal terhadap hasil kesehatan keturunan.

Penguraian lebih lanjut mengenai hasil studi ini diharapkan dapat memandu upaya di masa mendatang untuk mengembangkan terapi bagi ibu atau janin yang dapat mencegah atau mengurangi risiko gangguan tersebut.

"Kita sekarang lebih dekat untuk memahami konsekuensi infeksi pada ibu hamil, tetapi ini baru permulaan dari cerita," kata Ecker.

"Ini baru puncak gunung es. Kami sedang menyaring semua hal yang telah kami lakukan selama 10 tahun, menganalisis epigenom selama bertahun-tahun untuk sampai pada titik di mana kami dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini. Sekarang kami dapat mendekati pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan lebih detail. Ini akan sangat menyenangkan ke depannya," tambah Behrens.

Demikian studi terbaru yang menemukan kaitan sakit parah saat hamil dan perkembangan otak anak setelah lahir. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda