Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Kisah Ibu Hamil Alami Komplikasi Langka, 9 Bulan setelah Melahirkan Cari Donor Ginjal

Annisa Aulia Rahim   |   HaiBunda

Sabtu, 12 Sep 2026 08:55 WIB

Shortly after birth a newborn baby boy is wrapped tightly in a swaddling blanket and laid on the bed to rest.  The Asian baby has a full head of dark hair and has his eyes closed as he sleeps peacefully.  His Mother is leaning in closely over him to watch as he sleeps.
Kisah Ibu Hamil Alami Komplikasi Langka, 9 Bulan setelah Melahirkan Cari Donor Ginjal/Foto: Getty Images/FatCamera
Daftar Isi
Jakarta -

Kehamilan Soledad Guerrero awalnya berjalan dengan baik. Ibu asal Amerika Serikat ini bahkan merasa tubuhnya tetap bugar hingga mendekati waktu persalinan. Namun, siapa sangka, sebuah komplikasi kehamilan langka membuat hidupnya berubah setelah melahirkan.

Sembilan bulan setelah melahirkan anak pertamanya, Soledad masih harus menjalani dialisis dan kini tengah mencari donor ginjal.

Kisahnya menjadi perhatian setelah dibagikan kepada ABC News. Pengalaman Soledad juga menjadi pengingat bahwa beberapa komplikasi kehamilan bisa muncul secara tiba-tiba dan bahkan berlanjut hingga masa setelah melahirkan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Kehamilan Soledad berjalan lancar

Soledad, 36 tahun, sebelumnya menjalani pemeriksaan genetik bersama suaminya sebelum mereka menjalani program bayi tabung atau IVF. Mereka kemudian berhasil menyambut anak pertama, seorang bayi perempuan, pada Oktober 2025.

Selama hamil, Soledad merasa kondisinya baik-baik saja. Ia tidak mengalami morning sickness dan masih aktif berenang hingga mendekati akhir kehamilan. 

"Saya bahkan tidak mengalami morning sickness. Rasanya kondisi saya benar-benar prima. Saya tetap berenang sampai akhir masa kehamilan dan sangat aktif," ujar Soledad saat mengenang kembali masa kehamilannya. 

"Hal ini benar-benar di luar dugaan,” sambungnya.

Namun, situasinya berubah ketika ia datang ke rumah sakit untuk menjalani induksi persalinan. Soledad mengalami masalah pembekuan darah hingga dokter memutuskan melakukan operasi caesar darurat. Setelah persalinan, muncul masalah yang jauh lebih serius. Soledad tidak mengeluarkan urine dan kondisinya kemudian berkembang menjadi gagal hati serta gagal ginjal.

Fungsi hatinya akhirnya kembali pulih. Sayangnya, ginjalnya mengalami kerusakan yang cukup berat. Dokter kemudian mendiagnosis Soledad mengalami pregnancy-associated atypical hemolytic uremic syndrome (p-aHUS), sebuah komplikasi kehamilan yang sangat langka.

Apa itu p-aHUS?

Mendengar istilah p-aHUS mungkin membuat Bunda bertanya-tanya, sebenarnya penyakit apa ini?

Pregnancy-associated atypical hemolytic uremic syndrome (p-aHUS) merupakan kondisi langka yang berhubungan dengan gangguan pada sistem komplemen, yaitu bagian dari sistem kekebalan tubuh.

Dr. Peter Chin-Hong, seorang profesor kedokteran di University of California, San Francisco, yang tidak menangani perawatan Guerrero, mengatakan bahwa dokter mungkin mengalami kesulitan dalam mendiagnosis p-aHUS karena kondisi ini tergolong langka dan gejalanya bisa menyerupai kondisi lain.

"Kondisi ini sangat, sangat langka. Ada banyak penyebab lain dari rendahnya kadar trombosit dan anemia selama kehamilan; bahkan pada penyakit infeksi, terdapat mikroba yang dapat menyebabkan sindrom yang sangat mirip. Kondisi ini bisa berkaitan dengan kehamilan yang menjadi pemicu masalah sistem kekebalan tubuh ini serta dapat menyerupai kondisi medis lainnya. Oleh karena itu, mendiagnosisnya bisa menjadi tantangan tersendiri,"  ujar Chin-Hong.

Pada penderita aHUS, sistem komplemen dapat menjadi terlalu aktif. Akibatnya, pembuluh darah kecil bisa mengalami kerusakan dan terbentuk gumpalan-gumpalan darah kecil. Kondisi tersebut terutama dapat mengganggu fungsi ginjal.

Itulah mengapa aHUS bisa menyebabkan penurunan fungsi ginjal secara cepat hingga pada kasus berat membutuhkan dialisis atau transplantasi ginjal. Menurut penelitian, p-aHUS diperkirakan hanya terjadi pada sekitar 1 dari 25.000 kehamilan. Jadi, kondisi yang dialami Soledad memang sangat jarang.

Komplikasi ini bisa muncul setelah melahirkan

Salah satu hal yang membuat p-aHUS cukup sulit dikenali adalah waktunya. Komplikasi ini tidak selalu muncul ketika ibu sedang hamil. Bahkan, sebuah systematic review yang diterbitkan dalam American Journal of Obstetrics & Gynecology menemukan bahwa sebagian besar kasus p-aHUS yang baru terdiagnosis justru ditemukan setelah persalinan.

Dalam penelitian tersebut, peneliti menganalisis 60 kasus p-aHUS yang terjadi dalam 66 kehamilan. Sebanyak 94 persen kasus baru didiagnosis pada periode postpartum. Peneliti juga menemukan bahwa p-aHUS dapat muncul setelah berbagai komplikasi obstetri, termasuk hipertensi atau preeklamsia dan perdarahan. Artinya, masa setelah melahirkan tetap perlu diperhatikan, ya, Bunda.

Meski bayi sudah lahir dan proses persalinan telah selesai, tubuh ibu masih membutuhkan waktu untuk pulih. Keluhan yang terasa tidak biasa sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai kelelahan biasa setelah melahirkan.

Mengapa ginjal bisa sampai rusak?

Ginjal memiliki banyak pembuluh darah kecil yang berperan penting dalam menyaring darah. Ketika sistem komplemen mengalami aktivasi berlebihan pada aHUS, pembuluh darah kecil tersebut dapat mengalami kerusakan.

Gumpalan darah kecil juga dapat mengganggu aliran darah ke ginjal. Akibatnya, ginjal bisa mengalami acute kidney injury (AKI) atau cedera ginjal akut. Jika kerusakannya berat, fungsi ginjal mungkin tidak dapat kembali seperti sebelumnya.

Sebuah systematic review dan meta-analysis yang diterbitkan pada 2025 menganalisis 10 penelitian dengan total 380 pasien p-aHUS. Hasilnya menunjukkan sekitar 66,6 persen pasien membutuhkan dialisis, sedangkan sekitar 25 persen mengalami penyakit ginjal stadium akhir. Namun, angka tersebut merupakan hasil penelitian pada kelompok pasien dengan p-aHUS dan bukan berarti setiap ibu yang mengalami kondisi ini pasti akan mengalami gagal ginjal.

Sembilan bulan setelah melahirkan, Soledad masih dialisis

Bagi Soledad, dampak komplikasi tersebut ternyata tidak berhenti setelah persalinan. Sembilan bulan setelah melahirkan, ia masih menjalani dialisis sambil menunggu kesempatan mendapatkan donor ginjal.

Soledad menjalani peritoneal dialysis di rumah selama setidaknya delapan jam setiap malam. Kondisi ini tentu tidak mudah bagi seorang ibu yang juga harus merawat bayi. Ia mengaku dialisis membuatnya sulit mendapatkan tidur yang cukup. Karena membutuhkan transplantasi ginjal, Soledad kemudian membagikan kisahnya kepada publik dan berharap bisa menemukan orang yang bersedia menjadi donor.

Dokter menyebut donor hidup dapat menjadi pilihan yang baik untuk kondisinya. Namun, seperti prosedur transplantasi lainnya, calon donor dan penerima tetap harus menjalani pemeriksaan untuk memastikan kecocokan dan keamanan prosedur.

Ada pengobatan untuk kondisi ini

Meski serius, p-aHUS bukan berarti tidak bisa ditangani. Salah satu terapi yang dapat digunakan adalah obat yang bekerja sebagai complement inhibitor. Obat ini bertujuan menghambat aktivitas sistem komplemen yang berlebihan.

Penelitian mengenai p-aHUS menunjukkan bahwa terapi yang menargetkan sistem komplemen, seperti eculizumab, dapat membantu meningkatkan peluang pemulihan pada sebagian pasien.

Dalam systematic review terhadap kasus p-aHUS, pasien yang mendapatkan eculizumab memiliki angka remisi sekitar 88 persen, dibandingkan sekitar 57 persen pada kelompok yang tidak mendapatkan obat tersebut.

Meski begitu, pengobatan tentunya harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Jika ginjal sudah mengalami kerusakan berat, sebagian pasien tetap membutuhkan dialisis atau transplantasi.

Waspadai keluhan yang tidak biasa setelah melahirkan

Kisah Soledad menjadi pengingat untuk Bunda bahwa masa postpartum juga perlu mendapatkan perhatian. Setelah melahirkan, tubuh memang membutuhkan waktu untuk kembali pulih. Rasa lelah, kurang tidur, atau perubahan tubuh tertentu bisa menjadi bagian dari proses tersebut.

Namun, ada beberapa kondisi yang sebaiknya tidak diabaikan, terutama jika muncul secara tiba-tiba atau semakin memburuk. Misalnya, jumlah urine yang jauh berkurang, pembengkakan yang tidak biasa, sesak napas, tekanan darah tinggi, sakit kepala berat, kelelahan ekstrem, atau kondisi tubuh yang terasa semakin buruk.

Keluhan tersebut tidak otomatis berarti Bunda mengalami p-aHUS. Ada banyak kondisi lain yang dapat menyebabkan gejala serupa. Namun, pemeriksaan dokter penting dilakukan untuk mencari tahu penyebabnya.

Terlebih lagi, penelitian menunjukkan bahwa p-aHUS justru cukup sering terdiagnosis pada periode setelah persalinan.

Ingin tetap sehat untuk melihat putrinya tumbuh besar

Kini, perjuangan Soledad belum selesai. Ia masih menjalani dialisis sambil berharap bisa mendapatkan donor ginjal. Di tengah kondisi tersebut, ada satu hal yang menjadi motivasinya: putri kecilnya. Soledad ingin tetap sehat agar bisa melihat anaknya tumbuh besar.

Kisah ini memang cukup menguras hati. Kehamilan yang awalnya berjalan lancar ternyata berujung pada kondisi medis yang tidak pernah ia bayangkan. Namun, pengalaman Soledad juga mengingatkan kita bahwa menjaga kesehatan ibu tidak berhenti ketika bayi sudah lahir.

Jika ada keluhan yang terasa tidak biasa selama hamil maupun setelah melahirkan, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter, ya, Bunda. Lebih baik memeriksakan diri lebih awal daripada mengabaikan tanda yang ternyata membutuhkan penanganan.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda