Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Sakit Perut saat Hamil Dikira Cuma Masuk Angin, Ternyata Tanda Kondisi Langka dan Berbahaya

Dwi Indah Nurcahyani   |   HaiBunda

Kamis, 10 Sep 2026 17:55 WIB

Tired stressed pregnant woman sitting on a couch and holding her belly
Sakit Perut saat Hamil Dikira Cuma Masuk Angin, Ternyata Tanda Kondisi Langka dan Berbahaya/Foto: Getty Images/damircudic
Daftar Isi
Jakarta -

Sakit perut menjadi gejala ringan yang sebenarnya tak perlu dikhawatirkan. Tapi ada juga lho, Bunda, kondisi sakit perut saat hamil dikira cuma masuk angin, ternyata tanda kondisi langka dan berbahaya.

Siapa pernah menyangka jika berawal dari sakit perut yang dianggap biasa justru menjadi kondisi serius yang mengerikan saat kehamilannya. Ya, seorang perempuan bernama Tracey Harrington McCoy mengalami kehamilan heterotopik, dengan satu embrio ditanamkan di rahim dan satu lagi di ovarium, yang menyebabkan operasi darurat setelah perdarahan internal.

Kisah kehamilan yang rumit

Dikutip dari Parents, dua tahun sebelumnya, setelah setahun mencoba hamil, dan dua bulan menjalani perawatan kesuburan intrauterin, akhirnya Tracey hamil. Karena dirinya menjalani perawatan kesuburan, kehamilannya pun dipantau dengan ketat melalui USG internal. Pada usia empat, lima, dan enam minggu, dokter mengonfirmasi dirinya bahwa satu embrio sehat berkembang sesuai harapan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Sehari setelah USG enam minggu, dirinya merasakan nyeri tajam di sisi kanannya, sesuatu yang belum pernah dialami sebelumnya. Karena khawatir, dirinya menelpon dokter kandungan dan berbicara dengan seorang perawat.

"Kedengarannya seperti gas," katanya. Kemudian, Tracey meyakinkan dokter bahwa dirinya tahu bagaimana rasanya gas, tapi dokter bersikeras bahwa kehamilan bisa menyebabkan gas parah. Karena USG internal Tracey normal sehari sebelumnya, dokter pun tidak khawatir.

Meski dikatakan tak perlu khawatir, ternyata rasa sakit yang dirasakan Tracey tidak menghilang. Justru, rasanya makin parah, dan berganti antara denyutan tumpul dan sensasi tajam yang menusuk. Dengan gemetar, Tracey menelepon dokter lagi.

USG lain menunjukkan bahwa bayinya baik-baik saja, sehat, detak jantung kuat. Dokter menginfokan bahwa mungkin informasinya sulit dipercaya, tapi itu memang hanya gas. "Saya tidak bisa menghitung berapa banyak perempuan yang datang karena takut keguguran, dan itu hanya gas!" dokter meyakinkan dirinya.

Namun, saat Tracey mengemudi di perjalanan pulang, ia membungkuk kesakitan. Ia tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres pada dirinya.

Diagnosis yang terlambat

Tiga jam kemudian, suami Tracey mendapati dirinya meringkuk, hampir tidak bisa bergerak atau berbicara. Dalam kepanikan, suaminya menggendong Tracey ke mobil dan segera membawanya ke rumah sakit.

Para dokter tidak membuang waktu. Setelah berjanji obat itu tidak akan membahayakan bayi, mereka memberikan morfin untuk mengatasi rasa sakitnya. Lalu, mereka berusaha keras mencari tahu apa yang salah.

Selama 45 menit yang menyiksa, seorang radiolog melakukan USG internal lagi. Akhirnya, mereka menemukan masalahnya. "Saya mengalami perdarahan di dalam. Saat itu, saya sudah kehilangan banyak darah. Setiap gerakan mengirimkan rasa sakit yang membakar dan menusuk tubuh,"ujar Tracey.

Pada pukul 1 pagi, Tracey pun segera dibawa ke ruang operasi darurat untuk mencari sumber perdarahan dan melakukan tindakan agar perdarahan berhenti. Beberapa jam kemudian, ketika dirinya terbangun, suaminya tampak sangat lelah, begitu juga dengan dokter. Dengan suara lambat dan hati-hati, sang suami menjelaskan apa yang terjadi.

Dalam harapan Tracey, dirinya hanya menjalani operasi dan kemudian dokter menemukan kista ovarium pecah. Namun kenyataannya, dokter menemukan sesuatu yang jauh lebih mengkhawatirkan yakni adanya embrio kedua, yang ditanamkan di ovarium dirinya. Saluran itu ternyata pecah dan menyebabkan perdarahan internal yang parah. Diagnosisnya ialah terjadi kehamilan heterotopik.

Kenali kehamilan heterotopik

Kehamilan heterotopik terjadi pada sekitar 1 dari 30 ribu kehamilan yang dikandung secara alami, tetapi jauh lebih umum pada orang yang menjalani perawatan kesuburan, dengan perkiraan berkisar antara 1 dari 100 hingga 1 dari 10 ribu kehamilan.

Kehamilan ini merupakan kondisi yang sangat langka dan berbahaya di mana kedua kehamilan berkembang secara bersamaan, satu di dalam rahim dan satu lagi di luar rahim. Dalam kebanyakan kasus, kehamilan ektopik menempel di tuba fallopi, tetapi dalam kasus yang jarang, dapat menempel pada serviks, ovarium, atau bahkan perut. 

Tantangan terbesar dalam kehamilan heterotopik adalah betapa sulitnya diagnosis. Gejala seperti bercak atau nyeri perut sering diabaikan sebagai efek samping yang diharapkan dari kehamilan terutama ketika USG mengonfirmasi kehamilan yang sehat di rahim. Karena hal ini, lebih dari setengah kehamilan heterotopik tetap tidak terdeteksi hingga operasi darurat seperti dikutip dari laman Parents.

Komplikasi seperti ini tidak hanya mengancam jiwa bagi ibu hamil tetapi juga membahayakan kehamilan. Itulah mengapa penting untuk mengetahui gejala dari indikasi, terutama bagi mereka yang menjalani perawatan kesuburan. Meskipun kehamilan heterotopik dapat terjadi secara alami, kehamilan ini jauh lebih umum setelah perawatan kesuburan.

Gejala kehamilan heterotopik

Mengenali gejala kehamilan heterotopik menjadi langkah penting agar ibu hamil bisa mendeteksi lebih awal kondisi yang mungkin dialaminya. Adapun gejala utama dari kehamilan heterotopik meliputi sebagai berikut:

1. Nyeri perut yang terus-menerus dan satu sisi
2. Pusing
3. Pingsan
4. Perdarahan abnormal
5. Mual
6. Muntah

Jika pengobatan kesuburan digunakan, sangat penting untuk mempertimbangkan kondisi ini terutama saat salah satu gejala muncul selama trimester pertama. Meskipun masih jarang, kehamilan heterotopik semakin umum seiring meningkatnya penggunaan teknologi reproduksi berbantuan.

Untuk itu, ada baiknya, konsultasikan dengan dokter jika memang merasakan gejala-gejala di atas sehingga dapat terdeteksi lebih awal kondisi tersebut. Semoga informasinya membantu ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda