Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Hamil tapi Tidak Mual dan Muntah, Benarkah Lebih Berisiko Keguguran? Ini Faktanya

Dwi Indah Nurcahyani   |   HaiBunda

Selasa, 08 Sep 2026 13:59 WIB

Apakah Ibu Hamil Boleh Konsumsi MSG? Cek Faktanya!
Hamil tapi Tidak Mual dan Muntah, Benarkah Lebih Berisiko Keguguran? Ini Faktanya/Foto: iStock

Mual dan muntah menjadi gejala di awal kehamilan yang mengganggu. Bagaimana jika hamil tapi tidak mual dan muntah, benarkah lebih berisiko keguguran? Ini faktanya.

Kehamilan memang identik dengan morning sickness ya, Bunda. Tetapi kenyataannya, ada juga lho, Bunda hamil yang tidak mengalami fase tersebut. Kalau Bunda salah satunya, sepertinya tidak perlu khawatir berlebihan. Sebab, kasus seperti ini juga banyak dialami perempuan di luar sana. 

Dalam penelitian terbaru menunjukkan bahwa perempuan yang mengalami mual pagi mungkin memiliki risiko keguguran yang lebih rendah. Penelitian tersebut dipublikasikan di Journal of the American Medical Association dan menemukan bahwa mengalami mual dan mual saat hamil dikaitkan dengan penurunan risiko kehilangan kehamilan sebesar 50 hingga 75 persen.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Studi tersebut diketahui merupakan studi tunggal dan belum diketahui apakah faktor lain juga dapat memengaruhi hasil untuk kedua kelompok perempuan tersebut. Hal terpenting ialah jika Bunda tidak mengalami mual pagi, ini tidak berarti Bunda memiliki risiko keguguran yang lebih tinggi seperti dikutip dari laman Tommys.

Sebab, gejala kehamilan memang sangat bervariasi dari setiap perempuan dan setiap kehamilan. Penting untuk diingat bahwa tidak ada yang namanya 'normal'. Penelitian lebih lanjut tentang keguguran selalu diterima, tetapi sangat penting bagi perempuan hamil yang tidak mengalami mual atau muntah untuk tidak khawatir. 

Studi ini hanya menunjukkan sebuah kaitan yang saat ini belum dapat dijelaskan sepenuhnya. Jika Bunda memiliki kekhawatiran tentang gejala kehamilan, konsultasikan dengan bidan atau dokter untuk mendapatkan saran lebih lanjut.

Seberapa umum kasus keguguran dalam kehamilan?

Keguguran adalah kehilangan kehamilan selama 24 minggu pertama. Keguguran sering disebut sebagai keguguran dini atau atau keguguran terlambat. Keguguran dini terjadi antara tanggal haid terlewat, hingga 13 minggu kehamilan.

Keguguran dini lebih sering terjadi daripada yang Bunda kira, sering terjadi sebelum ibu menyadari bahwa dia hamil. Akibatnya, banyak kehilangan darah awal terjadi pada ibu yang hanya menganggap perdarahan adalah haid normal.

Sementara, keguguran terlambat terjadi antara minggu ke-14 hingga ke-24 kehamilan. Dan, kasus ini jauh lebih jarang terjadi. Meskipun banyak perempuan mengalami keguguran dalam hidupnya, jangan lupa bahwa hanya 1 dari 100 yang mengalami keguguran berulang kali dan mayoritas besar perempuan kemudian memiliki bayi yang sehat.

Benarkah hamil tanpa mual muntah, risiko keguguran lebih rendah?

Mengutip dari laman Hehalth.harvad, lebih dari tiga perempat perempuan melaporkan mual dengan atau tanpa muntah di awal kehamilan. Mual dan muntah selama kehamilan dapat merusak kenyamanan dan kualitas hidup perempuan. Banyak yang berspekulasi bahwa mual adalah tanda baik yang menunjukkan kehamilan yang sehat, tetapi sampai sekarang, bukti kuat yang mendukung gagasan ini masih kurang.

Sebuah studi terbaru di JAMA Internal Medicine memberikan pencerahan baru tentang masalah ini. Studi ini sangat kuat karena pasien didaftarkan sebelum konsepsi, dan mereka mencatat gejala mual dan muntah bahkan sebelum mereka tahu bahwa mereka hamil. Desain studi ini dikenal sebagai kohort prospektif dan prakonsepsi. 

Perempuan yang berpartisipasi dalam studi ini memiliki satu atau dua kehilangan kehamilan sebelumnya. Hampir dua pertiga perempuan melaporkan mual pada minggu kedelapan kehamilan, dan lebih dari seperempat mengalami mual dan muntah. Mual saja atau mual dengan muntah dikaitkan dengan penurunan risiko kehilangan kehamilan sebesar 50 persen hingga 75 persen.

Mual dan muntah selama kehamilan sering disebut morning sickness, tetapi lebih tepat disebut 'mual sepanjang hari' karena dapat terjadi kapan saja, termasuk di malam hari. Biasanya mulai pada minggu kedelapan kehamilan dan hilang pada trimester kedua. Bagi beberapa perempuan yang kurang beruntung, kondisi ini berlangsung selama beberapa minggu atau bulan.

Tetapi, Bunda tidak perlu khawatir. Sebab, perubahan pola makan dan gaya hidup dapat membantu meringankannya. Kebanyakan perempuan merasa makan roti panggang atau kerupuk di pagi hari, bahkan sebelum bangun dari tempat tidur, adalah trik yang baik, karena perut kosong justru memperburuk mual. Demikian pula, menggigit kerupuk secara berkala, minum cairan, dan makan dalam porsi kecil dan sering daripada tiga kali besar juga dapat membantu. 

Jahe, baik itu yang terbuat dari jahe asli, atau permen jahe telah terbukti dapat meredakan mual. Selain itu, vitamin B6 Suplemen dan doxylamine, obat yang ditemukan dalam obat tidur yang dijual bebas, juga dapat membantu meredakan mual yang muncul. Bunda juga bisa menggunakan obat resep yang menggabungkan vitamin B6 dan doxylamine. Tidak perlu khawatir ya, Bunda, kombinasi atau gabungan dari obat tersebut aman digunakan karena obat ini memang aman dikonsumsi selama kehamilan.

Jika masih ragu, konsultasikan hal tersebut dengan dokter sehingga Bunda mendapatkan informasi terbaik sesuai dengan kesehatan kehamilan Bunda. Semoga informasinya membantu ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!



(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda