kehamilan
Program Bayi Tabung Bisa Dapat Anak Kembar, Benarkah? Dokter Ungkap Faktanya
HaiBunda
Kamis, 03 Sep 2026 11:05 WIB
Daftar Isi
Memiliki anak kembar menjadi keinginan sebagian pasangan di luar sana agar sekali persalinan bisa mendapatkan lebih dari satu anak. Katanya, program bayi tabung bisa dapat anak kembar, benarkah? Dokter ungkap faktanya.
Mendapatkan kehamilan mungkin tampak mudah untuk banyak pasangan. Tetapi, sebagian lainnya masih ada yang merasa kesulitan memilikinya. Bahkan, solusi memiliki anak lewat program bayi tabung pun ditempuh untuk mewujudkan keinginan tersebut.
Nah, banyak yang pasangan yang ternyata memanfaatkan program bayi tabung untuk memiliki bayi, bahkan bayi kembar lho, Bunda. Lantas, benarkah jika program bayi tabung atau IVF bisa mewujudkan hal tersebut?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Prof Alan Peaceman, MD, seorang profesor dan Kepala Kedokteran Maternal-Janin Di Northwestern University Feinberg School of Medicine, bahwa pasien biasanya sangat fokus untuk mendapatkan kehamilan dalam bentuk apa pun. Sehingga, kekhawatiran dengan kehamilan kembar menjadi hal sekunder.
Program bayi tabung untuk dapatkan anak kembar
Namun, biar kenyataannya tampak menggemaskan dan tidak perlu kerja dobel untuk mendapatkan anak lebih dari satu lewat satu persalinan, memiliki anak kembar bukan tanpa risiko ya, Bunda. Dibandingkan dengan memiliki satu bayi, anak kembar mungkin dapat mengalami masalah kesehatan serius, bahkan risiko yang dapat mengancam jiwa mereka termasuk kelahiran prematur, berat lahir rendah, dan cacat lahir.
Untuk itu, sebelum memutuskan memiliki kehamilan kembar melalui IVF, ada baiknya menyimak kelebihan dan kekurangan dari masing-masing sisi, Bun:
1. Biaya IVF perlu dipikirkan
Biaya progam bayi tabung biasanya tidak ditanggung perusahaan asuransi meski ada juga perusahaan asuransi yang memberikan benefit tersebut. Bagi yang tidak memiliki benefit bayi tabung, hal tersebut membuat pasien menanggung biaya IVF sendiri.
Di AS sendiri, untuk satu siklus IVF, biaya yang dibutuhkan sekira USD12.500, kata Elizabeth Ginsburg, MD, President dari Society for Assisted Reproductive Technology (SART) dan direktur medis teknologi reproduksi berbantu di Brigham and Women Hospital di Boston.
Alhasil, bagi sebagian orang, mereka hanya mampu dalam kemampuan yang terbatas, sekali atau dua kali. Sementara, program IVF sendiri tidak selalu berhasil di siklus pertama.Â
2. Risiko medis dari kelahiran kembar
Para ahli kesehatan banyak yang tidak menyetujui mencoba memiliki anak kembar karena merupakan usaha yang berisiko. Risiko tersebut diantaranya kematian bayi, kelahiran prematur, berat lahir rendah, cacat lahir, dan risiko bagi ibu seperti preeklamsia, diabetes gestasional, perdarahan, dan lainnya, seperti dikutip dari laman WebMd.
Meskipun ada risiko-risiko yang menghantui, banyak juga kasus anak kembar lahir tepat waktu dan lahir sehat. Selain itu, meskipun tingkat kematian bayi di antara bayi kembar jauh lebih tinggi dibandingkan bayi tunggal, mayoritas bayi kembar tidak meninggal.
Catatan CDC menunjukkan sekitar 30 dari 1.000 anak kembar AS yang lahir pada 2006 tercatat meninggal satu bayi, jauh dibandingkan pada kasus bayi tunggal yakni enam per 1.000 bayi tunggal. Jadi, bukan berarti semua anak kembar akan mengalami komplikasi, tetapi memang peluang mereka tidak sebaik bayi tunggal.
Mengingat risiko yang muncul relatif ada terkait kehamilan kembar, sebagian dokter tidak menyarankan mencoba memiliki anak kembar. "Siapa pun yang datang meminta kehamilan kembar, kami akan membujuk dan mencoba mereka berpikir dengan benar,"kata Mark Perloe, MD, direktur medis Georgia Reproductive Specialists di Atlanta.
Faktanya memang, dokter tidak bisa menjamin anak kembar di awal program IVF. SART dan The American Society of Reproductive Medicine (ASRM) memiliki pedoman tentang berapa banyak embrio yang harus dipindahkan ke pasien IVF, berdasarkan usia, riwayat reproduksi, dan kualitas embrio.Â
Namun, tidak semua embrio yang ditransfer menghasilkan kelahiran hidup, dan bahkan jika hanya satu embrio yang dipindahkan, embrio itu bisa terbelah sehingga menghasilkan kembar. Â Singkatnya ialah, hasil IVF tidak sepenuhnya berada dalam kendali pasien atau dokter.
Risiko kelahiran prematur adalah perhatian utama bagi Phyllis Dennery, MD, FAAP. Sebagai kepala divisi neonatologi di Children Hospital of Philadelphia, ia melihat langsung komplikasi yang dapat terjadi pada anak kembar dan anak kembar lainnya.
Dennery menjelaskan bahwa semakin banyak embrio di rahim, semakin besar kemungkinan kelahiran prematur dan komplikasinya, seperti paru-paru, otak, usus, dan perdarahan di otak.
Mempertimbangkan risiko bayi kembar via bayi tabung
Pasien IVF sering kali berubah pikiran terkait keinginan mereka memiliki anak kembar meski sudah mengetahui risiko-risiko tersebut. "Saya pikir ini benar-benar masalah edukasi," kata Ginsburg.
Terkait risiko kehamilan bayi kembar, itulah yang ditemukan oleh ahli endokrinologi reproduksi Ginny Ryan, MD, dan rekan-rekannya pada tahun 2007 ketika mereka mempelajari 110 pasangan yang menjalani IVF di klinik University of Iowa di Iowa City.
Survei menunjukkan bahwa ketika pasien pertama kali datang ke klinik, 29 persen mengatakan anak kembar adalah hasil IVF yang paling mereka inginkan. Setelah membaca sebuah brosur dan berbicara dengan dokter tentang risiko yang terkait dengan kehamilan kembar, angka itu turun menjadi 14 persen.
Namun, dokter mengatakan bahwa ada juga pasien yang ada dan sudah mengetahui risikonya, tetapi beberapa diantaranya tetap kesulitan menerima realita itu. "Itu memang sifat manusia," kata Ryan.Â
"Ketika kamu telah menjalani perawatan infertilitas selama bertahun-tahun, ada fokus yang sangat besar hanya pada kehamilan sehingga sulit melihat gambaran besar sejauh apa yang akan terjadi selama kehamilan, apa yang akan terjadi setelah kehamilan. Ini benar-benar seperti pandangan dalam terowongan menuju kehamilan. Dan saya bisa mengerti itu."
CDC melaporkan bahwa tingkat kelahiran kembar naik 70 persen antara tahun 1980 dan 2004, namun stabil antara tahun 2005 dan 2006 dengan tingkat 32.1 anak kembar per 1.000 kelahiran di AS.
Ya, kehamilan kembar nyatanya memang selalu saja ada yang menginginkannya meski ada risiko di baliknya. Bagi John Moore, MD, FAAP, kepala pediatri di Carilion Clinic di Roanoke, yang sudah mengikuti penelitian tentang anak kembar mengatakan bahwa menjadi ayah anak kembar tidaklah mudah. Ia mencatat bahwa anak kembar yang lahir sehat dan lahir cukup bulan pun tetap membuat stres orang tuanya.
"Ini jauh lebih sulit daripada yang orang kira. Orang perlu menyadarai bahwa ketika bayi lahir, itu ada awal dari proses dengan anak kembar, bukan akhir,"katanya.
Apakah Bunda sudah siap dengan semua risikonya jika ingin mengupayakan anak kembar? Ada baiknya konsultasikan dengan dokter terlebih dahulu ya, Bunda, untuk mendapatkan gambaran terbaik dari sisi medis dan juga besaran peluang yang bisa Bunda dapatkan dengan riwayat kesehatan yang Bunda miliki.
Semoga informasinya membantu, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Kehamilan
Kenapa Ya Bayi Tabung Sering Hasilkan Anak Kembar?
Kehamilan
4 Rumah Sakit Penyedia Bayi Tabung & Inseminasi Pilihan Bunda
Kehamilan
Pertimbangan Penting Sebelum Memulai Program Bayi Tabung
Kehamilan
Waktu yang Dibutuhkan untuk Jalani Prosedur Bayi Tabung
Kehamilan
Perjuangan Ustaz Riza & Istri Punya Anak Kembar Laki-laki, Habiskan Biaya Rp300 Juta
10 Foto
Kehamilan
10 Bunda Seleb Pernah Gagal Program Bayi Tabung, Ada yang Mencoba Enam Kali
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Kisah Bunda Menantikan Kehamilan 12 Th, Malah Melahirkan Kembar 5 secara Alami
Kisah Bunda Melahirkan 5 Bayi Kembar setelah 12 Tahun Menanti Momongan
Kisah Pasangan Suami Istri yang Berhasil Mendapatkan Bayi Kembar 4 Melalui Program IVF