kehamilan
Studi Terbaru Ungkap Kaitan Kadar Lemak Tubuh Tinggi saat Hamil dengan Risiko ADHD pada Anak
HaiBunda
Sabtu, 29 Aug 2026 11:15 WIB
Kondisi tubuh ibu selama kehamilan ternyata dapat berkaitan dengan kesehatan bayi setelah lahir. Studi terbaru menunjukkan bahwa kadar lemak tubuh yang tinggi saat hamil mungkin terkait dengan meningkatnya risiko ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) pada anak, Bunda.
Temuan yang diterbitkan dalam jurnal Brain, Behavior, and Immunity ini menyoroti pentingnya menjaga kesehatan ibu selama kehamilan. Secara spesifik, studi memberikan bukti bahwa kadar lemak tubuh yang lebih tinggi selama kehamilan dikaitkan dengan peningkatan peradangan sistemik, yang pada gilirannya memprediksi lebih banyak gejala ADHD pada balita.
Studi meta-analisis sebelumnya juga menunjukkan bahwa anak-anak yang lahir dari ibu kelebihan berat badan atau obesitas selama kehamilan memiliki peningkatan kemungkinan relatif sebesar 30 hingga 60 persen untuk menerima diagnosis gangguan ADHD. Data tersebut dibandingkan dengan anak-anak dari ibu dengan komposisi tubuh yang sehat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara anatomi, jaringan adiposa atau lemak tubuh aktif memproduksi dan mengeluarkan berbagai molekul imun yang disebut sitokin. Ketika kadar lemak tubuh meningkat, sinyal kimia ini cenderung memicu keadaan peradangan sistemik pada tingkat rendah yang persisten dan sebanding dengan jumlah kelebihan jaringan adiposa.
Selama kehamilan, faktor inflamasi atau peradangan tersebut beredar dalam darah ibu dan dapat memengaruhi lingkungan janin yang sedang berkembang. Peningkatan sitokin juga dapat mengubah fungsi plasenta dan komposisi cairan amnion, yang berhubungan dengan perkembangan otak janin dan kerentanan terhadap kondisi neurodevelopmental.
Profesor di departemen psikiatri dan ilmu saraf perilaku di Oregon Health & Science University, Elinor Sullivan, mengungkap pandangan tentang penelitian ini. Ia melihat peluang untuk mengeksplorasi pengaruh awal dari peradangan pada kondisi ADHD pada anak.
"Saya selalu terpesona oleh gagasan bahwa perkembangan otak dimulai sebelum seorang anak lahir," ungkap Sullivan.
"Kita tahu bahwa lingkungan prenatal memainkan peran penting dalam membentuk kesehatan seumur hidup, namun kita masih relatif kurang memahami bagaimana faktor-faktor seperti nutrisi ibu, kesehatan metabolisme, stres, dan kesehatan mental memengaruhi perkembangan otak."
Penelitian ini bertujuan untuk memisahkan pengaruh lemak tubuh dari faktor prenatal umum lainnya seperti diet dan stres psikologis. Sullivan mengatakan bahwa ia ingin studi ini dapat mengidentifikasi faktor-faktor yang bisa dimodifikasi selama kehamilan dan dapat meningkatkan perkembangan anak.
"Jika kita dapat lebih memahami pengaruh awal ini, kita berpotensi untuk merancang intervensi yang mendorong perkembangan otak yang sehat sebelum gejala gangguan perkembangan saraf muncul," ujar Sullivan.
Detail tentang studi kaitan lemak tubuh bumil dan ADHD anak
Dalam studi ini, para peneliti berupaya menentukan apakah peradangan selama kehamilan bertindak sebagai jembatan biologis yang menghubungkan lemak tubuh ibu dengan tanda-tanda awal ADHD pada balita.
Studi melibatkan 297 ibu hamil dan 302 anak. Selama trimester kedua, khususnya antara minggu ke-24 dan ke-26 kehamilan, para ibu hamil mengunjungi klinik untuk mengisi kuesioner perilaku dan menjalani penilaian biologis.
Tim peneliti lalu mengukur persentase lemak tubuh ibu menggunakan air displacement plethysmography, metode yang sangat presisi untuk melacak kepadatan seluruh tubuh di dalam ruang tertutup khusus dan untuk menentukan rasio pasti antara lemak dan jaringan otot.
Nah, untuk menilai peradangan selama kehamilan, para penulis mengumpulkan sampel darah puasa dan menganalisis plasma untuk panel sitokin yang komprehensif. Mereka lalu mengelompokkan hasilnya menjadi satu skor peradangan menyeluruh.
Sepanjang analisis, para peneliti mengontrol beberapa variabel pengganggu potensial. Variabel-variabel ini meliputi pendapatan keluarga, pendidikan ibu, gejala ADHD ibu sendiri, tekanan psikologis pasca persalinan, dan penilaian pengamat terhadap perilaku pengasuhan sensitifnya selama sesi bermain yang direkam.
Saat mengevaluasi data, para penulis menemukan bahwa kadar lemak tubuh ibu yang lebih tinggi selama trimester kedua dikaitkan dengan peningkatan peradangan. Sementara itu, kualitas diet dan tekanan psikologis tidak menunjukkan hubungan dengan peradangan selama kehamilan jika dipertimbangkan bersamaan dengan lemak tubuh.
Lemak tubuh ibu muncul sebagai pendorong utama peningkatan penanda inflamasi. Temuan ini bertentangan dengan ekspektasi awal tentang bagaimana berbagai perilaku kesehatan berinteraksi selama kehamilan.
"Saya memperkirakan bahwa obesitas, nutrisi, dan stres selama kehamilan semuanya akan berhubungan dengan peradangan," kata Sullivan kepada PsyPost.
"Namun, kami menemukan bahwa adipositas ibu menunjukkan hubungan yang paling kuat."
Demikian studi terbaru yang mengungkap kaitan kadar lemak yang tinggi selama kehamilan dengan kemungkinan ADHD pada anak setelah lahir. Semoga informasi ini bermanfaat ya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/pri)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Kehamilan
Tips Menjalani Kehamilan untuk Bunda dengan ADHD agar Nyaman dan Lancar
Kehamilan
7 Dampak Obesitas Ibu Hamil pada Janin, Bisa Sebabkan Kelainan Bawaan
Kehamilan
Bisakah ADHD pada Anak Dicegah Sejak Kehamilan? Simak Faktanya
Kehamilan
Stres saat Hamil Berisiko Dua Kali Lipat Sebabkan Gangguan Perilaku pada Anak
Kehamilan
Bahaya Kelebihan Parasetamol pada Bumil, Sebabkan Anak ADHD & Autisme
7 Foto
Kehamilan
Intip 7 Potret Baby Moon Siti Badriah di Bali, Seru Bareng Suami Bun
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Tips agar Berat Badan Nggak Naik Berlebih Saat Hamil
Bunda, Kenali Yuk Risiko Obesitas pada Ibu Hamil dan Bayi
Lahap Terlalu Banyak Makanan Berlemak saat Hamil Berdampak pada Perkembangan Lever Janin