Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

IVF Sambil Liburan ke Eropa Jadi Tren Baru Promil di Kalangan Pasangan AS

Annisa Aulia Rahim   |   HaiBunda

Selasa, 01 Sep 2026 07:30 WIB

Ilustrasi liburan
IVF Sambil Liburan ke Eropa Jadi Tren Baru Promil di Kalangan Pasangan AS/Foto: Getty Images/mbbirdy
Daftar Isi
Jakarta -

Menjalani program bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF) biasanya identik dengan rutinitas pemeriksaan, suntikan hormon, kontrol ke dokter, hingga menunggu hasil tes kehamilan. Namun, bagi sejumlah pasangan di Amerika Serikat (AS), proses promil kini dikombinasikan dengan perjalanan ke Eropa.

Fenomena ini menjadi sorotan setelah The Washington Post memberitakan pasangan-pasangan AS yang memilih menjalani perawatan IVF di Eropa sekaligus menikmati liburan. Salah satu negara yang menjadi tujuan adalah Yunani, yang dikenal memiliki layanan fertilitas untuk pasien internasional.

Fenomena tersebut sebenarnya bukan metode promil baru. Praktik bepergian ke negara lain untuk mendapatkan perawatan kesuburan dikenal sebagai cross-border reproductive care (CBRC) atau fertility tourism. Namun, kombinasi antara perawatan IVF dan liburan membuat fenomena ini semakin menarik perhatian.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


IVF di Eropa sekaligus liburan

Dikutip dari The Washington Post, Emilie dan Justin Solomon dari Florida, AS awalnya mendapatkan perkiraan biaya sekitar US$40.000 untuk satu siklus IVF di Florida. Mereka kemudian memilih menjalani perawatan di Athena, Yunani.

Menurut laporan tersebut, biaya perawatan IVF mereka di Yunani, termasuk obat-obatan, proses fertilisasi, penyimpanan embrio, dan transfer embrio, berada di kisaran US$12.000, belum termasuk biaya perjalanan.

Menariknya, perjalanan tersebut tidak hanya diisi dengan jadwal medis. Pasangan ini juga mengunjungi sejumlah destinasi wisata di Yunani, termasuk Pulau Milos. Mereka kemudian kembali ke Yunani untuk menjalani tahap transfer embrio.

Kisah tersebut menggambarkan bagaimana sebagian pasangan mencoba menjadikan perjalanan menjalani IVF sebagai pengalaman yang tidak sepenuhnya berpusat pada tekanan pengobatan.

Kenapa memilih IVF di luar negeri?

Biaya menjadi salah satu faktor yang membuat pasangan mempertimbangkan perawatan fertilitas di luar AS. Selain itu, perbedaan regulasi, akses terhadap jenis perawatan tertentu, waktu tunggu, serta persepsi mengenai kualitas layanan juga dapat menjadi pertimbangan.

Fenomena ini sebenarnya sudah diteliti selama bertahun-tahun. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Human Reproduction pada 2010 melibatkan 1.230 pasien dari 49 negara yang mendapatkan perawatan reproduksi lintas negara di enam negara Eropa.

Peneliti menemukan bahwa alasan pasien bepergian ke luar negeri cukup beragam. Sebanyak 54,8 persen menyebut alasan hukum atau regulasi, sementara 43,2 persen mempertimbangkan kualitas layanan dan 29,1 persen memiliki riwayat kegagalan perawatan sebelumnya.

Artinya, keputusan menjalani IVF di negara lain tidak selalu berkaitan dengan harga. Ada pasien yang mencari akses terhadap prosedur tertentu, aturan yang lebih fleksibel, waktu tunggu yang lebih singkat, atau layanan yang menurut mereka lebih sesuai dengan kebutuhan.

Yunani jadi salah satu tujuan fertility tourism

Yunani termasuk negara yang semakin dikenal sebagai tujuan perawatan kesuburan bagi pasien internasional.

Studi internasional yang dipublikasikan pada 2024 meneliti pasien yang bepergian ke Yunani untuk mendapatkan perawatan fertilitas. Dari 99 responden, tiga alasan utama yang dilaporkan adalah ketidakpuasan terhadap layanan di negara asal, persepsi mengenai tingkat keberhasilan yang lebih tinggi di Yunani, serta regulasi yang dianggap lebih fleksibel. Para responden juga menilai biaya dan waktu tunggu di Yunani lebih baik dibandingkan negara asal mereka.

Meski begitu, hasil penelitian tersebut tidak berarti IVF di Yunani secara otomatis lebih berhasil. Data tersebut menggambarkan pengalaman dan persepsi pasien yang memilih menjalani perawatan di sana, bukan bukti bahwa bepergian ke Yunani meningkatkan peluang kehamilan untuk semua orang.

Walaupun sekarang kembali ramai dibicarakan, fertility tourism sebenarnya sudah berlangsung cukup lama. Sebuah studi oleh European Society of Human Reproduction and Embryology (ESHRE) menemukan bahwa pasien dari berbagai negara Eropa telah bepergian ke negara lain untuk mendapatkan perawatan reproduksi. Peneliti bahkan memperkirakan setidaknya 11.000–14.000 pasien per tahun melakukan perjalanan lintas negara untuk mendapatkan perawatan reproduksi berdasarkan data pada periode penelitian tersebut.

Kajian sistematis lainnya juga menyebut cross-border reproductive care sebagai fenomena global yang berkembang dan memiliki dimensi medis, ekonomi, hukum, serta etika. Jadi, istilah “tren baru” dalam konteks pasangan AS lebih tepat dipahami sebagai fenomena yang semakin mendapat perhatian, bukan berarti IVF sambil liburan baru saja ditemukan.

Apakah IVF sambil liburan bisa lebih santai?

Sekilas, konsepnya memang terdengar menarik. Daripada menghabiskan seluruh waktu di klinik, pasangan bisa menyempatkan diri menikmati destinasi wisata ketika kondisi tubuh dan jadwal pengobatan memungkinkan.

Namun, IVF tetap merupakan prosedur medis yang membutuhkan pemantauan ketat.

Stimulasi ovarium, pemeriksaan kadar hormon, USG, pengambilan sel telur, fertilisasi, perkembangan embrio, hingga transfer embrio memiliki jadwal yang tidak bisa sepenuhnya disesuaikan dengan agenda wisata. Karena itu, pasangan yang menjalani IVF di luar negeri tetap perlu menempatkan perawatan medis sebagai prioritas utama, bukan sebaliknya.

Menjalani IVF di negara lain juga memiliki sejumlah tantangan. Pasangan harus mempertimbangkan perjalanan udara, koordinasi dengan klinik, komunikasi dengan tenaga medis, perbedaan sistem kesehatan, hingga rencana perawatan setelah kembali ke negara asal.

Penelitian kualitatif terhadap 51 pasien yang menjalani perawatan fertilitas lintas negara menunjukkan bahwa sebagian besar peserta memiliki pengalaman positif. Namun, mereka juga menghadapi tantangan berupa logistik dan koordinasi perawatan, ketidakpastian, serta perbedaan budaya.

Hal ini penting karena perawatan tidak selalu selesai ketika pasangan meninggalkan klinik di luar negeri. Pasien mungkin masih membutuhkan pemeriksaan atau konsultasi lanjutan setelah pulang.

Jangan hanya tergiur harga lebih murah

Biaya yang lebih rendah memang bisa menjadi daya tarik. Tetapi pasangan sebaiknya tidak memilih klinik hanya berdasarkan harga.

Sebelum memutuskan IVF di luar negeri, penting untuk mencari tahu kredensial dokter dan klinik, jenis prosedur yang tersedia, tingkat keberhasilan yang dilaporkan dengan metode pengukuran yang jelas, aturan mengenai embrio dan donor, hingga bagaimana koordinasi perawatan dilakukan setelah pasien kembali ke rumah.

Pasangan juga perlu menghitung biaya keseluruhan, bukan hanya biaya paket IVF. Tiket pesawat, hotel, transportasi lokal, makanan, obat-obatan tambahan, pemeriksaan, kemungkinan memperpanjang masa tinggal, dan perjalanan kembali untuk transfer embrio dapat menambah pengeluaran.

Fenomena yang diberitakan The Washington Post menunjukkan bahwa bagi sebagian pasangan AS, Eropa bukan hanya menjadi destinasi liburan, tetapi juga tempat untuk mencari layanan fertilitas yang dianggap lebih sesuai dari sisi biaya, akses, atau regulasi.

Bagi Bunda yang sedang menjalani promil, yang paling penting bukan di mana IVF dilakukan atau seberapa menarik destinasi wisatanya, melainkan memastikan keputusan tersebut dibuat bersama dokter spesialis fertilitas dan berdasarkan informasi medis yang dapat dipercaya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda