Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Plasenta Terlalu Kecil Bisa Jadi Tanda Risiko Kehamilan, Ini Cara Baru Mengukurnya dalam 30 Detik

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Sabtu, 22 Aug 2026 11:15 WIB

Ilustrasi Janin
Plasenta Terlalu Kecil Bisa Jadi Tanda Risiko Kehamilan, Ini Cara Baru Mengukurnya dalam 30 Detik/ Foto: Getty Images/iStockphoto/
Jakarta -

Plasenta merupakan organ penting selama kehamilan. Masalah yang terjadi pada plasenta bisa berdampak buruk pada perkembangan janin, Bunda.

Penelitian sebelumnya menemukan bahwa kelainan pada plasenta telah dikaitkan dengan hasil kehamilan yang buruk, termasuk bayi lahir mati atau stillbirth.

Hingga kini, salah satu masalah plasenta yang masih banyak ditemui ternyata berkaitan dengan ukuran atau volume yang kecil. Nah, mengukur volume plasenta bisa menjadi salah langkah penting untuk mengidentifikasi risiko kehamilan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Sejauh ini, pemantauan plasenta jarang dilakukan. Pemantauan umumnya dilakukan melalui Virtual Organ Computer-aided Analysis (VOCAL), atau metode untuk mengukur volume plasenta dengan USG. Namun, metode ini membutuhkan peralatan canggih, operator terlatih, dan waktu untuk melakukan USG tiga dimensi (3D).

Dalam sebuah studi baru, ilmuwan peneliti dari Yale, Harvey Kliman, telah menemukan alternatif metode baru. Metode ini dapat digunakan untuk memperkirakan volume plasenta dan memiliki keakuratan yang sama dengan metode yang telah digunakan saat ini, Bunda.

Studi yang diterbitkan dalam The Journal of Perinatal Medicine ini menunjukkan alternatif yang menjanjikan dan mudah diakses untuk VOCAL : Estimated Placental Volume (EPV), sebuah metode cepat dan murah yang dapat dilakukan dengan peralatan ultrasound dua dimensi (2D). Studi ini menunjukkan bahwa metode tersebut bisa memberikan perkiraan volume plasenta yang hampir identik dengan yang dihasilkan oleh VOCAL .

"Studi ini telah menunjukkan bahwa metode EPV 2D sederhana yang dikembangkan oleh Yale setara dengan metode VOCAL yang merupakan standar, tetapi mahal dan kompleks. Hal ini dapat mempermudah penilaian ukuran plasenta lebih awal selama kehamilan," kata ilmuwan peneliti di Departemen Obstetri, Ginekologi, dan Ilmu Reproduksi di Fakultas Kedokteran Yale (YSM), Kliman, dilansir Yale News.

Kliman berharap temuan ini akan mendorong evaluasi klinis lebih lanjut terhadap pemantauan plasenta. Hal itu menjadi tujuan yang ia dan mendiang ayahnya, matematikawan Merwin Kliman, telah pikirkan ketika mereka mengembangkan EPV bersama lebih dari satu dekade lalu.

Metode disebut mudah dan murah

Metode ini hanya membutuhkan alat USG genggam yang murah. Dengan pelatihan minimal, penyedia layanan kesehatan dapat menggunakan alat ini untuk mengukur lebar, tinggi, dan ketebalan plasenta.

Pengukuran tersebut dapat dimasukkan ke dalam persamaan estimasi volume, yang ditulis oleh Merwin Kliman, untuk mendapatkan perkiraan volume plasenta. Tes ini hanya membutuhkan waktu 30 detik.

Dalam penelitian ini, Kliman dan penulis senior Roberto Romero, dari Divisi Penelitian Intramural Institut Nasional Kesehatan Anak dan Perkembangan Manusia Eunice Kennedy Shriver, melakukan USG 2D dan 3D pada 58 pasien dengan kehamilan sehat selama kunjungan klinis yang sama. Mereka lalu menggunakan USG 2D untuk menghitung volume plasenta dengan metode EPV dan VOCAL untuk USG 3D.

Ketika mereka membandingkan perkiraan volume plasenta yang diperoleh menggunakan masing-masing metode, Kliman dan Romero menemukan korelasi yang hampir sempurna antara keduanya.

"Para dokter kandungan telah memantau pertumbuhan janin selama beberapa dekade, namun kita belum memiliki metode praktis untuk memantau pertumbuhan organ yang menopang kehidupan janin," ungkap Romero.

"Studi ini menunjukkan bahwa perkiraan volume plasenta yang diperoleh dengan USG 2D memberikan perkiraan ukuran plasenta yang sebanding dengan yang diperoleh dengan metode 3D yang lebih kompleks," sambungnya.

Tim peneliti berharap temuan ini akan memungkinkan studi yang diperlukan untuk menentukan apakah kelainan dalam pertumbuhan plasenta dapat mengidentifikasi kehamilan berisiko sebelum komplikasi klinis berkembang. Faktanya, Kliman sendiri sudah merencanakan studi lain yang bertujuan untuk menentukan pasien mana yang menerima USG selama perawatan prenatal dan mungkin mendapat manfaat dari melakukan EPV untuk mengidentifikasi kehamilan dengan plasenta kecil.

Demikian studi terbaru yang menemukan alat untuk mengukur plasenta dalam 30 detik. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda