Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Miss Indonesia 2014 Maria Rahajeng Berduka, Alami Keguguran karena Kehamilan Ektopik

Dwi Indah Nurcahyani   |   HaiBunda

Kamis, 20 Aug 2026 15:25 WIB

Maria Rahajeng
Miss Indonesia 2014 Maria Rahajeng Berduka, Alami Keguguran karena Kehamilan Ektopik/Foto: Instagram @mariarahajeng
Daftar Isi
Jakarta -

Keguguran bagi perempuan manapun menjadi sebuah peristiwa yang menyedihkan, seperti yang dialami Maria Rahajeng. Simak curhat Maria Rahajeng alami keguguran karena kehamilan ektopik.

Miss Indonesia 2014, Maria Rahajeng tengah berduka karena kehamilannya harus berakhir menyedihkan. Ya, perempuan cantik tersebut harus merelakan kehamilannya tak terselamatkan alias keguguran karena mengalami kehamilan ektopik.

Maria Rahajeng alami keguguran karena kehamilan ektopik

Kehamilan yang dimiliki Maria Rahajeng memang masih berusia dini ya, Bunda. Namun, tetap saja kabar kepergian calon anaknya menjadi sebuah pukulan bagi ia dan suami. Dalam akun Instagram-nya, Maria mengisahkan tahapan demi tahapan yang ia alami saat ia divonis kehamilan ektopik dan mengalami perdarahan serius sebagai tanda keguguran.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Singkat cerita, Maria sendiri baru mengetahui kehamilannya pada 21 Juli 2026. Ia pun sempat mengungkapkan kabar bahagia tersebut dalam unggahannya di media sosial.

"Aku melakukan tes kehamilan pertamaku, hasilnya positif," kata Maria.

Untuk memastikan kehamilannya, Maria pun sempat melakukan tes kehamilan sebanyak tiga kali. Dan ketiga tes yang dilakukannya sama-sama menunjukkan garis dua atau positif hamil.

Pada 24 Juli 2026, Maria mengisahkan kalau dirinya menjalani pemeriksaan USG pertama. Saat itu, usia kehamilan masih sangat muda, sehingga belum ada tanda-tanda bayi yang terlihat jelas. 

Dokter meyakinkan dirinya bahwa kemungkinan besar hal itu terjadi karena pemeriksaan dilakukan terlalu dini. Dokter kemudian memintanya melakukan pemeriksaan ulang dan menjalani pemindaian dalam beberapa minggu. Ia pun diberikan vitamin prenatal dan tetap melanjutkan rencana perjalanan ke Eropa.

Kemudian pada 30 Juli 2026, Maria dan suami tiba di Polandia dan orang tuanya sangat antusiasi karena akhirnya bisa menyampaikan kabar tersebut secara langsung kepada Matthias. "Namun, malam itu, saya mulai mengalami perdarahan. Jauh di lubuk hati, saya tahu ada sesuatu yang tidak beres,"tulis Maria Rahajeng dalam akun Instagramnya @mariarahajeng.

Berlanjut pada 31 Juli 2026, Maria menceritakan bahwa keesokan paginya, Matthias dan orang tuanya membawa dirinya ke klinik setempat di dekat hotelnya.

"Setelah pemeriksaan USG, dokter memberi tahu bahwa saya mengalami keguguran dan kemungkinan akan terus mengalami perdarahan selama sekitar satu minggu. Dokter mengatakan bahwa ada tanda-tanda kehamilan ektopik. Hati saya benar-benar hancur."

Maria dan suami pun begitu terpukul dengan kabar tersebut. "Kami berduka bersama, kami saling menguatkan satu sama lain."

Berlanjut pada 12 Agustus, Maria menuliskan bahwa seminggu setelah perdarahan hebat itu berhenti, ia tiba kembali di Jakarta. Saat pesawat bersiap untuk mendarat, tiba-tiba ia merasakan nyeri yang luar biasa hebat di area panggul.

Dalam sekejab, tubuhnya terasa sangat lemas dan seolah-olah akan pingsan. "Sekali lagi, saya tahu ada sesuatu yang sangat tidak beres."

Malam itu juga, tulisnya, ia pergi ke rumah sakit karena rasa sakitnya semakin memburuk. Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan, dokter memastikan bahwa dirinya mengalami kehamilan ektopik. Ia pun harus menjalani operasi darurat. Ia mengaku benar-benar syok.

Mengenal apa itu kehamilan ektopik

Kehamilan ektopik merupakan kehamilan yang terjadi ketika sel telur yang dibuahi menempel di luar rahim perempuan, yakni paling umum di tuba fallopi. Sementara, tuba fallopi tidak dibuat untuk menampung embrio yang sedang bertumbuh. Kondisi ini pun akhirnya menyebabkan perdarahan pada ibu hamil. 

Kehamilan ektopik sedianya bisa mengancam jiwa perempuan, terutama jika saluran fallopi mereka pecah. Pada kehamilan ektopik yang pecah, dapat menyebabkan perdarahan parah, infeksi, dan terkadang kematian. Kondisi ini merupakan keadaan darurat medis yang perlu mendapatkan peranganan sesegera mungkin dari dokter.

Gejala kehamilan ektopik

Gejala awal kehamilan ektopik memang bisa sangat mirip dengan gejala kehamilan umum. Namun, biasanya mereka akan mengalami gejala tambahan selama kehamilan ektopik termasuk adanya perdarahan vagina, nyeri di perut bagian bawah, panggul, dan punggung bawah, serta pusing atau merasa lemah.

Jika saluran tuba fallopi Bunda pecah, rasa sakit dan perdarahan bisa cukup parah hingga menimbulkan gejala tambahan seperti pingsan, tekanan darah rendah, nyeri bahu, tekanan rektal atau masalah usus, dan lainnya. Selain itu, ketika saluran tuba pecah, Bunda mungkin merasakan nyeri tajam di perut bagian bawah, seperti dikutip dari laman Cleveland Clinic.

Penyebab kehamilan ektopik

Dalam kebanyakan kasus, kondisi yang memperlambat atau menghambat pergerakan sel telur ke tuba fallopi menyebabkan kehamilan ektopik. Hal ini bisa terjadi karena beberapa hal berikut ini ya, Bunda:

1. Bunda memiliki jaringan parut, adhesi, atau peradangan akibat operasi panggul sebelumnya
2. Tuba fallopi Bunda mengalami kerusakan, seperti akibat IMS
3. Terlahir dengan tuba fallopi yang bentuknya tidak beraturan
4. Ada pertumbuhan yang menyumbat tuba fallopi

Bagaimana penanganan pada kehamilan ektopik?

Kehamilan ektopik biasanya ditangani petugas medis dengan menggunakan obat ataupun tindakan operasi. Berikut ini beberapa langkah penanganan pada kasus kehamilan ektopik:

1. Metotreksat

Dalam beberapa kasus, tim medis mungkin menyarankan penggunaan obat bernama  methotrexate untuk menghentikan pertumbuhan sel telur yang telah dibuahi, sehingga kehamilan berakhir. Obat ini seharusnya tidak merusak tuba fallopi Bunda. Dan, Bunda tidak bisa menggunakan obat ini jika saluran tuba fallopi Bunda sudah pecah.

2. Operasi

Tim medis juga kemungkinan mengambil langkah operasi jika saluran tuba fallopi pecah atau jika berisiko pecah. Tindakan ini merupakan operasi darurat dan pengobatan yang menyelamatkan nyawa. Prosedur ini biasanya dilakukan secara laparoskopi (melalui beberapa sayatan kecil di perut) saat Bunda tidur dengan anestesi. Dokter bedah dapat mengangkat seluruh tuba fallopi Bunda dengan sel telur masih di dalamnya atau mengangkat sel telur dari tuba (guna menjaga tuba fallopi Bunda).

Berapa lama perlu menunggu sebelum hamil lagi setelah kehamilan ektopik?

Kemungkinan hamil dengan riwayat kehamilan ektopik sebelumnya memang masih bisa didapatkan ya, Bunda. Hanya saja, risiko kehamilan ektopik memang lebih tinggi setelah Bunda mengalaminya.

Sebaiknya, bicarakan dengan dokter mengenai rencana kehamilan di masa depan setelah menuntaskan pengobatan kehamilan ektopik. Meskipun kehamilan bisa terjadi dengan cepat setelah pengobatan, biasanya akan lebih baik jika menunggu sekira tiga bulan. Waktu ini akan memberi jeda pada tuba fallopi untuk sembuh dan mengurangi risiko kehamilan ektopik lainnya.

Semoga informasinya membantu ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda