Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Kini 3 dari 4 Kehamilan dengan IVF Dihasilkan dari Embrio Beku

Dwi Indah Nurcahyani   |   HaiBunda

Jumat, 21 Aug 2026 21:35 WIB

Ilustrasi embrio atau embrionik
Kini 3 dari 4 Kehamilan dengan IVF Dihasilkan dari Embrio Beku/Foto: Getty Images/iStockphoto/luismmolina
Daftar Isi
Jakarta -

Kemajuan teknologi pada teknologi in vitro fertilization (IVF) semakin canggih karena dapat menghasilkan kehamilan dari embrio beku. Terbaru, kini 3 dari 4 kehamilan via IVF dihasilkan dari embrio beku.

Seiring modernisasi, pengobatan kesuburan di Australia terus meningkatkan peluang sukses kehamilan sekaligus mengurangi risiko bagi bayi dan ibunya. Diketahui bahwa, orang Australia yang menjalani IVF kini bisa mendapatkan peluang lebih baik untuk mendapatkan anak dibandingkan lima tahun sebelumnya. 

Data baru dari Australia dan Selandia Baru menunjukkan bahwa pengobatan yang ada saat ini semakin berkembang. Sehingga, bukan sekadar keberhasilan kehamilan yang ditawarkan tetapi juga pengobatan yang semakin efektif dan lebih aman baik bagi ibu dan bayi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Data dari Australian and New Zealand Assisted Reproduction Database (ANZARD) mencatat bahwa hampir 114 ribu siklus pengobatan IVF pada 2024 menghasilkan lebih dari 20.900 bayi. Hal ini tentu setara dengan satu dari lima siklus yang diinisiasi yang mengarah pada kelahiran hidup.

"Pengobatan kesuburan memainkan peran yang semakin besar dalam membantu keluarga tumbuh," kata Profesor Georgina Chambers, Director of UNSW National Perinatal Epidemiology and Statistics Unit (NPESU) dan penulis utama laporan tersebut.

Teknologi embrio beku

Ia mengatakan bahwa praktik pembekuan baru seperti vitrifikasi embrio telah secara signifikan meningkatkan peluang embrio untuk bertahan dari proses kriopreservasi. Selain itu, ada penggunaan siklus IVF dari embrio beku yang semakin meningkat di mana semua embrio dibekukan dan kemudian dipindahkan pada siklus berikutnya.

Saat ini, sekira 70 persen transfer embrio melibatkan embrio beku. Dalam lima tahun dari 2021 hingga 2024, tingkat kelahiran hidup per transfer embrio meningkat yakni dari 31.2 persen menjadi 33.3 persen untuk embrio beku, dibandingkan dengan peningkatan yang lebih kecil dari 25.4 persen menjadi 26.2 persen untuk embrio segar.

Pembekuan embrio menjadi metode baru

Anggapan umum yang beredar dalam proses IVF sebelumnya ialah bahwa sel telur diambil dan kemudian digunakan untuk membuat embrio dan satu embrio langsung ditransfer ke dalam rahim.

Namun, kenyataannya ialah transfer embrio sering kali sengaja ditunda guna memberi waktu bagi tubuh perempuan untuk pulih dari stimulasi ovarium, sekaligus memberikan fleksibilitas lebih besar untuk melakukan transfer embrio pada kondisi yang lebih optimal.

Laporan tersebut menjadi sebuah sorotan atas adanya perubahan nyata dalam praktik IVF, di mana hampir separuh (44.5 persen) dari siklus IVF menggunakan sel telur segar yang dimulai akhirnya berujung pada pembekuan seluruh sel telur atau embrio untuk penggunaan di masa mendatang. Angka ini meningkat dari 31.6 persen pada lima tahun sebelumnya.

Seperti diketahui bahwa dalam kurun waktu lima tahun dari 2021 hingga 2024, tingkat kelahiran hidup per transfer embrio mengalami peningkatan dari 31.2 persen menjadi 33,3 persen untuk embrio beku, dibandingkan dengan peningkatan yang lebih kecil, yakni dari 25.4 persen menjadi 26.2 persen, untuk embrio segar.

"Kriopreservasi telah lama menjadi fokus utama dalam layanan kesuburan di Australia dan Selandia Baru," ujar Dr. Petra Wale,President of the Fertility Society of Australia and New Zealand (FSANZ), organisasi yang mendanai laporan ANZARD tersebut.

Ia mengatakan bahwa selain metode transfer embrio tunggal, proses ini memungkinkan klinik untuk mengurangi risiko yang terkait dengan kehamilan kembar, sekaligus memberikan peluang terbaik bagi pasien untuk membangun keluarga yang sehat.

"Kriopreservasi kini sangat berhasil sehingga klinik dapat menjadwalkan transfer embrio pada waktu terbaik dalam rangkaian perawatan pasien, serta mempertimbangkan harapan jangka panjang mereka mengenai jumlah anggota keluarga," kata Dr. Wale.

Ditambahkannya bahwa data menunjukkan alasan mengapa pendekatan ini semakin umum dilakukan. Sebab, metode ini dapat meningkatkan peluang keberhasilan sekaligus mendukung keamanan perawatan bagi pasien.

Membantu lebih banyak keluarga

Penggunaan IVF pada 2024 mengalami peningkatan siklus yang moderat di mana naik dari 1 persen dari  tahun sebelumnya yakni 2023. Selain itu, tingkat kelahiran hidup setelah transfer embrio pun naik dari 28.9 persen menjadi 31.1 persen hanya dalam lima tahun. 

"IVF tidak hanya menjadi lebih efektif, tetapi terus mendukung banyak keluarga," kata Prof. Chambers.

Pada umumnya, diketahui bahwa IVF sering kali dilakukan lebih dari sekadar satu percobaan. Dari 43.849 perempuan yang memulai IVF untuk pertama kalinya antara 2021 dan 2022, sebanyak 37 persen melahirkan pada pada siklus IVF lengkap pertama mereka. 

Namun, pada enam siklus lengkap, sebagian besar perempuan yang melanjutkan pengobatan mencapai kelahiran hidup, dengan peluang bayi meningkat menjadi 57.6 persen pada siklus IVF keenam yang lengkap. Ketika perempuan yang menghentikan pengobatan diperhitungkan, perkiraan peluang memiliki bayi setelah enam siklus IVF lengkap hampir 77 persen.

"Bagi banyak pasien, IVF melibatkan lebih dari satu siklus, dengan setiap siklus mencerminkan perjalanan emosional, fisik, dan finansial yang signifikan," kata Prof. Chambers.

"Namun, data ini menunjukkan bahwa peluang memiliki bayi tetap menggembirakan bahkan setelah beberapa kali percobaan gagal," katanya.

"Usia perempuan sangat berperan dalam peluang keberhasilan dan mendidik pasangan tentang hal ini sangat penting,"tambahnya.

Misalnya, setelah tiga siklus IVF lengkap menggunakan sel telur mereka sendiri, perempuan di bawah 30 tahun memiliki peluang tertinggi untuk mencapai keberhasilan IVF dengan tingkat kelahiran hidup kumulatif sebesar 71 persen. Angka ini turun menjadi 21 persen untuk perempuan berusia 40–44 tahun, dan 3 persen untuk perempuan berusia 45 tahun atau lebih.

"Angka-angka ini menegaskan kenyataan bahwa keberhasilan IVF sering kali dicapai melalui beberapa siklus, dengan perjalanan yang kompleks dan terkadang menantang di balik setiap hasil positif," kata Dr Wale.

Di balik apa pun hasilnya dari program IVF yang dijalankan, setidaknya kabar ini menjadi sebuah angin segar yang menggembirakan. Walau tentu saja, keberhasilan kehamilan melalui program IVF tidak serta merta 100 persen didapatkan namun dengan kecanggihan teknologi dan perkembangannya yang semakin meningkatkan peluang keberhasilan, hal ini menjadi semangat tersendiri bagi para pejuang garis dua untuk mewujudkan mimpi memiliki anak.

Semoga informasinya membantu ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda