Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Studi Terbaru: Salah Satu Penyebab Keguguran Berulang yaitu Sperma dengan DNA Rusak

Melly Febrida   |   HaiBunda

Sabtu, 22 Aug 2026 18:30 WIB

Ilustrasi Sperma
Keguguran berulang juga bisa berkaitan dengan sperma/Foto: Getty Images/iStockphoto
Daftar Isi

Keguguran berulang sering kali dikaitkan dengan faktor kesehatan ibu, seperti gangguan hormon, kelainan rahim, hingga masalah kromosom. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa faktor dari pihak ayah juga dapat berperan penting. Salah satunya adalah kerusakan DNA pada sperma atau sperm DNA fragmentation (SDF)

Temuan ini bahkan mendapat perhatian dari American Society for Reproductive Medicine (ASRM) dalam pedoman terbaru mengenai penanganan keguguran berulang.

Organisasi tersebut menyebut bahwa pemeriksaan fragmentasi DNA sperma dapat dipertimbangkan pada pasangan yang mengalami kehilangan kehamilan berulang, meski penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk menilai manfaatnya terhadap hasil kehamilan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Seiring berkembangnya penelitian, para ahli semakin memahami bahwa kualitas sperma tidak hanya memengaruhi peluang terjadinya pembuahan, tetapi juga dapat berpengaruh terhadap perkembangan embrio dan keberlangsungan kehamilan.

Lalu, apa itu kerusakan DNA sperma dan bagaimana kaitannya dengan keguguran berulang?

Apa itu kerusakan DNA pada sperma?

Kerusakan DNA pada sperma atau sperm DNA fragmentation adalah kondisi ketika materi genetik yang dibawa sperma mengalami fragmentasi atau kerusakan. Kondisi ini berbeda dari pemeriksaan analisis sperma biasa yang menilai jumlah, bentuk, dan pergerakan sperma.

Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Human Reproduction Update, fragmentasi DNA sperma berkaitan dengan infertilitas dan gangguan perkembangan embrio. Sejumlah penelitian juga menemukan hubungan antara tingkat fragmentasi DNA sperma yang tinggi, dan meningkatnya risiko keguguran.

Dikutip dari Reproductive Biology and Endocrinology, kerusakan DNA sperma lebih sering ditemukan pada pasangan yang memiliki riwayat keguguran berulang. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas DNA sperma dapat menjadi salah satu faktor yang berperan dalam keguguran berulang.

Selain itu, dikutip dari World Journal of Men's Health, berbagai faktor seperti usia, stres oksidatif, kondisi medis, paparan lingkungan, dan gaya hidup dapat berkontribusi terhadap fragmentasi DNA sperma.

Penelitian yang dikutip dari laman Tommy's juga menunjukkan bahwa kerusakan DNA pada sperma dapat meningkatkan risiko keguguran hingga lebih dari dua kali lipat. Namun, penelitian mengenai peran kerusakan DNA sperma terhadap keguguran masih terus dikembangkan.

Sejumlah meta-analisis menemukan bahwa pasangan dengan tingkat fragmentasi DNA sperma yang tinggi memiliki risiko keguguran sekitar dua kali lipat dibandingkan mereka dengan tingkat fragmentasi yang lebih rendah.

Sementara itu, Denny Sakkas, Chief Scientific Officer di Boston IVF dan IVI RMA North America, menjelaskan bahwa DNA pada sperma berfungsi sebagai "buku petunjuk" untuk perkembangan embrio.

"Jika terdapat banyak kesalahan dalam instruksi DNA tersebut, kehamilan mungkin terjadi, tetapi perkembangan embrio dapat terganggu sehingga meningkatkan risiko kehilangan kehamilan," jelas Sakkas, dikutip dari Health Yahoo.

Studi terbaru: Sperma dengan DNA rusak dikaitkan dengan keguguran berulang

Dalam pedoman klinisnya, American Society for Reproductive Medicine (ASRM) menyebutkan bahwa pemeriksaan fragmentasi DNA sperma dapat dipertimbangkan pada pasangan dengan recurrent pregnancy loss atau keguguran berulang.

Pertimbangan tersebut sejalan dengan sejumlah penelitian yang menemukan hubungan antara tingkat fragmentasi DNA sperma yang tinggi dan keguguran berulang.

Salah satu tinjauan sistematis dan meta-analisis yang dipublikasikan dalam jurnal Fertility and Sterility menemukan bahwa pria dari pasangan yang mengalami keguguran berulang memiliki tingkat fragmentasi DNA sperma yang lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol.

Mengapa sperma dengan DNA rusak bisa menyebabkan keguguran?

Saat proses pembuahan terjadi, sel telur dan sperma sama-sama menyumbangkan materi genetik untuk membentuk embrio. Jika DNA yang dibawa sperma mengalami kerusakan, perkembangan embrio dapat terganggu sejak tahap awal.

Menurut ulasan yang diterbitkan dalam Nature Reviews Urology, kerusakan DNA sperma dapat menyebabkan:

  • Gangguan perkembangan embrio
  • Kegagalan implantasi
  • Penurunan kualitas embrio
  • Peningkatan risiko keguguran dini
  • Menurunnya peluang kelahiran hidup pada program bayi tabung (IVF)

Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa kerusakan DNA sperma bukan satu-satunya penyebab keguguran. Banyak faktor lain yang juga dapat berkontribusi, baik dari pihak ibu maupun ayah.

Apa yang menyebabkan kerusakan DNA pada sperma?

Penyebab kerusakan DNA sperma belum sepenuhnya dipahami. Namun, sejumlah faktor diketahui dapat meningkatkan risiko fragmentasi DNA sperma.

Menurut ASRM dalam pedoman Recurrent Pregnancy Loss 2026, kerusakan DNA sperma dapat berkaitan dengan paparan racun lingkungan, polusi, obat-obatan tertentu, penyakit yang disertai demam, kebiasaan merokok, varikokel, dan bertambahnya usia ayah.

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko kerusakan DNA sperma yang dirangkum dari beberapa sumber antara lain:

1. Usia ayah yang lebih tua

Seiring bertambahnya usia, risiko fragmentasi DNA sperma dapat meningkat. Meta-analisis juga menemukan peningkatan SDF yang lebih nyata pada pria berusia 50 tahun ke atas.

2. Kebiasaan merokok

Merokok dapat meningkatkan stres oksidatif dan berkaitan dengan peningkatan fragmentasi DNA sperma.

3. Obesitas dan gangguan metabolik

Obesitas dan gangguan metabolik dapat berkaitan dengan peningkatan stres oksidatif serta fragmentasi DNA sperma.

4. Paparan polusi dan racun lingkungan

Polusi udara, pestisida, logam berat, radiasi, dan sejumlah bahan kimia lingkungan dapat berkontribusi terhadap peningkatan fragmentasi DNA sperma.

5. Varikokel

Varikokel merupakan pelebaran pembuluh darah di sekitar testis. Kondisi ini dapat meningkatkan suhu skrotum dan mengganggu fungsi testis, termasuk menyebabkan kerusakan DNA sperma.

6. Penyakit atau kondisi tertentu

Penyakit yang disertai demam serta beberapa kondisi medis juga dapat berkontribusi terhadap kerusakan DNA sperma.

Apakah kerusakan DNA sperma bisa diperbaiki?

Dalam beberapa kasus, perubahan gaya hidup dan penanganan faktor yang mendasari dapat membantu menurunkan tingkat fragmentasi DNA sperma. Namun, belum ada bukti yang cukup untuk memastikan bahwa penurunan fragmentasi DNA sperma secara langsung dapat mencegah keguguran atau meningkatkan keberhasilan kehamilan pada semua pasangan.

Ahli endokrinologi reproduksi di Fertility Center of Las Vegas, Dr. Carrie Bedient, menceritakan pengalaman menangani pasangan yang mengalami keguguran berulang, kegagalan transfer embrio, dan kegagalan program bayi tabung (in vitro fertilization/IVF).

Pemeriksaan menunjukkan bahwa pria tersebut memiliki tingkat kerusakan DNA sperma yang sedang. Bedient kemudian menyarankan berbagai perubahan gaya hidup. Pria tersebut berhenti mengonsumsi alkohol dan merokok, mulai rutin berolahraga, serta mengonsumsi suplemen vitamin.

Menurut Bedient, enam bulan kemudian, pasangan tersebut kembali menjalani proses pembentukan embrio dan akhirnya berhasil memiliki bayi laki-laki yang sehat

Kisah tersebut merupakan pengalaman individual dan tidak dapat digeneralisasi kepada semua pasangan dengan fragmentasi DNA sperma tinggi. Penanganan tetap perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien dan dilakukan bersama dokter.

Kapan perlu mempertimbangkan pemeriksaan DNA sperma?

Menurut pedoman ASRM 2026, pemeriksaan fragmentasi DNA sperma dapat dipertimbangkan pada pasangan dengan keguguran berulang yang penyebabnya belum diketahui, terutama jika disertai infertilitas. Pemeriksaan ini bukan tes rutin untuk semua pasangan yang sedang merencanakan kehamilan.

ASRM juga menekankan bahwa penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk mengetahui apakah penanganan fragmentasi DNA sperma yang tinggi benar-benar dapat memperbaiki hasil kehamilan.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda