Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Sama-sama Prioritas, Ibu Hamil Pilih Berdiri di LRT Demi Mengalah pada Penyandang Tuna Netra

Annisa Aulia Rahim   |   HaiBunda

Kamis, 20 Aug 2026 08:55 WIB

Ibu hamil di LRT
Ibu hamil di LRT/ Foto: Getty Images/Edwin Tan
Daftar Isi

Cerita datang dari seorang bunda hamil delapan bulan, pengguna public transport, LRT. Bisa duduk sebentar sambil menikmati perjalanan sebelum sampai tujuan tentunya mendatangkan kenyamanan tersendiri untuk bumil.

Tapi, seorang ibu hamil di Malaysia ini justru memilih berdiri setelah melihat seorang ibu tuna netra naik bersama dua anaknya. Ia pun mempersilahkan perempuan tersebut menggunakan kursinya.

Awalnya, mungkin ia hanya ingin membantu. Namun, siapa sangka, kejadian sederhana itu malah membuatnya kepikiran sampai menangis.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Ia terus teringat pada ibu tuna netra yang ditemuinya di LRT tersebut. Apalagi, perempuan itu datang bersama dua anaknya. Ada rasa haru sekaligus pilu yang sulit ia jelaskan. Padahal, dirinya sendiri sedang hamil besar dan ternyata pernah juga berdiri sepanjang perjalanan LRT karena tidak mendapat tempat duduk.

Kisah tersebut kemudian ia bagikan di media sosial. Bukan untuk mendapat pujian karena sudah memberikan kursi, melainkan karena pertemuan singkat itu membuatnya belajar sesuatu tentang kehidupan dan perjuangan orang lain.

Lantas, seperti apa cerita lengkapnya? Berikut kisahnya dikutip dari Thesun.my mengenai detail ceritanya.

Ibu hamil 8 bulan pilih berdiri di LRT

Perempuan tersebut sebenarnya hanya perlu menempuh perjalanan beberapa stasiun lagi. Namun, ia memilih berdiri setelah memberikan kursinya. Ia juga membantu sang ibu tuna netra dan anak-anaknya mendapatkan tempat duduk yang tersedia. Setelah itu, ia kembali berdiri sambil melanjutkan perjalanan.

“Seorang ibu tunanetra naik bersama dua anaknya yang masih kecil; keduanya sudah duduk di bangku sekolah dasar. Perjalanan saya tinggal melewati tiga stasiun lagi dan ada satu kursi kosong, jadi saya berdiri dan menawarkan kursi itu kepadanya,” ujar ibu hamil tersebut.

“Saya bahkan membantu dia dan putrinya duduk, lalu saya harus berdiri di sana sambil berpura-pura baik-baik saja karena tiba-tiba hati saya terasa begitu berat,” tambahnya.

Hal yang membuatnya begitu emosional bukan karena dirinya harus berdiri, melainkan karena ia terus memikirkan perempuan yang baru saja ditemuinya tersebut. Ia membayangkan bagaimana perjuangan sang ibu menjalani aktivitas sehari-hari dengan keterbatasan penglihatan sekaligus mengurus dua anak.

Pengalaman singkat itu membuatnya tersadar bahwa setiap orang mungkin sedang menghadapi perjuangan yang tidak terlihat oleh orang lain.

Pengalaman berdiri sepanjang perjalanan saat hamil

Ada hal lain yang membuat kisah ini semakin menyentuh. Dalam percakapan dengan warganet, sang ibu hamil mengungkapkan bahwa dirinya juga pernah berdiri sepanjang perjalanan menggunakan LRT karena tidak ada penumpang yang menawarkan tempat duduk. Meski sudah hamil besar, ia mengaku tidak terbiasa meminta orang lain memberikan kursi.

Jika ada penumpang yang menawarkan tempat duduk, tentu ia akan menerimanya. Namun, ketika tidak ada, ia memilih tetap berdiri. Karena itulah, ia tidak menceritakan pengalamannya tersebut untuk mencari pujian. Ia hanya ingin membagikan pelajaran yang didapat setelah bertemu dengan ibu tuna netra tersebut.

Hamil trimester ketiga memang bisa lebih mudah lelah

Keputusan ibu hamil tersebut untuk memberikan kursi memang merupakan bentuk empati. Namun, bukan berarti Bunda yang sedang hamil harus memaksakan diri berdiri ketika tubuh sebenarnya membutuhkan istirahat. Apalagi jika kehamilan sudah memasuki trimester ketiga.

Penelitian yang dipublikasikan dalam National library of medicine melibatkan 605 ibu hamil menemukan bahwa 94,2 persen peserta mengalami kelelahan selama kehamilan. Tingkat kelelahan rata-rata juga cenderung lebih tinggi pada trimester ketiga dibandingkan trimester pertama dan kedua. Penelitian tersebut juga menemukan adanya hubungan antara kelelahan dan kualitas tidur. 

Studi lain terhadap 465 ibu hamil trimester ketiga menemukan bahwa durasi tidur yang kurang dari tujuh jam berkaitan dengan tingkat kelelahan yang lebih tinggi. Jadi, kalau Bunda yang sedang hamil besar merasa cepat lelah, sebenarnya hal tersebut cukup umum terjadi.

Berdiri terlalu lama juga perlu diperhatikan

Lantas, apakah ibu hamil boleh berdiri lama? Boleh atau tidaknya tentu bergantung pada kondisi masing-masing ibu dan kehamilannya. Namun, berdiri terlalu lama atau aktivitas fisik yang berat memang perlu diperhatikan.

Sebuah systematic review dan meta-analysis yang diterbitkan di Occupational and Environmental Medicine menganalisis berbagai penelitian mengenai aktivitas fisik berat selama kehamilan. Hasilnya menunjukkan bahwa berdiri dan berjalan saat bekerja lebih dari tiga jam per hari berkaitan dengan peningkatan risiko persalinan prematur, meskipun penelitian tersebut membahas paparan aktivitas fisik dalam konteks pekerjaan, bukan sekadar berdiri sebentar saat naik LRT. 

Penelitian lain yang melibatkan hampir 161 ribu perempuan dalam 29 studi juga menemukan adanya hubungan antara pekerjaan yang menuntut aktivitas fisik, berdiri dalam waktu lama, dan beberapa hasil kehamilan yang kurang baik. 

Namun, penting digarisbawahi, hasil penelitian tersebut tidak berarti ibu hamil tidak boleh berdiri sama sekali. Berdiri selama beberapa menit ketika berada di transportasi umum tentu berbeda dengan berdiri berjam-jam setiap hari. Jadi, Bunda tetap perlu mendengarkan kondisi tubuh.

Kursi prioritas bukan soal siapa yang lebih berhak

Kisah ini juga mengingatkan bahwa ruang publik sering kali digunakan oleh banyak orang yang sama-sama membutuhkan perhatian. Ibu hamil membutuhkan akses yang nyaman karena perubahan fisik dan rasa lelah yang dapat meningkat selama kehamilan. Sementara itu, penyandang disabilitas, termasuk tuna netra, juga dapat menghadapi tantangan tersendiri ketika menggunakan transportasi umum.

Karena itu, kursi prioritas sebaiknya tidak dipandang sebagai perlombaan untuk menentukan siapa yang paling berhak. Ketika ada orang yang membutuhkan bantuan, empati bisa menjadi jalan keluarnya.

Dalam situasi seperti yang dialami ibu hamil tersebut, ia memilih memberikan kursinya karena merasa ibu tuna netra tersebut membutuhkan bantuan. Namun, bukan berarti Bunda yang sedang hamil harus selalu mengalah.

Jika Bunda merasa pusing, lemas, nyeri, kontraksi, atau tidak nyaman ketika berdiri, jangan memaksakan diri. Bunda berhak menggunakan kursi prioritas dan meminta bantuan kepada petugas maupun penumpang lain.

Mungkin bagi ibu tuna netra tersebut, peristiwa itu hanya berlangsung beberapa menit. Namun, bagi sang ibu hamil, pertemuan singkat tersebut meninggalkan kesan yang jauh lebih dalam. Ia belajar bahwa kita tidak pernah benar-benar tahu perjuangan seseorang hanya dari apa yang terlihat.

Ada orang yang sedang hamil besar tetapi tetap berusaha bekerja. Ada penyandang disabilitas yang harus bepergian sambil mengurus anak. Ada pula orang lain yang mungkin terlihat baik-baik saja, tetapi sebenarnya sedang berjuang menahan lelah. Karena itu, sedikit perhatian di tempat umum bisa sangat berarti.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!



(rap/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda