Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Kenali Tahapan Suasana Hati yang Dialami Ibu Hamil di Trimester 1, 2, hingga 3

Melly Febrida   |   HaiBunda

Kamis, 13 Aug 2026 07:30 WIB

Ibu Hamil Sedih
Kenali Tahapan Suasana Hati yang Dialami Ibu Hamil di Trimester 1, 2, hingga 3/Foto: Getty Images/iStockphoto/Prostock-Studio
Daftar Isi
Jakarta -

Kehamilan selalu membawa perubahan pada tubuh. Selain itu, kehamilan juga dapat memengaruhi suasana hati, emosi, hingga perilaku ibu hamil.

Ada ibu yang merasa bahagia di satu waktu, tetapi di waktu yang sama juga cemas. Ada pula yang mudah menangis, tersinggung, atau merasa kewalahan menghadapi berbagai perubahan.

Kondisi emosional ibu hamil bisa berbeda pada setiap trimester dan dipengaruhi berbagai hal. Kehamilan juga dapat mengubah gaya hidup, aktivitas, atau hobi yang selama ini ibu jalani. Perubahan tersebut pada akhirnya dapat turut memengaruhi emosi dan perilaku ibu hamil.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Lantas, seperti apa tahapan perubahan emosi yang mungkin dialami ibu hamil pada trimester 1, 2, dan 3?

Perubahan emosi ibu hamil pada trimester 1

Trimester pertama berlangsung hingga sekitar usia kehamilan 12 minggu. Pada tahap ini, ibu hamil sedang beradaptasi dengan berbagai perubahan besar yang terjadi dalam waktu relatif singkat.

Menurut Patient.info yang ditelaah oleh dokter umum Dr Sarah Jarvis, trimester pertama bisa terasa sangat berat bagi sebagian ibu. Setelah mengetahui dirinya hamil, seorang ibu bisa merasakan berbagai emosi sekaligus. Misalnya, bahagia dan antusias menyambut bayi, tetapi juga cemas mengenai kondisi kehamilannya.

Keluhan fisik yang umum dirasakan pada awal kehamilan, seperti mual, muntah, mudah lelah, sembelit, serta payudara yang terasa nyeri atau sensitif, juga dapat membuat ibu merasa lebih lelah secara emosional.

Perasaan dan perilaku selama kehamilan dapat dipengaruhi oleh perubahan kadar hormon. Ibu hamil mungkin menjadi lebih mudah tersinggung atau cemas dan merasa kurang mampu menghadapi stres sehari-hari dibandingkan biasanya.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Affective Disorders menemukan bahwa gejala depresi selama kehamilan dapat memiliki pola yang berbeda pada setiap ibu. Peneliti mengikuti 1.832 perempuan dan menilai gejala depresi mereka pada setiap trimester kehamilan.

Sebagian besar peserta memiliki gejala depresi yang rendah dan stabil selama kehamilan. Namun, terdapat kelompok yang mengalami penurunan maupun peningkatan gejala depresi.

Riwayat episode depresi sebelumnya, peristiwa kehidupan selama kehamilan, dan kehamilan yang tidak direncanakan merupakan beberapa faktor yang berkaitan dengan pola tersebut.

Dengan kata lain, merasa lebih sensitif secara emosional pada trimester pertama bisa saja terjadi. Namun, ibu tetap perlu memperhatikan jika rasa sedih atau cemas mulai menetap, semakin berat, atau mengganggu aktivitas sehari-hari.

Perubahan emosi ibu hamil pada trimester 2

Memasuki trimester kedua, yaitu sekitar usia kehamilan 13–27 minggu, sebagian ibu hamil mulai merasa lebih nyaman dibandingkan trimester pertama.

Mual dan muntah pada sebagian ibu mulai berkurang. Energi pun bisa kembali meningkat sehingga ibu hamil lebih siap beraktivitas dan mempersiapkan berbagai kebutuhan untuk menyambut bayinya.

Meski begitu, ini bukan berarti perubahan emosi otomatis berhenti.

Ibu hamil tetap mungkin mengalami perubahan suasana hati, mudah menangis, merasa lebih sensitif, atau sesekali merasa khawatir. Kekhawatiran tersebut dapat berkaitan dengan kondisi janin, perubahan tubuh, hubungan dengan pasangan, pekerjaan, kondisi keuangan, maupun persiapan menjadi orang tua.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Psicothema terhadap 385 ibu hamil menunjukkan bahwa gejala kecemasan tetap cukup umum terjadi sepanjang kehamilan.

Dalam penelitian tersebut, prevalensi gejala kecemasan tercatat sebesar 19,5 persen pada trimester pertama, 16,8 persen pada trimester kedua, dan 17,2 persen pada trimester ketiga.

Temuan ini menunjukkan bahwa trimester kedua yang sering dianggap sebagai masa kehamilan yang lebih nyaman bukan berarti ibu pasti terbebas dari kecemasan atau perubahan emosi.

Perubahan emosi ibu hamil pada trimester 3

Memasuki trimester ketiga, perubahan fisik kembali semakin terasa. Perut yang semakin besar, gerakan bayi, rasa tidak nyaman saat tidur, nyeri tubuh, serta keinginan buang air kecil yang lebih sering dapat membuat ibu lebih mudah lelah.

Di sisi lain, semakin dekat dengan persalinan, sebagian ibu mulai merasa lebih cemas.

Pertanyaan seperti "Nanti persalinannya bagaimana?", "Apakah aku bisa melewatinya?", atau "Bagaimana kehidupan setelah bayi lahir?" dapat semakin sering muncul.

Rasa takut menghadapi persalinan dan perubahan besar setelah bayi lahir dapat menjadi bagian dari emosi yang muncul pada trimester ketiga. Persiapan persalinan dan dukungan dari orang-orang yang berada dalam situasi serupa dapat membantu ibu menghadapi kekhawatiran tersebut. 

Pada tahap ini, sebagian ibu juga mulai mengalami apa yang dikenal sebagai nesting, yaitu dorongan untuk menyiapkan rumah dan berbagai kebutuhan bayi. Misalnya, membersihkan rumah, menata kamar bayi, mencuci pakaian bayi, atau memastikan perlengkapan persalinan sudah siap.

Menariknya, penelitian terbaru menemukan adanya perubahan struktur dan fungsi otak selama kehamilan yang berkaitan dengan perubahan hormon serta beberapa aspek perilaku dan keterikatan maternal.

Temuan ini memberikan gambaran mengenai proses adaptasi biologis dan psikologis yang terjadi selama kehamilan.

Meski demikian, nesting bukan sesuatu yang harus dialami semua ibu hamil. Ada pula ibu yang justru merasa sangat lelah dan tidak memiliki dorongan untuk melakukan banyak persiapan.

Mengapa emosi ibu hamil bisa berubah?

Perubahan emosi selama kehamilan tidak hanya berkaitan dengan hormon. Kehamilan membawa banyak perubahan sekaligus. Tubuh berubah, pola tidur dapat terganggu, aktivitas sehari-hari mungkin perlu disesuaikan, dan ibu juga mulai memikirkan peran baru sebagai orang tua.

Perubahan tersebut dapat memengaruhi kondisi psikologis ibu.

Selain itu, pengalaman kehamilan sebelumnya juga dapat berpengaruh. Ibu yang pernah mengalami keguguran, memiliki pengalaman persalinan yang sulit, atau menghadapi masalah pada kehamilan sebelumnya mungkin memiliki kekhawatiran yang lebih besar.

Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), kecemasan dapat muncul untuk pertama kalinya selama kehamilan. Beberapa kondisi, seperti riwayat kecemasan, kehilangan kehamilan sebelumnya, masalah kesehatan selama kehamilan atau persalinan, serta kurangnya dukungan, juga dapat meningkatkan risiko gangguan kecemasan.

Karena itu, perubahan emosi ibu hamil sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai akibat 'hormon saja'.

Perubahan emosi ibu hamil tidak selalu sama

Meski kehamilan dibagi menjadi trimester pertama, kedua, dan ketiga, perubahan emosi tidak selalu berjalan mengikuti pembagian tersebut secara rapi.

Setiap ibu hamil dapat memiliki pengalaman emosional yang berbeda. Ada yang merasa lebih cemas pada trimester pertama, mulai lebih nyaman pada trimester kedua, atau justru mengalami kekhawatiran menjelang persalinan. Sebagian lainnya mungkin mengalami perubahan suasana hati yang tidak terlalu mencolok atau berlangsung dengan pola yang berbeda.

Karena itu, ibu tidak perlu membandingkan pengalaman emosionalnya dengan ibu hamil lainnya. Yang lebih penting adalah mengenali perubahan yang terjadi pada diri sendiri, terutama jika emosi yang dirasakan mulai terasa berat atau mengganggu aktivitas sehari-hari.

Kapan perubahan emosi saat hamil perlu diperiksakan?

Perubahan suasana hati sesekali dapat terjadi selama kehamilan. Namun, ibu perlu mencari bantuan jika perubahan tersebut terasa berat, berlangsung terus-menerus, atau mulai mengganggu kehidupan sehari-hari.

ACOG menjelaskan bahwa kecemasan yang perlu mendapat perhatian bukan sekadar rasa khawatir sementara, melainkan kecemasan yang intens atau berlangsung lama hingga mengganggu fungsi sehari-hari.

Gejalanya dapat berupa kekhawatiran yang sulit dikendalikan, sulit berkonsentrasi, gangguan tidur, merasa terus-menerus tegang, hingga menghindari aktivitas tertentu. 

Begitu juga dengan depresi. Sesekali merasa sedih berbeda dengan depresi yang berlangsung setidaknya dua minggu dan disertai gejala seperti kehilangan minat terhadap aktivitas, merasa tidak berharga atau putus asa, sulit berkonsentrasi, perubahan tidur dan nafsu makan, atau kelelahan yang berat. 

Dalam kondisi seperti ini, ibu hamil sebaiknya tidak menunggu sampai melahirkan untuk mencari pertolongan.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda