kehamilan
Studi Terbaru Ungkap Potensi Kesehatan Mental Ayah Memburuk usai Kelahiran Anak
HaiBunda
Sabtu, 01 Aug 2026 15:35 WIB
Daftar Isi
Kelahiran anak umumnya dianggap sebagai salah satu momen paling membahagiakan dalam kehidupan orang tua. Namun, di balik kebahagiaan tersebut, transisi menjadi orang tua juga membawa perubahan besar yang dapat memengaruhi kondisi psikologis, Bunda.
Studi terbaru mengungkap bahwa kesehatan mental ayah berpotensi memburuk setelah kelahiran anaknya. Kesehatan mental ini berkaitan dengan kondisi stres hingga depresi.
Studi yang diterbitkan di JAMA Network Open ini dilakukan oleh para peneliti dari Karolinska Institutet di Swedia dan Sichuan University di China. Menurut studi, diagnosis depresi dan gangguan terkait stres meningkat pada ayah setahun setelah anaknya lahir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Transisi menjadi seorang ayah sering kali melibatkan pengalaman positif dan berbagai tekanan baru," salah satu penulis utama dari Karolinska Institute, Jing Zhou, dilansir laman Karolinska Institute.
"Banyak yang menghargai momen intim bersama anak mereka, sementara pada saat yang sama, hubungan dengan pasangan mungkin terpengaruh dan kualitas tidur dapat memburuk. Hal itu dapat berkontribusi pada peningkatan risiko gangguan kesehatan mental," ujar Zhou.
Perlu diketahui, studi ini melibatkan lebih dari satu juta ayah yang anak-anaknya lahir di Swedia antara tahun 2003 dan 2021. Studi menghubungkan berbagai register nasional, di mana para peneliti bisa melacak seberapa sering pria menerima diagnosis psikiatrik baru dari satu tahun sebelum kehamilan pasangannya hingga anak mereka berusia satu tahun.
Kesehatan mental ayah usai anaknya lahir
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa risiko ayah menerima diagnosis psikiatrik menurun selama kehamilan dan beberapa bulan pertama setelah kelahiran. Hasil tersebut dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Namun, satu tahun setelah kelahiran anak, angka diagnosis kecemasan dan ketergantungan alkohol serta narkoba kembali naik ke tingkat yang mirip dengan sebelum kehamilan.
Namun, untuk depresi dan gangguan terkait stres, tren negatif diamati oleh para peneliti. Diagnosis tersebut dilaporkan meningkat lebih dari 30 persen pada satu tahun setelah anak lahir, dibandingkan sebelum kehamilan.
"Peningkatan depresi yang tertunda ini tidak terduga dan menggarisbawahi perlunya kita memperhatikan tanda-tanda peringatan kesehatan mental yang buruk pada ayah jauh setelah kelahiran anak mereka," kata dosen senior dan profesor madya di Karolinska Institutet dan penulis utama studi, Donghao Lu.
Pentingnya dukungan bagi ayah
Para peneliti menekankan bahwa studi ini didasarkan pada diagnosis klinis, yang berarti bahwa pria yang tidak mencari perawatan medis mungkin terlewatkan dalam studi. Terlepas dari itu, hasil penelitian memberikan gambaran yang jelas tentang kapan risiko gangguan kesehatan mental terjadi pada seorang ayah usai anaknya lahir.
"Melalui identifikasi periode peningkatan kerentanan, penyedia layanan kesehatan dan pemangku kepentingan lainnya dapat lebih mudah menawarkan dukungan," ungkap Zhou.
"Depresi pasca persalinan sering dibahas untuk ibu baru, tetapi kesejahteraan ayah juga penting, baik untuk diri mereka sendiri maupun untuk seluruh keluarga."
Ayah juga bisa terkena baby blues
Sudah banyak penelitian mengungkap kondisi mental ayah usai anaknya lahir. Selain mengalami depresi, seorang ayah juga dapat terkena baby blues, Bunda.
Baby blues yang dialami ayah tidak sama dengan baby blues yang dirasakan ibu baru. Pasalnya, baby blues terkait dengan perubahan hormonal setelah seorang ibu melahirkan, biasanya akan hilang dengan cepat.
Tetapi, kondisi 'baby blues' yang pada pria yang disebut depresi prenatal mungkin tidak langsung terjadi setelah bayi lahir. Namun bila sudah terjadi, kondisi tersebut dapat berlangsung lebih lama daripada baby blues.
Menurut studi yang diterbitkan di Journal of the American Medical Association tahun 2010, 1 dari 10 ayah mengidap depresi prenatal atau depresi pasca persalinan yang umumnya dimulai dalam 3-6 bulan setelah bayi lahir. Temuan serupa juga dipaparkan dalam Journal of Psychosomatic Obstetrics & Gynecology tahun 2021.
"Gejala-gejala tersebut dapat perlahan dikenali, didiagnosis, dan diobati," kata Dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi, Robyn Horsager-Boehrer, M.D., melansir dari laman University of Texas Southwestern Medical Center.
Demikian studi terbaru yang mengungkap kesehatan mental ayah usai anaknya lahir. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/rap)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Kehamilan
5 Masalah Kesehatan yang Tak Boleh Diabaikan Bunda setelah Melahirkan
Kehamilan
Selain Suami & Keluarga, Dua Sosok ini Disebut Mampu Bantu Ibu Atasi Depresi Hamil dan Melahirkan
Kehamilan
Postpartum Depression: Ciri Gejala, Penyebab, Cara Mencegah, dan Mengobatinya
Kehamilan
Studi Temukan Dampak Paparan Polusi Udara Selama Hamil, Bisa Picu Depresi Pasca Persalinan
Kehamilan
7 Persiapan Melahirkan Normal Supaya Berjalan Lancar, Bunda Perlu Tahu
5 Foto
Kehamilan
2 Kali Keguguran, Intip 5 Potret Kebahagiaan Ashilla Zee Eks Blink Melahirkan Anak Pertama
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Pentingnya Memperhatikan Kondisi Mental Ayah Pasca si Kecil Lahir
1 dari 10 Ayah Alami Baby Blues Syndrome, Kenali Tanda dan Cara Mengatasinya
Ternyata Ayah juga Bisa Alami Depresi Postpartum Paternal lho, Kenali Gejalanya Bun