kehamilan
Terlalu Lama Duduk saat Hamil Lipat Gandakan Risiko Komplikasi, Ini Kata Studi
HaiBunda
Jumat, 24 Jul 2026 17:55 WIB
Biarpun perut semakin membesar, ibu hamil direkomendasikan tetap aktif dan tidak sekadar duduk dan tidur terus menerus. Benar enggak sih, ketika terlalu lama duduk saat hamil bisa melipatgandakan risiko komplikasi ini kata studi.
Kehamilan sedianya tak menghalangi bumil tetap beraktivitas fisik dalam keseharian, Bun. Agendanya bisa olahraga ringan, beberes rumah, hingga melakukan aktivitas lainnya secara perlahan. Intinya, Bunda tetap aktif dan tidak hanya menjadi kaum rebahan.
Ya, sebuah studi WVU menunjukkan kalau ibu hamil yang lebih sedikit duduk dan lebih banyak bergerak memiliki lebih sedikit dampak buruk pada kehamilan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk memenuhi kebutuhan aktivitas fisik, ibu hamil bisa mengisi waktu dalam kesehariannya dengan melakukan olahraga ringan seperti berjalan kaki, atau sekadar bergerak daripada duduk terlalu lama. Hal tersebut tentunya bisa meminimalisasi risiko akan dampak buruk pada kehamilan, menurut penelitian baru WVU.
Studi tentang lama duduk saat hamil
Sebuah studi yang dilakukan para peneliti di West Virginia University serta dua pusat medis afiliasi universitas lainnya menemukan adanya peningkatan risiko yang lebih besar dari yang diperkirakan terhadap hasil kehamilan yang merugikan pada ibu hamil.
Di antara risiko-risiko yang ada, termasuk di antaranya risiko diabetes gestasional dan preeklamsia bagi perempuan hamil yang menghabiskan lebih banyak waktu duduk dibandingkan dengan mereka yang melakukan aktivitas ringan dalam rutinitas harian mereka.
“Temuan besarnya adalah bahwa perempuan yang duduk selama lebih dari 10 jam sehari mengalami dua kali lebih banyak hasil kehamilan yang merugikan dibandingkan perempuan yang duduk dalam waktu yang lebih singkat,” kata Bethany Barone Gibbs, Profesor dan Ketua dari WVU School of Public Health Departmet of Epidemiology and Biostatistics serta peneliti pendamping studi tersebut.
Dtambahkan Gibbs, para peneliti menemukan bahwa lebih banyak duduk mungkin jadi kurang sehat selama kehamilan, tetapi besarnya risiko tambahan ternyata lebih besar dari yang mereka duga.
"Studi yang kami lakukan mendukung gagasan bahwa pola aktivitas harian dengan banyak duduk dalam waktu yang lama harus dihindari selama kehamilan," tambahnya.
Studi ini diterbitkan dalam The Journal of The American Medical Association dan menunjukkan bahwa dua dari lima perempuan yang duduk selama 10 jam atau lebih per hari mengalami hasil kehamilan yang buruk lho, Bunda. Sementara itu, hanya satu dari lima perempuan yang duduk sekira tujuh jam per hari mengalami hasil kehamilan yang buruk, seperti dikutip dari laman Mybuckhannon.
Dalam kaitannya dengan hasil kehamilan buruk yang diukur dalam studi tersebut, diantaranya muncul beberapa risiko gangguan kesehatan seperti hipertensi gestasional, preeklamsia, diabetes gestasional, kelahiran prematur, dan bayi kecil untuk usia kehamilan. Permasalahannya, semua komplikasi kehamilan tersebut memang dapat membahayakan ibu dan bayi selama kehamilan dan juga dapat memiliki konsekuensi kesehatan jangka panjang.
Seperti risiko preeklamsia misalnya, gangguan kesehatan ini perlu diwaspadai selama kehamilan. Biasanya, kondisi preeklamsia ditandai dengan peningkatan tekanan darah yang cepat dan dapat menyebabkan kejang, stroke, kegagalan multi organ, dan bahkan kematian ibu atau bayi. Selain itu, perempuan yang pernah mengalami preeklamsia, mereka memiliki risiko lebih besar untuk mengembangkan penyakit kardiovaskular di kemudian hari.
Di luar preeklamsia, diabetes gestasional juga menjadi risiko yang menghampiri selama kehamilan. Biasanya, diabetes gestasional akan berkembang selama kehamilan pada perempuan yang sebelumnya tidak didiagnosis menderita penyakit tersebut. Meskipun biasanya hilang setelah bayi lahir, kondisi ini meningkatkan kemungkinan ibu terkena diabetes tipe 2 di kemudian hari.
“Hasil kehamilan yang merugikan ini, terutama preeklamsia dan hipertensi gestasional, telah menjadi risiko umum dalam dua dekade terakhir pada ibu hamil. Dari perspektif kesehatan masyarakat, kondisi tersebut tentu sangat mengkhawatirkan. Kami mencari solusi untuk mengurangi hasil ini karena saat ini hanya ada sedikit pilihan,” katanya.
Pilihan olahraga paling aman untuk ibu hamil
Dari deretan olahraga yang ada, olahraga dengan intensitas sedang hingga berat menjadi salah satu dari sedikit hal yang dapat menurunkan risiko hasil kehamilan yang kurang maksimal, Bunda. Terkait hal tersebut, olahraga intensitas sedang hingga berat menjadi salah satu dari sedikit hal yang dapat menurunkan risiko hasil kehamilan yang merugikan, kata Gibss seraya mendatakan pilihan bagi beberapa ibu hamil.
Ia dan rekan-rekannya beralasan bahwa tidak semua perempuan hamil memiliki sumber daya atau akses pada rencana olahraga yang diawasi dengan baik yang tersedia di pusat kebugaran. Selain itu, mereka juga mempertimbangkan bahwa perempuan hamil mungkin merasa tidak memiliki energi fisik untuk melakukan program olahraga.
“Semua orang harus berolahraga, tetapi kita tahu ada banyak hambatan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Terutama bagi ibu hamil karena mereka kelelahan, mual, tubuh mereka berubah, dan mereka mengalami nyeri muskuloskeletal,” kata Barone Gibbs.
Untuk itu, sambung Gibbs, timnya ingin memikirkan beberapa alternatif bagi ibu hamil untuk tetap aktif tetapi tidak pada tingkat rencana olahraga yang diawasi.
Penelitian in sendiri sebenarnyai bertujuan untuk menentukan apakah mengurangi duduk dan lebih banyak bergerak dengan intensitas ringan akan berhubungan dengan penurunan risiko. Anggapan bahwa terlalu banyak duduk dapat memperburuk hasil kehamilan didasarkan pada penelitian beberapa dekade yang lalu ketika tim medis merekomendasikan istirahat total atau pembatasan aktivitas bagi perempuan yang mengalami komplikasi kehamilan tertentu.
Tetapi terlepas dari praktik umum tersebut, penelitian ini menemukan bahwa beralih ke tingkat aktivitas yang sangat rendah tidak membantu dan, dalam beberapa kasus, justru menyebabkan hasil yang lebih buruk seperti lebih banyak kelahiran prematur dan preeklamsia.
Untuk studi multi-lokasi ini, tim merekrut 500 perempuan pada trimester pertama kehamilan mereka dari West Virginia, Pennsylvania, dan Iowa. Para perempuan tersebut dilengkapi dengan monitor aktivitas yang dipasang di kaki mereka untuk mengukur berapa lama mereka duduk dan apakah mereka duduk dalam waktu yang lebih lama.
Selain di WVU, pemantauan juga dilakukan di Universitas Iowa, yang dipimpin oleh Kara Whitaker, yang menjabat sebagai peneliti utama studi ini, dan Universitas Pittsburgh.
Tim peneliti WVU termasuk peneliti pascadoktoral Katrina Wilhite, mahasiswa doktoral Elly Marshall dan Brianne Nichols, Sarah Modlin, seorang peneliti di Departemen Epidemiologi dan Biostatistik WVU, dan Alexis Thrower, seorang mahasiswa doktoral di Departemen Fisiologi Olahraga Sekolah Kedokteran WVU. Ada juga Dr. Iqra Sheikh, asisten profesor di Departemen Obstetri dan Ginekologi Sekolah Kedokteran WVU dan seorang dokter di WVU Medicine yang berperan sebagai kolaborator studi.
Para peneliti mencatat pola aktivitas perempuan di setiap trimester sepanjang kehamilan mereka hingga kelahiran bayi untuk menentukan bagaimana pola aktivitas berkorelasi dengan hasil kehamilan yang merugikan.
Barone Gibbs menjelaskan bahwa, meskipun data menunjukkan bahwa ibu hamil harus lebih sedikit duduk dan lebih banyak bergerak, uji klinis yang lebih besar akan lebih memvalidasi temuan tersebut.
“Temuan kami menunjukkan bahwa sebenarnya tidak harus selalu olahraga. Tetapi, hanya dengan bangun dan bergerak lebih banyak dapat membantu kamu menghindari komplikasi kehamilan ini,” katanya.
Barone Gibbs mengatakan dia berharap penelitian ini mendorong perempuan hamil untuk memantau jumlah waktu mereka duduk dan jumlah aktivitas yang mereka lakukan setiap hari. Dia menyarankan perangkat yang dapat dikenakan yang dapat memberikan pengingat dan memantau langkah kaki.
“Sebagian besar alat ini akan memberi mereka pengingat jika kamu duduk selama satu jam bahwa sudah waktunya untuk bangun dan mulai bergerak sedikit, berjalan-jalan sebentar, atau melakukan sesuatu,” katanya.
“Jika mereka tidak memiliki akses ke perangkat yang dapat dikenakan, atur pengingat di ponsel atau komputer bahwa sudah waktunya untuk bangun dan melakukan sesuatu untuk melancarkan peredaran darah. Hal lain yang kami sampaikan kepada ibu hamil ialah selalu dengarkan tubuh."
Gibbs menambahkan bahwa jika mereka sudah duduk dalam waktu lama dan punggung mereka sakit atau mereka merasa tidak nyaman, sudah waktunya untuk bangun dan bergerak.
Sebab realitanya ialah pola gaya hidup modern memang telah menghilangkan sebagian besar aktivitas fisik yang dibutuhkan dari keseharian ibu hamil sehingga banyak perempuan hamil tanpa sengaja mengurangi aktivitas fisik mereka.
Nah, dengan adanya sinyal dari tubuh, sebaiknya jangan lagi diabaikan ya, Bunda. Jika memang sudah merasa tidak nyaman karena duduk terlalu lama, baiknya segera bangun, bergerak, dan melakukan sesuatu seperti berjalan-jalan di area rumah atau taman. Meski sejenak, namun perilaku ini dapat menjadi tambahan aktivitas fisik yang menyehatkan selama kehamilan.
Semoga informasinya membantu ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)ARTIKEL TERKAIT
Kehamilan
Waspadai 4 Risiko Penyakit di Usia Kandungan 6 Bulan
Kehamilan
Usai Melahirkan, Pasien Diabetes Gestasional Perlu Jaga Pola Hidup
Kehamilan
Studi Ungkap Ibu Hamil Aktif Bergerak Berisiko Kecil Alami Preeklamsia & Diabetes Gestational
Kehamilan
Perawatan dan Tanda Awal Kehamilan dengan Diabetes Gestasional
Kehamilan
8 Gejala Diabetes Gestasional Selama Kehamilan dan Cara Mencegahnya
9 Foto
Kehamilan
9 Potret Gaya Busana Keluarga Kerajaan Inggris Usai Melahirkan
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
10 Artis yang Berjuang Hadapi Komplikasi Kehamilan
Hamil Tapi Tetap Kerja dan Capek Banget? Ini Batas Aman yang Perlu Dijaga
Studi Terbaru Ungkap Dampak Ibu Hamil Duduk Terlalu Lama, Sebabkan Komplikasi Bun