kehamilan
Berhubungan Intim setelah Membrane Sweep, Amankah bagi Ibu Hamil?
HaiBunda
Minggu, 05 Jul 2026 21:40 WIB
Daftar Isi
Hubungan intim jelang persalinan sering direkomendasikan untuk mempercepat kelahiran. Sebenarnya, berhubungan intim setelah membrane sweep, amankah bagi ibu hamil?
Kebutuhan seksual selama kehamilan memang tetap bisa diagendakan dengan pasangan ya, Bunda. Bahkan, sampai jelang persalinan pun, sesi intim ini masih bisa dilakukan guna membantu jalan lahir bayi.
Permasalahannya, ibu hamil kerap merasa sesak dengan perut yang semakin membesar. Sehingga, ketidaknyamanan banyak dirasakan ketika berhubungan intim di fase trimester akhir kehamilan. Selain itu, para ibu hamil juga merasa khawatir jika sesi intim tersebut justru bisa berisiko pada kehamilan mereka meski sebenarnya aktivitas tersebut bisa membantu memicu persalinan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terutama, kekhawatiran tersebut juga muncul usai dokter melakukan tindakan membrane sweep guna memicu persalinan. Lantas, apakah di fase tersebut, masih diperbolehkan melakukan hubungan intim ya, Bunda?
Mengenal apa itu membrane sweep?
Membrane sweep merupakan prosedur umum yang dilakukan tim medis setelah usia kehamilan seseorang menginjak 39 minggu untuk menginduksi persalinan secara alami. Prosedur ini melibatkan jari-jari dokter yang masuk ke dalam leher rahim untuk melonggarkan kantung ketuban dari rahim. Ini merupakan cara yang efektif untuk mempercepat persalinan ketika seseorang mendekati atau melewati HPL.
Dalam kerjanya, membrane sweep membantu tubuh melepaskan zat kimia yakni prostaglandin. Zat ini berfungsi melunakkan, menipiskan, dan melebarkan serviks untuk mempersiapkan Bunda menghadapi persalinan, seperti dikutip dari laman Cleveland Clinic.
Prosedur membrane sweep merupakan tindakan yang umum dan aman, tetapi tidak ada jaminan bahwa membrane sweep akan memicu persalinan atau kontraksi. Ini merupakan prosedur opsional yang disarankan tim medis saat Bunda mendekati atau melewati tanggal HPL.
Biasanya, Bunda dapat menjalani prosedur ini jika serviks sudah mulai melebar. Membrane sweep sering disarankan sebagai pilihan utama untuk memulai persalinan secara alami sebelum adanya induksi persalinan.
Membrane sweep membantu memicu persalinan
Jika Bunda berencana untuk melahirkan secara normal, prosedur ini bisa didiskusikan terlebih dahulu dengan dokter dan perawat saat Bunda memasuki trimester akhir kehamilan (misalnya saat usia kehamilan 37 minggu).
"Membrane sweeping telah terbukti meningkatkan peluang seseorang untuk melahirkan secara spontan dalam satu hingga dua minggu berikutnya, dan mengurangi kebutuhan induksi persalinan," kata Aaron B. Caughey, M.D, seorang Profesor dan Ketua Departemen Obstetri dan Ginekologi, dari Oregon Health and Science University.
Perlu diketahui bahwa prosedur ini umumnya aman, mudah, tidak memakan waktu lama, dan mendorong pelepasan prostaglandin, yang dapat membantu pematangan serviks, kata Jennifer Bantz, M.D, seorang Obstetri & Ginekologi di Mayo Clinic Health System.
Karenanya, walau Bunda merasakan kontraksi segera setelahnya, itu tak berarti persalinan akan segera dimulai. "Defisini persalinan ialah adanya kontraksi teratur dengan dilatasi serviks. Pengupasan selaput ketuban, mungkin saja juga memicu persalinan," kata Bantz.
Perawatan tersebut merupakan treatment yang bisa dilakukan dengan aman. Setelah dokter memberikan lampu hijau, Bunda dapat pulang. Jika kemungkinan Bunda mengalami bercak darah dalam beberapa hari setelahnya, tetapi perdarahannya lebih banyak, sampai Bunda memerlukan pembalut, Bunda perlu segera memberitahu dokter tentang pengalaman tersebut.
Bisakah berhubungan intim setelah membrane sweep?
Secara umum, Bunda dapat melakukan aktivitas normal, kata Caughey. Â "Tidak ada bukti bahwa hubungan seks berbahaya setelah membrane sweep atau sebaliknya juga bagi ibu yang ingin merencanakan persalinan normal. Hubungan seksual juga dapat melepaskan prostaglandin,"kata Bantz.
Namun, sambung Bantz, ketika Bunda mulai merasakan kontraksi, Bunda mungkin merasa tidak nyaman dan tidak ingin melakukan aktivitas tertentu. Karenanya, dengarkan tubuh dan jangan pernah ragu berkonsultasi dengan dokter.
Bagaimana jika ketuban pecah setelah membrane sweep?
Jika ketuban pecah setelah prosedur, Bunda mungkin mendapatkan pemantauan dari rumah sakit. Karenanya, segeralah bergegas ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan. Sebab, ada bahaya risiko infeksi yang lebih tinggi.
Jika Bunda mempertimbangkan untuk melepaskan selaput ketuban untuk mempercepat proses persalinan, bicarakan juga ide tersebut dengan dokter. Karena, proses ini bisa menjadi perawatan yang lebih kompleks terutama pada tingkat kenyamanan daripada kebutuhan medis.Â
Nah, agar lebih jelas dan tidak bertanya-tanya lagi dan tentunya lebih aman selama kehamilan, ada baiknya konsultasikan tindakan ini dengan dokter terlebih dahulu untuk mengetahui apakah memang aman dan dibutuhkan dalam kehamilan Bunda. Semoga informasinya membantu ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
Â
(pri/pri)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Kehamilan
Mitos atau Fakta, Benarkah Berhubungan Intim Bisa Mempercepat Proses Melahirkan?
Kehamilan
4 Trik Melakukan 'Ehem' Tetap Nyaman Jelang Persalinan
Kehamilan
Mengenal Metode Membrane Sweep, Induksi Alami yang Bisa Jadi Pilihan Bumil sebelum Melahirkan
Kehamilan
KB Steril Bikin Berhubungan Intim Tidak Nyaman, Mitos atau Fakta?
Kehamilan
5 Syarat Bunda Hamil Boleh Berhubungan Intim di Trimester 3
9 Foto
Kehamilan
9 Potret Gaya Busana Keluarga Kerajaan Inggris Usai Melahirkan
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Posisi Misionaris saat Berhubungan Intim Perbesar Potensi Kehamilan, Mitos atau Fakta?
12 Hal yang Tidak Boleh Bunda Lakukan setelah Melahirkan agar Pulih Lebih Cepat
Sakit Perut Setelah Berhubungan Intim, Apakah jadi Tanda Hamil?