Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Bisakah Perempuan dengan Kanker Endometrium Menjalani Program Hamil? Ini Kata Dokter

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Jumat, 03 Jul 2026 11:10 WIB

Ilustrasi Tes Kehamilan
Bisakah Perempuan dengan Kanker Endometrium Menjalani Program Hamil? Ini Jawabannya Dokter/ Foto: Getty Images/iStockphoto/Nuttawan Jayawan
Daftar Isi
Jakarta -

Kanker endometrium merupakan jenis kanker ginekologi atau kanker yang menyerang organ reproduksi perempuan. Kasus kanker endometrium biasanya ditemukan pada perempuan yang sudah memasuki masa menopause, Bunda.

Di Indonesia, kanker endometrium menempati peringkat ketiga pada kanker ginekologi setelah kanker serviks dan ovarium. Dalam beberapa tahun terakhir, insidennya bahkan meningkat hingga dua kali lipat.

"Kanker endometrium tumbuh pada lapisan paling dalam rahim, mencakup 90 persen dari seluruh kasus kanker rahim," kata Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Subspesialis Onkologi Ginekologi RS Pondok Indah-Bintaro Jaya, dr. Renny Anggia Julianti, Sp. O.G, Subsp. Onk.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Kanker endometrium memang menjadi salah satu jenis kanker rahim yang sering terjadi pada perempuan di masa menopause. Namun, kasus kanker ini juga dapat terjadi pada perempuan muda.

"Kanker ini umumnya terjadi karena perubahan genetik pada sel-sel di dalam rahim yang tumbuh sangat cepat dan tidak terkendali hingga membentuk kanker," ungkap Renny, dalam acara Media Discussion RS Pondok Indah Group tentang Kanker Endometrium, di Jakarta Pusat, belum lama ini.

Program hamil untuk perempuan dengan kanker endometrium

Bunda dengan kanker endometrium bisa saja memulai program hamil melalui terapi hormonal yang disebut terapi fertility-sparing. Tapi, tidak semua kondisi kanker endometrium dapat menjalani program hamil ini ya.

"Terapi hormonal bekerja dengan cara mengontrol kadar hormon di dalam tubuh guna memperlambat atau menghentikan pertumbuhan sel kanker. Terapi ini dapat diberikan dalam bentuk obat minum, suntikan, atau IUD yang mengandung hormon sesuai indikasi dokter," kata Renny.

Perlu diketahui, terapi fertility-sparing adalah pendekatan medis untuk mengobati kanker pada tahap awal, tanpa mengangkat organ tertentu. Jenis terapi hormonal ini dapat mempertahankan kemampuan perempuan untuk merencanakan kehamilan.

"Ada beberapa syarat untuk melakukan terapi ini, yaitu pasien berusia di bawah 40 tahun, derajat diferensiasi selnya baik, dan tidak ada penyebaran sel kanker ke otot rahim," ujar Renny.

"Jadi, perempuan yang menjalani terapi ini akan diberikan hormon. Lalu, dievaluasi setelah tiga sampai enam bulan dengan USG. Kalau hasilnya bagus dan dianggap berhasil, maka bisa disegerakan untuk hamil. Tidak ada keharusan untuk hamil dengan program bayi tabung, tapi cara ini dianggap lebih sesuai daripada menunggu untuk hamil secara alami," sambungnya.

Perempuan yang berhasil hamil tidak perlu menjalani tatalaksana khusus. Bunda hanya perlu mengatur pola makan atau menjalani gaya hidup sehat selama kehamilan untuk mencegah komplikasi, seperti diabetes.

Saat melahirkan, Bunda kemungkinan akan disarankan untuk menjalani pengangkatan rahim. Keputusan ini dapat dikonsultasikan dulu dengan dokter ya.

Penyebab dan faktor risiko kanker endometrium

Penyebab dari kanker endometrium belum diketahui secara pasti. Namun, kondisi ini kerap dikaitkan dengan ketidakseimbangan hormon di tubuh perempuan, terutama hormon estrogen yang terlalu tinggi.

"Bagian endometrium itu paling sensitif terhadap hormon. Hormon memang yang diproduksi oleh indung telur atau ovarium, tapi yang terkena efeknya itu bisa endometrium atau rahim," ujar Renny.

Berikut beberapa penyebab dan faktor risiko dari kanker endometrium, termasuk yang terkait dengan ketidakseimbangan hormon:

  • Terbiasa mengonsumsi obat yang mengandung estrogen atau menstimulasi estrogen, seperti pada suntik hormon untuk program hamil.
  • Overweight atau memiliki berat badan berlebih bisa menyebabkan siklus haid tidak teratur dan memengaruhi keseimbangan hormon.
  • Gaya hidup, seperti sering mengonsumsi gula atau tepung, yang dapat membuat regulasi hormon estrogen rusak.
  • Sindrom metabolik, seperti diabetes melitus, hipertensi, hipertrigliseridemia. Diabetes bahkan meningkatkan faktor risiko terjadinya kanker endometrium hingga 4-5 kali lipat.
  • Faktor genetik, seperti lynch syndrome atau mutasi gen BRCA.
  • Perempuan mengalami infertilitas

Gejala kanker endometrium

Berikut beberapa gejala utama dari kanker endometrium:

  • Perdarahan vagina setelah menopause (pasca menopause atau setelah berhenti haid)
  • Perubahan pola haid, misalnya darah haid terus keluar dan sangat hebat atau keluar flek di luar jadwal haid
  • Keputihan abnormal atau bercampur darah
  • Nyeri pada panggul dan perut bagian bawah
  • Sakit saat berhubungan intim atau saat buang air kecil
  • Ukuran rahim membesar, yang dapat ditandai dengan perut bawah terasa begah saat tidur.

Demikian serba-serbi kanker endometrium dan peluang hamil pada perempuan yang didiagnosis penyakit ini. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.

(ank/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda