Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Benarkah Melahirkan Telentang Bukan Posisi Alami bagi Perempuan? Simak Sejarahnya

Melly Febrida   |   HaiBunda

Minggu, 05 Jul 2026 12:30 WIB

Ilustrasi melahirkan
Benarkah Melahirkan Telentang Bukan Posisi Alami bagi Perempuan? Simak Sejarahnya/Foto: Getty Images/AnnaStills
Daftar Isi
Jakarta -

Melahirkan telentang bukan posisi alami bagi perempuan kembali menjadi sorotan setelah berbagai penelitian dan artikel ilmiah membahasnya. Saat ini banyak perempuan menjalani persalinan dalam posisi telentang di rumah sakit.

Selama ribuan tahun, rata-rata perempuan di seluruh dunia lebih sering melahirkan dengan posisi tegak seperti jongkok, duduk di bangku persalinan, atau berlutut. 

Menurut Janet Balaskas, pendiri Active Birth Centre di Inggris sekaligus pelopor konsep active birth, perempuan secara alami cenderung memilih posisi yang membantu proses persalinan. Terutama posisi tegak yang memanfaatkan gravitasi. 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Balaskas menjelaskan bahwa posisi jongkok dapat memperbesar diameter panggul sekitar 2,5 cm (1 inci), sehingga membantu bayi lebih mudah melewati jalan lahir dengan memanfaatkan gravitasi.

"Apa pun ras atau budayanya… posisi tegak yang sama tetap dominan," ujarnya.

Dalam artikelnya yang dimuat BBC Future, Balaskas menyebut praktik melahirkan sambil telentang merupakan fenomena yang relatif baru dalam sejarah persalinan.

"Ada ketidaktahuan umum di kalangan para profesional dan wanita hamil tentang fisiologi persalinan," kata Balaskas, yang juga sebagai penulis sejumlah buku dilansir dari BBC.

Sejarah mengapa perempuan melahirkan telentang

Sejarawan mencatat bahwa perubahan ini mulai terjadi sekitar abad ke-17. Salah satu tokoh yang kerap dikaitkan adalah dokter kandungan asal Prancis, François Mauriceau, yang dalam bukunya The Diseases of Women with Child (1668) menganjurkan persalinan dilakukan di atas tempat tidur dengan posisi telentang. Alasannya, posisi tersebut dinilai lebih nyaman untuk pemeriksaan dan tindakan medis.

Mauriceau memandang kehamilan sebagai penyakit. "Yang terbaik dan paling pasti adalah melahirkan di tempat tidur mereka, untuk menghindari ketidaknyamanan dan kesulitan dibawa ke sana setelahnya," ujarnya.

Namun, beberapa ahli berpendapat bahwa perubahan posisi melahirkan sebenarnya mungkin disebabkan orang Prancis lain yang hidup pada masa yang sama dengan Mauriceau, yakni Raja Louis XIV.

"Karena Louis XIV dilaporkan senang menyaksikan wanita melahirkan, ia merasa frustrasi dengan pandangan yang terhalang saat melahirkan di atas kursi bersalin, dan mempromosikan posisi berbaring yang baru," tulis Lauren Dundes, seorang profesor sosiologi di McDaniel College di Maryland, AS, dalam makalahnya tahun 1987 tentang evolusi posisi melahirkan.

Meski belum dapat dipastikan sebagai penyebab utama, perubahan budaya dan berkembangnya praktik obstetri modern membuat posisi telentang semakin banyak digunakan di rumah sakit.

Posisi melahirkan menurut penelitian

Alasan utama mengapa perempuan melahirkan dalam posisi tegak selama ribuan tahun sangat sederhana, yakni gravitasi. Bayi harus bergerak ke bawah melalui saluran persalinan, dan gravitasi bermanfaat untuk proses tersebut. 

Ketika ibu diberi kebebasan bergerak selama persalinan, mereka cenderung memilih posisi condong ke depan, seperti jongkok, bertumpu pada tangan dan lutut, atau bersandar pada penyangga.

Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa posisi tegak saat persalinan memiliki berbagai manfaat. Terutama untuk perempuan yang tidak menggunakan anestesi epidural.

Tinjauan sistematis Cochrane Database of Systematic Reviews yang melibatkan lebih dari 5.000 perempuan menemukan bahwa ibu yang bergerak bebas dan menggunakan posisi tegak selama persalinan cenderung mengalami durasi persalinan yang lebih singkat, berisiko lebih rendah menjalani operasi caesar, dan lebih jarang menggunakan epidural sebagai pereda nyeri.

Profesor kebidanan dari Western Sydney University, Hannah Dahlen, juga menjelaskan bahwa posisi tegak membantu kontraksi bekerja lebih efektif karena memanfaatkan gravitasi. Selain itu, posisi tersebut dapat mengurangi tekanan rahim pada pembuluh darah besar sehingga aliran darah dan oksigen menuju janin tetap optimal.

Meski demikian, penelitian juga menunjukkan bahwa setiap posisi memiliki kelebihan dan keterbatasan. Misalnya pada kondisi tertentu, jika ibu menggunakan epidural, mengalami komplikasi, atau diperlukan pemantauan janin secara intensif, tenaga kesehatan dapat menyarankan posisi yang berbeda.

Mengapa posisi telentang masih sering digunakan?

Sebagian besar perempuan di banyak negara maju tetap melahirkan di rumah sakit dalam posisi berbaring. Padahal menurut Balaskas, praktik tersebut dinilai kurang sesuai dengan fisiologi persalinan normal.

"Membuat persalinan menjadi rumit dan mahal tanpa perlu, mengubah proses alami menjadi peristiwa medis dan wanita yang sedang melahirkan menjadi pasien pasif," kata Balaskas. 

Para ahli lain juga setuju. Dahlen, dalam sebuah opini di The Conversation pada tahun 2013, menuliskan bahwa melahirkan terlentang adalah "fenomena yang relatif modern. Bahkan, posisi telentang masih banyak dijumpai di fasilitas kesehatan. 

Salah satu alasannya adalah kemudahan tenaga medis dalam memantau kondisi ibu dan janin, melakukan pemeriksaan, hingga melakukan tindakan jika terjadi kegawatdaruratan.

Selain itu, penggunaan monitor janin, infus, maupun anestesi epidural juga dapat membatasi mobilitas ibu sehingga posisi telentang atau setengah telentang menjadi lebih sering digunakan.

Meski berbagai penelitian menunjukkan posisi tegak dapat memberikan sejumlah manfaat selama persalinan, bukan berarti posisi telentang selalu keliru. Pilihan posisi melahirkan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi ibu, janin, serta pertimbangan tenaga kesehatan. 

Yang terpenting, Bunda cukup mendapatkan informasi sehingga dapat berdiskusi dengan dokter atau bidan mengenai posisi persalinan yang paling aman dan nyaman.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda